Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 19 rencana licik dimulai
Malam itu, setelah semua kejadian yang terjadi sebelumnya, Dwi segera menuju laboratorium untuk menemui Rey. Begitu tiba di lab, Dwi langsung bergegas menyusuri lorong menuju ruang pengetesan.
tap...tap...tap...
Suara langkah sepatunya terdengar semakin cepat di sepanjang lorong beberapa orang yang berpapasan dengannya sempat menyapa.
"Selamat malam, Bu Dwi."
Namun, Dwi sama sekali tidak menghiraukannya. Tatapannya lurus ke depan, langkahnya terus dipercepat seolah-olah ada sesuatu yang sangat mendesak. hingga akhirnya, ia tiba di depan ruang pengetesan Dwi langsung membuka pintunya dengan tergesa-gesa.
Krekk....
Pintu terbuka.
Di dalam ruangan tersebut, Rey terlihat berada di balik sebuah ruang kaca yang dikelilingi sekat-sekat pelindung. Beberapa dokter berdiri di sekitar area tersebut, mengawasi kondisi Rey begitu melihat Dwi masuk, salah satu dokter segera menyadari sesuatu yang berbeda dari wajahnya.
Para dokter ada di sana menatap Dwi terheran-heran di dekat, sehingga salah satu dokter berjalan mendekatinya yaitu dokter haris
"Dwi, kenapa wajahmu sangat pucat?"
Dwi tidak langsung menjawab.Napasnya terdengar sedikit berat. Ia hanya menatap ke arah Rey sebelum kembali menatap Dokter Haris.
"Aku ingin bicara dengan Rey di ruangan yang berbeda. Kumohon... beri aku waktu bersama Rey sebentar saja."
Dokter Haris memperhatikan wajah Dwi yang tampak panik. Setelah beberapa saat, ia akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
Beberapa saat kemudian, Dwi dan Rey berada di ruangan yang berbeda. Mereka duduk berdampingan di sebuah sofa. Suasana di dalam ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan ruang pengetesan sebelumnya.
Rey menoleh kepada Dwi.
"Ada apa, Ma?"
"Rey..."
"Mama ingin memberitahumu sesuatu."
"Apa itu?"
"Sepertinya organisasi Revor akan segera mengacak-acak semuanya."
"Maksud Mama apa?"
"Jadi begini, Nak..." Dwi menatap Rey dengan serius. "Athena sedang dalam bahaya. Kalau sampai seluruh warga mengetahui semuanya..." lanjut Dwi, "keadaan bisa menjadi kacau."
"Apa yang terjadi?"
"Dokumen penting milik Athena telah dicuri oleh Revor. Dua anggota mereka baru saja meretas papan digital billboard," lanjut Dwi. "Setelah itu, mereka menyebarkan dokumen penting milik Athena ke publik."
Rey menatap Dwi dengan tidak percaya.
"Tidak mungkin..."
"Kenapa, Nak?"
"Karena... kemarin malam aku mendapatkan sebuah misi."
"Misi?"
Rey mengangguk.
"Tapi aku gagal menyelesaikannya."
"misi apa yang kamu maksud nak?"
Rey langsung terdiam, ekspresi wajahnya berubah bingung, Ia menatap Dwi seolah baru menyadari sesuatu.
"Bagaimana Mama tidak tahu? bukankah Mama sudah pasti tahu setiap misi yang diberikan kepadaku?"
"Nak... Mama tidak tahu kalau—"
BRAKK!!
Pintu tiba-tiba terbuka keduanya langsung menoleh kearah pintu. Tanpa aba-aba, seorang pria masuk sambil mendorong sebuah troli berisi berbagai camilan dan dua gelas minuman, Ia sama sekali tidak mengatakan apa pun mengenai pembicaraan mereka sebelumnya.
Pria itu adalah Lucas.
"Maaf memotong pembicaraan ibu dan anak."
Dwi dan Rey menatap Lucas dengan keheranan
"Pak Lucas? Ngapain tiba-tiba masuk?" (tanya Rey)
Lucas tersenyum tipis.
"Maaf mengganggu, Rey. Saya hanya ingin memberikan kalian sedikit camilan dan minuman."
Lucas mengambil beberapa makanan dan minuman dari troli, kemudian meletakkannya di meja yang berada di depan mereka berdua Setelah selesai, Lucas berjalan menuju sofa satu dudukan yang berada tepat di depan Rey dan Dwi.
Ia kemudian duduk dengan santai Senyum tipis masih terlihat di wajahnya. Dwi yang sebelumnya berbicara dengan nada panik kepada Rey kini berubah. Suaranya terdengar jauh lebih tenang dan berwibawa setelah Lucas datang.
Dwi menatap Lucas dengan serius
"Hei, Lucas."
"Aku tahu tujuanmu datang ke sini."
Dwi menunjuk makanan dan minuman yang baru saja diletakkan Lucas di meja.
"Omong-omong... bagus juga. Di malam hari seperti ini, kita bisa saling berbincang sambil disuguhi makanan dan minuman."
"Hohoho... sudah kuduga dirimu akan menyukai ini."
Lucas mengangkat salah satu kakinya lalu menyilangkan kedua kakinya, Siku kanannya diletakkan di atas sandaran sofa, Tangannya mengepal, kemudian sisi kepalanya disandarkan pada tangan tersebut tatapannya tetap tertuju kepada Dwi dan Rey.
"Hmmm..."
Lucas memperhatikan keduanya dengan ekspresi santai.
"Sepertinya kalian sedang membahas sesuatu yang cukup penting."
Suasana mendadak terasa berbeda Senyum Lucas masih terpasang, tetapi tatapannya mengingatkan pada seorang polisi yang sedang menginterogasi seorang tersangka Kemudian, ia bertanya dengan nada santai.
"Apakah yang kalian bicarakan itu... sebuah dokumen milik Athena?"
"ya. Dan itu benar" (jawab Dwi)