NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.5k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20 - Garuda Shield Resmi Buka

"Bos," katanya singkat, "izin operasional dari Polri sudah keluar. Kita resmi legal."

Ruang rapat Garuda Shield hening satu detik.

Lalu Adi mengembuskan napas seperti orang yang baru melewati jembatan sempit.

"Akhirnya."

Agus meletakkan map biru di meja. Di dalamnya ada salinan izin operasional, daftar personel awal, sertifikat pelatihan dasar, SOP, dan catatan perlengkapan yang telah diperiksa.

Raka membuka halaman pertama.

PT Garuda Shield Security.

Nama itu sekarang bukan lagi tulisan di proposal.

Nama itu tercatat.

Legal.

Adi menunjuk beberapa baris. "Ini izin untuk lingkup yang kita ajukan. Pengamanan usaha, pengawalan aset terbatas, konsultasi risiko, dan penempatan personel sesuai kontrak. Kalau mau masuk layanan lain nanti, kita tambah izin dan SOP."

"Tidak ada kerja di luar izin," kata Raka.

Agus mengangguk. "Kalau anak buah melanggar, saya tarik."

"Kalau klien meminta kita melanggar?"

"Tolak kontrak."

Adi tersenyum tipis. "Bagus. Kita terdengar seperti perusahaan, bukan gerombolan."

Hari pembukaan tidak besar.

Tidak ada panggung.

Tidak ada spanduk berlebihan.

Hanya kantor dua lantai yang rapi, papan nama baru, ruang briefing, ruang administrasi, area latihan kecil di belakang, dan dua belas personel awal yang berdiri dengan seragam hitam abu-abu.

Raka berjalan di depan mereka bersama Adi dan Agus.

Wajah-wajah itu masih belum sempurna. Ada yang terlalu tegang. Ada yang bangga berlebihan. Ada yang diam karena takut salah. Tetapi mereka mulai berdiri sebagai satu barisan.

"Garuda Shield bukan tempat mencari alasan untuk memukul orang," kata Raka.

Tidak ada yang bergerak.

"Kita dibayar untuk mengurangi risiko, bukan menambah masalah. Kita bekerja dengan kontrak, bukti, dan batas hukum. Kalau kalian ingin jadi preman, keluar sekarang."

Satu orang menelan ludah.

Tidak ada yang keluar.

Raka membiarkan diam itu berlangsung beberapa detik.

"Mulai bulan ini, gaji kalian dibayar tepat waktu. Asuransi aktif. Pelatihan dibayar perusahaan. Sebagai gantinya, satu pelanggaran berat cukup untuk memutus kontrak."

Beberapa wajah berubah.

Bagi sebagian dari mereka, perlakuan layak terdengar lebih mengejutkan daripada ancaman. Dunia kerja sering mengajari orang kecil bahwa disiplin berarti dimarahi dan digaji terlambat. Raka ingin membalik itu.

"Kalian bukan alat pukul," lanjutnya. "Kalian wajah perusahaan."

Agus melanjutkan dengan suara pendek. "Mulai hari ini, laporan harian wajib. Body camera untuk tugas tertentu. Tidak ada pungutan liar. Tidak ada menerima uang dari pihak lawan. Tidak ada pamer kekuatan di media sosial."

Adi menambahkan, "Dan semua lembur, insiden, kerusakan, serta penggunaan kendaraan dicatat. Kalau tidak tercatat, berarti tidak ada."

Raka hampir tersenyum.

Ini baru fondasi.

Tetapi fondasi yang benar jauh lebih mahal daripada dekorasi.

Hari itu, ia menandatangani pembelian perlengkapan tambahan: radio komunikasi, kamera tubuh terbatas, software jadwal, asuransi personel, kontrak sewa kendaraan operasional, dan renovasi ruang kontrol sederhana.

Total Rp 3.200.000.000.

[Transaksi tervalidasi.]

[Pengeluaran sah kepada pihak ketiga dan operasional perusahaan: Rp 3.200.000.000.]

[Cashback 10x diproses: Rp 32.000.000.000.]

Saldo: Rp 114.354.633.900.

Adi menerima salinan invoice dan menatap Raka.

"Bos, dengan pola belanja seperti ini, saya harus punya tim finance lebih cepat."

"Rekrut."

"Saya belum selesai mengeluh."

"Aku sudah setuju sebelum kamu selesai."

Adi menghela napas. "Kadang punya bos terlalu cepat setuju juga bikin stres."

"Anggap saja latihan manajemen risiko."

Sore itu, klien pertama datang.

Namanya Pak Yanto, pemilik perusahaan distribusi bahan bangunan skala menengah di Sidoarjo. Kemejanya mahal tetapi kusut, dan matanya merah seperti orang yang beberapa malam tidak tidur.

Ia tidak datang sendiri. Ada sopir dan seorang staf administrasi yang membawa map tebal.

"Pak Raka," katanya setelah duduk, "saya tahu perusahaan Bapak baru. Tapi saya dengar Bapak punya orang yang disiplin, bukan preman."

Raka menatap Adi.

Adi tidak terlihat tersanjung. Ia justru membuka laptop.

"Masalahnya apa, Pak?"

Pak Yanto mengeluarkan beberapa foto. Gudang dicoret cat merah. Kaca kantor pecah. Truk dengan ban kempes. Surat kecil bertuliskan permintaan uang keamanan bulanan.

"Sudah delapan bulan. Awalnya Rp 5 juta. Sekarang mereka minta Rp 40 juta per bulan. Kalau tidak bayar, pengiriman saya diganggu."

Agus mengambil foto, memeriksa detail.

"Sudah lapor polisi?"

"Pernah. Mereka hilang seminggu, lalu kembali. Anak buah saya takut. Kalau pakai satpam biasa, mereka diancam."

Raka melihat foto gudang.

Preman kecil jarang bertahan delapan bulan tanpa ada yang menutup mata atau memberi arahan.

"Apa yang Bapak inginkan dari kami?" tanya Raka.

"Saya ingin gudang saya aman. Saya ingin sopir saya bisa kerja. Saya tidak mau bayar mereka lagi."

"Kami tidak menjadi pasukan balas dendam."

"Saya tidak minta itu."

"Kami akan mulai dari audit lokasi, dokumentasi ancaman, penguatan prosedur masuk, pengawalan pengiriman tertentu, dan koordinasi legal jika ada tindak pidana. Semua tertulis."

Pak Yanto menggenggam mapnya. "Berapa biayanya?"

Adi menyodorkan estimasi awal yang sudah ia susun cepat setelah mendengar masalah.

Pak Yanto membaca, lalu menatap Raka. "Mahal."

"Murah adalah delapan bulan membayar preman dan tetap takut," kata Raka. "Mahal adalah membayar sistem agar rasa takut berhenti."

Kalimat itu membuat Pak Yanto diam.

Agus menambahkan, "Kami juga perlu waktu observasi. Tidak ada aksi bodoh malam pertama."

"Saya justru lega mendengar itu," kata Pak Yanto lirih. "Saya sudah terlalu banyak bertemu orang yang menjanjikan pukul balik."

Kontrak pendahuluan ditandatangani menjelang malam. Biaya audit dan pengamanan awal Rp 480.000.000 untuk fase pertama.

Pembayaran masuk ke rekening perusahaan.

Raka tidak mendapat cashback dari uang masuk.

Itu bukan pengeluaran.

Tetapi ia lebih puas daripada melihat angka sistem.

Ini uang pertama yang datang karena perusahaan mulai dipercaya.

Setelah Pak Yanto pulang, Agus pergi memeriksa tim kecil yang akan melakukan survei lokasi. Adi tetap di ruang rapat, menyusun daftar risiko.

Satu jam kemudian, Agus kembali dengan wajah lebih keras.

"Bos."

Raka menoleh.

"Saya dapat info awal dari kontak lama. Preman yang menekan Pak Yanto bukan kelompok kecil biasa. Mereka setor ke orang yang lebih besar."

Adi menutup laptop. "Seberapa besar?"

Agus meletakkan kertas catatan di meja.

"Belum jelas. Tapi ada satu sebutan yang muncul dua kali."

"Apa?"

"Tuan muda."

Ruangan yang tadi penuh rasa pembukaan mendadak terasa seperti ruang briefing sebelum badai.

Adi bahkan berhenti mengetuk keyboardnya.

Tidak ada yang menganggap itu kabar kecil.

Raka diam.

Di Surabaya, orang biasa tidak dipanggil begitu.

Sangat kaya.

Nama Kevin belum disebut, tetapi bayangannya sudah terasa di setiap jeda.

Agus melanjutkan dengan suara rendah, "Dan menurut sumber saya, orang-orang itu bilang mereka dilindungi seorang pewaris kaya."

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!