Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Aku Cuma Pekerja Musiman
Jauh dari gurun Darsen, sebuah ruang bawah tanah yang tak tercantum di peta mana pun masih dipenuhi cahaya monitor.
Ruangan itu berada puluhan meter di bawah permukaan tanah.
Tidak ada jendela.
Tidak ada suara kendaraan.
Hanya dengung pendingin ruangan dan suara ketikan para operator yang bekerja tanpa henti.
Di tengah ruangan, sebuah layar utama menampilkan rekaman dari kamera kecil yang terpasang di pakaian Sienna Hartono.
Awalnya para perwira yang berada di sana mengira mereka sedang menyaksikan operasi penyelamatan biasa.
Sampai sosok dengan helm merah muda itu muncul.
Kemudian sebuah kendaraan lapis baja meledak.
Ruangan mendadak sunyi.
Seorang perwira senior berdiri perlahan dari kursinya.
"Putar ulang."
Operator menjalankan rekaman beberapa detik sebelumnya.
Sosok itu terlihat bergerak di antara rentetan tembakan, lalu menghilang dari sudut kamera.
Beberapa detik kemudian, kendaraan lapis baja tersebut terjungkal dalam kobaran api.
Perwira senior itu mengerutkan kening.
"Dia siapa?"
"Belum diketahui, Pak."
"Rekamannya jelas. Wajahnya juga beberapa kali tertangkap kamera."
Operator di depan konsol menggeleng.
"Itu justru masalahnya."
Beberapa orang langsung menoleh.
"Identitasnya tidak muncul di basis data mana pun yang kami punya."
"Mustahil."
"Saya juga berpikir begitu."
Operator memperbesar salah satu cuplikan.
Wajah Adrian terlihat samar di balik helm merah muda yang ukurannya bahkan tidak pas di kepalanya.
Seorang analis sampai terdiam beberapa saat.
"Dia membawa senjata dari mana?"
"Belum diketahui."
"Dan kendaraan lapis baja?"
"Dia menghancurkannya."
"Ya, kami semua melihatnya."
Suasana kembali hening.
Salah seorang perwira kemudian bertanya,
"Bagaimana dengan gadis itu?"
"Sienna Hartono masih hidup. Cedera di pergelangan kakinya cukup parah, tetapi kondisinya stabil."
"Berarti orang itu bukan bagian dari unit kita?"
"Belum ada indikasi."
Perwira senior itu kembali menatap layar.
Adrian terlihat sedang berjalan menuju sepeda motornya.
Bukan memeriksa situasi.
Bukan memastikan musuh benar-benar tumbang.
Bahkan bukan mencari Sienna.
Dia justru berhenti di dekat motornya dan memeriksa bodi kendaraan itu dengan wajah kesal.
Salah seorang analis menelan ludah.
"Dia... sedang memeriksa motornya?"
"Sepertinya begitu."
"Setelah menghancurkan kendaraan lapis baja?"
"Sepertinya cat motornya tergores."
Ruangan kembali sunyi.
Beberapa orang saling berpandangan.
Untuk pertama kalinya sepanjang karier mereka, mereka menyaksikan seseorang lebih khawatir terhadap sepeda motor bekas daripada kendaraan lapis baja yang baru saja dihancurkannya.
Perwira senior menghela napas panjang.
"Terus pantau."
"Kalau dia bukan orang kita, kita harus tahu siapa dia."
---
Sementara itu, Adrian sama sekali tidak tahu bahwa ada begitu banyak orang yang sedang mengamatinya.
Perhatiannya masih tertuju pada motornya.
Ia mengusap goresan di tangki bensin dengan ibu jari.
"Parah juga."
Ia menghela napas.
"Lima ratus dolar sudah keluar, baru dipakai sebentar malah lecet."
Adrian menepuk-nepuk bodi motor itu seolah sedang menenangkan seekor hewan peliharaan.
Di belakangnya, Sienna memperhatikannya dengan ekspresi yang semakin sulit dijelaskan.
Pria ini baru saja menghadapi pasukan bersenjata.
Ia menghindari rentetan tembakan.
Menghancurkan kendaraan lapis baja.
Dan sekarang...
...yang dipikirkan malah motor.
Sienna akhirnya menyerah untuk mencoba memahami pola pikirnya.
"Adrian."
Adrian menoleh.
"Apa?"
"Siapa sebenarnya kamu?"
Adrian menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?"
Sienna mengangguk.
"Ya."
Adrian berpikir sejenak.
"Adrian."
"Aku tahu namamu."
"Kalau begitu masalahnya selesai."
Sienna memejamkan mata sebentar.
Entah kenapa berbicara dengannya terasa lebih melelahkan daripada menghadapi baku tembak tadi.
"Aku serius."
"Aku juga."
Adrian mengambil sebotol air mineral dari salah satu kardus yang terikat di motornya.
Ia membuka tutupnya, lalu menyerahkannya kepada Sienna.
"Minum dulu."
Sienna menerima botol itu dengan sedikit ragu.
"Terima kasih."
Ia meneguk beberapa kali.
Air biasa terasa seperti sesuatu yang sangat berharga setelah berjam-jam berada di bawah terik matahari.
Setelah tenggorokannya terasa lebih baik, ia kembali bertanya.
"Kamu bekerja untuk siapa?"
"Bos."
"Siapa bosmu?"
"Yang memberi pekerjaan."
Sienna menatapnya datar.
Adrian membalas tatapannya.
"Kenapa?"
"Jawabanmu tidak membantu sama sekali."
"Ya, karena memang sederhana."
Adrian duduk di jok motornya.
"Aku cuma pekerja musiman."
Sienna terdiam.
"Pekerja musiman?"
"Betul."
"Di Darsen?"
Adrian mengangguk santai.
"Kerjanya lumayan."
Sienna menatap pakaian Adrian.
Kaos putih.
Celana pendek bermotif mencolok.
Sandal jepit.
Helm merah muda.
Kemudian pandangannya turun ke dua kardus mi instan yang diikat di belakang motor.
Setelah itu ia menatap kembali wajah Adrian.
"Kalau boleh tahu..."
Sienna menunjuk kendaraan lapis baja yang terbakar di kejauhan.
"Ini juga bagian dari pekerjaanmu?"
Adrian menoleh ke belakang.
"Oh."
Ia menggaruk kepalanya.
"Yang itu?"
Sienna mengangguk.
Adrian menghela napas.
"Seharusnya tidak."
"Seharusnya?"
"Rencananya cuma menyelesaikan pekerjaan."
"Lalu?"
"Mereka menggores motor."
Sienna tidak bisa berkata-kata.
Adrian memasukkan botol air ke dalam tas.
"Kalau mereka tidak mengganggu kendaraan orang, sebenarnya semuanya bisa selesai dengan damai."
Sienna menatapnya lama.
Damai?
Barusan kendaraan lapis baja meledak.
Puluhan orang bersenjata tumbang.
Dan pria ini masih menyebut semuanya bisa selesai dengan damai.
"Kamu benar-benar bukan tentara?"
"Bukan."
"Intelijen?"
"Bukan."
"Pasukan khusus?"
"Juga bukan."
"Kalau begitu apa?"
Adrian tersenyum tipis.
"Sudah kubilang."
Ia mengangkat kedua tangannya.
"Aku cuma pekerja musiman."
Sienna terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa pria ini memang mengatakan yang sebenarnya.
Bukan karena jawabannya masuk akal.
Justru karena terlalu aneh untuk dibuat-buat.
Seorang mata-mata biasanya akan memiliki identitas palsu yang rapi.
Seorang tentara biasanya membawa perlengkapan.
Seorang tentara bayaran biasanya memiliki tim.
Sementara Adrian?
Ia membawa mi instan, uang tunai, senjata entah dari mana, dan mengendarai motor bekas dengan helm anak-anak.
Sienna menghela napas.
"Kalau begitu, pekerja musiman..."
"Ya?"
"Apa sebenarnya pekerjaanmu?"
Mata Adrian langsung berbinar.
Ia menunjuk ke arah gurun di kejauhan.
"Membersihkan tempat yang sudah dibayar untuk dibersihkan."
Sienna mengikuti arah jarinya.
Di balik beberapa bukit pasir, samar-samar terlihat bangunan kompleks milik Blood Viper.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
"Jangan bilang..."
Adrian berdiri.
"Betul."
Ia mengencangkan tali yang mengikat kardus mi di belakang motornya.
"Masih ada pekerjaan yang belum selesai."
Sienna langsung menatapnya.
"Kamu mau pergi ke sana sekarang?"
"Kalau tidak sekarang, kapan?"
"Mereka punya ratusan orang!"
Adrian mengangguk.
"Makanya harus cepat."
Sienna mengira Adrian akan melanjutkan perjalanan.
Namun pria itu justru membuka salah satu kardus mi.
Ia mengambil sebungkus mi instan.
Sienna mengernyit.
"Kamu mau makan sekarang?"
Adrian melihat bungkus mi itu.
"Belum."
"Lalu?"
"Jaga-jaga kalau lembur."
Sienna menutup wajahnya dengan satu tangan.
Di tempat lain, para operator yang masih mengawasi kamera juga terdiam.
Salah seorang analis akhirnya berkata pelan,
"Dia benar-benar pergi ke markas Blood Viper?"
"Sepertinya."
"Sendirian?"
"Sepertinya."
"Dan dia membawa..."
Analis itu memperbesar gambar belakang motor.
Dua kardus mi instan terlihat jelas.
"...bekal makan."
Perwira senior memijat pelipisnya.
"Pantau terus."
Ia berhenti sejenak.
"Dan cari tahu satu hal."
"Apa, Pak?"
Perwira itu menatap layar.
"Siapa yang memberi anak itu pekerjaan?"
Di gurun Darsen, Adrian sudah menyalakan motornya.
Mesinnya kembali mengeluarkan suara batuk-batuk khas.
"Brum... brum... brum..."
Adrian menepuk stang.
"Jangan mogok sekarang."
Sienna memandangnya dengan wajah tidak percaya.
"Adrian."
"Hm?"
"Kalau kamu memang hanya pekerja musiman..."
Adrian menoleh.
Sienna menunjuk markas Blood Viper di kejauhan.
"...kenapa aku merasa tempat itu yang akan mengalami musim paling buruk hari ini?"
Adrian tersenyum.
"Karena firasatmu bagus."
Ia memutar gas.
Motor tua itu melaju meninggalkan jejak debu panjang menuju kompleks Blood Viper.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Sienna menyadari sesuatu.
Pertempuran sebelumnya mungkin bukan akhir dari masalah.
Itu baru permulaannya.