NovelToon NovelToon
Affair With Hot Secretary

Affair With Hot Secretary

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Kehidupan di Kantor
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 - Debaran Aneh

Langkah Tristan semakin cepat menyusuri koridor lantai tersebut. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya langsung menyingkir memberi jalan. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat jelas menegang.

"Pak, kami sudah memeriksa beberapa ruangan. Denis tidak ada di sana," lapor seorang staf yang mengejarnya.

"Terus cari."

"Baik, Pak."

Tristan tidak menjawab lagi. Perhatiannya tertuju pada setiap sudut koridor. Dia berusaha menekan kegelisahan yang semakin besar di dadanya. Denis memang hanya seorang anak berusia tujuh tahun, tetapi bagi Tristan, putranya adalah bagian paling penting dalam hidupnya.

Setelah beberapa langkah, Tristan akhirnya mendengar suara anak kecil dari arah lorong dekat toilet. Suara itu terdengar samar, tetapi dia mengenalinya.

"Denis..."

Tristan mempercepat langkah. Begitu sampai di ujung koridor, langkahnya mendadak terhenti.

Denis ada di sana. Namun putranya tidak sendirian. Seorang perempuan muda sedang berjongkok di hadapan Denis sambil tersenyum. Perempuan itu tampak sedang berbicara dengan putranya.

Tristan mengembuskan napas lega. Setidaknya Denis baik-baik saja.

"Denis!"

Anak laki-laki itu langsung menoleh.

"Ayah!"

Begitu melihat Tristan, Denis segera berdiri dan berlari menghampirinya. Tristan langsung membuka kedua tangannya. Denis menabrak pelukannya, membuat Tristan refleks merangkul tubuh kecil tersebut.

"Kamu ke mana saja?" Tristan mengusap kepala putranya. "Ayah mencarimu ke mana-mana."

Denis menempelkan wajahnya di dada Tristan. "Maaf."

Tristan menghela napas panjang. Rasa khawatir yang sejak tadi memenuhi pikirannya perlahan mereda.

"Kenapa pergi tanpa bilang-bilang?"

Denis mengangkat wajah. "Aku sedih aja."

"Sedih karena apa?"

Denis terdiam beberapa saat. Tristan kemudian mengusap pipinya.

"Ceritakan kepada Ayah."

Denis menarik napas kecil. "Mama tidak mau ikut."

Tristan mengerutkan kening. "Ikut ke mana?"

"Besok sekolah Denis ada tur."

Tristan baru teringat bahwa beberapa hari lalu Denis memang pernah bercerita mengenai kegiatan sekolahnya.

"Jadi kamu sedih karena Mama tidak mau menemanimu?"

Denis mengangguk. "Denis sudah minta."Suaranya kembali terdengar sedih. "Tapi mama bilang dia sibuk."

Tristan terdiam. Dia tahu Olivia memang jarang benar-benar memperhatikan kegiatan Denis. Namun mendengar putranya mengatakannya dengan suara sedih tetap membuat hatinya terasa tidak nyaman.

"Denis seharusnya tidak pergi sendirian hanya karena sedih."

"Maaf, Yah... Lain kali nggak lagi deh."

Tristan menghela napas. "Nanti kita bicarakan di ruangan Ayah."

Denis mengangguk. Barulah Tristan menyadari keberadaan perempuan yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka. Dia mengangkat kepala. Tatapannya bertemu dengan mata Nayla.

Untuk sesaat, Tristan terdiam. Perempuan itu tersenyum kecil. Senyum yang sederhana. Namun entah mengapa, Tristan merasa seperti melihat sesuatu yang sudah lama tidak pernah dia temukan.

Bukan sekadar kecantikan wajah, melainkan sesuatu yang terasa begitu alami. Rambut panjang yang tertata sederhana, wajah tanpa riasan berlebihan, serta tatapan yang terlihat hangat ketika memandang Denis.

Tristan bahkan sempat terpaku. Jantungnya berdetak lebih cepat. Debaran yang aneh. Debaran yang sudah sangat lama tidak dia rasakan.

Tristan segera tersadar. Apa yang sedang dia pikirkan? Dia sudah menikah. Dia memiliki istri, dan perempuan di hadapannya hanyalah seseorang yang kebetulan menolong putranya.

Tristan mengalihkan pandangan. "Jadi kau yang sejak tadi bersama Denis tadi?"

Nayla mengangguk. "Iya, Pak."

"Maaf kalau Denis tadi membuatmu repot."

"Tidak apa-apa."

Nayla tersenyum lagi. "Denis tadi menangis. Saya kebetulan melihatnya, jadi saya hanya menemaninya sebentar."

Tristan kembali menatap putranya. "Dia bilang apa kepadamu?"

Denis langsung menjawab dengan polos.

"Kak Nayla kasih Denis permen."

Tristan menatap tangan Denis. Di sana masih ada bungkus permen kecil.

"Kak Nayla juga bilang Denis jangan menangis."

Tristan kembali menatap Nayla. "Terima kasih."

Nayla menggeleng. "Sama-sama. Saya juga punya adik, jadi saya tidak tega melihat anak kecil menangis sendirian."

Tristan memperhatikannya sejenak. Kalimat sederhana itu kembali membuatnya terdiam. Tidak banyak orang yang mau berhenti di tengah kesibukan hanya untuk menenangkan anak kecil yang tidak mereka kenal.

"Kalau begitu, terima kasih sekali lagi."

"Sama-sama, Pak."

Nayla melirik jam tangannya. Wajahnya langsung berubah panik.

"Oh, astaga!"

Tristan mengerutkan kening. "Saya harus pergi."

"Kenapa?"

"Saya ada wawancara kerja."

Nayla membungkuk sedikit. "Permisi, Pak."

Dia berbalik dan mulai berjalan cepat. Namun baru beberapa langkah, Tristan menyadari sesuatu. Kemudian dia mengingat jadwal hari ini. Seleksi sekretaris baru.

"Jangan bilang..."

Tristan menghela napas. Ternyata perempuan yang baru saja membuat jantungnya berdetak tidak karuan itu adalah salah satu kandidat yang akan diwawancarai untuk menjadi sekretarisnya.

Seketika perasaan Tristan menjadi tidak nyaman. Dia bahkan berharap perempuan itu tidak lolos. Bukan karena Nayla tidak memiliki kemampuan. Justru karena Tristan tidak ingin terlalu sering bertemu dengannya. Dia tidak ingin merasakan debaran aneh itu lagi. Tristan kemudian menggendong Denis.

"Ayo."

"Mau ke mana?"

"Ke ruangan Ayah."

Tristan berjalan kembali. Namun sepanjang perjalanan, pikirannya masih sesekali tertuju kepada perempuan tadi.

Tristan mengeraskan rahang. Dia tidak boleh memikirkan hal seperti itu. Dia sudah memiliki keluarga. Dia adalah seorang suami.

Sementara itu, Nayla hampir berlari menuju ruang tunggu kandidat. Begitu sampai, dia langsung mengatur napas.

"Syukurlah..."

Dia melihat beberapa kandidat masih menunggu. Tidak lama kemudian, seorang staf HR keluar membawa daftar nama.

"Nona Nayla Putri Lestari?"

Nayla langsung berdiri. "Ya, saya."

"Silakan masuk."

Nayla mengangguk. Dia berjalan masuk ke ruang wawancara dengan jantung berdebar.

Di dalam ruangan terdapat tiga orang pewawancara. Dua pria dan seorang wanita.

Mereka mempersilakan Nayla duduk.

"Silakan perkenalkan diri."

Nayla menarik napas. "Nama saya Nayla Putri Lestari, usia dua puluh lima tahun. Pendidikan terakhir saya SMA. Selama beberapa tahun terakhir saya bekerja di beberapa tempat, mulai dari minimarket, toko pakaian, kedai, sampai menjalankan usaha penjualan online."

Salah satu pewawancara mencatat sesuatu. "Anda mengetahui bahwa posisi ini membutuhkan kemampuan administrasi yang cukup baik?"

"Ya, Pak."

"Anda tidak memiliki pengalaman sebagai sekretaris."

Nayla mengangguk. "Benar."

"Kenapa Anda merasa mampu?"

Nayla tersenyum. "Saya memang belum pernah bekerja sebagai sekretaris. Namun selama bekerja, saya terbiasa mengatur jadwal, menangani pelanggan, mencatat pesanan, mengelola stok, membuat laporan sederhana, dan bekerja di bawah tekanan. Saya juga terbiasa belajar hal baru."

Pewawancara pertama mengangguk kecil. Kemudian dua kandidat lainnya dipanggil masuk. Keduanya memiliki pendidikan sarjana.

Salah satunya bahkan memiliki pengalaman magang di perusahaan besar. Nayla sempat kembali merasa minder. Namun kali ini dia tidak membiarkan rasa itu menguasainya. Dia hanya bisa melakukan yang terbaik.

Pertanyaan mengenai pendidikan pun mulai diajukan.

"Kalian berdua memiliki gelar sarjana. Apa alasan kalian melamar posisi ini?"

Kandidat pertama menjawab dengan percaya diri.

"Saya ingin mendapatkan pengalaman profesional di perusahaan fashion besar seperti Nebula."

Kandidat kedua juga memberikan jawaban serupa. Kemudian pertanyaan beralih kepada pengalaman.

"Apa pengalaman kerja kalian yang paling relevan dengan posisi ini?"

Kandidat pertama terdiam. Dia memang memiliki pengalaman magang, tetapi hanya beberapa bulan dan pekerjaannya tidak berhubungan langsung dengan administrasi pribadi seorang direktur. Kandidat kedua juga terlihat berpikir.

"Saya pernah menjadi anggota organisasi kampus dan mengurus beberapa acara."

Pewawancara mengangguk. Kemudian tatapan mereka beralih kepada Nayla.

"Bagaimana dengan Anda?"

Nayla menjawab jujur.

"Saya memang tidak pernah bekerja di perusahaan besar. Namun saya sudah bekerja sejak selesai SMA. Saya pernah menjadi kasir, bekerja di minimarket, mengurus stok barang, menangani pelanggan, dan mengelola toko online sendiri."

Dia menjelaskan semuanya dengan tenang.

"Karena terbiasa bekerja sendiri, saya juga terbiasa mengatur waktu, mencatat pemasukan dan pengeluaran, memastikan pesanan tidak terlambat, serta menghadapi pelanggan yang memiliki berbagai karakter."

Ketiga pewawancara saling berpandangan. Salah satu dari mereka tersenyum. Mereka tampaknya tidak menyangka bahwa kandidat dengan pendidikan paling rendah justru memiliki pengalaman kerja yang paling beragam.

"Kalau begitu, bagaimana Anda menghadapi pekerjaan yang sangat banyak dalam waktu bersamaan?"

"Saya akan menentukan mana yang paling mendesak, lalu mengerjakannya satu per satu tanpa mengabaikan pekerjaan lainnya."

"Bagaimana jika atasan Anda memberikan pekerjaan baru ketika pekerjaan sebelumnya belum selesai?"

"Saya akan memastikan prioritasnya. Kalau pekerjaan baru lebih penting, saya akan menyelesaikannya terlebih dahulu sambil mencatat pekerjaan sebelumnya agar tidak terlupakan."

Jawaban Nayla sederhana. Namun terdengar masuk akal. Ketiga pewawancara kembali saling pandang. Salah satu dari mereka sedikit mencondongkan tubuh.

"Anda sadar posisi ini bekerja langsung dengan direktur utama?"

"Ya, Pak."

"Dan Anda harus menghadapi orang dengan karakter yang mungkin cukup sulit?"

Nayla tersenyum kecil. "Saya rasa setiap orang memiliki karakter berbeda. Selama saya memahami tugas saya dan bisa berkomunikasi dengan baik, saya akan berusaha menyesuaikan diri."

Wawancara berlangsung cukup lama. Setelah Nayla keluar dari ruangan, ketiga pewawancara langsung berdiskusi.

"Menurut saya, dia menarik."

"Setuju."

"Dia memang hanya lulusan SMA, tapi pengalaman kerjanya jauh lebih banyak daripada dua kandidat lainnya."

Pewawancara wanita mengangguk.

"Dan dia cepat belajar. Dari jawabannya, saya rasa dia punya kemampuan dasar yang bagus."

Pria lainnya melirik ke arah pintu. "Penampilannya juga sangat menarik."

Wanita itu tersenyum kecil. "Cantik sekali. Tapi pakaiannya agak..."

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Sedikit lusuh?"

"Ya."

Pewawancara wanita mengangguk. "Namun penampilan bisa diperbaiki."

Keduanya menoleh kepadanya. Dia tersenyum.

"Kalau kemampuan tidak ada, jauh lebih sulit diperbaiki. Tapi kalau hanya soal pakaian dan cara berpenampilan, perusahaan bisa mengajarinya."

Pewawancara lain mengangguk setuju.

"Benar juga."

Di luar ruangan, Nayla belum mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Dia hanya berdiri di koridor sambil mengembuskan napas lega. Setidaknya dia sudah mencoba. Apa pun hasilnya nanti, dia tidak akan menyesal.

1
Mita Paramita
mungkin Denis bukan anak kandung Tristan... hasil perselingkuhan Olivia & zay😈😈😈 lanjutin Tristan sampe puas bikin Nayla tepar 🤣🤣🤣🫡
Mita Paramita
gass terus Nayla bikin Tristan lupain Olivia 🤣🤣🤣 rebut sekalian
Mita Paramita
bos dan sekretaris jadi lupa batasan malah curcol masalah rumah tangga 🫡🫡🫡 kasian ternyata Tristan Pria kesepian
Mita Paramita
Nayla takut gelap 😭😭😭 tapi kalo sekarang lebih takut kehilangan Tristan 🤣🤣🤣
Rommy Wasini Khumaidi
monggo dilanjutkan saja mas Tris
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
jangan-jangan Denis bukan anak Tristan sama Olivia lagi, Olivia kan suka di celup-celup😂
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
langsung jadian deh Tristan sama Nayla menjadi pacar selundupaan 🤭
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
kalau udah mabuk pasti lupa sama janji ya Tristan 😂
Dinda Putri
Kenapa ga nikah siri aja sih biar greget gitu
Rommy Wasini Khumaidi
gimana rasanya mas Tris?
Ass Yfa
yg katanya tdk akan terulang lagi mlh berkelanjutankan...
tattoo
lagi 🌚🌚🌚
Rommy Wasini Khumaidi
lanjutkan Nay,aku mendukungmu
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
itu beda ya nay karena itu cuma reflek aja 😂
Mita Paramita
SituationShip 🫡🫡🫡
Mita Paramita
zay cocok banget jadi selingkuhan Olivia sama sama manusia redflag 🤣🤣🤣 semoga perselingkuhan mereka cepet terbongkar nih
Mita Paramita
Nayla udah terang terangan mau jadi gundik Tristan 🤣🤣🤣
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
astaga kasihan kau Tristan lagi tanggung-tanggung nya eh di stop😂😂😂
tattoo
belum pernah dengar😭
Ass Yfa
😄😄😄Tristan dibuat kentang sama Nayla rasain...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!