NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Elara sama sekali tak menoleh, matanya masih fokus pada buku. "Apa yang aku lakukan?"

Dreven ingin berbicara, namun notifikasi pesan dari Tony membuatnya berhenti sebentar.

"Tuan, supir rumah mengatakan jika nyonya pergi ke mansion Ratore malam-malam. Sepertinya Nyonya membantu proyek kita."

Dreven menatap layar ponselnya, membaca pesan dari Tony yang mengabarkan bahwa Elara telah mengunjungi kediaman Ratore pada malam sebelumnya, kemungkinan untuk membantu mengembalikan proyek mereka. Perasaan campur aduk antara terkejut dan kagum muncul dalam dirinya.

"Apa yang kau tawarkan pada Ratore untuk mengembalikan proyekku?" tanya Dreven dengan nada serius.

Elara masih diam, tak ingin menjawab. Dengan cepat Dreven menggerakkan kursi rodanya mendekat dan mencengkeram pergelangan tangan Elara saat ingin membaca halaman selanjutnya.

"Jawab pertanyaanku, Elara!"

Elara akhirnya mengangkat pandangannya ke arah Dreven dan menatapnya dengan dingin. "Kau tak perlu tahu."

"Tapi.."

"Aku hanya melakukan apa yang bagiku perlu, dan menjaga statusmu dalam keluarga adalah salah satunya."

Deg!

Dreven membeku, baru pertama kali seseorang melakukan hal ini padanya. Bahkan saat dia tak bercerita apapun, Elara memperhatikan semua yang dilakukannya.

Akhirnya dia tak bisa menahan diri untuk tersenyum, namun karena malu dia hanya melipat bibirnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Elara yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya.

"Jadi kau memperhatikanku," gumamnya dengan malu.

Elara sedikit cengo, "Apa?"

Dreven akhirnya pergi dari sana tanpa menjawab pertanyaan bingung dari Elara yang membuat wanita itu semakin tak mengerti.

"Sebenarnya dia kenapa si?" gumamnya dengan tatapan aneh.

---

"Nyonya, ini cat yang anda minta. Hari ini anda akan melukis apa?" tanya Emma yang tampak lebih tak sabar ketika tahu jika Elara akan kembali melukis lagi untuk membunuh waktu di rumah.

"Aku belum mempunyai ide, kau ingin aku lukis?" tawar Elara dengan lembut.

Mendengar itu Emma terkejut, "S-saya? Ah, saya tak secantik itu untuk menjadi model anda," katanya dengan malu-malu.

Elara tersenyum, lalu mengambil cat dasar ke dalam paletnya. "Kata siapa? Bagiku kau cantik, pasti lukisanku akan mahal di pasaran."

"Wah.. anda juga menjual lukisan?"

Elara terkekeh, "Hanya kolektor saja yang membeli lukisanku."

"K-kolektor? A-anda pasti pelukis terkenal yaa nyonya! Atau bahkan pelukis legendaris!!"

Elara kembali tertawa, terlebih melihat wajah antusias Emma yang begitu menggemaskan.

"Sttt, jangan keras-keras. Ini rahasia," ucap Elara sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir ranumnya.

Emma tanpa sadar langsung merapatkan bibirnya dan mengangguk.

"Duduklah di kursi itu, lalu ambil posisi seperti kau sedang menyiram anggrek itu," Elara mulai mengarahkan Emma untuk posisi apa yang akan dia lukis dari wanita itu.

Emma menatap Elara dengan mata yang sedikit membelalak, bingung namun sangat ingin mengikuti arahan itu. Ia berjalan mendekati kursi yang dimaksud dan duduk dengan hati-hati, mencoba meniru posisi yang diminta, meskipun ia merasa sedikit kikuk.

Elara tersenyum melihatnya, lalu mengambil kuas dan mulai mencelupkannya ke cat. Suasana di ruangan itu seolah berubah menjadi lebih tenang, hanya ada suara kuas yang bergerak perlahan di atas kanvas. Penuh fokus, Elara mulai melukis, setiap goresan terasa penuh makna, seolah menggambarkan lebih dari sekedar apa yang tampak di luar.

"Bagaimana? Apakah saya terlihat aneh, nyonya?" tanya Emma, mencoba mencuri pandang ke arah lukisan, meskipun ia tahu ia harus tetap diam agar proses melukis tidak terganggu.

Elara mengangkat wajahnya sejenak, memandang Emma dengan tatapan lembut, "Indah. Kau akan melihatnya nanti. Dan tolong jangan banyak gerak."

Emma tersenyum lalu mengangguk. Dia terus mempertahankan posisinya kurang lebih dua jam hingga akhirnya Elara menyelesaikan lukisannya.

"Selesai."

Begitu mendengar itu badan Emma langsung lemas, dia tak menyangka menjadi model sangat melelahkan seperti ini.

Tapi begitu melihat hasil lukisannya dia langsung berbinar, "N-nyonya, ini saya?"

Elara mengangguk, "Benar, bagus kan?"

Emma masih terdiam di tempatnya, matanya tak lepas dari lukisan yang terpajang di depan. Wajahnya yang terlukis begitu hidup, seolah menatap balik dengan ekspresi yang begitu halus, hampir seperti sedang berbicara tanpa suara. Setiap detil, dari sinar mata yang lembut hingga gerakan tangan yang elegan, terasa seperti menangkap esensi dirinya yang selama ini tersembunyi.

"Saya... saya tidak percaya ini saya," ujar Emma dengan suara pelan, sukar mempercayai apa yang ia lihat. Ia menyentuh wajahnya sendiri, memastikan bahwa bukan dirinya yang tergambar di kanvas, meskipun itu jelas dirinya.

Elara tersenyum, lalu memberikan tanda tangannya di bagian bawah lukisannya dan kemudian memberikannya pada Emma. "Ambil ini untukmu."

Emma mengangguk dengan semangat, "Terima kasih, nyonya!"

"Oke. Aku sedikit lapar, bisa ambilkan cemilan dan teh untukku?"

"Baik, saya akan segera kembali," kata Emma yang kemudian pergi dari sana.

Elara yang melihat itu langsung membersihkan tangannya dengan cat dan kemudian mengambil canvas lain untuk kembali melukis.

Tapi sebuah pesan dari kontak yang sangat lama tak menghubunginya membuat dia termenung.

"Elara, apa kabar? Apakah kamu sehat disana, nak?"

Elara terdiam.

Dia tak tahu harus membalas apa untuk pesan yang hampir lima tahun ini tak berkabar.

Sosok ayah yang sudah dia hilangkan dari hatinya kini menghubunginya seolah semua baik-baik saja. Hingga akhirnya dia memilih untuk tidak membalasnya.

"Apa dia masih mengharapkanku pulang?" gumamnya dengan pelan.

---

"Saya tak mengerti, Nyonya sepertinya memiliki latar belakang yang tak biasa tuan. Bayangkan, dia mampu membeli tanah yang harganya jelas bukan sesuatu yang bisa dibeli orang kaya biasa. Bahkan sekarang nyonya bisa meyakinkan tuan Ratore untuk kembali meneruskan proyek bersama anda," kata Tony dengan wajah yang begitu serius pada Dreven yang saat ini juga berpikir demikian.

"Kau sudah memeriksa latar belakangnya sebelum diadopsi oleh keluarga Roselyn?" tanya Dreven dengan serius.

Tony mengangguk, "menurut data nyonya berasal dari panti asuhan yang tak terlalu terkenal. Tapi menurut logika buat apa keluarga Roselyn mengadopsi anak padahal mereka memiliki putra?"

Dreven mulai berpikir serius, latar belakang Elara memang bukan hal yang mudah dipecahkan begitu saja seperti ada sesuatu yang menutupinya.

"Jika begitu berhenti mencari tahu."

"A-apa?" Tony terkejut.

"Aku akan mencari tahunya sendiri dari mengamatinya jarak dekat," kata Dreven dengan senyum penuh arti.

Tony yang melihat itu merinding, "Anda seperti memiliki niat buruk pada istri anda."

Dreven langsung menatap tajam, "kau pikir aku akan menyakiti istriku?"

Tentu tidak, Tuan," jawab Tony cepat, berusaha memperbaiki kata-katanya. "Hanya saja... cara Anda mengatakan itu terdengar seperti seseorang yang sedang merencanakan sesuatu yang besar."

Dreven tidak segera menjawab. Ia hanya bersandar di kursi rodanya, jarinya perlahan mengetuk permukaan meja. Latar belakang Elara memang aneh, dan semakin ia berpikir, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Seorang perempuan yang diadopsi oleh keluarga Roselyn, meskipun mereka sudah memiliki putra. Mampu membeli tanah di luar negeri, sesuatu yang bahkan bagi orang kaya sekalipun adalah hal yang luar biasa. Dan sekarang, ia bisa meyakinkan Ratore—pria yang terkenal keras kepala—untuk melanjutkan proyek yang sebelumnya hampir mustahil berjalan.

Siapa sebenarnya Elara?

Dreven tersenyum tipis.

"Tony, siapkan rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh."

Tony terkejut lagi dengan permintaan yang mendadak seperti itu, "Tuan, apa anda merasa tak nyaman dengan tubuh anda?"

Dreven tak menjawab, namun senyum tipis terukir disana, "Reservasi untuk dua orang. Hari ini," titahnya.

Bersambung....

1
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Siapa yang wanita ini maksudkan? Elara?🤔
🦋Little Butterfly🦋
sadis banget...
Arni Arlinawati Pratiwi💃
iya tau kok emak.. dia lagi cemburu, hanya saja dia sendiri pun gak sadar sama perasaan nya, ego nya aja yang di duluin.. kan ngenes, makin mnedihkan aja lu drev! udah lum*** juga!!! coy.. coy.. takut kualat emak, 🗿😭
naws
bodo amat. elara juga cuma manfaatin lu biar lepas dari keluarga palsunya kok /Smug/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
cembukur nih pasti perkara elara sama leo.. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyari penyakit lu drev.. 🗿
Alia Chans
😭😭😭 Elara bisa yok
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Dreven kayaknya udah mulai nyaman dengan Elara, tapi gengsi untuk mengakui🤭
Alia Chans: yakin nyaman doang kk🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
pasti dia tidak Terima saat dia di bilang lemah, egonya pasti sangat tersenggol🤣
Alia Chans: kalo gak ego tinggi gak cowok namanya🤣🤣🤣
total 1 replies
Mingyu gf😘
di keluarga dastan kamu seperti ratu ya
Mingyu gf😘
dihh modus lu😆
Miranda.
kritik sedikit ya thor. mungkin bisa sedikit membantu dan membangun.

karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/
Alia Chans: emang dia beneran lumpuh kk🤭🤭
total 1 replies
Miranda.
cara menasehatinya nusuk banget yaa/Frown/
My_Lucia
Edeh... deh... apa dia penganut sex menyimpang 🤣
Alia Chans: eitss belum pasti ye👑🔥
total 1 replies
My_Lucia
what?? serem amadt🫣
Miranda.
bapak mertua mulai berharap pada elara nih yee🤭🤭
Miranda.
ehm... logikanya ini gimana thor? menggandeng? mungkin lebih tepatnya "meletakkan tangan elara ke dorongan kursi roda untuk membantunya bergegas"/Slight/
Alia Chans: kan tinggi Elara gak setinggi menara Eiffel juga kk😭😭
dimana " cowok kan, you know lah☺
total 1 replies
Miranda.
eughhh alasan yang tidak begitu logis
naws
punya kekurangan gini, sombongnya masih selangit
Alia Chans: 😭😭😭 masa harus merendah mulu, kan gak Dreven dong🤣🤣
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
emang boleh/Slight/
Alia Chans: boleh "🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!