NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Meski sempat diwarnai ketegangan, acara lelang amal tetap berlanjut. Ketua panitia memutuskan melanjutkan pelelangan dengan barang-barang berikutnya sambil menyampaikan bahwa persoalan kepemilikan kalung dan anting berlian akan diverifikasi setelah seluruh rangkaian acara selesai.

Keputusan itu disambut anggukan para tamu. Bagaimanapun juga, tujuan utama malam itu adalah menggalang dana bagi yayasan.

Satu demi satu barang berhasil terjual dengan harga fantastis. Tepuk tangan beberapa kali menggema memenuhi ballroom, sementara para donatur tampak antusias mengikuti jalannya acara.

Namun, di balik kemeriahan itu, suasana di meja keluarga Dimas berubah begitu mencekam.

Tak ada lagi senyum di wajah Bu Ratna. Dimas lebih banyak diam sambil sesekali melirik ke arah Karin. Sedangkan Vina memilih menundukkan kepala, menghindari tatapan para tamu yang beberapa kali memandang ke arahnya.

Sebaliknya, Karin tampak tenang. Ia sesekali berbincang dengan kedua orang tuanya dan beberapa relasi bisnis keluarga Wijaya, seolah kejadian beberapa saat lalu sama sekali tidak memengaruhi suasana hatinya.

Tak lama kemudian, pembawa acara kembali naik ke atas panggung.

"Puji syukur, seluruh rangkaian Gala Charity Night telah selesai dilaksanakan. Terima kasih atas kehadiran serta kemurahan hati Bapak dan Ibu sekalian. Semoga setiap donasi yang terkumpul malam ini membawa manfaat bagi mereka yang membutuhkan."

Tepuk tangan kembali menggema. Para tamu mulai berdiri dari kursi masing-masing. Mereka saling bersalaman, bertukar kartu nama, dan berpamitan sebelum meninggalkan ballroom.

Pak Wijaya juga menyalami beberapa kolega lamanya.

"Terima kasih sudah datang, Pak Wijaya."

"Sama-sama. Semoga acara tahun depan bisa lebih baik lagi."

Bu Wijaya berbincang dengan beberapa tamu wanita, sementara Karin berdiri di samping kedua orang tuanya menunggu mereka selesai.

Saat keluarga Wijaya hendak melangkah menuju pintu keluar, terdengar suara memanggil dari belakang.

"Pak Wijaya... Nyonya Karin... mohon tunggu sebentar."

Mereka serentak menoleh. Ketua panitia berjalan menghampiri dengan wajah serius. Di belakangnya, dua orang panitia membawa sebuah map dan kotak perhiasan yang sejak tadi disimpan oleh panitia.

Sesampainya di hadapan keluarga Wijaya, ketua panitia terlebih dahulu membungkukkan badan dengan sopan.

"Pak Wijaya, Nyonya Karin, atas nama panitia, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang terjadi malam ini."

Pak Wijaya mengangguk singkat.

"Kami mengerti. Silakan lanjutkan."

Ketua panitia membuka map yang dibawanya, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"Setelah kami melakukan pemeriksaan terhadap berkas donasi dan mencocokkannya dengan data yang kami miliki, kami menemukan bahwa perhiasan ini memang didaftarkan atas nama Pak Dimas."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Namun, pada formulir penyerahan tidak terdapat surat kuasa ataupun surat persetujuan dari pemilik asli perhiasan."

Ketua panitia kemudian menoleh kepada Karin.

"Karena itu, sesuai prosedur yayasan, kami tidak dapat menerima perhiasan tersebut sebagai barang donasi."

Salah seorang panitia membuka kotak beludru itu, lalu menyerahkannya kepada ketua panitia.

Dengan kedua tangan, ketua panitia menyerahkan kotak tersebut kepada Karin.

"Nyonya Karin, kami mengembalikan perhiasan ini kepada pemilik yang sah."

Karin menerima kotak itu dengan tenang.

"Terima kasih."

Ketua panitia kembali menundukkan kepala.

"Kami juga akan membatalkan seluruh administrasi donasi atas nama perhiasan tersebut agar tidak menimbulkan persoalan hukum maupun kesalahpahaman di kemudian hari."

Ucapan itu terdengar jelas oleh para tamu yang belum sempat meninggalkan ballroom.

Mereka kembali saling berbisik.

"Jadi benar perhiasan itu bukan milik keluarga Pak Dimas."

"Berarti mereka mendaftarkan barang milik orang lain."

"Pantas saja Nyonya Karin berani menghentikan lelang."

Wajah Bu Ratna semakin pucat. Sementara itu, Dimas hanya bisa berdiri membisu. Ia dapat merasakan tatapan sinis mulai diarahkan kepadanya dari berbagai penjuru ballroom.

Ketua panitia kembali menatap Pak Wijaya.

"Untung saja Nyonya Karin menyampaikan keberatannya sebelum proses administrasi donasi selesai. Kalau tidak, yayasan kami yang akan ikut terseret dalam persoalan ini."

Pak Wijaya mengangguk pelan.

"Saya menghargai profesionalisme panitia."

Ia kemudian menatap kotak perhiasan yang kini berada di tangan putrinya.

"Terima kasih karena telah mengembalikan hak putri saya."

Ketua panitia membungkukkan badan sekali lagi sebelum berpamitan.

"Selamat malam, Pak Wijaya. Selamat malam, Nyonya Karin."

Setelah ketua panitia dan para stafnya pergi, suasana ballroom kembali hening.

Namun keheningan itu tidak berlangsung lama. Dari arah belakang, beberapa pengusaha besar mulai melangkah mendekati Dimas dengan raut wajah yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Pria itu adalah Hendra Santoso, pemilik Santoso Group, salah satu investor yang selama ini bekerja sama dengan perusahaan Dimas.

"Pak Dimas."

Dimas segera tersenyum dan menjabat tangannya.

"Pak Hendra, terima kasih sudah hadir."

Namun Hendra tidak membalas senyum itu.

"Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu."

"Tentu, Pak."

Hendra menghela napas pelan.

"Setelah melihat kejadian malam ini, saya rasa kerja sama pembangunan kawasan komersial yang sedang kita bicarakan... sebaiknya kita tunda dulu."

Senyum Dimas langsung menghilang.

"Tunda?"

Hendra mengangguk.

"Perusahaan saya sangat menjaga integritas. Kalau urusan kepemilikan aset pribadi saja masih menjadi polemik di depan publik, saya khawatir akan muncul masalah lain di kemudian hari."

"Pak Hendra, izinkan saya menjelaskan."

Hendra mengangkat tangan, menghentikan ucapan Dimas.

"Lain kali saja penjelasan. Saya akan meminta tim hukum kami meninjau kembali seluruh kerja sama yang sedang berjalan."

Setelah mengucapkan itu, Hendra berpamitan dan pergi.

Dimas masih belum sempat mengejar ketika dua pengusaha lain menghampiri.

"Pak Dimas."

"Saya juga ingin menunda pembahasan investasi hotel kita."

"Begitu pula proyek apartemen. Sampai situasinya lebih jelas."

Satu per satu mereka pergi. Wajah Dimas semakin pucat.

Bu Ratna yang menyaksikan semuanya ikut panik.

"Dimas... mereka..."

Dimas mengepalkan tangannya.

"Mereka mulai menarik diri."

Di sisi lain, Karin hanya memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Malam itu, yang hilang bukan hanya citra keluarga Dimas. Tetapi juga kepercayaan dunia bisnis kepada Dimas.

1
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!