"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Kepunahan Para Penyintas
Suara jeritan hysteris dan gedoran pada pintu baja luar benteng perlahan memudar, tenggelam di balik deru angin malam pegunungan yang menusuk tulang.
Di luar perimeter Fortress Mansion, Takashi Komuro, Saya Takagi, Kohta Hirano, dan Rei Miyamoto yang setengah sadar dilemparkan ke atas tanah berlumpur yang membeku. Tanpa pakaian tebal, tanpa alas kaki, dan tanpa senjata sepotong pun, keberadaan mereka di lereng bukit itu tak ubahnya umpan daging segar. Bau darah dari luka Takashi dan aroma tubuh mereka langsung memanggil puluhan zombie yang berkeliaran di balik kegelapan.
Di balik dinding beton bertulang, Thomas tidak sudi membuang waktu untuk menyaksikan akhir mengenaskan dari para remaja tersebut. Bagi seorang predator puncak, nasib mangsa yang telah dibuang sama sekali tak menarik perhatiannya.
KLIK... BZZZT.
Pintu hidrolic ruang kontrol utama terbuka.
Saeko Busujima melangkah masuk dengan anggun. Ia telah membersihkan noda darah dan lumpur di tubuhnya, kini mengenakan pakaian pelayan seram hitam-putih (maid costume) yang ketat dan rapi—pakaian yang sebelumnya disiapkan Thomas dari barang jarahan kota. Katana Meito: Muramasa terikat rapi di pinggangnya.
Gadis berambut ungu itu berjalan dengan pandangan tertunduk, lalu berlutut di samping kursi kulit tempat Thomas bertengger di depan deretan layar monitor.
"Semua sampah telah dibersihkan dari perimeter luar, Tuan," laporan Saeko dengan suara halus, jernih, dan penuh kepatuhan. "Sistem drainase bawah tanah telah dibilas dengan cairan disinfektan dan dikunci kembali."
Thomas tidak berpaling dari layar monitor. Ia menyesap teh hangatnya, lalu melirik Saeko dari sudut mata.
"Bagus," ujar Thomas datar. "Mulai malam ini, tugasmu adalah menjaga kebersihan internal benteng, memantau perimeter saat aku beristirahat, dan menjadi bilah pedang pertama yang mengeksekusi siapa pun yang berani mendekati tempat ini tanpa izinku."
"Hamba mengerti dan siap melaksanakannya dengan mempertaruhkan nyawa, Tuan," jawab Saeko tegas tanpa ragu.
Thomas memajukan tubuhnya, menatap salah satu layar monitor khusus yang menampilkan peta satelit wilayah Fujimi dan sekitarnya.
Dengan Evolusi Tier 2 Puncak, Regenerasi Abadi Bintang Laut, dan Exoskeleton Chitin Udang Mantis, kekuatan fisiknya sudah berada pada level yang tak tertandingi oleh manusia maupun zombie biasa. Namun, Thomas paham betul bahwa kiamat ini adalah proses mutasi yang tak pernah berhenti.
Di layar monitor, tampak sinyal merah berkedip-kedip dari kawasan Pusat Kota Fujimi—sebuah area metropolitan yang dulu dihuni oleh jutaan jiwa dan kini telah menjadi sarang raksasa bagi ratusan ribu zombie.
Sinyal radiasi bio-energi di pusat kota itu menunjukkan pendaran cahaya yang jauh lebih pekat dan masif dibandingkan kristal Tier 2 yang pernah ia dapatkan.
Terdeteksi Sinyal Mutasi Energi Tingkat Tinggi: Prediksi Indikator Keturunan Tier 3.
"Tier 3..." gumam Thomas sembari memicingkan mata. Senyum dingin dan berbahaya terukir di bibirnya.
Jika Tier 2 saja sudah memberinya kemampuan regenerasi seluler dan armor organik yang meremukkan beton, maka Kristal Tier 3 dari pusat kota adalah gerbang menuju tingkatan kekuatan yang jauh lebih mengerikan—mungkin tingkatan di mana ia sanggup memanipulasi energi atau mendominasi seluruh wilayah dari takhtanya.
Thomas berdiri dari kursinya. Saeko ikut berdiri seketika, melangkah setengah tapak di belakangnya dengan tangan siap di gagang pedang.
"Istirahatlah malam ini, Busujima," perintah Thomas dingin sembari memutar badannya menuju kamar utama. "Besok fajar, kita akan turun gunung dan meratakan pusat kota."
"Laksanakan, Tuan," bisik Saeko dengan senyuman tipis yang dingin di bibirnya, membungkuk dalam-dalam saat tuannya melangkah pergi.