Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pernikahan ibu
Dua hari berlalu begitu cepat, seakan waktu berlari meninggalkan kami. Besok adalah hari yang ditakuti semua orang. Hari pernikahan Ibu dan Paman Samudra.
Suasana di rumah terasa hening sekali. Tak ada canda, tak ada tawa. Pakaian pengantin sudah dikirim Samudra kemarin, terbungkus rapi di atas tempat tidur Ibu, gaun mahal berwarna merah menyala, namun terlihat begitu berat dan menyesakkan. Ibu hanya diam menatapnya dari jauh, tak pernah sekalipun menyentuhnya. Wajahnya pasrah, namun matanya menyimpan kesedihan yang dalam.
Aku duduk di pojok ruangan, melipat kedua tangan erat-erat. Dua hari ini kami sibuk mencari jalan keluar, namun tak satu pun yang berhasil. Utang yang membelit, tekanan Bibi Wijaya, ancaman Samudra, semuanya seakan merapat mengelilingi kami, mempersempit ruang gerak hingga tak tersisa celah sedikit pun. Besok pagi, rombongan pengantin pria akan datang menjemput. Dan sampai detik ini, tak ada satu pun solusi yang kutemukan.
"Sudah larut, nduk. Masuk tidur," panggil Ibu pelan, suaranya terdengar lemah.
"Bagaimana dengan Ibu?"
"Ibu sebentar lagi."
Aku bangkit perlahan, berhenti di samping Ibu. "Masih ada malam ini, Bu. Masih ada waktu."
Ibu tersenyum getir, mengusap kepalaku pelan. "Sudah cukup, nduk. Biarlah takdir berjalan. Mungkin memang begini jalannya hidup kami."
Aku tak menjawab. Hanya menatapnya lama sebelum akhirnya melangkah ke kamar. Namun di dalam hati, aku tak menyerah. Belum sampai besok pagi, semuanya masih bisa berubah. Malam ini masih panjang, dan siapa tahu keajaiban datang sebelum fajar menyingsing.
"Nduk, bangun. Ayo bersiap, dandan yang rapi dan cantik ya."
Suara Ibu terdengar pelan namun tegas di telingaku. Aku membuka mata perlahan, cahaya pagi sudah masuk lewat celah jendela. Di meja rias terhampar gaun merah menyala itu, siap dikenakan kapan saja. Hari ini akhirnya tiba.
Aku bangkit tanpa semangat, melangkah ke arah Ibu yang tersenyum tipis padaku. Wajahnya pucat, matanya sembab, namun beliau berusaha sekuat tenaga terlihat tenang.
"Iya Bu," jawabku pelan.
Aku mandi, merias wajahku secukupnya, lalu mengenakan pakaian rapi yang Ibu siapkan. Tak ada senyum di wajahku, tak ada bahagia di hatiku. Setiap gerakanku terasa berat seakan terikat rantai. Sementara Ibu duduk diam di kursi, menunggu saat yang tak diinginkan itu tiba. Rumah kami hening, tak ada musik, tak ada tamu, hanya detak jam dinding yang terdengar keras seakan menghitung mundur sisa waktu.
Tak lama kemudian terdengar deru mesin mobil berhenti di depan rumah. Pintu terbuka dan seorang pengawal turun, memberi isyarat agar kami berangkat. Ibu menarik napas panjang, lalu menggenggam tanganku erat seakan tak ingin melepaskannya. Kami naik ke mobil itu bersama-sama. Sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara, hanya jendela yang menampar pemandangan yang berlalu cepat jalan desa, sawah, hingga akhirnya memasuki gerbang besar rumah mewah milik Samudra.
Rumah itu megah sekali, berdiri kokoh di atas tanah luas dengan halaman tertata rapi. Namun bagiku, tempat ini terasa dingin dan asing, bukan rumah melainkan istana yang menjadi sangkar. Acara pernikahan pun ternyata sederhana saja, tak meriah seperti janji manisnya dulu. Hanya ada Samudra, Bibi Wijaya, beberapa kerabat dekat, dan kami berdua. Ia berdiri menunggu di ruang tamu utama, tersenyum puas saat melihat Ibu datang. Semuanya berjalan menurut kehendaknya, tak ada yang berani menentang.
Aku berdiri di samping Ibu sepanjang acara berlangsung, menjaganya tetap tegak meski kakinya gemetar. Di dalam hatiku, rasa takut dan tak berdaya bercampur menjadi satu. Sampai detik ini pun aku masih berharap ada keajaiban datang, sesuatu yang menghentikan semuanya sebelum terlambat. Namun jam terus berjalan, dan sumpah tinggal beberapa kata lagi.
Bibi Wijaya datang menghampiri kami, lalu mengantar Ibu ke ruang rias kembali meski wajahnya sudah cantik dan rapi sejak tadi. "Dibuat lebih cantik lagi dong, hari ini kan hari bahagia besar," katanya dengan senyum yang terasa dipaksakan.
Ibu hanya menurut saja tanpa bersuara. Aku pun ikut dibawa menyusulnya. Di sana penata rias merias wajah Ibu sekali lagi, menambah bedak, menyegarkan perona pipi, hingga menatanya rambut dengan hiasan bunga segar. Tak lama kemudian giliranku juga, duduk di kursi yang sama. Aku hanya diam membiarkan tangan penata rias bergerak di wajahku, tak menolak, tak bertanya. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Kami hanya menurut saja, mengikuti apa pun perintah mereka seakan boneka yang tak punya suara sendiri.
Setelah selesai dirias, aku tak kuasa menahan kagum melihat pantulan wajah Ibu di cermin. Beliau terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya. Wajahnya berseri lembut, senyumnya merekah tulus memancarkan kebahagiaan yang tak pernah kulihat selama ini. Melihat Ibu tersenyum bahagia begitu di depan cermin, hatiku ikut menghangat dan turut bahagia bersamanya. Setidaknya untuk hari ini, Ibu bisa merasakan kebahagiaan, meski sebentar saja.
Bibi Wijaya menggandeng lengan Ibu, mengantarnya menuju pelaminan untuk duduk berdampingan bersama Paman Samudra. Mataku tak sengaja menangkap sosok tiga wanita muda yang berdiri di sisi ruangan, mengenakan gaun dengan model persis satu sama lain. Tak perlu ditanya, aku tahu pasti siapa mereka ketiga istri Samudra.
Mereka tampak masih sangat muda, terlihat seumur tiga puluh tahunan, kulit mulus berpakaian indah, menatap Ibu dengan tatapan dingin sekilas lalu saling berbisik pelan. Sedangkan Ibu... beliau sudah berusia lima puluh tahun. Kerutan halus mulai terlihat di sudut matanya, rambut hitamnya pun mulai bercampur putih. Di antara ketiga wanita muda itu, Ibu terlihat tak seimbang sekali, seakan tak pantas berada di sana. Hatiku terasa perih. Ibu bukan tak cantik, beliau cantik tulus dan sederhana, tapi dibandingkan dengan mereka, perbedaannya terlalu nyata.
Namun Ibu tak menunduk. Beliau duduk tegak, tenang dan anggun, tak peduli tatapan apa yang mereka berikan.