CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yicheng Ingin Mendekat, Tapi Takut
Matahari pagi baru saja merayap naik di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menembus celah tirai jendela, menyinari lantai kayu rumah kecil itu dengan kehangatan yang perlahan bangkit. Udara pagi masih sejuk, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang tumbuh di halaman depan — aroma yang sederhana, namun bagi Yicheng, aroma ini terasa seperti rumah. Rumah yang selama lima tahun ia impikan, namun tak pernah berani ia harapkan benar-benar ada.
Ia sudah bangun sejak subuh, duduk di tepi tempat tidur di ruang tamu, memandang pintu kamar sebelah dengan tatapan yang tak bisa berpaling. Di balik pintu itu — Su Wan dan Xiaoqi. Keluarganya. Orang-orang yang paling ia rindukan sekaligus paling ia takuti. Sejak semalam, setelah rasa bersalah yang mendalam perlahan terurai di bawah kelembutan kata-kata Su Wan, hatinya terasa lebih ringan, namun di tempat lain, di sudut paling dalam dan tersembunyi dari jiwanya, tumbuh ketakutan yang baru — ketakutan untuk melangkah terlalu jauh, terlalu cepat, terlalu asing di tempat yang seharusnya menjadi miliknya.
Ia berdiri, melangkah perlahan menuju pintu kamar Xiaoqi, berhenti tepat di depan gagang pintu, tangannya terangkat — namun tidak berani menyentuhnya. Jantungnya berdegup kencang, begitu keras hingga ia khawatir suaranya akan terdengar di dalam sana. Ia ingin masuk. Ia ingin melihat wajah anaknya saat bangun tidur, melihat mata kecil yang masih mengantuk, mendengar suara mungil yang memanggilnya "Ayah" dengan nada yang masih serak. Ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Xiaoqi saat membuka mata — seperti ayah yang seharusnya dilakukan selama lima tahun ini.
Tapi kakinya terasa berat, seakan tertanam di lantai. Tangannya gemetar sedikit, lalu jatuh kembali ke sisi tubuhnya. Ia mundur selangkah, menatap pintu itu dengan tatapan penuh kerinduan sekaligus keraguan yang menyakitkan. Bagaimana jika aku terlalu asing baginya? Bagaimana jika dia terbiasa hanya dengan Ibu, dan kehadiranku justru mengganggu? Bagaimana jika aku salah melangkah, salah bicara, dan dia merasa tidak nyaman bersamaku? Bagaimana jika aku tidak tahu cara menjadi ayah — dan dia menyadarinya?
Pikiran-pikiran itu datang bertubi-tubi, menyeruak masuk, meruntuhkan keberanian yang baru saja ia bangun semalam. Ia adalah CEO yang berani mengambil keputusan bernilai miliaran, yang berbicara di depan ratusan orang tanpa ragu, yang menghadapi ancaman pamannya dengan tegas — namun di depan pintu kamar anaknya, ia merasa kecil, canggung, takut. Ia merasa seperti orang asing yang memegang kunci pintu rumah orang lain, takut masuk, takut diterima, takut ditolak.
"Ayah?"
Suara lembut dari belakang membuatnya tersentak. Ia berbalik perlahan, melihat Su Wan berdiri di ambang pintu kamar mereka, mengenakan pakaian santai, rambutnya sedikit berantakan namun wajahnya bercahaya di bawah cahaya pagi. Ia menatapnya dengan senyum lembut yang penuh pengertian — seakan ia sudah tahu apa yang sedang terjadi di dalam hati pria ini, seakan ia bisa melihat ketakutan yang Yicheng coba sembunyikan di balik tatapan tenangnya.
Yicheng menarik napas dalam-dalam, berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik senyum tipis yang ia paksakan. "Maaf… aku tidak bermaksud membangunkanmu. Aku hanya… berdiri di sini saja."
Su Wan berjalan mendekat, langkahnya pelan, seakan mendekati seseorang yang mudah terkejut, lalu berhenti tepat di hadapannya, menatap matanya dengan lembut namun tajam — menembus semua pertahanan yang ia bangun. "Kau ingin masuk, bukan? Ingin melihat Xiaoqi bangun?"
Yicheng menunduk sedikit, tangannya meremas ujung bajunya dengan canggung, seperti anak kecil yang ketahuan ingin melakukan sesuatu namun takut dimarahi. "Ya… tapi… aku takut, Su Wan. Takut kalau aku masuk, dia akan melihatku dan merasa asing. Takut kalau aku tidak tahu harus berkata apa, harus melakukan apa. Takut kalau aku terlalu bersemangat, terlalu menekan… dan dia malah menjauh dariku. Aku tidak tahu bagaimana menjadi ayah yang ada di sini setiap hari. Aku tidak pernah melakukannya sebelumnya. Dan aku takut… aku takut salah."
Su Wan mengangkat tangannya, menyentuh pipinya dengan lembut, ibu jarinya mengusap perlahan garis rahangnya, sentuhannya begitu hangat, begitu menenangkan, begitu penuh keyakinan sehingga Yicheng merasa sedikit lebih tenang. "Yicheng, dengarkan aku. Xiaoqi tidak akan merasa asing. Dia sudah menunggumu selama lima tahun. Dia sudah mengenal wajahmu dari foto, sudah mendengar namamu setiap hari, sudah membayangkanmu setiap malam sebelum tidur. Baginya, kau bukan orang asing — kau adalah Ayah yang selalu ada di hatinya, bahkan sebelum kau muncul di hadapannya. Dan kau tidak perlu takut salah. Tidak ada ayah yang langsung tahu segalanya. Semua ayah belajar — dari anaknya, dari pengalaman, dari setiap hari yang berlalu. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Hadir. Itu saja. Cukup."
"Tapi itu yang paling aku takutkan — menjadi diriku sendiri," jawab Yicheng pelan, matanya menatap pintu kamar Xiaoqi di belakang Su Wan. "Aku terbiasa hidup sendiri, terbiasa bekerja, terbiasa menyendiri. Aku tidak tahu cara berbicara dengan anak kecil, tidak tahu cara bermain, tidak tahu apa yang dia sukai, apa yang dia takuti, apa yang membuatnya tertawa. Aku melewatkan semuanya, Su Wan. Dan sekarang saat aku ingin masuk ke dalam hidupnya… aku merasa tidak tahu di mana tempatku berdiri."
Su Wan tersenyum lembut, menggenggam tangannya — tangannya yang besar, kuat, namun kini terasa dingin dan gemetar — lalu membawanya perlahan ke arah pintu kamar Xiaoqi, meletakkan tangannya di atas gagang pintu, menutupinya dengan tangannya sendiri. "Tempatmu ada di sini. Di sebelahnya. Di sebelah kami. Dan kau tidak perlu tahu segalanya sekaligus. Kau bisa belajar bersama kami. Hari ini kita mulai pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu menjadi sempurna. Cukup masuk. Cukup ada. Itu sudah cukup untuk Xiaoqi. Dan itu sudah cukup untukku."
Yicheng menatap tangan mereka yang bertumpuk di atas gagang pintu — tangannya yang besar menutupi tangan Su Wan yang lebih kecil, namun terasa begitu kuat dan menenangkan. Ia merasakan kehangatan itu, merasakan keyakinan yang mengalir dari jari-jarinya ke dirinya, dan perlahan-lahan, ketakutan yang menyesakkan dadanya mulai sedikit terurai. Ia mengangguk perlahan, napasnya panjang dan dalam.
"Baik. Aku akan masuk. Pelan-pelan. Tapi… tetap di sebelahku, ya? Kalau aku salah bicara, kalau aku canggung… bantu aku. Tolong jangan biarkan aku terlihat bodoh di depan anakku."
Su Wan tertawa lembut, suara tawanya ringan dan menyegarkan seperti angin pagi. "Kau tidak akan terlihat bodoh. Dan aku akan selalu ada di sini. Selalu."
Dengan tangan yang masih digenggam Su Wan, Yicheng memutar gagang pintu perlahan, membukanya sedikit demi sedikit agar tidak menimbulkan suara yang keras. Ruangan itu masih remang-remang, tirai jendela setengah tertutup, menyisakan cahaya pagi yang masuk secara miring, menyinari tempat tidur kecil di sudut ruangan. Di sana, di balik selimut bermotif balon berwarna-warni, terlihat gumpalan kecil yang bergerak pelan — Xiaoqi sedang tidur miring, wajahnya tersembunyi di balik bantal, napasnya teratur dan lembut.
Yicheng melangkah masuk perlahan, melepaskan tangan Su Wan, berjalan mendekat ke tempat tidur dengan langkah yang sangat hati-hati, seakan takut suara langkah kakinya saja bisa membangunkan anak itu. Ia berdiri di samping tempat tidur, menatap wajah Xiaoqi yang sedang tidur — rambutnya sedikit berantakan, pipinya merona merah karena hangat, bibirnya sedikit terbuka, seakan sedang bermimpi sesuatu yang menyenangkan. Cahaya matahari menyinari sisi wajahnya, menonjolkan garis alis yang mirip dengan dirinya, bentuk hidung yang persis sama, bahkan cara ia melipat tangannya di bawah pipi — persis seperti kebiasaan Yicheng saat tidur sewaktu kecil, yang bahkan ia sendiri sudah lupa.
Jantungnya terasa penuh, begitu penuh hingga terasa sesak namun hangat. Ini anaknya. Anak yang tumbuh tanpa ia ketahui, tanpa ia peluk, tanpa ia jaga — namun tetap membawa begitu banyak bagian dari dirinya, seakan takdir telah menenun mereka berdua menjadi satu bahkan sebelum mereka saling mengenal.
Su Wan berdiri di belakangnya, meletakkan tangannya di bahu Yicheng, memberikan tekanan lembut yang penuh dukungan. Yicheng menoleh sebentar, melihat senyum yang mendorongnya, lalu kembali menatap Xiaoqi, menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa. Ia berlutut di samping tempat tidur, posisinya sejajar dengan wajah anak itu, suaranya dibuat selembut mungkin, berbisik pelan agar tidak mengejutkannya.
"Xiaoqi… sayang… bangunlah, Nak. Matahari sudah naik tinggi."
Xiaoqi bergerak pelan, mengerutkan hidungnya sedikit, lalu perlahan membuka matanya — mata besar yang masih kabur karena kantuk, berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya pagi. Saat pandangannya mulai jernih dan melihat sosok Yicheng di samping tempat tidurnya, matanya membelalak, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia mengucek matanya dengan punggung tangan kecilnya, lalu menatapnya lagi — lebih tajam, lebih yakin — dan perlahan, senyum mulai merekah di wajahnya, melebar semakin besar hingga menampakkan gigi depannya yang sedikit gigi seri.
"Ayah…?" suaranya masih serak, penuh keraguan namun penuh harapan, seakan takut ini hanyalah mimpi. "Ayah benar-benar ada di sini?"
Yicheng merasakan tenggorokannya tercekat, air mata hampir jatuh kembali, namun ia menahannya — ia ingin menyambut pagi pertama ini dengan senyum, bukan air mata. Ia mengangguk pelan, tangannya terangkat perlahan, takut anak itu akan mundur, namun tetap berusaha menyentuh pipi halusnya dengan lembut. "Ya, Xiaoqi. Ayah di sini. Ayah bangun pagi-pagi untuk melihatmu bangun. Ayah tidak pergi ke mana-mana."
Xiaoqi segera duduk, selimutnya terlepas ke pinggang, dan tanpa ragu sedikit pun, ia melompat ke pelukan Yicheng, memeluk lehernya erat, menempelkan pipinya ke pipi ayahnya, tertawa bahagia di telinganya. "Ayah! Ayah ada di sini! Saya pikir saya bermimpi! Selamat pagi, Ayah! Selamat pagi!"
Yicheng terkejut sejenak — pelukan itu begitu tulus, begitu hangat, begitu penuh cinta tanpa syarat — sehingga ia tidak langsung bereaksi, tubuhnya masih kaku, tangannya terangkat di udara, takut salah menempatkannya. Ia ingin memeluk anak itu erat, sangat erat, namun takut terlalu kuat, takut menyakitinya, takut canggung. Ia menatap Su Wan di belakangnya, meminta bantuan dengan tatapannya — apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara memeluk anak dengan benar?
Su Wan tersenyum, memberi isyarat dengan mata — peluk saja. Peluk dia seperti yang kau rasakan.
Perlahan, dengan ketakutan yang masih ada namun mulai terkalahkan oleh kerinduan yang jauh lebih besar, Yicheng melingkarkan lengannya di tubuh kecil Xiaoqi, memeluknya — pelukan yang pada awalnya kaku dan hati-hati, lalu perlahan menjadi lebih erat, lebih hangat, lebih nyata. Ia merasakan tubuh kecil itu di pelukannya, jantung kecil yang berdetak cepat di dadanya, bau sabun mandi yang lembut, rambut halus yang menyentuh pipinya — semuanya begitu nyata, begitu hidup, begitu miliknya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak takut. Ia hanya merasakan. Merasakan kebahagiaan yang begitu dalam hingga membuatnya gemetar.
"Selamat pagi, Xiaoqi," bisiknya di telinga anak itu, suaranya penuh kasih sayang yang tak bisa ia sembunyikan lagi. "Ayah senang bisa melihatmu bangun pagi ini. Ayah senang bisa memelukmu. Ayah sangat, sangat senang."
Xiaoqi melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah ayahnya dengan mata yang berbinar, lalu menyentuh pipi Yicheng dengan tangannya yang kecil, seakan ingin memastikan bahwa ini nyata, bukan mimpi. "Ayah tidak pergi lagi, kan? Ayah akan bangun bersama saya setiap pagi? Ayah akan tidur di sini bersama saya dan Ibu?"
Pertanyaan itu sederhana, namun bagi Yicheng, itu terasa seperti ujian — ujian kesetiaan, ujian keteguhan, ujian cintanya. Ia ingin berkata "ya, setiap hari, selamanya", namun di sudut hatinya, ketakutan itu kembali muncul — bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya? Bagaimana jika pekerjaanku menyita waktu, jika Paman Zhenghao kembali menciptakan masalah, jika aku gagal memenuhi janjiku? Ia ingin berjanji, namun takut janjinya akan dipatahkan oleh keadaan. Ia ingin memberikan kepastian, namun takut ketidakpastian di luar sana lebih kuat darinya.
Ia menatap mata Xiaoqi — mata yang penuh kepercayaan, penuh harapan, penuh keyakinan bahwa ayahnya akan menepati setiap kata — dan menyadari bahwa ketakutan itu tidak boleh terlihat. Anak ini sudah menunggu terlalu lama. Ia tidak boleh memberinya keraguan lagi.
Yicheng tersenyum, menyentuh kepala anak itu dengan lembut, menatap matanya dengan penuh kasih sayang dan keteguhan. "Ayah akan berusaha, Xiaoqi. Ayah akan berusaha sekuat tenaga untuk bangun bersamamu setiap pagi, untuk menemanimu bermain, untuk tidur di dekatmu. Ayah tidak berjanji tidak akan pernah pergi ke kantor, karena Ayah harus bekerja — tapi Ayah berjanji, Ayah akan selalu pulang. Ayah akan selalu kembali ke sini, ke rumah kita, ke kamu dan Ibu. Ayah tidak akan pernah pergi tanpa pamit lagi. Ayah berjanji."
Xiaoqi tersenyum lebar, senyum yang begitu cerah seakan matahari pagi saja kalah bersinar. "Saya percaya Ayah! Saya tahu Ayah akan selalu pulang! Karena Ayah punya saya dan Ibu di sini, jadi Ayah pasti akan pulang!"
Yicheng mencium kening anak itu, hatinya terasa hangat namun juga terasa berat — ia berjanji, dan ia akan menepatinya, tidak peduli seberapa berat jalannya. Ia tidak akan mengecewakan kepercayaan murni ini, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya.
Meja makan kecil di ruang tengah sudah terisi makanan sederhana — bubur ayam, telur dadar yang dipotong kecil-kecil, susu hangat, dan buah potong yang disusun rapi di piring kecil. Su Wan menyiapkannya dengan cepat, namun semuanya terlihat begitu menggugah selera, begitu penuh perhatian, begitu penuh cinta. Yicheng duduk di kursi yang disiapkan untuknya, di sebelah Xiaoqi, berhadapan dengan Su Wan — dan kembali, ketakutan itu muncul lagi, halus namun nyata.
Ia tidak tahu kebiasaan makan Xiaoqi. Tidak tahu makanan apa yang disukai, apa yang dibenci, berapa banyak yang harus dimakan, apakah anak ini makan sendiri atau butuh dibantu. Ia merasa seperti orang asing yang duduk di meja makan keluarga lain, tidak tahu aturannya, tidak tahu apa yang harus dilakukan, takut melakukan kesalahan kecil yang akan membuatnya terlihat tidak berguna, tidak tahu apa-apa, bukan ayah yang baik.
Su Wan seakan membaca pikirannya lagi. Ia meletakkan piring bubur di depan Yicheng, lalu piring berisi telur dadar dan buah di depan Xiaoqi, lalu tersenyum pada Yicheng dengan tenang. "Xiaoqi sudah bisa makan sendiri, tapi kadang masih suka dibantu. Dia suka telur dadar, tapi tidak suka bagian pinggirnya yang agak garing. Dia suka bubur hangat, tapi tidak terlalu panas. Dia tidak suka susu terlalu manis. Dan kalau dia sudah selesai makan, dia suka langsung minum air putih sedikit. Itu saja aturan utamanya. Mudah, kan?"
Yicheng tersenyum lega, setidaknya ia punya panduan, setidaknya ia tidak sepenuhnya buta. "Mudah. Terima kasih, Su Wan. Kalau kau tidak bilang, mungkin aku akan memberinya bagian pinggir telurnya dan dia akan menolak, lalu aku akan bingung dan merasa bodoh."
Su Wan tertawa pelan. "Kau tidak akan merasa bodoh. Xiaoqi akan bilang padamu. Dia anak yang jujur dan terbuka. Dia akan memberitahumu kalau dia tidak suka sesuatu. Jadi jangan takut bertanya, jangan takut salah. Tanyakan saja padanya, atau padaku. Kita belajar bersama."
Xiaoqi menatap mereka berdua, lalu menunjuk piringnya dengan sendok kecil. "Ayah, kau mau makan telur saya? Bagian tengahnya lembut dan enak! Saya suka bagian tengahnya!"
Yicheng menatap anak itu, hatinya terasa hangat hingga ingin menangis — anak ini begitu murah hati, begitu tulus, begitu ingin berbagi dengan ayahnya, bahkan makanan favoritnya. Ia tersenyum, mengambil sedikit bagian tengah telur dari piring Xiaoqi dengan sendoknya sendiri, memakannya, lalu mengangguk dengan antusias. "Wah, benar-benar enak! Lembut dan gurih. Terima kasih, Xiaoqi, sudah berbagi dengan Ayah. Tapi Ayah punya telur sendiri, lihat — Ibu sudah menyiapkannya. Xiaoqi makan sendiri ya, supaya kuat dan pintar."
Xiaoqi tersenyum puas, lalu mulai makan dengan sendok kecilnya, sesekali menatap Yicheng, seakan ingin memastikan ayahnya benar-benar ada di sana, benar-benar makan bersamanya, benar-benar bukan bayangan yang akan hilang saat ia berkedip. Yicheng memperhatikannya — cara ia memegang sendok, cara ia meniup bubur sebelum memakannya, cara ia mengunyah dengan mulut tertutup, cara ia sesekali menyeka mulutnya dengan tisu sendiri — semua hal kecil yang begitu biasa, namun bagi Yicheng, semuanya terasa begitu berharga, begitu menarik, begitu ingin ia ingat selamanya.
Ia ingin bertanya banyak hal — siapa teman bermainnya, apa mainan kesukaannya, cerita apa yang paling ia sukai, apa yang ia takuti, apa yang ia impikan — tapi pertanyaan-pertanyaan itu tertahan di tenggorokan, takut terlalu banyak, terlalu cepat, terlalu menekan. Ia takut jika ia bertanya terlalu banyak, Xiaoqi akan merasa diawasi, tidak nyaman, seakan sedang diinterogasi. Ia takut jika ia diam saja, ia akan terlihat dingin, tidak peduli, tidak tertarik. Ia terjebak di antara dua ketakutan — takut terlalu dekat, takut terlalu jauh.
Su Wan melihat keheningan yang canggung itu, lalu dengan lembut memecahkannya. "Xiaoqi, ceritakan pada Ayah mainan baru yang kau mainkan kemarin di taman. Yang berbentuk pesawat itu. Ayah belum tahu ceritanya."
Xiaoqi segera bersemangat, menaruh sendoknya sebentar, bercerita dengan tangan ikut bergerak-gerak. "Oh, pesawat itu! Saya beli dengan uang tabungan saya! Pesawatnya bisa terbang tinggi sekali! Saya membayangkan saya jadi pilot, menerbangkan pesawat ke langit, lalu pergi mencari Ayah! Saya terbang ke gedung tertinggi di kota, lalu turun mencari Ayah di lantai paling atas! Dan ternyata Ayah ada di sana! Jadi saya turun dan memeluk Ayah!"
Yicheng mendengarkan setiap kata, matanya tidak berani berkedip, takut melewatkan satu kalimat pun. Ia melihat kebahagiaan di wajah anak itu saat bercerita, melihat betapa pentingnya kehadirannya di dunia kecil Xiaoqi, betapa anak ini selalu memikirkannya, bahkan dalam permainan dan imajinasinya. Hatinya terasa perih namun hangat — perih karena ia melewatkan begitu banyak hal, hangat karena ia akhirnya ada di sini, mendengar cerita itu langsung dari mulut anaknya.
"Wah, Xiaoqi bisa menerbangkan pesawat ke tempat Ayah? Hebat sekali! Ayah mau naik pesawat Xiaoqi, boleh tidak?" tanya Yicheng, berusaha terdengar antusias, berusaha masuk ke dalam dunia anak itu, berusaha menemukan cara berbicara yang tepat — tidak terlalu dewasa, tidak terlalu kekanak-kanakan, cukup untuk menjadi ayah yang mengerti anaknya.
"Boleh! Boleh banget! Nanti kita naik bersama-sama! Ibu juga ikut! Kita terbang ke awan, melihat burung, melihat matahari dari dekat! Kita pergi ke mana saja yang kita mau!" Xiaoqi bersorak, lalu melanjutkan makannya dengan lebih semangat, seakan membayangkan perjalanan itu sudah akan terjadi hari ini.
Yicheng tersenyum, melihat antusiasme anak itu, merasa sedikit lebih percaya diri — ia berhasil bertanya, berhasil berbicara, berhasil membuat Xiaoqi senang. Ia tidak terlalu buruk. Ia bisa belajar. Pelan-pelan.
Setelah sarapan selesai, Xiaoqi mengajak Yicheng bermain di ruang tengah — menyusun balok menjadi gedung tinggi, persis seperti gedung tempat Ayah bekerja, kata anak itu. Yicheng duduk di lantai di samping Xiaoqi, melihat tumpukan balok kayu berwarna-warni di hadapannya, dan kembali merasa canggung. Ia terbiasa duduk di kursi empuk, di meja kerja yang rapi, berurusan dengan angka dan dokumen — bukan duduk di lantai, memegang balok kayu, bermain membangun gedung. Ia tidak tahu bagaimana cara bermain dengan anak kecil. Takut salah menyusun, takut tidak mengerti aturan mainnya, takut membosankan, takut Xiaoqi akan bosan bermain dengannya.
Xiaoqi mengambil balok tertinggi, menyerahkannya kepada Yicheng dengan mata berbinar. "Ayah, kau taruh balok ini di paling atas! Ini atap gedung kita! Harus hati-hati supaya tidak jatuh!"
Yicheng menerima balok itu dengan kedua tangan, seakan memegang benda paling berharga di dunia. Ia menatap Xiaoqi, lalu menatap tumpukan balok yang sudah disusun anak itu — tidak terlalu rapi, tidak terlalu tinggi, tapi penuh perhatian. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan kegugupannya. "Baik, Ayah taruh di atas. Hati-hati, ya. Kalau jatuh, gedungnya bisa rusak."
Ia menaruh balok itu perlahan, sangat hati-hati, memastikan posisinya seimbang, lalu menatap Xiaoqi untuk meminta persetujuan. Xiaoqi bersorak senang, menepuk tangannya. "Bagus sekali, Ayah! Gedungnya sudah jadi! Ini gedung Grup Lin! Tempat Ayah bekerja! Dan di lantai paling atas, ada Xiaoqi dan Ibu yang menunggu Ayah pulang!"
Yicheng menatap susunan balok itu — gedung sederhana, tidak semegah gedung tempat ia bekerja, namun bagi Yicheng, ini adalah gedung paling indah di dunia. Di lantai paling atas, Xiaoqi meletakkan dua balok kecil — satu berwarna merah, satu berwarna biru — itu adalah Xiaoqi dan Ibu, yang selalu menunggu Ayah pulang. Hatinya terasa begitu hangat, begitu terharu, begitu penuh rasa syukur yang tak terlukiskan. Ia tidak menyangka bahwa anak ini memikirkannya begitu dalam, menempatkannya begitu tinggi di dunianya.
Ia ingin memeluk Xiaoqi, tapi tangannya terhenti di udara — takut terlalu sering menyentuh, takut anak itu merasa terganggu, takut terlalu manja atau sebaliknya terlalu kaku. Ia hanya menepuk kepala Xiaoqi dengan lembut, senyumnya tulus dan hangat. "Gedungnya sangat indah, Xiaoqi. Dan Ayah senang sekali tahu kalian selalu menunggu Ayah di atas sana. Ayah akan selalu pulang. Tidak peduli seberapa tinggi gedungnya, seberapa sibuk Ayah — Ayah akan selalu pulang ke tempat kalian."
Mereka bermain cukup lama — menyusun balok, merobohkannya, menyusunnya lagi, menggambar di kertas, membaca buku cerita bergambar. Yicheng masih canggung di awal — sering salah memegang pensil dengan cara yang salah menurut Xiaoqi, sering tidak tahu bagian mana yang harus dibaca, sering melupakan nama tokoh cerita — tapi Xiaoqi tidak pernah kecewa, tidak pernah marah, tidak pernah bosan mengajari ayahnya. Setiap kali Yicheng salah, Xiaoqi hanya tertawa dan mengoreksinya dengan sabar — "Bukan begitu, Ayah, begini caranya!" — dan Yicheng akan mengikuti instruksi anak itu dengan hati-hati, merasa malu sekaligus bahagia, merasa diajari oleh anaknya sendiri cara menjadi ayah.
Su Wan duduk di kursi di pinggir ruangan, memandang mereka berdua dengan senyum lembut di bibirnya, matanya berkaca-kaca melihat pemandangan yang ia impikan selama lima tahun ini — pria yang ia cintai dan anak yang ia besarkan, bermain bersama, tertawa bersama, membangun ikatan yang perlahan tumbuh dan menguat. Ia melihat kecanggungan Yicheng, melihat ketakutannya untuk salah, melihat usahanya yang tulus — dan ia tahu, pria ini akan menjadi ayah yang luar biasa, bukan karena ia sempurna, tapi karena ia berusaha dengan sepenuh hatinya.
Saat sore tiba, Xiaoqi sudah lelah bermain, tertidur di sofa dengan kepala di pangkuan Su Wan, napasnya teratur dan damai. Yicheng duduk di lantai di dekat mereka, memandang wajah anak itu yang sedang tidur, tangannya sesekali menyentuh rambut halusnya dengan lembut, seakan takut jika ia berhenti menyentuhnya, anak itu akan menghilang.
Su Wan menatapnya, melihat keraguan yang masih tersisa di matanya, melihat ketegangan yang belum sepenuhnya hilang dari bahunya. Ia menyentuh tangannya, menarik perhatiannya pelan. "Yicheng, kau melakukannya dengan sangat baik hari ini. Xiaoqi sangat senang. Dia tidak pernah berhenti tersenyum sejak kau bangun pagi ini."
Yicheng tersenyum tipis, namun matanya masih terlihat berat. "Benarkah? Padahal aku merasa begitu canggung sepanjang hari. Sering tidak tahu harus berkata apa, harus melakukan apa. Takut salah, takut mengecewakan, takut dia tidak nyaman bersamaku. Rasanya aku seperti orang asing yang sedang belajar mengenal anak sendiri. Dan itu terasa… menyakitkan, sekaligus menakutkan."
Su Wan menggenggam tangannya erat, memberikan dukungan yang tenang namun kuat. "Kau bukan orang asing, Yicheng. Kau ayahnya. Dan ikatan darah itu lebih kuat dari apa pun. Kau melihat sendiri bagaimana dia meresponsmu — tanpa ragu, tanpa takut, tanpa curiga. Dia tahu siapa kau. Hatinya tahu. Dan ketakutan yang kau rasakan itu — itu wajar. Itu bukan tanda kau tidak akan menjadi ayah yang baik. Itu tanda kau peduli. Itu tanda kau ingin menjadi ayah yang baik. Ayah yang tidak peduli tidak akan takut salah. Ayah yang tidak mencintai tidak akan merasa canggung. Ketakutanmu itu bukti cintamu, Yicheng. Jangan malu merasakannya."
"Tapi berapa lama aku akan merasa seperti ini?" tanya Yicheng pelan, menatap Xiaoqi yang tidur di pangkuan Su Wan. "Berapa lama sampai aku merasa tidak asing lagi di sini? Sampai aku merasa ini benar-benar rumahku, bukan rumah orang lain yang aku izinkan masuk? Sampai aku tahu persis apa yang harus kulakukan tanpa harus berpikir dulu?"
Su Wan tersenyum lembut, mengusap punggung tangannya dengan ibu jarinya. "Itu tidak bisa diukur dengan waktu. Mungkin seminggu, mungkin sebulan, mungkin lebih lama lagi. Dan itu tidak apa-apa. Kau tidak perlu terburu-buru merasa nyaman. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk langsung tahu segalanya. Ikatan itu tumbuh pelan-pelan, setiap hari, setiap percakapan, setiap pelukan, setiap momen kecil yang kita lewati bersama. Hari ini kau sudah melakukannya dengan sangat baik. Kau ada di sini. Kau mencoba. Kau tidak pergi. Itu yang paling penting. Dan lama-kelamaan, kecanggungan itu akan hilang, digantikan oleh kebiasaan, oleh keakraban, oleh rasa memiliki yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata."
Ia berhenti sebentar, lalu menatap mata Yicheng dengan penuh keyakinan. "Dan ingatlah ini — kau tidak harus melakukannya sendirian. Aku ada di sini. Xiaoqi ada di sini. Kita akan belajar bersama. Kalau kau tidak tahu, tanya saja. Kalau kau canggung, katakan saja. Kalau kau takut, bilang saja. Kita bukan keluarga yang sempurna, Yicheng. Kita keluarga yang sedang belajar mencintai satu sama lain lagi. Dan itu cukup. Itu sudah lebih dari cukup."
Yicheng menatap Su Wan, lalu menatap Xiaoqi yang tidur damai, merasakan kehangatan yang melingkupi mereka bertiga — kehangatan yang bukan berasal dari api atau matahari, tapi dari cinta yang sabar, pengertian yang tulus, dan penerimaan yang tanpa syarat. Ia masih takut — takut salah, takut kehilangan, takut tidak cukup baik — tapi ketakutan itu tidak lagi terasa seperti musuh yang menyesakkan. Ia mulai memahami bahwa ketakutan itu adalah bagian dari cintanya — bukti bahwa ia peduli, bukti bahwa ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Ia menunduk, mencium punggung tangan Su Wan dengan penuh kasih sayang dan rasa terima kasih yang tak terhingga. "Terima kasih, Su Wan. Terima kasih karena selalu sabar dengan aku. Terima kasih karena tidak pernah menyerah pada aku, bahkan saat aku menyerah pada diriku sendiri. Aku masih takut — mungkin akan tetap takut untuk waktu yang lama. Tapi aku berjanji — aku tidak akan membiarkan ketakutan itu menguasai aku. Aku akan berusaha. Setiap hari. Untukmu. Untuk Xiaoqi. Untuk keluarga ini."
Su Wan tersenyum, matanya berkaca-kaca namun penuh kebahagiaan. "Aku tahu kau akan melakukannya. Dan kami akan selalu ada di sini — bersamamu, mendukungmu, mencintaimu — di setiap langkahmu, tidak peduli seberapa pelan atau seberapa canggung langkah itu. Kita bersama, Yicheng. Tidak ada yang perlu kau takuti sendirian lagi."
Malam telah turun, langit di luar gelap namun penuh bintang yang bersinar terang, seakan menandakan bahwa kegelapan masa lalu akhirnya berganti dengan cahaya harapan yang baru. Xiaoqi sudah tidur di kamarnya, kali ini Yicheng yang menemaninya — membacakan cerita bergambar dengan suara yang lembut dan sedikit canggung, namun Xiaoqi mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menyela untuk meluruskan cara pengucapan nama tokoh cerita, dan Yicheng dengan senang hati mengulanginya dengan benar, merasa bangga setiap kali anak itu tersenyum puas.
Setelah Xiaoqi tertidur, Yicheng berdiri di samping tempat tidurnya sebentar, memandang wajah damai anak itu, lalu menarik selimutnya sedikit lebih rapi, berbisik pelan di telinga anak itu: "Selamat malam, Xiaoqi. Ayah ada di sini. Ayah tidak pergi. Tidur yang nyenyak, Nak."
Ia keluar dari kamar Xiaoqi, menutup pintu perlahan, lalu berjalan ke ruang tamu di mana Su Wan sedang menunggunya. Su Wan duduk di sofa, memegang secangkir teh hangat, menatapnya dengan senyum yang menenangkan.
"Bagaimana? Xiaoqi tidur nyenyak?" tanyanya lembut.
"Ya, sudah tidur," jawab Yicheng, duduk di sampingnya, merasa lebih tenang dari sebelumnya. "Dia bahkan memintaku membacakan cerita kedua sebelum tidur. Aku merasa… aku merasa dia sudah mulai terbiasa dengan kehadiranku. Mungkin masih canggung, tapi dia menerima aku. Sepenuhnya."
"Dia selalu menerimamu, Yicheng. Sejak awal," jawab Su Wan lembut, menyerahkan secangkir teh hangat kepadanya. "Dia hanya menunggu kau berani masuk. Dan hari ini, kau masuk. Itu langkah terbesar. Dan langkah terberat sudah kau lewati."
Yicheng memegang cangkir teh hangat di tangannya, merasakan kehangatannya menjalar ke seluruh tubuhnya, menenangkan saraf-saraf yang tegang seharian ini. Ia menatap uap panas yang naik dari cangkir, lalu menatap Su Wan — wanita yang luar biasa, yang telah memegang seluruh dunianya bersama selama lima tahun sendirian, tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah menyerah.
"Aku masih takut, Su Wan," akunya jujur, suara pelan namun tegas. "Takut aku tidak akan cukup baik. Takut aku akan membuat kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Takut masa lalu akan kembali menghantui kita. Tapi hari ini… hari ini aku belajar sesuatu. Aku belajar bahwa aku tidak harus sempurna untuk dicintai. Aku hanya harus ada. Dan itu sudah cukup bagi Xiaoqi. Dan itu sudah cukup bagimu."
"Itu sudah cukup bagi kami," konfirmasi Su Wan lembut, menatapnya dengan mata yang penuh cinta dan keyakinan. "Dan ketakutanmu itu tidak akan hilang dalam semalam. Tapi kau tidak perlu menghilangkannya untuk melangkah. Kau bisa melangkah sambil tetap merasa takut. Kau bisa mencintai sambil tetap merasa tidak layak. Kau bisa menjadi ayah sambil tetap belajar menjadi ayah. Itulah arti keluarga, Yicheng — kita saling melengkapi kekurangan satu sama lain, kita saling menguatkan saat salah satu lemah, kita saling menunggu saat salah satu masih takut melangkah."
Yicheng meletakkan cangkir teh di meja, lalu merangkul Su Wan ke dalam pelukannya, memeluknya erat, menikmati kehangatan tubuhnya, kelembutan kehadirannya, kedamaian yang hanya wanita ini bisa berikan. Ia menyandarkan dagunya di atas kepalanya, memejamkan matanya, merasakan ketakutan yang masih ada di dadanya — namun ketakutan itu tidak lagi terasa menakutkan, karena ia tahu ia tidak sendirian lagi.
"Terima kasih, Su Wan," bisiknya di telinganya, penuh dengan rasa syukur yang tak terhingga. "Terima kasih karena menungguku. Terima kasih karena tidak menyerah. Terima kasih karena membuatku berani masuk."
Su Wan memeluk pinggangnya erat, menempelkan pipinya ke dadanya, mendengar detak jantungnya yang berdetak tenang dan kuat. "Selamat datang di rumah, Yicheng. Rumahmu. Rumah kita. Dan di sini, kau tidak perlu takut. Di sini, kau bisa menjadi dirimu sendiri. Di sini, kau dicintai — apa adanya."
Malam itu, Yicheng tidur di rumah itu — di kamar yang sama dengan Su Wan, di rumah yang kini benar-benar menjadi rumahnya. Ia masih terbangun beberapa kali di tengah malam, memeriksa pintu kamar Xiaoqi, memastikan anak itu ada di sana, memastikan ini bukan mimpi. Dan setiap kali ia melihat Xiaoqi tidur dengan damai, setiap kali ia merasakan kehadiran Su Wan di sampingnya, ia tahu — ini nyata. Ini rumahnya. Ini keluarganya.
Ia masih takut. Mungkin akan selalu ada sedikit ketakutan di sana — takut kehilangan, takut gagal, takut tidak cukup baik. Tapi ketakutan itu tidak lagi menjadi tembok yang memisahkannya dari kebahagiaan. Ia belajar membawa ketakutan itu bersamanya, menjadikannya kekuatan, menjadikannya alasan untuk lebih berhati-hati, lebih tulus, lebih mencintai. Ia belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut — keberanian berarti tetap melangkah meskipun takut.
Dan di pagi esok hari, ia akan bangun lagi, masuk ke kamar Xiaoqi, membangunkannya dengan senyum, dan memulai hari yang baru — masih canggung, masih belajar, masih takut — tapi tetap melangkah, tetap ada, tetap tidak pergi. Karena ia adalah ayah Xiaoqi. Karena ia adalah pasangan Su Wan. Karena ia akhirnya pulang.