NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Manis Sang Mak Comblang

Ancaman terbesar bagi reputasi dingin seorang Varro Aldrian Wijaya ternyata bukanlah serangan dari geng motor rival atau intrik dunia malam Jakarta. Ancaman paling berbahaya bagi ketua Starlit itu justru datang dari dalam ruang tamunya sendiri, dua sahabat karibnya yang mendadak memutar otak untuk menjadi mak comblang.

Sore hari menyelimuti ruang keluarga mansion Wijaya dengan nuansa hangat. Keheningan di ruangan berarsitektur modern itu hanya diisi oleh suara helai kertas yang dibalik berkali-kali. Brandon duduk tenang di atas sofa kulit, membenamkan fokusnya pada sebuah novel horor tebal ber-cover gelap yang dipegangnya.

Di sebelahnya, Marcel berjalan bolak-balik seraya menyilangkan kedua tangan di dada. Raut wajah tampannya dipenuhi kebingungan yang amat sangat, sesekali menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Bran,” panggil Marcel memecah keheningan, menghentikan langkah kakinya tepat di depan meja kaca.

“Apa?” sahut Brandon datar tanpa mengalihkan pandangan dari barisan baris kalimat di bukunya.

“Lo sadar gak, sih? Varro belakangan ini lebih suka mengurung diri sendirian daripada nongkrong atau ketemu kita,” kata Marcel seraya mendesah gusar.

Brandon mengangkat bahu kirinya santai, jemarinya membalik halaman berikutnya. “Terus kenapa? Mungkin dia lagi butuh waktu sendiri buat jernihin pikiran. Biasanya juga gitu.”

“Bukan cuma pengin sendiri, Brandon!” seru Marcel menaikkan nada suaranya, mulai jengkel dengan respon dingin sahabatnya. “Si Varro belakangan ini tingkahnya bener-bener beda! Aneh banget!”

Mendengar ketegasan nada suara Marcel, Brandon akhirnya menghentikan aktivitas bacanya. Ia menutup buku tebal itu dengan bunyi puk pelan, lalu meletakkannya di atas meja kaca di hadapan mereka. Brandon membetulkan letak kaca matanya, menatap Marcel tajam.

“Aneh kenapa?” tanya Brandon serius.

Marcel mengernyitkan keningnya, memajukan tubuhnya dan berbisik seolah-olah ruangan itu berhantu. “Lo beneran gak ngerasa... kalau sang ketua geng kita yang sok dingin itu sebenarnya udah jatuh cinta sama Gisel?”

Brandon menatap Marcel selama tiga detik tanpa ekspresi, lalu menghela napas pelan. “Gue udah tahu dia suka sama Gisel sejak hari pertama dia kelabakan sewaktu cewek itu pingsan di parkiran.”

Mata Marcel membelalak sempurna, menatap Brandon tak percaya. “Lah! Kalau lo udah tahu dari lama, terus kenapa lo masih duduk anteng diam aja di sini kayak patung?!”

Brandon menaikkan sebelah alisku. “Terus gue harus gimana? Berdiri di pinggir jalan bawa papan bunga terus jadi mak comblang mereka gitu?”

“Iyalah! Tentu saja!” seru Marcel antusias seraya menepuk bahu Brandon kuat-kuat. “Kita harus bertindak jadi mak comblang demi menyelamatkan masa depan cinta sahabat kita yang malang dan polos itu!”

Brandon menggeleng-gelengkan kepalanya seraya terkekeh sinis. “Varro seumur hidupnya gak pernah merasa malang, Marcel. Yang hidupnya lebih malang dan dramatis itu justru lo.”

“Haish! Sekarang bukan waktunya adu nasib antara gue sama si Varro setan itu!” balas Marcel mengibaskan tangannya jengkel.

“Ya, gue tahu,” kata Brandon mengangguk-angguk maklum. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap sahabatnya yang penuh intrik itu. “Jadi... apa rencana jenius lo kali ini?”

Marcel menyunggingkan senyum miring yang penuh kepuasan. “Gini. Varro itu gengsinya setinggi langit. Dia gak bakal mau mengaku secepat itu soal perasaannya sendiri. Jadi, tugas pertama kita adalah bikin Varro sadar dulu kalau dia itu beneran butuh cewek itu.”

Brandon memikirkan poin tersebut, lalu mengetukkan jemarinya di atas meja. “Oke, Varro mungkin bisa kita sadarkan dengan mudah. Tapi gimana sama Gisel? Emang cewek itu suka sama Varro? Setelah semua kejahilan dan perlakuan kasar Varro kemarin?”

Marcel menepis keraguan itu dengan lambaian tangan. “Makanya mereka harus ketemuan lagi di luar kampus!”

“Kencan?” tanya Brandon menaikkan kedua alisnya.

“Ya! Kencan, jalan-jalan, makan bareng, apa pun itu sebutannya!” jawab Marcel bersemangat.

Brandon menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Marcel dengan pandangan penuh rasa penasaran. “Jadi... gimana cara lo bisa membuat dua manusia yang sama-sama keras kepala dan berhati batu itu mau ketemuan tanpa saling bunuh?”

Marcel tersenyum penuh rahasia, menepuk dada bidangnya bangga. “Kita mulai dari target yang paling gampang dulu... Varro Aldrian Wijaya.”

Tanpa menunggu balasan Brandon lagi, Marcel berbalik cepat dan melangkah lebar menuju tangga melingkar yang mengarah ke lantai dua mansion.

Malam hari menyelimuti kamar utama Varro di lantai atas. Ruangan bernuansa maskulin itu terasa begitu hening, hanya dipancarkan oleh pendar cahaya temaram dari lampu meja.

Varro sedang duduk menyandar di sofa kulit hitamnya. Jemari kekarnya menggenggam ponsel pintar berlayar gelap. Pandangan matanya tertuju lurus pada layar tersebut tanpa kedip selama berjam-jam. Di layar itu, tertera deretan nomor telepon milik Gisella yang belum sempat ia beri nama kontak. Ada gejolak batin di dadanya—keinginan untuk mengetik satu pesan singkat, namun ditahan oleh ego dan rasa takut akan penolakan.

Keheningan itu pecah saat ketukan pintu berkali-kali bergema di luar. Namun Varro begitu hanyut dalam lamunannya hingga tidak mendengar apa pun. Bahkan ketika selot pintu berbunyi dan dua sosok tubuh melangkah masuk ke dalam kamarnya, Varro tetap mematung.

“Woi, Al!”

Panggilan nyaring Marcel mengejutkan Varro. Marcel dengan santai menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah kanan Varro, sementara Brandon menyusul dan duduk di sebelah kirinya. Varro mendadak terkepung di tengah-tengah dua sahabatnya.

Varro refleks mengunci layar ponselnya dan memasukkannya cepat ke dalam saku celana. “Apa?” jawab Varro datar, berusaha menguasai raut wajahnya agar tetap dingin.

Marcel memajukan tubuhnya, menatap wajah pucat Varro dengan tatapan menyelidik. “Gimana kabar lo sama si Gisel? Terakhir kali kan hubungan lo berdua belum membaik gara-gara insiden parkiran?”

Varro memalingkan wajahnya ke depan, menatap televisi mati di hadapannya. “Udah kok. Gue udah minta maaf ke dia.”

Mata Marcel membelalak kaget. “Hah?! Kapan? Kok lo gak cerita sama kita?”

Brandon yang duduk di sebelah kiri melipat tangannya di dada, tersenyum tipis. “Pasti lo minta maafnya pas malam itu... pas lo tiba-tiba kabur ninggalin gue sama Marcel di rumah lo, kan?”

Varro terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Iya.”

“Lo... lo samperin dia ke tempat kerjanya di kafe itu?” puji Brandon memastikan dugaannya. Varro kembali menganggukkan kepalanya singkat sebagai jawaban.

Marcel menepuk bahu Varro cukup keras, matanya berbinar-binar menemukan celah untuk melancarkan rencananya. “Al! Dengerin gue baik-baik!”

Varro menoleh malas. “Apa lagi?”

“Menurut analisis gue yang tajam ini...” tutur Marcel sok bijak, “tadi siang di kantin, si Gisel itu sebenarnya masih kesal dan jengkel banget sama lo gara-gara insiden ketabrak itu. Dia cuma bilang gapapa karena terpaksa! Gimana kalau lo ajak dia buat ketemuan lagi di luar kampus?”

Dahi Varro berkerut dalam. Pria itu menatap Marcel dengan ekspresi kebingungan yang nyata. “Buat apa? Gue kan udah minta maaf di kafe malam itu, dan tadi siang dia juga udah bilang mau maafin gue.”

Marcel menepuk jidatnya sendiri, menggeleng-gelengkan kepala prihatin. “Aduh, Al... Lo ini beneran gak paham sama psikologi wanita, ya? Cewek itu kalau bilang 'gak apa-apa', artinya ada apa-apa!”

Varro menyipitkan mata, masih merasa tidak masuk akal.

“Lo itu harus ajak dia kencan atau nongkrong di tempat santai supaya suasana hati dia balik bagus dan dia seneng!” dorong Marcel berapi-api.

Varro menghembuskan napas berat, menyandarkan kepalanya ke belakang sofa. “Kalau gue yang ajak secara langsung... dia pasti bakal menolak lagi. Kemarin aja pas gue ajak ke mall dia langsung matiin teleponnya.”

Marcel menyeringai lebar, menyenggol lengan Brandon. “Oke! Kalau masalahnya ada di situ, tenang aja! Gimana kalau kali ini gue sama Brandon yang turun tangan buat ngajak dia? Kita yang bakal bikin dia setuju buat ketemuan sama lo!”

Varro menaikkan pandangannya, menatap Marcel dan Brandon bergantian dengan rasa curiga. “Gimana caranya lo berdua ajak dia?”

“Sudah, lo gak usah pusingin teknisnya!” potong Marcel cepat. “Yaudah, terserah lo setuju atau enggak nih?”

Varro mengusap tengkuknya, merasa tidak memiliki pilihan lain untuk mengurai kecanggungan di antara dirinya dan Gisella. “Yaudah... terserah lo berdua aja.”

Marcel melempar pandangan kemenangan pada Brandon. “Oke! Tugas ngajak cewek itu biar jadi urusan gue sama Brandon. Tapi nanti kalau lo udah berhasil ketemuan berdua sama Gisel... lo tahu kan harus ngapain?”

Varro menatap polos. “Ngapain?”

Marcel melotot gemas. “Ya ngobrol! Ajak makan, candain dia, bikin dia nyaman! Masa ketua Starlit harus diajarin cara ngobrol sama cewek, sih?!”

Varro tidak menyahut. Pria itu hanya diam menatap karpet kamar dengan raut wajah kaku, sama sekali tidak memikirkan bagaimana caranya mencairkan suasana jika kelak benar-benar duduk berdua saja dengan gadis berambut pendek itu.

Marcel berdiri dari sofa, menepuk-nepuk tangannya puas. “Lo gak jawab berarti lo setuju mutlak nih ya, Al!”

“Ya...” jawab Varro pasrah pada takdir konyol yang sedang dirancang oleh kedua sahabatnya.

Marcel melirik Brandon seraya memberi kode mata. Rencana babak pertama berhasil. Kini, giliran target utama mereka, yaitu Gisella Vanessa Setiawan yang harus mereka masukkan ke dalam perangkap manis ini.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!