Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
BUGH! BUGH!
Suara benturan keras daging yang menghentak tulang pipi bergema nyaring di sudut lantai utama Velvet Noir.
Pukulan bertubi-tubi itu dilayangkan oleh Brayen tanpa ampun. Kepalan tangannya yang dibungkus urat-urat menegang menghantam tepat di wajah Brian yang sedang duduk di depan area bartender.
Sapuan tinju membabi buta itu menghantam sudut rahang dan tulang hidung Brian hingga membuat tubuh pria itu terpental roboh dari kursi tingginya dan tersungkur keras ke atas lantai marmer.
Anehnya, Brian sama sekali tidak membalas. Ia bahkan tidak mengangkat kedua tangannya untuk menangkis.
Beruntung, Velvet Noir jam segini belum resmi dibuka untuk umum. Belum ada satu pun pelanggan hidung belang atau bangsawan kelas atas yang datang untuk menyaksikan pertikaian berdarah antara dua saudara kembar kepercayaan Tuan Nolan tersebut.
Namun tetap saja, keributan fisik yang meledak mendadak itu langsung menyita perhatian beberapa pekerja klub, para pengawal, dan pelayan yang sedang duduk santai atau membersihkan sudut ruangan.
"Ini semua salahmu, sialan!" teriak Brayen dengan napas menderu keras, matanya merah padam oleh keputusasaan dan amarah yang meluap. "Karena kebodohanmu di masa lalu... sekarang Bonna terjebak di tempat jahanam ini selamanya!"
Brian terbaring sejenak di lantai, lalu menggunakan sebelah tangannya untuk menyapu sudut bibirnya yang pecah dan meneteskan darah segar.
Ini bukan pertama kalinya mereka berdua bertengkar hingga babak belur. Bukan pula pertama kalinya jemari mereka saling menghantam wajah saudara kembarnya sendiri. Hidup keras di jalanan dan lingkungan kriminal sejak kecil telah menempa mereka untuk menyelesaikan amarah dengan kepalan tangan.
"Dilihat dari reaksimu yang seperti kesetanan ini... sepertinya tebakanku tidak meleset sedikit pun," ujar Brian seraya berusaha bangkit dan berdiri tegak di hadapan saudara kembarnya. Tangannya mengusap dagunya yang memar. "Tuan Nolan sama sekali tidak mau melepaskan wanita itu untukmu, bukan?"
Brian melangkah satu garis mendekati Brayen, lalu terkekeh sinis dengan nada bicara yang provokatif.
"Walaupun dia tidak bisa pergi dari tempat ini... setidaknya kau masih bisa menidurinya. Apa kau kira kalau dia bebas dan keluar dari tempat ini, dia akan langsung memaafkanmu begitu saja, Bray?" tembak Brian dengan tatapan mengejek. "Memaafkan mantan kekasihnya yang bahkan tidak keberatan adiknya menidurinya tanpa pernah ia sadari?"
"TUTUP MULUTMU!" bentak Brayen, langkahnya maju hendak melayangkan pukulan berikutnya.
Namun Brian tidak mundur sedikit pun. Ia justru membusungkan dadanya dan melanjutkan celotehannya dengan suara yang makin menekan, "Kau harusnya bersyukur dia terjebak di tempat ini, Bray! Kalau dia ada di luar sana dan kau yang membebaskannya dari penjara, apa kau pikir dia akan berterima kasih padamu? Kau pikir dia akan memberikanmu kesempatan kedua untuk memulai semuanya dari awal lagi? Tidak! Dia akan tetap meninggalkanmu, sialan!"
Brian menudingkan jarinya tepat ke dada Brayen. "Tapi di sini... di Velvet Noir ini, kau bisa menidurinya kapan pun kau mau! Kau tidak perlu lagi bermain dengan tanganmu sendiri setiap malam sembari membayangkan wajahnya! Kau tidak perlu lagi menyebut namanya saat sedang meniduri wanita lain di atas Ranjang! Kau bisa menidurinya secara langsung di sini sesukamu!"
Brian baru saja hendak meneruskan ucapan beracunnya lebih jauh, namun seluruh patah kata di tenggorokannya mendadak tertelan bulat-bulat.
Pijar mata Brian membeku saat ia menangkap sebuah bayangan di ujung lorong utama. Di sana, La Bonna berjalan perlahan melewati lorong, melangkah mendekat ke arah area bar di mana mereka berdua berdiri.
Apa La Bonna mendengar pertengkaran ini? pikir Brian di dalam batinnya yang mendadak cemas.
Orang-orang lain atau pengawal di ruangan ini mungkin saja mendengar teriakan keras mereka. Tetapi baik Brian maupun Brayen dari tadi tidak pernah sekalipun menyebutkan nama La Bonna secara gamblang dalam teriakan mereka, jadi pekerja lain tidak akan pernah tahu siapa wanita yang sedang mereka perebutkan.
Namun... jika La Bonna yang mendengarnya secara langsung dari jarak dekat, sudah pasti wanita bermata indah itu tahu betul bahwa mereka berdua sedang bertengkar hebat mengenai dirinya dan masa lalunya.
Brian mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia memilih untuk segera berbalik dan melangkah pergi membelakangi Brayen, enggan untuk menimbulkan keributan yang lebih jauh dan lebih rumit lagi di hadapan wanita itu.
Brian paham betul kalau saudara kembarnya saat ini sedang berada dalam puncak frustrasi. Ia tahu, hanya perlu memberikan waktu sejenak, pasti emosi Brayen akan mereda dan ia akan kembali seperti biasa.
Begitulah pola hubungan mereka selama ini. Setiap kali bertengkar hebat hingga berdarah-darah, pada akhirnya mereka akan selalu kembali menyatu seperti tidak pernah terjadi apa pun.
Mereka adalah saudara kembar identik. Dalam garis hidup mereka yang teramat keras, gelap, dan penuh luka, pada akhirnya hanya mereka berdualah yang saling memiliki di dunia ini. Pada akhirnya, ikatan darah selalu memenangkan pertarungan di atas masalah atau wanita mana pun.
Lagipula... setidaknya La Bonna tidak mati di tangan Tuan Nolan.
Brayen seharusnya sudah merasa cukup lega dan senang dengan kenyataan itu—seperti halnya Brian yang merasa sangat lega dan bahagia saat mendapati fakta bahwa La Bonna masih hidup di tempat ini.
Nanti, jika emosi Brayen sudah agak tenang dan kepalanya sudah melandai dingin, Brian baru akan mengajak saudara kembarnya itu bicara baik-baik lagi dari hati ke hati.
Saat ini, hanya ada satu hal utama yang teramat mereka syukuri di dalam hati masing-masing: La Bonna De Luca masih baik-baik saja, masih hidup, dan masih bernapas lega hingga hari ini.
Mungkin untuk saat ini Bonna memang harus berada di dalam genggaman dan tahanan pribadi Tuan Nolan. Tapi Brian yakin, jika suatu hari nanti Tuan Nolan sudah merasa bosan dengan tubuh wanita itu, Tuan Nolan pasti akan dengan senang hati melemparkan dan memberikan La Bonna kepada Brayen.
Logika mereka teramat sederhana: Tuan Nolan bahkan tidak pernah peduli dengan perasaan atau harga diri adik perempuannya sendiri dan dengan santai membiarkan Lucifer memiliki serta menjaganya, apalagi hanya untuk seorang perempuan yang keberadaannya sama sekali tidak penting seperti La Bonna.
Brayen dan Brian hanya perlu bermain cantik, bersabar, dan memungut sisa-sisa La Bonna nanti setelah Tuan Nolan membuangnya. Sebab bagi mereka berdua, mencoba membebaskan atau melarikan La Bonna dari Velvet Noir tanpa seizin resmi dari tuannya adalah sebuah tindakan konyol.
Melanggar perintah Tuan Nolan sama saja dengan mengundang maut dan bunuh diri secara instan.
Jika mereka nekat bertindak bodoh, mereka berdua bisa mati sia-sia di ujung peluru Lucifer. Begitu pula dengan La Bonna—wanita itu pasti akan dieksekusi mati detik itu juga.