NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pewaris

Takdir Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.

Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.

Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18.

"Kau bisa pergi."

Raksa berkata datar sesaat setelah butler selesai berbicara.

Butler kembali membungkuk sebelum berlalu pergi.

Elang mengalihkan pandangannya ke seluruh penghuni ruang keluarga. Damar duduk di sofa panjang dengan pakaian rumahan dan perban tipis masih menutupi sebagian dahinya. Meira berada di sisinya, sementara Ravian duduk berseberangan bersama Savera yang belum ia kenal.

Ketukan tongkat di tangan Raksa beradu dengan lantai saat ia melangkah mendekat. Tatapan teduhnya menatap Elang dengan hangat, kemudian tersenyum.

"Ayahmu menyembunyikanmu seperti pengantin." ujarnya seraya mengulurkan tangan dan mendaratkannya di bahu Elang. "Terakhir kali aku pernah melihatmu, kamu masih berusia sembilan tahun saat itu, dan sekarang kau sudah sebaya dengan cucuku."

Elang hanya tersenyum. Sesaat, ia melirik ke arah ayahnya, memberikan tatapan yang hanya bisa di pahami oleh sang ayah sebelum kembali mengarahkan pandangan pada Raksa.

“Duduklah,” ujar Raksa.

Elang mengangguk sopan dan mengambil tempat di sofa yang kosong sementara Raksa kembali ke tempat yang ia duduki sebelumnya. Bram baru akan duduk di samping putranya, tetapi belum sempat ia bergerak, Damar lebih dulu membuka suara.

“Aku sudah ingin menemuimu sejak keluar dari rumah sakit.”

Elang menatap pria yang sudah ia ketahui sebagai ayah kandungnya dengan perasaan aneh menyusup ke dalam dadanya, namun wajahnya tetap tenang.

“Bagaimana kondisi, Bapak?” tanya Elang.

"Jauh lebih baik," jawab Damar tersenyum.

"Aku memintamu datang kemari dengan mendadak," Raksa kembali membuka suara. "Kuharap, kamu tidak keberatan."

"Sama sekali tidak, Pak," jawab Elang sopan.

"Aku belum mengucapkan terima kasih dengan benar, itulah mengapa aku memintamu datang," ucap Raksa.

"Sekaligus meminta maaf atas sikapku saat di rumah sakit," Meira turut membuka suara.

Elang menoleh, yang membuat tatapan keduanya bertemu. Baru sekarang Meira menatap pemuda itu lebih lama.

"Aku masih terlalu panik," tambah Meira.

Elang tersenyum. "Saya memahaminya, Nyonya. Anda tidak perlu meminta maaf untuk hal kecil itu."

"Terima kasih sudah menyelamatkan menantuku," ucap Raksa tulus.

Pandangan Elang beralih pada Raksa. "Saya hanya kebetulan berada di sana." sahutnya merendah.

“Keira sudah menceritakan semuanya,” sahut Damar. “Kau masuk ke mobil yang sudah mengeluarkan asap ketika orang-orang memilih menjauh. Itu bukan kebetulan.”

"Jika kamu tidak mengeluarkannya tepat waktu," sambung Raksa, cengkeramannya pada tongkat sedikit mengerat. "Menantuku masih berada di dalam saat mobil itu terbakar."

Elang tidak segera menjawab. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.

“Sebutkan sesuatu yang kau inginkan,” ucap Raksa lagi.

Elang mengangkat alis tipis. “Maaf?”

“Uang, pekerjaan, atau apa pun yang sekiranya bisa membalas apa yang sudah kau lakukan untuk Damar,” ucap Raksa lugas.

Kalimat itu membuat Bram menahan napas. Rasa cemas kembali merayap ke hatinya bersama rasa takut jika Elang akan menggunakan kesempatan itu untuk mengungkap kebenaran.

Tatapan Ravian turut tertuju kepada Elang. Bahkan Meira, Damar serta Savera tampak menunggu jawaban pemuda itu.

Elang justru tersenyum kecil. “Saya sudah memiliki pekerjaan, Pak.”

“Uang?” Raksa menyambung cepat.

“Saya menerima gaji dari pekerjaan saya,” jawab Elang tanpa berlebihan.

Jawaban itu membuat sudut bibir Damar terangkat. Entah mengapa, sikap Elang membuat ia seolah melihat dirinya sendiri yang tidak memanfaatkan kesempatan yang datang.

Ekspresi Raksa tidak berubah. “Aku tidak sedang bercanda.”

“Saya juga tidak, Pak." Elang menyandarkan punggungnya tanpa memberikan kesan tidak sopan. “Saya tidak masuk ke mobil Pak Damar karena berharap keluarga Arkatama akan memberi saya sesuatu setelahnya. Kalau saat itu saya sempat berpikir soal imbalan, mungkin Pak Damar sudah tidak sempat keluar.”

Hening...

Bram menatap putranya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Raksa menatap pemuda itu lebih lama. Ravian sedikit melebarkan mata. Savera tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Elang. Sementara Meira menatap sedikit lebih lama, entah mengapa sikap pemuda itu terasa tidak asing baginya.

“Jadi tidak ada yang kau inginkan?” tanya Raksa memastikan

“Ada," jawab Elang tanpa jeda.

Ekspresi semua orang serempak berubah dalam hitungan detik.

Elang melanjutkan dengan tenang. “Jangan anggap kejadian itu kecelakaan biasa.”

Wajah Damar berubah. “Apa maksudmu?”

"Saya melihat laporan pemeriksaan sementara saat polisi meminta keterangan tambahan dari saya. Ada kerusakan pada sistem rem."

Ravian yang sejak tadi hanya duduk tanpa suara kini memandang ayahnya. “Ayah tahu sesuatu?”

Damar mengembuskan napas perlahan. Ia sebenarnya tidak ingin membicarakan ancaman yang ia terima di depan keluarga, setidaknya sampai mengetahui siapa pengirimnya. Namun, setelah kecelakaan, menyembunyikan semuanya bukanlah pilihan bijak.

Keheningan menyelimuti ruang keluarga, semua orang menunggu apa yang akan Damar katakan. Hingga, pada akhirnya Damar mengatakan pada keluarganya tentang pesan ancaman yang ia terima, termasuk saat rem mobilnya yang tiba-tiba kehilangan fungsi.

Awalnya, baik Meira maupun Ravian melayangkan protes mereka, namun segera teredam saat Raksa yang angkat bicara.

Setelah pembicaraan beberapa menit, Elang mohon undur diri. Belum juga ia keluar dari pintu utama kediaman Arkatama, Raksa menyusul hanya untuk bertukar nomor ponsel.

.

.

.

Sementara itu, di gedung utama Arkatama Group, Gatra Adikara, seorang pria paruh baya tengah duduk seorang diri di ruangannya. Tatapannya tertuju pada layar ponsel dengan punggung bersandar santai, sementara pena di jemarinya berputar pelan seiring senyum yang mengembang saat notifikasi muncul di ponselnya.

Rp1.850.000.000 — Transaksi Berhasil.

Jumlah tersebut bukan berasal dari satu pembayaran, melainkan akumulasi selisih dana dari beberapa transaksi yang sudah ia pecah selama berbulan-bulan agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Pandangannya kemudian beralih pada layar komputer. Di sana terpampang salah satu pembayaran terbaru yang sedang ia manfaatkan -tagihan rumah sakit tempat Damar dirawat. Nilainya sengaja ia naikkan sebelum diajukan ke bagian keuangan, sementara selisihnya dialihkan ke jalur yang sudah ia siapkan.

Gatra menutup halaman transaksi dengan tenang saat terdengar suara ketukan pintu.

“Masuk.”

Seorang pria berusia lebih muda melangkah masuk dan segera mengunci pintu di belakangnya. “Orang yang mengurus mobil Pak Damar sudah meninggalkan kota.”

“Bagus.”

“Tapi polisi menemukan kerusakan pada rem," lanjutnya kemudian.

Senyum Gatra perlahan menghilang. “Hanya kerusakan?”

“Untuk sementara."

Hening beberapa detik sebelum pria di depan meja kembali berbicara. “Kalau mereka terus menyelidiki—”

“Biarkan," Gatra menjawab cepat.

Jawaban itu membuat pria di hadapannya terdiam.

Gatra bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju jendela besar. Dari tempat ia berdiri, pemandangan kota terbentang di hadapannya.

“Kecelakaan itu gagal.” Suara Gatra tetap tenang. “Berarti kita gunakan cara lain.”

Baru dua detik ia menyelesaikan kalimatnya, ponselnya tiba-tiba bergetar dengan menampilkan nama Arina di layar.

Ia menggeser layar tanpa ragu untuk menjawab panggilan. “Iya, Sayang?”

Suara Arina terdengar dari seberang, menanyakan kapan ia pulang.

“Sebentar lagi. Jangan tunggu aku untuk makan malam.”

Nada suara Gatra begitu lembut hingga tidak menyisakan sedikit pun jejak percakapan sebelumnya. Setelah panggilan berakhir, ia kembali menghadap pria yang masih menunggunya.

“Mulai besok, pindahkan semuanya.”

Dia mengerutkan kening. "Semua?"

“Semua yang bisa membuat mereka saling mencurigai," jawab Gatra.

Pria itu mengernyit. “Kepada siapa?”

Senyum dingin kembali muncul di wajah Gatra, sementara satu tangannya mengambil jas dari sandaran kursi.

“Cari saja orang yang paling mudah dipercaya keluarga Arkatama. Karena pengkhianat yang paling meyakinkan…” Tatapan Gatra beralih pada kota yang terbentang di balik dinding kaca.

“…selalu orang yang mereka anggap keluarga.”

. . .

. . .

To be continued...

1
Patrick Khan
aku ingin kasih tau q ini anakmu pak damar😁😁😁
Zhu Yun💫
langsung saja minta tes DNA biar terbongkar, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Yang bener kalau dinikahkan baru dia akan punya rasa tanggung jawab pak Raksa... kalau cuma dijodohkan doang nanti dia bisa jawab gini sama calonnya kalau lagi berantem 'Kita itu baru tunangan, jadi kamu gak usah ngatur-ngatur aku.' Nah beda kalau udah nikah dan rasa tanggung jawab itu pasti bakal ada 'Kamu adalah Istriku, tanggung jawabku' 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
〈⎳ FT. Zira: asiap kaka/Joyful/
total 1 replies
Muft Smoker
persis seperti anak mu si ravian😏😏
〈⎳ FT. Zira: bener🤣
total 3 replies
Zhu Yun💫
Aku hafalinnya Tresna.. Tresna... Tresna aja ... biar gampang lah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Patrick Khan
perjodohan..emang sopo yg mw ambek ravian 🤣🤣🤣lakik modelan gitu
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Zhu Yun💫
Karena yang manis kan kamu, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: devinisi cwe gombalin cwo yak/Facepalm/
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mulai maju nih si keira
〈⎳ FT. Zira: sebelum direbut orang kak🤣🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
rame yah di novel ini
〈⎳ FT. Zira: banyak tokohnya🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aturannya selidiki dulu elang diam2. pura2 aja dl ga tau apa2
〈⎳ FT. Zira: udah gedek duluan dia kak,gak mau drama🤭
total 1 replies
Muft Smoker
org luar menurut mu ,,
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
〈⎳ FT. Zira: 🤣/Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waah si bram udh jdi kambing guling niih ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁🫰🫰
total 8 replies
Muft Smoker
krn ravian emnk bukan anak ny pak damar ,, pak gatra ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waaaah actor Dunia lgi berbicara ,, 😒😒😒
〈⎳ FT. Zira: aduh/Facepalm/
total 3 replies
Zhu Yun💫
Beneran ulah Bram atau ada orang lain lagi dibelakangnya /CoolGuy/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sudah kudugong👏
Patrick Khan
lanjut
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
vote mumpung inget
〈⎳ FT. Zira: tengkyuuu miii/Kiss//Kiss/
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
akting
〈⎳ FT. Zira: aktingnya... harus🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!