NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Keesokan paginya, saat jam menunjukkan pukul empat pagi, suasana kamar masih diselimuti keheningan.

Nadya tiba-tiba terbangun dan langsung bangkit dari tempat tidurnya ketika merasakan gelombang mual yang hebat mengocok perutnya.

Dengan tangan memegangi dada yang terasa bergejolak, ia berlari kecil menuju kamar mandi.

Di depan wastafel, Nadya membungkuk dan memuntahkan seluruh isi perutnya hingga lemas. Bulir-bulir keringat dingin mulai membasahi dahinya.

"Apa, aku keracunan?" gumam Nadya pelan seraya membilas mulutnya dengan air mengalir.

Ia memandangi pantulan wajah pucatnya di cermin, mencoba mengingat-ingat hidangan seafood yang mereka makan tadi malam.

"Tapi rasanya tidak mungkin. Kalau memang keracunan makanan semalam, seharusnya dari tadi malam aku sudah muntah-muntah dan sakit perut," pikirnya heran.

Tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di kepalanya. Jantung Nadya berdesir hangat.

"Apa aku?"

Tanpa membuang waktu, Nadya membuka lemari kecil di kamar mandi dan mengambil sebuah alat tes kehamilan yang memang pernah ia simpan.

Jemarinya sedikit gemetar saat mulai melakukan tes tersebut sesuai petunjuk.

Lima belas menit kemudian, dalam kepasrahan dan rasa penasaran yang membuncah, Nadya mengangkat alat tes itu.

Penglihatannya terpaku pada dua garis merah tegas yang tertera di sana. Dua garis—menandakan bahwa dirinya positif hamil.

Nadya seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Air mata haru mendadak menetes membasahi pipinya.

Rasa syukurnya membubung tinggi ke udara, seolah melengkapi seluruh kebahagiaan yang baru saja mereka raih.

Ia segera keluar dari kamar mandi dengan langkah bergetar, memegang erat alat tes itu di balik genggaman tangannya.

Di luar, ia melihat suaminya yang baru saja bangun dan duduk di tepi ranjang seraya mengucek mata.

"Selamat pagi, Dek. Kamu sakit?" tanya Armand cemas.

Pendengarannya yang peka sempat menangkap suara Nadya yang muntah-muntah di dalam kamar mandi tadi.

"M-Mas," panggil Nadya, suaranya tercekat di tenggorokan.

Melihat raut wajah istrinya yang berkaca-kaca dan gemetar, Armand langsung berdiri.

"Dek, ada apa? Kamu kenapa?"

Armand merapatkan langkahnya, merasakan jantungnya berdetak kencang dipenuhi rasa khawatir kalau-kalau dampak luka tembak atau trauma kemarin kembali menyerang Nadya.

Nadya mendongak, menatap manik mata Armand yang penuh kecemasan.

Ia membuka genggaman tangannya dan menunjukkan alat tes kehamilan itu di hadapan suaminya.

"Mas, aku hamil."

Armand terpaku. Kalimat sederhana itu seolah menghentikan putaran dunia di sekelilingnya sejenak.

Sorot matanya berpindah dari dua garis merah di alat tes itu ke wajah Nadya yang tersenyum penuh tangis.

Tanpa mempedulikan tangan kanannya yang masih terbalut gips tebal, Armand langsung merengkuh tubuh Nadya ke dalam pelukannya dengan tangan kirinya yang kuat.

Ia menenggelamkan wajahnya di leher sang istri, meresapi keajaiban baru yang dianugerahkan Tuhan di tengah masa pemulihan mereka.

"Dek, terima kasih," ucap Armand parau seraya menangis sesenggukan, meluapkan seluruh rasa haru dan bahagia yang tak tertandingi di dada.

"Sudah, sudah. Jangan menangis lagi, Mas," bisik Nadya lembut seraya mengusap air mata bahagia di pipi Armand. Senyum manis tak meluntur sedikit pun dari paras cantiknya.

"Sekarang lekas mandi, lalu kita ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan ini ke dokter."

Armand menganggukkan kepalanya cepat dengan binar mata yang memancarkan kegembiraan luar biasa.

"Iya, Dek. Mas mandi sekarang!

Setelah menyelesaikan mandinya dengan cekatan, Armand bergegas turun ke lantai bawah.Dengan langkah bersemangat, ia menuju ke dapur untuk menghampiri asisten rumah tangga mereka.

"Bi," panggil Armand hangat.

"Tolong buatkan susu kedelai hangat untuk Nadya sekarang, ya."Bibi yang sedang merapikan peralatan dapur menoleh kaget.

"Lho, Mas Armand? Pagi-pagi begini Bu Nadya mau minum susu kedelai? Biasanya kan minum jus atau teh hangat, Mas?"

Armand tidak bisa lagi menahan senyum bahagianya.

"Iya, Bi. Nadya sedang hamil. Tadi baru saja tes dan hasilnya positif."

"Astaga, Ya Allah!"

Bibi terkejut sampai menghentikan aktivitasnya, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Matanya seketika berkaca-kaca dipenuhi rasa haru.

"Benaran, Mas?! Alhamdulillah! Selamat ya, Mas Armand, Bu Nadya! Selamat! Bibi senang sekali dengarnya!"

"Terima kasih banyak ya, Bi," balas Armand tulus.

"Makanya tolong buatkan yang hangat ya, biar perut Nadya nyaman."

"Siap, Mas! Segera Bibi buatkan sekarang juga!" sahut Bibi penuh semangat, langsung menyiapkan bahan susu kedelai dengan wajah berbinar-binar.

Nadya yang sudah tampil segar dengan gaun terusan longgar yang anggun melangkah turun menuju ruang makan.

Kehangatan melingkupi dadanya saat melihat secangkir susu kedelai hangat sudah tersaji rapi di atas meja.

Ia mendaratkan tubuhnya di kursi makan lalu menyesap susu kedelai buatan Bibi perlahan.

Rasa gurih dan hangatnya seketika menenangkan perutnya yang sempat mual tadi pagi.

"Bi," panggil Nadya seraya menoleh ke arah Bibi yang sedang merapikan meja.

"Nanti tolong masakkan rawon iga ya untuk makan siang. Sama kalau ada mangga muda, Bibi tolong buatkan manisan."

Bibi menganggukkan kepalanya dengan antusias dan senyum merekah.

"Baik, Bu Nadya! Nanti Bibi langsung minta Pak Sopir antarkan ke pasar buat beli iga segar sama mangga mudanya. Wah, Bu Nadya sudah mulai ngidam ya?"

Nadya hanya tersenyum malu-malu seraya mengelus perutnya yang masih rata.

Armand yang baru saja menyusul ke ruang makan mendengar permintaan istrinya. Senyum bahagia tak lepas dari wajah tampannya

Ia merogoh dompet dari saku celananya dengan tangan kiri, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas bernominal besar.

Armand memberikan uang tersebut kepada Bibi.

"Ini uangnya ya, Bi. Beli bahan-bahan yang paling segar dan terbaik buat Nadya. Kalau kurang nanti bilang saya lagi."

"Terima kasih banyak, Mas Armand," sahut Bibi menerima uang tersebut dengan sopan.

"Selamat menikmati susunya, Bu. Bibi siapkan keperluan belanja dulu."

Armand melangkah mendekati Nadya, menunduk sejenak untuk mengecup pelipis istrinya dengan penuh kelembutan sebelum duduk di kursi sebelah Nadya.

"Sudah enak perutnya, Dek?" tanya Armand penuh perhatian, menatap bidadarinya yang kini tengah mengandung buah hati mereka.

Nadya menganggukkan kepalanya dan menikmati susu kedelai hangat.

Setibanya di dalam mobil, Armand melajukan kendaraan secara perlahan membelah jalanan kota yang mulai padat.

Perjalanan pagi menuju rumah sakit ternyata diwarnai kemacetan cukup parah.

Deretan kendaraan mengular panjang, merayap perlahan di bawah pendar sinar matahari pagi.

Nadya bersandar di kursi penumpang, sesekali mengelus perutnya seraya menatap ke luar jendela dengan helaan napas panjang.

Rasa mual tipis dan kantuk khas kehamilan muda mulai membuatnya tampak agak lesu.

Armand yang melirik ke arah istrinya tak ingin membiarkan Nadya merasa bosan atau cemas dalam kemacetan.

Menggunakan tangan kirinya yang lihai memegang setir, ia mulai memutar otak untuk mencairkan suasana.

"Dek, kamu tahu nggak bedanya kemacetan pagi ini sama kamu?" tanya Armand tiba-tiba dengan nada serius buatan.

Nadya menoleh, menaikkan sebelah alisnya heran.

"Ya bedalah, kemacetan bikin pusing, kalau aku kan,"

"Kalau kemacetan ini bikin orang stres dan emosi," potong Armand seraya tersenyum jahil.

"Tapi kalau kamu, makin ditatap makin bikin nagih sampai Mas nggak mau lepas!"

Nadya langsung tertawa renyah, menepuk pelan paha Armand.

"Aduh, Mas! Itu mah gombalan garing, bukan lelucon!"

"Oke, oke, kalau gitu tebakan satu lagi," sahut Armand tak mau kalah, matanya berbinar melihat senyum istrinya kembali merekah.

"Kenapa calon anak kita nanti harus bangga punya papa perancang busana?"

"Kenapa memangnya?"

"Soalnya sebelum lahir pun, papanya sudah pinter merancang masa depan indah dan bikin mamanya tersenyum tiap hari," jawab Armand percaya diri seraya mengedipkan sebelah matanya.

Nadya tak sanggup lagi menahan tawanya. Gelak tawa hangat memenuhi kabin mobil mereka, mengikis habis rasa jenuh akibat kemacetan panjang.

Berada di samping Armand dengan segala lelucon dan perhatian kecilnya membuat Nadya sadar, perjalanan menuju babak baru kehidupan mereka akan selalu dipenuhi keceriaan.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!