JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Teror dari Wilayah Utara
Hujan badai yang mengguyur sebagian besar wilayah ibu kota semalaman penuh akhirnya mulai mereda menjelang waktu subuh, menyisakan hawa dingin yang luar biasa menusuk kulit serta hamparan aspal basah yang diselimuti oleh kabut tipis di sekitar kawasan industri tua. Di dalam kamar atas markas besar Black Cobra, Nasya perlahan-lahan terbangun dari tidur pendeknya dengan kondisi kedua belah mata yang masih terasa sedikit sembap dan lelah. Ia melirik ke arah tempat tidur berukuran besar di sampingnya, lalu secara perlahan mengembuskan napas panjang penuh rasa lega saat menyadari bahwa suhu tubuh Eksan sudah mulai turun dengan drastis. Panas demam tinggi yang menyerang sang berandal semalaman penuh itu perlahan-lahan mereda berkat kompres air hangat dan perawatan intensif yang ia lakukan tanpa henti sepanjang malam.
Namun, ketenangan sementara di pagi hari yang sunyi itu sama sekali tidak berlangsung lama di sarang kobra ini. Dari lantai bawah gudang kontainer, suara deru mesin dari beberapa motor gede yang sengaja dipanaskan secara terburu-buru mendadak terdengar saling bersahutan dengan nyaring, memecah kesunyian atmosfer pagi. Langkah kaki yang terdengar sangat tergesa-gesa dan berat berderit menaiki anak tangga besi menuju kamar atas, disusul oleh suara ketukan pintu bertubi-tubi yang terkesan sangat panik dan darurat.
*Tok! Tok! Tok!*
"Bos Eksan! Apakah kau sudah sadar sepenuhnya?!" suara parau Raka memanggil dari balik pintu kayu dengan nada yang tertahan namun dipenuhi oleh rasa kecemasan yang teramat mendalam.
Eksan yang sebenarnya memang sudah terjaga sejak sepotong fajar menyembul dari ufuk timur perlahan-lahan mulai bangkit berdiri dari atas kasurnya yang empuk. Ia mengabaikan rasa kaku dan perih yang masih berdenyut di perut kirinya, menarik kaos hitam polosnya ke bawah untuk merapikan penampilannya, lalu melangkah dengan sangat mantap membuka pintu kamar. Sepasang mata elangnya yang pekat langsung menyipit tajam penuh selidik saat menangkap ekspresi wajah Raka yang terlihat luar biasa tegang dan pucat.
"Ada masalah apa, Raka? Jangan membuat keributan yang tidak penting di depan kamarku pagi-pagi begini," ucap Eksan dengan nada suara yang sangat berat, rendah, dan sedingin es, sembari melirik sekilas ke arah Nasya yang berdiri cemas di balik punggung bidangnya.
Raka menundukkan kepalanya sedikit dengan napas yang masih memburu tidak teratur setelah berlari menaiki tangga besi. "Faksi White Tiger dari wilayah utara baru saja melancarkan aksi teror fisik di garis perbatasan kawasan industri kita, Bos. Subuh tadi saat kondisi jalanan masih berkabut tebal, mereka nekat mengirim belasan orang yang mengendarai motor sport putih untuk mengacau secara brutal di gudang logistik luar milik faksi kita. Mereka merusak gerbang pembatas besi, menghajar dua orang penjaga malam kita hingga babak belur, dan yang paling bereng sek... mereka sengaja meninggalkan sebuah pesan ancaman di sana."
Raka merogoh saku jaket kulit hitamnya dengan tangan yang bergetar menahan amarah, lalu mengeluarkan selembar kain putih bernoda percikan darah segar yang robek secara kasar. Di atas permukaan kain putih tersebut, terdapat cap stempel logo kepala macan putih yang menjadi identitas sakral klan faksi utara, disertai oleh sebuah tulisan tangan berukuran besar yang ditulis menggunakan cat merah darah yang mencolok: *'Serahkan Kelinci Kecil Black Cobra ke Wilayah Utara, atau Kami Ratakan Seluruh Distrik Ini Menjadi Tanah.'*
Mendengar laporan darurat yang sangat menantang maut tersebut, atmosfer udara di koridor besi lantai dua mendadak berubah menjadi sangat mencekam dan seolah-olah kehilangan seluruh pasokan oksigennya dalam sekejap. Rahang tegas milik Eksan tampak mengeras sempurna hingga urat-urat birunya menyembul menegang dengan sangat kuat di sepanjang pelipis dan leher bidangnya. Sepasang mata elangnya yang pekat memancarkan kilatan haus darah yang murni dan luar biasa pekat, mengindikasikan bahwa emosinya telah tersulut penuh. Geng White Tiger benar-benar sedang mengetuk pintu neraka dengan berani mengincar keselamatan Nasya secara terang-terangan di wilayah kekuasaannya.
"Mereka mengira gertakan murah dan sampah seperti ini bisa membuatku takut dan menyerahkan apa yang sudah menjadi milikku?" tanya Eksan dengan nada suara yang sangat tenang namun terdengar begitu mengintimidasi hingga membuat Raka beserta dua anak buahnya yang berjaga di ujung tangga secara refleks langsung menahan napas mereka karena ketakutan.
"Panglima perang mereka sengaja melakukan aksi teror subuh ini untuk memancing kita keluar dari markas besar dalam kondisi tidak siap, Bos," lanjut Raka dengan suara yang kian serius dan mendalam. "Mereka tahu jumlah pasukan kita sedang tidak lengkap setelah pertempuran besar melawan Red Wolf kemarin malam. Mereka sengaja ingin menguji dan memetakan seberapa ketat sistem pengawalan kita terhadap keberadaan Nasya di dalam kawasan industri ini."
Nasya yang mendengarkan seluruh bait percakapan menegangkan itu dari ambang pintu kamar langsung meremas erat-erat ujung kain seragam sekolahnya dengan jemari yang memucat. Wajah polos gadis lugu itu kembali berubah memucat pasi bagaikan kehilangan seluruh pasokan darah di tubuhnya. Ketakutan yang teramat sangat yang sempat mereda kini kembali bangkit mendera batinnya, menyadari kenyataan pahit bahwa dirinya kini telah resmi menjadi magnet utama bagi seluruh mara bahaya dunia kegelapan jalanan kota. Ke mana pun ia melangkah pergi, bayang-bayang kekerasan faksi utara seolah selalu bersiap untuk menerkam dan menghancurkan kepolosannya.
Melihat kepanikan luar biasa yang kembali melanda wanitanya, Eksan membalikkan tubuh tegapnya secara perlahan. Ia menatap lurus masuk ke dalam sepasang mata jernih Nasya yang mulai berkaca-kaca cemas menahan tangis. Bukannya menyuruh Nasya bersembunyi ketakutan seperti seorang pengecut, Eksan justru melangkah maju mendekat, lalu dengan gerakan posesif yang sangat protektif, ia mencengkeram lembut kedua belah pundak mungil gadis itu, mengunci pandangan matanya secara mutlak tanpa celah.
"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri dariku atau merasa bersalah atas kekacauan ini, Nasya," ucap Eksan dengan nada suara yang bergetar penuh penekanan angkuh dan rasa kepemilikan yang absolut mengikat jiwa. "Di dalam duniaku, sekali sebuah barang sah dicap sebagai hak milik mutlak dari seorang Eksan Prasetya, maka seluruh faksi Black Cobra akan menjadi perisai hidup untuk memastikan barang itu tidak akan pernah disentuh oleh tangan kotor siapa pun seujung kuku pun."
Eksan menarik tubuh mungil Nasya masuk ke dalam dekapan dada bidangnya yang hangat selama beberapa detik, memberikan sebuah kecupan singkat di pucuk kepala gadis itu sebagai tanda perlindungan mutlaK yang sakral, sebelum akhirnya ia berbalik kembali menatap Raka dengan tatapan mata elang yang berkilat haus darah jalanan.
"Raka... keluarkan perintah siaga satu untuk seluruh unit tanpa terkecuali faksi Black Cobra mulai detik ini juga!" perintah Eksan dengan suara rendah yang menggelegar pekat, memutus segala bentuk keraguan jalanan yang ada. "Kumpulkan tiga puluh anggota inti terbaik kita di halaman depan gudang kontainer sekarang juga. Pakai seluruh jaket mawar berdarah kebanggaan kita, dan siapkan rantai besi serta balok kayu tebal di atas motor masing-masing."
Eksan berjalan melangkah tegas menuju meja kerjanya yang berantakan, meraih sebilah pisau lipat taktis hitam kesayangannya, lalu menyelipkannya ke balik pinggang celananya dengan gerakan yang sangat lihai, cepat, dan mantap. "Jika White Tiger dari wilayah utara ingin bermain taktik teror denganku, maka aku sendiri yang akan memimpin pasukan untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana cara mengakhiri sebuah permainan jalanan dengan pertumpahan darah yang sesungguhnya."
Eksan melirik tajam ke arah luar jendela kaca kamar atas, menatap siluet kabut pagi yang mulai menipis di atas aspal jalanan kawasan industri dengan sebuah seringai dingin yang luar biasa mengerikan di wajah tampannya. "Kita tidak akan pernah duduk manis menunggu mereka datang mengepung tempat ini seperti orang bodoh. Pagi ini juga, kita bawa seluruh rombongan motor gede kita untuk melakukan patroli ketat di sepanjang garis perbatasan wilayah utara. Kita tunjukkan pada macan-macan sialan itu siapa sesungguhnya penguasa tertinggi yang memiliki otoritas mutlak di atas aspal kota ini."
Mendengar perintah perang yang tak bisa diganggu gugat dari sang ketua tertinggi, seluruh rasa cemas di hati Raka seketika menguap tanpa sisa, berganti dengan gelora semangat bertarung yang membara hebat di dalam dadanya. Raka langsung menegakkan tubuh tegapnya, mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat ke udara memberi hormat sejati seorang ksatria jalanan. "Siap, Bos Eksan! Perintah dilaksanakan! Seluruh unit Black Cobra siap bergerak membelah aspal pagi ini juga demi harga dirimu!"
Di sudut kamar yang temaram, Nasya hanya bisa terdiam membeku menatap punggung tegap Eksan yang berjalan mantap memimpin anak buahnya menuruni anak tangga besi lantai bawah. Jantungnya berdegup luar biasa kencang berkejaran antara rasa takut akan badai besar baru yang sebentar lagi akan pecah menghantam kota, dan rasa haru yang teramat mendalam karena tahu sang berandal kejam itu rela mempertaruhkan seluruh kerajaan jalan nya demi menjaga selembar nyawa polos miliknya tetap aman.