"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Awal Baru dan Bayangan Dosa
Yudi membisu, menatap sahabatnya dengan rasa hormat yang teramat tinggi. Adam yang ada di hadapannya kini bukanlah Adam yang rakus dan sombong tiga tahun lalu. Pria ini telah benar-benar terlahir kembali.
***
Satu tahun kemudian...
Gereja dan gedung resepsi bernuansa putih elegan di tengah taman Kota Bandung tampak dipenuhi karangan bunga ucapan selamat. Musik instrumental klasik mengalun lembut mengiringi kebahagiaan malam pernikahan Dokter Danu dan Fitri.
Fitri tampak sangat anggun dalam balutan gaun pengantin modern berwarna putih bersih, sementara Danu terlihat gagah dengan setelan jas hitamnya. Di samping mereka, Aiden yang kini makin tumbuh besar dan menggemaskan berlari-lari kecil mengenakan jas mini yang senada dengan milik Danu.
Di sudut luar taman, tersembunyi di balik bayangan pepohonan rindang yang jauh dari jangkauan lampu panggung, berdiri seorang pria mengenakan kemeja batik sederhana.
Adam.
Pria itu berdiri diam di kegelapan, menyaksikan wanita yang pernah disakitinya kini tersosor senyum begitu bahagia mendampingi pria sejati yang pantas menjadi pelindungnya. Adam melihat Danu berlutut, mengusap air mata haru Fitri, lalu menggendong Aiden ke dalam pelukannya. Pemandangan keluarga kecil yang utuh dan penuh cinta.
Setetes air mata kebahagiaan menetes di pipi Adam. Tidak ada penyesalan yang membakar, tidak ada rasa iri yang merajam. Yang ada hanyalah doa yang membumbung tinggi ke udara malam.
"Bahagialah, Fitri... Bahagialah, Aiden..." bisik Adam lirih pada angin malam.
Adam merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah amplop kecil berisi surat ucapan selamat dan sebuah ukiran kayu buatan tangannya sendiri berbentuk sepasang burung merpati yang melindungi seekor anak burung kecil. Ia menitipkan amplop tersebut pada seorang staf penerima tamu di gerbang depan.
Tanpa perlu menyapa, tanpa perlu merusak momen bahagia tersebut dengan kehadirannya, Adam membalikkan badan. Langkah kakinya terasa begitu ringan menyusuri jalanan malam kota Bandung, melangkah menuju masa depannya sendiri dengan hati yang telah sepenuhnya menyatu dalam keikhlasan.
Saat Fitri, Dokter Danu, dan Aiden melangkah keluar meninggalkan ruangan VIP, Adam cuma bisa menatap punggung mereka dari atas ranjang. Dada Adam rasanya plong banget, gak ada lagi rasa sesak atau cemburu yang membakar. Dia tahu, ikatan masa lalunya udah selesai dengan indah. Dia udah ikhlas melepas orang-orang yang dicintainya untuk menjemput kebahagiaan mereka sendiri.
Tiga minggu berlalu...
Matahari pagi Bandung terasa menyengat di pelataran sebuah bengkel otomotif kecil di kawasan Soekarno-Hatta. Adam berdiri sambil merapikan wearpack lamanya yang makin longgar di badan. Dengan punggung tangan yang ternoda oli hitam, dia mengusap keringat di jidatnya.
Pasca keluar dari Rumah Sakit Medika Utama, Adam memilih menyewa kamar kosan sempit yang harganya jauh lebih murah. Atas bantuan teman lamanya, dia mulai bekerja jadi mekanik bengkel. Gak ada lagi kemeja merek terkenal, mobil mewah, atau gaya hidup glamour kayak pas dia masih sama Rosa dulu. Sekarang, Adam hidup dalam kesederhanaan. Tapi anehnya, tiap rupiah yang dia hasilkan dari meras keringat sendiri terasa jauh lebih menenangkan.
"Nih, diminum dulu Kopi-nya, Dam," tegur Yudi yang tiba-tiba muncul membawa dua cangkir kopi hitam panas.
Adam menghentikan kunci pas di tangannya, lalu tersenyum tipis. "Makasih, Yud. Taruh situ dulu."
Yudi menyandarkan badannya ke tiang bengkel, memandangi sahabatnya. "Gimana badan lu? Udah gak gampang ngos-ngosan lagi kan?"
"Alhamdulillah, jauh lebih mendingan," sahut Adam seraya meminum kopinya perlahan. "Kata Dokter Danu kemaren, kalau gue bawa aktivitas rutin yang gak terlalu berat, pemulihan jantung gue justru bisa lebih cepat. Lagian... kerja begini bikin otak gue gak melamun terus."
Yudi menepuk-nepuk bahu Adam pelan. "Jujur ya, Dam, gue bangga banget lihat lu sekarang. Lu bener-bener mau merangkak dari bawah lagi. Gak gengsian kayak dulu."
Adam tertawa kecil, walau ada pendar getir di matanya. "Gengsi gak bakal bikin gue kenyang, Yud. Dulu gue ngejar gengsi dan harta, ujung-ujungnya malah bikin gue buang permata dalam hidup gue. Sekarang... bisa napas lega dan makan dari uang halal aja gue udah bersyukur banget."
"Lu... beneran udah gak pernah kepikiran buat nyari Fitri lagi?" tanya Yudi ragu-ragu.
Adam menatap lurus ke arah jalan raya Soekarno-Hatta yang ramai. "Kepikiran pasti ada, Yud. Rasa bersalah itu gak bakal pernah hilang selamanya. Tapi gue sadar diri. Tempat gue bukan di samping Fitri lagi. Gue cuma berdoa biar dia sama Aiden bahagia terus sama Dokter Danu."
Di saat yang sama, suasana di rumah orang tua Fitri di kawasan Jawa Tengah terasa begitu hangat. Halaman rumah berarsitektur limasan Jawa itu tampak asri dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Di teras depan, Ibu Fitri yang sebenarnya bibi nya duduk di kursi kayu sembari tersenyum sumringah. Di atas tikar pandan, Dokter Danu tanpa canggung ikut berlutut, tertawa renyah sambil memainkan mobil-mobilan plastik bareng Aiden.
"Awas, Uncle Danu! Mobil Aiden mau nabrak!" celoteh Aiden gemas, menabrakkan mobil platisnya ke tangan Danu.
"Wah, bahaya dong! Kalau gitu mobil Uncle harus belok cepat!" sahut Danu seraya membuat suara mesin mobil dengan mulutnya, membuat Aiden tertawa pingkal-pingkal.
Fitri melangkah keluar dari pintu utama membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng. Langkahnya terhenti sejenak, menatap pemandangan di depannya dengan mata berbinar.
"Mas Danu ini telaten banget ya, Fit," bisik Ibunya pelan saat Fitri menaruh nampan di meja. "Ibu senang banget lihatnya. Dia gak cuma sayang sama kamu, tapi bener-bener ngerangkul Aiden kayak anak kandungnya sendiri."
Fitri merona halus. "Iya, Bu. Mas Danu memang dari awal gak pernah membedakan Aiden."
Danu yang mendengar suara gelas berdenting langsung berdiri dan merapikan kemeja santainya. Wajah tampannya yang biasa ramah, mendadak berubah jadi sangat serius dan penuh keteguhan. Dia berjalan mendekati meja teras, lalu menatap Ibu atau yang sebenarnya bibi nya fitri dan paman Fitri yang baru saja keluar dari rumah.
"Bapak, Ibu..." panggil Danu dengan suara bass yang tenang dan berwibawa.
"Eh, iya, Danu. Duduk dulu, Nak," sambut paman Fitri ramah.
"Terima kasih, Pak. Tapi sebelumnya, saya mau menyampaikan sesuatu yang sangat penting," ujar Danu mantap. Dia menatap Fitri sejenak, memberikan senyuman hangat, lalu kembali menatap kedua orang tua Fitri.
Suasana teras yang tadinya santai mendadak berubah menjadi sangat khidmat.
"Kehadiran saya kemari hari ini bukan cuma sekadar silaturahmi atau mengantar Fitri dan Aiden," kata Danu lurus tanpa ragu. "Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya ingin meminta izin dan restu dari Bapak dan Ibu untuk mempersunting Fitri menjadi istri saya. Saya ingin berjanji di hadapan Bapak dan Ibu, bahwa saya akan menjaga, memuliakan Fitri, serta menjadi ayah yang bertanggung jawab penuh untuk masa depan Aiden."
Air mata haru seketika menetes di pipi Fitri. Dia menunduk, meremas jarinya sendiri. Setelah melewati mimpi buruk bertahun-tahun. Dikhianati, dibuang, dan diinjak-injak harga dirinya. Akhirnya Tuhan mengirimkan sosok pria sejati yang berdiri pasang badan untuk melindungi dirinya dan anaknya.
Bapak Fitri menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. Dia melangkah maju dan memegang kedua bahu Danu dengan erat.
"Danu..." suara Bapak Fitri bergetar. "Bapak tahu betul gimana menderitanya anak Bapak dulu pas ditinggal mantan suaminya. Hatinya hancur, dia berjuang sendirian buat melahirkan dan ngerawat Aiden. Tapi pas lihat kamu hadir dalam hidup mereka... Bapak tahu Tuhan gak pernah tidur."
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.