NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Keabadian di Bawah Langit yang Tenang

Redupnya pilar cahaya keunguan di atas altar batu kuno menandai berakhirnya ancaman terbesar yang pernah membayangi eksistensi dunia kultivasi. Celah dimensi yang sempat menganga lebar di langit Pegunungan Langit Timur kini telah merapat sempurna, meninggalkan cakrawala biru cerah tanpa noda. Hembusan angin pagi yang dingin berangsur-angsur menghangat, membawa serta kesegaran alami yang menyapu bersih sisa-sisa miasma hitam dan debu kosmik dari arena pertempuran. Di atas pelataran batu granit yang luas itu, keheningan khidmat kembali merajai sekeliling, menyisakan deru napas teratur dari dua orang insan yang baru saja menyelamatkan peradaban dari ambang kepunahan.

Kaelen berdiri tegak di dekat sisa-sisa altar batu, tangannya perlahan menurunkan pedang baja gelap kembali ke dalam sarung pinggangnya. Denyutan spiritual di dalam dantiannya kini telah mereda, bersembunyi dengan damai di balik aliran darah dan esensi jiwa pemuda tersebut. Tidak ada lagi beban kosmik yang menghimpit dadanya; yang tersisa hanyalah rasa lapang dan ketenangan mutlak dari seseorang yang telah menunaikan seluruh tanggung jawab tertingginya terhadap alam semesta.

Di sisi kirinya, Lyra menyeka peluh yang menetes di pelipisnya menggunakan punggung tangan, sementara senyuman lega merekah lebar di bibirnya. Gadis itu melangkah mendekat, lalu menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Kaelen, menikmati kehangatan tubuh pemuda itu setelah berjam-jam bertaruh nyawa di bawah tekanan gravitasi antardimensi.

"Kita benar-benar berhasil menutupnya," bisik Lyra pelan, suaranya terdengar begitu lembut di tengah desau angin puncak gunung. "Tidak ada lagi celah, tidak ada lagi bayangan musuh dari dunia luar. Langit di atas kita kini benar-benar milik kita sendiri."

Kaelen merangkul pinggang Lyra dengan penuh kelembutan, mengecup puncak kepala gadis itu sekilas. "Ya, semuanya sudah berakhir, Lyra. Tidak ada lagi tempat bagi para perusak sejarah untuk bersembunyi. Dunia ini akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bernapas dengan tenang."

Perjalanan Pulang ke Lembah Bintang Kelabu

Setelah memastikan bahwa formasi pasak dimensi di pelataran kuno tersebut telah pulih dan terkunci secara permanen, Kaelen dan Lyra memutuskan untuk tidak langsung kembali ke daratan tengah. Mereka memilih jalur turun yang berbeda, menyusuri sisi timur pegunungan yang mengarah langsung ke kawasan perbatasan Lembah Bintang Kelabu—tempat di mana petualangan besar mereka bermula dari seonggok pedang berkarat dan lembaran kulit purba yang penuh misteri.

Perjalanan turun gunung memakan waktu dua hari penuh. Tanpa adanya gangguan dari monster korup ataupun utusan asing, perjalanan tersebut terasa bagaikan sebuah tamasya alam yang damai. Mereka melewati hutan-hutan subur yang kini telah pulih dari kutukan kekeringan; aliran sungai kembali jernih, memantulkan bias cahaya matahari sore, sementara berbagai jenis satwa liar tampak bebas berlarian di balik rerimbunan pohon pinus.

Pada senja hari kedua, siluet gubuk batu tua milik Mo Xingchen di lereng bukit Lembah Bintang Kelabu mulai tampak di balik kabut tipis sore hari. Kepulan asap tipis terlihat membubung dari cerobong batu rumah tersebut, menandakan kehadiran sang penghuni tua yang sedang menikmati waktu senjanya dengan tenang.

Begitu Kaelen dan Lyra mendekati halaman gubuk, suara ketukan tongkat kayu terdengar dari ambang pintu. Mo Xingchen melangkah keluar dengan senyum lebar menghiasi wajahnya yang dipenuhi keriput. Pria tua itu menatap kedua anak muda di hadapannya dengan binar mata katarak yang memancarkan kebanggaan luar biasa.

"Aku tahu kalian akan kembali dengan selamat," sambut Mo Xingchen ramah, suaranya bergetar menahan haru. "Meskipun aku tidak bisa melihat langsung apa yang terjadi di puncak timur sana, resonansi alam di seluruh penjuru negeri berubah drastis sejak kemarin sore. Langit di atas kita terasa lebih bersih dari sebelumnya."

Lyra tersenyum hangat, lalu melangkah maju untuk memeluk singkat pria tua tersebut. "Terima kasih atas segala bimbingan dan peta rahasia gorong-gorong yang pernah Kakek berikan kepada kami dulu. Tanpa bantuanmu, kami mungkin tidak akan pernah sampai pada titik ini."

Mo Xingchen tertawa kecil, menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak berbuat banyak, Nona Alkemis. Aku hanya menunjuk arah bagi orang-orang yang memang ditakdirkan untuk membawa perubahan."

Malam itu dihabiskan dalam kehangatan api unggun di depan gubuk batu Mo Xingchen. Mereka berbagi cerita mengenai pertempuran sengit di puncak pegunungan, runtuhnya ancaman dimensi luar, serta rencana masa depan yang ingin mereka bangun bersama. Suasana kekeluargaan yang tercipta di bawah naungan bintang-bintang malam itu menghapus seluruh sisa lelah dari perburuan panjang yang melelahkan.

Babak Baru Tanpa Akhir

Beberapa hari kemudian, Kaelen dan Lyra melanjutkan perjalanan terakhir mereka melintasi padang rumput hijau yang membentang di bawah langit biru daratan tengah. Mereka tidak lagi dikejar oleh waktu, tidak pula dibebani oleh takdir penyelamatan dunia. Setiap langkah yang mereka ayunkan adalah murni sebuah pilihan bebas—menjelajahi sudut-sudut bumi yang belum terjamah, menolong para pelancong yang membutuhkan, dan menikmati keindahan alam semesta dalam kesederhanaan.

Di sebuah bukit kecil yang dipenuhi bunga liar berwarna kuning keemasan, Kaelen menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap Lyra yang tersenyum manis di sisinya, lalu memandang jauh ke arah cakrawala tempat matahari sore mulai tenggelam perlahan, memancarkan bias cahaya jingga yang memesona.

Meskipun buku sejarah daratan tengah akan terus mencatat nama Kaelen sebagai legenda agung yang meruntuhkan tirani dan menutup celah kehancuran, bagi mereka berdua, gelar kepahlawanan itu tidak pernah menjadi tujuan utama. Yang terpenting bukanlah seberapa besar nama mereka dikenang oleh dunia, melainkan bagaimana mereka memilih untuk menjalani setiap detik sisa hidup mereka dengan ketulusan hati, cinta, dan kedamaian yang sejati.

Di bawah naungan langit yang tenang, bersama hembusan angin sore yang membelai lembut, lembaran epos kehidupan Kaelen dan Lyra terus berputar—sebuah kisah abadi tentang keberanian, cinta, dan harmoni yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!