"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 4 sudah lelah berharap kepadamu
Sementara itu...
Keheningan panjang memenuhi ruang keluarga. Yang ada hanyalah napas berat beberapa orang yang masih sama-sama berusaha menahan emosi.
Hardja menatap putranya lama. Tatapan seorang ayah... Yang perlahan berubah menjadi kekecewaan.
"Sejak Kaia lahir..." Suara Hardja terdengar jauh lebih tenang tapi terasa jauh menggetarkan "...kamu tidak pernah benar-benar menjadi ayahnya."
Fadlan tetap diam,rahangnya mengeras.
Tatapannya jatuh ke lantai.
"Ivanka mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan Kaia." Hardja melangkah perlahan mendekati putranya. "Dia menahan sakit selama berjam-jam. Dia memilih mempertahankan anaknya. Dan sebelum mengembuskan napas terakhir..."
Suara Hardja mulai bergetar. "...yang dia titipkan bukan harta. Bukan ketenarannya sebagai artis. Tapi Kaia."
Fadlan mengepalkan kedua tangannya. Namun ia tetap membisu.
"Lalu apa yang kamu lakukan selama dua puluh tiga tahun ini? Hah?!" Hardja menatap lurus ke mata putranya. "Kamu menghukum anak yang bahkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan."
Setiap kata itu terasa seperti tamparan. Fadlan menelan ludah. Namun egonya masih terlalu tinggi untuk mengakui kesalahan.
"Ayah tidak mengerti." Suara Fadlan akhirnya terdengar lirih. "Setiap melihat Kaia..." Ia berhenti sejenak, napasnya memburu. "...aku selalu teringat hari ketika Ivanka pergi."
"Justru karena itu kamu salah." Hardja memotong tegas. "Yang seharusnya kamu lihat setiap memandang Kaia...adalah bagian terakhir dari perempuan yang paling kamu cintai. Bukan alasan untuk terus membencinya."
Ruangan kembali sunyi. Tak ada seorang pun yang berani berbicara. Farida yang sejak tadi hanya diam mengusap sudut matanya yang basah. Ia terlalu lelah melihat luka yang terus berulang di rumah itu.
Hardja mengembuskan napas panjang.
Rasa marah di dadanya perlahan berubah menjadi kecewa.
Hardja beranjak, namun sebelum jauh ia berucap. "Suatu hari nanti..." Ia menatap Fadlan dalam. "...jangan menyesal, saat Kaia sudah lelah berharap kepadamu, karena bisa jadi, saat itu, dia sudah tidak lagi menganggap sebagai ayah."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Hardja membalikkan badan.Langkahnya pelan menuju kamar.Farida ikut menyusul di belakangnya. Meninggalkan Fadlan seorang diri... Masih duduk di ruang keluarga yang tiba-tiba terasa begitu sunyi.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Tirai putih tipis bergerak pelan tertiup angin yang masuk dari jendela kaca berukuran besar.
Di atas ranjang berukuran queen, sebuah koper besar berwarna krem terbuka lebar.
Beberapa pakaian telah tersusun rapi di dalamnya.
Di samping koper, masih ada tumpukan sweater, jaket tebal, perlengkapan mandi, beberapa buku favorit Kaia, hingga camilan khas Indonesia yang sengaja ia beli agar tidak terlalu merindukan rumah.
Kaia melipat sehelai sweater berwarna putih, lalu meletakkannya hati-hati ke dalam koper. Lusa... Ia akan berangkat ke Melbourne bersama sang nenek.
Selama dua bulan pertama, mereka akan menetap di sana untuk mengurus rumah yang sudah disediakan Fadlan, menyelesaikan administrasi kampus, sekaligus membantu Kaia beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Setelah semua selesai, Kaia dan neneknya akan kembali ke Indonesia menghadiri pernikahan Kiara.
Barulah setelah itu... Ia benar-benar memulai hidup sebagai mahasiswa S2 di Melbourne.
Memikirkan semua itu membuat sudut bibir Kaia terangkat tanpa sadar. Mimpi yang selama ini hanya berani ia simpan dalam hati, akhirnya tinggal menghitung hari.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan pelan membuyarkan lamunannya. Kaia menoleh. Pintu kamar terbuka perlahan.
Kiara berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Rambut curly panjangnya tergerai indah, dipadukan dress floral sederhana yang tetap membuatnya tampak anggun.
Senyumnya mengembang jahil. "Wih... Rajin banget adik aku ini. Kelihatan bahagia banget."
Kaia ikut tersenyum. "Iya dong. Kan nanti yang di sana nggak ada Kak Kia yang bawelin aku."
Kiara terkekeh pelan. Ia melangkah masuk, lalu duduk di tepi ranjang. Tatapannya berkeliling memperhatikan isi koper.
Sweater, buku, notebook, jaket, kaos polos, kemeja putih. Lalu... Ia mengernyit.
"Sebentar."
Tangannya mengambil satu per satu pakaian Kaia. Putih, krem, abu-abu, hitam. Kiara menatap adiknya dengan wajah tak percaya. "Kai."
"Hm?"
"Ini isi lemari kamu apa isi lemari dosen umur lima puluh tahun?"
Kaia menaikkan sebelah alis. "Kenapa emang?"
"Warnanya nggak ada yang cerah." Kiara mengangkat sebuah kaus putih. "Ini putih." Lalu kaus lain. "Ini putih lagi." Kemudian hoodie. "Ini abu-abu." Dan Jaket. "Hitam."
Ia menggeleng beberapa kali. "Ya ampun. Umur kamu itu umur dua puluh tiga tahun. Bukan lima puluh tiga."
Kaia tertawa geli. "Aku sukanya warna netral, Kak."
"Bosen ah." Kiara berjalan menuju lemari. Tak lama kemudian ia mengeluarkan sebuah sweater biru muda.
"Nah, ini nih baru lucu."
Kaia langsung menggeleng. "Nggak ah, kebiruan."
"Kebiruan gimana?"
"Ya... biru."
Kiara memijat pelipisnya sendiri. "Aduh ampun deh aku nyerah."
Mereka berdua tertawa bersamaan. Suasana kamar yang tadi sunyi kini dipenuhi tawa ringan. Kiara kemudian kembali duduk di samping adiknya.
Tatapannya kali ini berubah lebih lembut. "Kakak ikut seneng. Akhirnya kamu bisa kuliah di luar negeri."
Kalimat sederhana itu membuat Kaia terdiam. Ia kembali melipat pakaiannya perlahan. "Sebenarnya aku juga masih nggak nyangka. Rasanya kayak mimpi."
Kiara tersenyum. "Kamu pantas mendapatkannya."
Selama ini... Tak banyak orang yang tahu bagaimana kerasnya hidup Kaia. Jika dirinya bebas mengikuti berbagai kegiatan sekolah, les menari, kelas modeling, hingga bergabung dengan komunitas, maka Kaia justru tumbuh dalam begitu banyak batasan.
Sepulang sekolah harus langsung pulang. Tak boleh menginap di rumah teman. Tak boleh mengikuti kegiatan di luar jam pelajaran.
Bahkan ketika ingin mengikuti bimbingan belajar, guru les yang didatangkan ke rumah. Perlahan... Dunia Kaia menjadi semakin sempit.
Temannya sedikit.Lingkungannya terbatas.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama buku dan orang rumah daripada orang lain. Berbeda jauh dengan Kiara yang menjadi influencer yang dikenal banyak orang. Ia terbiasa berdiri di depan kamera dan bertemu banyak orang.
Kiara meraih tangan adiknya. "Kaia, tapi di sana nanti..." Ia menunjuk hidung Kaia. "Jangan macam-macam."
Kaia mendesah panjang."Gimana aku mau macam-macam." Ia tertawa hambar.
"Papa udah pasang CCTV di setiap sudut rumah. Bukan cuma ruang tamu. Tapi di dapur, garasi, bahkan ruang kerja. Nenek aja sering bilang berasa tinggal di kantor."
Kiara ikut tertawa kecil. "Papa memang berlebihan."
"Banget." Jawab Kaia spontan. Namun senyumnya perlahan memudar. Ia menundukkan kepala. Ia bahkan sulit mengerti kenapa Fadlan bersikap seperti itu padanya.
Kiara menggenggam tangan adiknya lebih erat. "Papa sebenarnya sayang sama kamu, Kai."
Kaia terdiam. Tangannya berhenti melipat pakaian.Beberapa detik berlalu sebelum ia tersenyum kecil. Senyum yang terasa begitu pahit.
"Kalau itu yang namanya sayang..." Matanya mulai berkaca-kaca. "...aku nggak bisa bayangin gimana rasanya kalau Papa benar-benar benci sama aku."
Kalimat itu membuat hati Kiara seperti diremas. Ia langsung memeluk bahu adiknya. "Kai... Percaya sama Kakak. Papa cuma belum bisa berdamai sama masa lalunya. Suatu hari nanti pasti berubah."
Kaia hanya mengangguk kecil. Entah karena percaya... Atau hanya tidak ingin membuat kakaknya sedih.
Suasana kembali hening. Kaia kembali menata barang-barangnya. Sementara Kiara memperhatikan setiap gerakan adiknya dengan senyum tipis.
"Oh iya." Kiara tiba-tiba menepuk dahinya sendiri. "Nanti, tolong jemput Kakak di apartemen Elio ya."
Kaia langsung menoleh. "Loh? Bukannya Kakak bawa mobil sendiri?"
"Mobil Kakak masuk salon.Elio juga lagi ada tindakan di Klinik, jadi nggak bisa jemput."
Kaia tampak ragu."Tapikan... Papa masih
ngelarang aku keluar rumah." Sejak kejadian seminggu lalu, ia pergi bersama Sean ke Ancol... Fadlan benar-benar menghukumnya. Kaia hanya boleh keluar jika ditemani keluarga.
Kiara langsung tersenyum penuh percaya diri. "Tenang. Aku yang ngomong sama Papa."
Kaia terkekeh pelan. Ia tahu betul. Kalau Kiara yang meminta... Hampir tidak pernah ditolak. "Ya udah deh.Nanti aku jemput."
Kiara langsung bersorak kecil. "Nah gitu dong." Tanpa aba-aba... Ia menarik wajah Kaia mendekat.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat telak di pipi adiknya. Kaia langsung membelalak. "KAK KIA!" Refleks ia mengusap pipinya berkali-kali. "Make up Kakak nempel semua tau!"
Kiara justru tertawa puas."Biar semua orang tahu kamu punya kakak secantik aku."
"Ih... pede banget."
"Bukan pede. Tapi fakta."
Kaia mengambil bantal di sampingnya. "Kakak sini!"
"Eits!" Kiara langsung berlari keluar kamar sambil tertawa. "Tangkap dulu!"
"KAK KIAA!" Kaia mengejar sampai ke depan pintu sambil membawa bantal. Suara tawa mereka memenuhi lantai dua.
Di bawah... Hardja dan Farida yang sedang menikmati teh sore saling menoleh. Keduanya ikut tersenyum hangat mendengar tawa kedua cucu perempuan mereka.
...****************...
* Bersambung*
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁