NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

Suasana di dalam kamar utama sayap utara Istana Buckingham serasa kehilangan gravitasi. Kegelapan malam yang mengintip dari balik celah tirai sutra tebal seakan menyerap seluruh suara dari luar, membiarkan ruangan mewah berkanopi emas itu dipenuhi oleh napas yang memburu dan aroma kayu cendana yang bercampur dengan kehangatan tubuh dua insan.

Di atas peraduan megah yang berlapis sprei sutra putih, Alistair memacu dirinya. Gerakannya di atas tubuh Baxeena berganti-ganti secara intens—kadang perlahan, dalam, dan penuh kepemilikan yang menyiksa, lalu mendadak berubah lembut seolah takut wanita di bawahnya itu akan lenyap seperti asap.

"Ahh... Alistair..."

Desahan samar Baxeena lolos begitu saja dari celah bibirnya yang terkatup. Suara itu bergetar di tengah remang lampu dinding yang membiaskan pendar keemasan.

"Mendesahlah lagi... kumohon..." pangkas Alistair dengan suara parau yang amat rendah.

Pangeran tegap itu menundukkan kepalanya, meraup ceruk leher Baxeena dan menggigit kulit halus di sana secara perlahan namun dalam—sebuah tanda kepemilikan yang teramat fisik dan nyata. Jemari tangannya yang besar dan berurat meremas jemari Baxeena di atas bantal, menyatukan jemari mereka rapat-rapat hingga tak ada celah udara yang tersisa.

Sensasi yang menghantam tubuh Baxeena terasa begitu meluap hingga dadanya berombak hebat. "Ah... tidak... berhenti... kumohon berhenti, Alistair..." teriak Baxeena pelan dengan suaranya yang serak, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk mendorong dada tegap sang suami.

Namun, Alistair sama sekali tidak ingin menyelesaikan penyatuan itu dengan cepat.

Pria itu justru menggila, menggerakkan tubuhnya seakan hari esok tidak akan pernah datang dalam hidup mereka. Tatapan mata hazel-nya yang biasanya diliputi kehangatan kini memancarkan kegelapan yang pekat, sebuah gejolak emosi yang tak mampu ia tampung sendirian.

"Kau milikku, Amore..." desis Alistair di atas bibir Baxeena, menyapu napas panasnya yang memburu. "Kau hanya milikku, Xeena..."

Baxeena menatap manik mata suaminya di dalam remang malam. Ia tahu. Sejak detik pertama mereka memasuki kamar ini seusai Alistair kembali dari ruang rapat kerajaan, ada sesuatu yang membebani dan merusak pikiran suaminya.

Alistair tidak pernah seperti ini. Jika sekadar "menabung rindu" untuk perpisahan enam bulan ke depan, sang suami tidak akan pernah bertindak sefrustrasi ini.

Sejak tadi, Baxeena hanya bisa pasrah dan mengikuti bagaimana sang suami memintanya lagi dan lagi tanpa henti.

Alistair telah membawanya menjelajahi hampir setiap sudut kamar mewah mereka—dari sofa beludru di dekat perapian, karpet tebal di bawah cermin ukir, hingga kembali lagi ke atas tempat tidur megah ini.

Dan sepanjang penyatuan itu berlangsung, kata-kata soal "kepemilikan" terus-menerus diucapkan oleh Alistair bagai mantra pelindung.

Baxeena tahu, jiwa suaminya sedang terguncang hebat. Lebih-lebih, kurun waktu satu minggu yang tersisa pasti akan berlalu dengan teramat cepat. Enam hari lagi... hanya enam hari lagi yang memisahkan mereka dari perpisahan panjang selama enam bulan di tanah konflik.

Alistair sendiri tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan seluruh kegelisahan dan ketakutan yang menghantam dadanya. Ia tidak bisa menceritakan konspirasi dan jebakan aturan hukum kuno yang dipasang oleh ibunya sendiri di ruang rapat tadi.

Yang Alistair tahu hanyalah dorongan keputusasaan untuk terus memacu tubuhnya, seakan ingin hancur dan meledak bersama Baxeena agar tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang sanggup memisahkan mereka.

Penyatuan yang makin tak terkendali itu akhirnya merenggut pertahanan fisik Baxeena.

"Ah... kau menyakitiku, Alistair..." ringis Baxeena dengan mata berair, suaranya pecah di balik bisikan.

Hingga detik itu... saat kata "menyakiti" keluar dari mulut istrinya, Alistair seolah dihantam petir kesadaran.

Seluruh tubuh tegapnya membeku seketika. Manik mata hazel-nya membelalak, menangkap riak air mata yang tergenang di sudut mata Baxeena. Dalam hitungan detik, rasa bersalah yang amat dahsyat merayapi seluruh pembuluh darah Pangeran muda tersebut.

Alistair segera melepaskan dirinya dari penyatuan itu. Pria tegap itu menarik tubuhnya mundur, berlutut di atas kasur dengan napas terengah-engah dan dada yang bertelanjang berombak naik turun.

"Sakit, Sayang?" tanya Alistair panik, suaranya bergetar hebat. Jemarinya yang gemetar menyapu helai rambut Baxeena yang basah oleh keringat. "Ah... maafkan aku... Maafkan aku, Xeena... Kau boleh menamparku... Tamparlah aku..."

Alistair menyodorkan pipinya sendiri di hadapan Baxeena, matanya memancarkan ketakutan yang begitu telanjang—ketakutan akan melukai wanita yang menjadi napas hidupnya.

Baxeena perlahan menggelengkan kepalanya. Jemari tangannya yang halus terangkat, mengusap rahang tegas Alistair dan menarik wajah suaminya mendekat.

Bukan sakit fisik yang membuat air matanya menetes. Namun melihat bagaimana suaminya—pria yang biasanya selalu bersikap lembut, penuh kasih, dan menjadi pelindung utamanya—kini tampak begitu rapuh dan hancur, ikut meremukkan dada Baxeena.

Baxeena tahu persis, keasingan gestur Alistair malam ini adalah jeritan keputusasaan yang berkaitan erat dengan perpisahan sementara mereka. Ia bisa merasakan betapa beratnya beban kerajaan dan tekanan dinasti yang sedang menghimpit bahu tegap suaminya di luar sana.

"Aku tidak apa-apa..." bisik Baxeena lembut, mengusap sudut mata Alistair yang mulai digenangi genangan air mata tersembunyi. "Jangan minta maaf, Alistair..."

Alistair tidak sanggup menahannya lagi. Pria tinggi besar itu merobohkan tubuhnya ke atas dada Baxeena, merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya yang teramat erat, seolah-olah Baxeena adalah satu-satunya pegangan hidup di tengah badai yang menghancurkan dunianya.

Di dalam keheningan kamar yang meredup, Alistair merebahkan kepala istrinya di dada kirinya, lalu mulai mengecup wajah Baxeena bertubi-tubi. Ia mencium keningnya, kedua kelopak matanya, pipinya yang hangat, sudut bibirnya, hingga ke jemari tangannya—ratusan kali bisikan dan ciuman itu mendarat tanpa henti.

"Aku mencintaimu, Baxeena..." bisik Alistair parau di antara kecupan-kecupannya yang tak terhitung jumlahnya. "Aku sangat mencintaimu... Demi Tuhan, aku mencintaimu..."

Alistair mengecup dahi Baxeena lagi, menempelkan hidungnya di pipi istrinya dengan napas yang memburu.

"Kumohon... tetaplah bersamaku, Xeena..." bisik Alistair lagi, suaranya serak dan pecah di balik kegelapan. "Tetaplah bersamaku... Jangan pernah tinggalkan aku, apa pun yang terjadi di istana ini..."

Baxeena menyusupkan kedua tangannya ke punggung Alistair, meremas kulit hangat suaminya dan menyatukan tubuh mereka dalam pelukan yang tak terpisahkan.

Di atas tempat tidur yang terhampar luas, ritme napas Alistair yang semula terengah-engah dan berantakan mulai melambat, menyelaraskan diri dengan detak jantung Baxeena yang teratur di bawah rengkuhannya.

Bayang-bayang kelam tentang ruang rapat kerajaan dan ancaman sang Ratu tidak lenyap sepenuhnya, namun di dalam pelukan wanita ini, kegelapan itu kehilangan taringnya.

Alistair menggeser tubuh tegapnya sedikit ke samping tanpa melepaskan kuncian tangannya di pinggang Baxeena. Pria itu menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara jemari tangannya yang lain merayap lembut menyusuri lekuk pipi Baxeena, menghapus jejak air mata yang mengering dengan ibu jarinya.

"Aku merasa seperti pria paling serakah di dunia setiap kali menatapmu, Amore," bisik Alistair, suaranya mengalun bagai beludru hangat di tengah kegelapan yang temaram. Iris mata hazel-nya berbinar penuh pemujaan murni, memantulkan pendar lilin-lilin emas di sudut ruangan. "Semakin aku memilikimu, semakin aku takut kehilangan sebutir saja dari napas yang kau hembuskan."

Baxeena menyunggingkan senyum tipis, "Kau tidak pernah kehilangan aku, Alistair," sahut Baxeena, menatap dalam ke balik mata sang Pangeran dengan ketegasan murni khas wanita Los Angeles yang tak pernah gentar oleh ancaman apa pun. "Jiwaku sudah kau kunci sejak Bertahun-tahun lalu, dan tidak ada yang sanggup mencabutnya dari dadamu."

Kata-kata Baxeena mendarat bagai penawar racun yang menyembuhkan seluruh luka di dada Alistair.

Sang Pangeran menunduk, menempelkan dahinya pada dahi Baxeena. Dalam jarak yang tak berjarak itu, jiwa mereka seolah bertukar kepastian—bahwa cinta mereka bukan sekadar emosi yang rapuh, melainkan sebuah benteng kokoh yang dibentuk oleh pengampunan, kerinduan panjang, dan takdir yang tak terlawan.

"Jika aku harus melintasi ribuan mil garis pertempuran," bisik Alistair, memiringkan wajahnya untuk mengecup bibir Baxeena dengan kelembutan yang begitu dalam dan lambat, "aku akan menjadikan bayangan senyummu sebagai kompas. Setiap peluru yang berdesing di sana hanya akan menjadi pengingat bahwa di ujung dunia, ada bibir ini yang harus kucium kembali."

Baxeena memejamkan matanya, menikmati kehangatan ciuman suaminya yang tak lagi diburu oleh rasa panik.

Kali ini, penyatuan bibir mereka terasa bagai doa yang dipanjatkan di atas altar suci—tenang, dalam, dan dipenuhi janji kepemilikan abadi.

Alistair menarik tubuh Baxeena lebih rapat, menyatukan dada mereka hingga tak ada setitik pun celah udara di antara dua insan tersebut. Jemari tegapnya mengelus punggung polos Baxeena dengan ketenangan yang luar biasa, memanjakan setiap sentimeter kulit istrinya dengan rasa hormat dan cinta yang tak terukur.

"Enam bulan..." gumam Baxeena di dada Alistair, mendengarkan dentam jantung suaminya yang menenangkan. "Aku akan menghitung setiap detiknya, Alistair. Dan di sini, di balik dinding istana ini, aku dan Violet akan menjaga rumah yang kau tinggalkan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak apa yang sudah kita bangun kembali."

Alistair tersenyum penuh haru, mengecup puncak kepala Baxeena bertubi-tubi. "Kau adalah keajaiban terbesarku, Xeena. Dahulu aku berpikir keberanian terbaik seorang pria adalah saat ia memegang pedang di medan perang. Namun malam ini, aku tahu keberanian sejatiku adalah saat aku berani mencintaimu di tengah dunia yang berusaha memisahkan kita."

Malam kian melarut dalam simfoni kehangatan yang tak terputus.

...****************...

Jangan lupa tinggalkan Komentar 🙏🏻 Happy Reading 🌷

1
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!