NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:742
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

 

Bab 12: Rahasia yang Terkubur dan Pelukan Tanpa Penghakiman

Malam semakin larut, udara di dalam kamar terasa sejuk namun tidak lagi dingin atau canggung. Cahaya lampu tidur yang remang menciptakan bayangan lembut di dinding, seolah turut menjaga keheningan yang penuh makna di antara mereka berdua.

Raina masih bersandar lemas di dada bidang Dika, merasakan detak jantung pemuda itu yang teratur dan menenangkan, seolah menjadi irama yang menenangkan badai di dalam hatinya sendiri. Rasa aman yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun kini memeluknya sepenuhnya, membuat tembok pertahanan yang selama ini ia bangun tinggi-tinggi perlahan runtuh tak berdaya.

Dika tidak mendesak, tidak bertanya, dan tidak memaksa. Ia hanya terus mengusap punggung Raina dengan gerakan lembut dan berulang, memberikan waktu yang dibutuhkan wanita itu untuk mengumpulkan keberanian yang hilang lama.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang hangat, hingga akhirnya suara Raina terdengar pelan, bergetar, dan hampir tak terdengar memecah kesunyian.

"Dulu..."

Satu kata itu terasa berat sekali diucapkan, seolah ia harus mengangkat beban berton-ton dari dasar hatinya yang paling dalam. Ia menelan ludah dengan susah payah, rasa pahit kenangan lama kembali menyentak dadanya.

"Dulu aku pikir pernikahan itu adalah hal terindah yang akan terjadi pada setiap wanita. Aku percaya pada janji suci yang diucapkan di depan penghulu, percaya pada kata-kata manis yang diucapkan seseorang yang kucintai. Aku kira menikah berarti kita akan saling melindungi, saling menghargai, dan membangun masa depan bersama selamanya."

Raina berhenti sejenak, menarik napas panjang yang terasa berat. Tangannya mencengkeram kain baju Dika dengan erat, seolah mencari pegangan agar tidak hanyut terbawa arus kenangan yang menyakitkan itu.

"Tapi ternyata... itu semua hanyalah mimpi indah yang patah begitu saja."

Air mata mulai kembali menggenang di matanya, membuat pandangannya menjadi kabur.

"Dia tidak pernah memukulku secara fisik. Kalau hanya pukulan, mungkin aku masih bisa mengobatinya dengan obat dan perban. Tapi luka yang dia berikan jauh lebih dalam, jauh lebih menyakitkan, dan tak pernah terlihat oleh mata orang lain."

Suara Raina mulai pecah, rasa sakit yang selama ini ia pendam sendirian akhirnya tumpah juga.

"Dia selalu meremehkanku. Setiap hari dia bilang aku tidak berguna, bilang aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan benar, bilang aku hanya beban yang menanggung hidupnya. Kalau aku memasak sedikit terlalu asin, aku bodoh. Kalau aku menghabiskan sedikit uang belanja, aku boros. Kalau aku diam saja, aku tidak punya perasaan. Kalau aku bicara, aku cerewet dan menyebalkan."

Isak tangis kecil mulai terdengar dari mulutnya.

"Selama bertahun-tahun aku hidup dalam ketakutan. Aku takut melakukan kesalahan sekecil apa pun. Aku takut melihat wajahnya yang berubah dingin seketika. Aku sering berpura-pura bahagia di depan orang lain, padahal setiap malam aku menangis sendirian di kamar mandi, memeluk diriku sendiri dan bertanya: apakah memang begitulah takdirku? Apakah memang aku wanita yang tidak pantas dicintai dengan benar?"

Raina menutup wajahnya dengan kedua tangan, rasa malu dan sedih menyelimuti dirinya kembali.

"Aku bercerai bukan karena aku tidak sabar. Aku bercerai karena aku merasa jiwaku perlahan mati setiap harinya. Aku pergi dengan sisa harga diri yang hampir hancur lebur, dan sejak saat itu aku berjanji tidak akan pernah membiarkan diriku dekat dengan siapa pun lagi. Aku takut disakiti sekali lagi."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan sejenak setelah cerita itu selesai.

Dika tidak langsung bicara. Ia tidak terkejut, tidak menertawakan, dan tidak menghakimi. Yang ia lakukan hanyalah mempererat pelukannya, memeluk Raina seolah ingin menampung semua rasa sakit yang keluar dari wanita itu.

Perlahan, tangan besar Dika mengangkat wajah Raina yang basah oleh air mata. Ia menghapus jejak air mata di pipi wanita itu dengan lembut menggunakan ibu jarinya, tatapannya begitu dalam, begitu tulus, dan penuh rasa hormat.

"Maafkan aku..." ucap Dika dengan suara serak dan penuh perasaan.

Raina tertegun, menatapnya dengan bingung. "Kenapa kau minta maaf? Itu bukan salahmu."

Dika menatapnya lekat-lekat, matanya memancarkan rasa kagum yang begitu besar.

"Aku minta maaf karena tidak bisa ada di sisimu saat kau menangis sendirian. Aku minta maaf karena dunia membiarkan wanita sebaik kau menderita sendirian begitu lama. Aku minta maaf karena ada orang jahat yang membuatmu merasa tidak berharga, padahal kau adalah hal paling berharga yang pernah ada di dunia ini."

Dika menggenggam kedua tangan Raina erat di tangannya yang hangat.

"Dengar aku baik-baik, Raina. Apa yang dikatakan orang itu semuanya bohong. Itu adalah kebohongan yang dia ciptakan untuk menutupi kekurangannya sendiri. Kau bukan beban. Kau bukan tidak berguna. Kau adalah wanita yang paling kuat, paling sabar, dan paling mulia yang pernah aku temui."

Suara Dika terdengar tegas namun tetap lembut, seolah ingin menanamkan keyakinan itu jauh di dalam hati wanita itu.

"Kau mampu bertahan menghadapi neraka sendirian selama bertahun-tahun. Kau mampu bangkit kembali dan melanjutkan hidup. Itu bukan tanda kelemahan, itu tanda kekuatan yang luar biasa."

Dika menarik Raina kembali masuk ke dalam pelukan yang hangat dan melindungi, menempelkan dahi mereka berdua.

"Masa lalu itu sudah berlalu. Dia tidak berhak lagi menyakitimu, tidak berhak lagi menentukan siapa dirimu sekarang. Biarkan aku yang menghapus sisa rasa sakit itu. Biarkan aku yang menunjukkan padamu bagaimana rasanya dicintai dengan benar, dihargai, dan dijunjung tinggi."

Dika menatap mata Raina dalam-dalam, menyampaikan janji yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

"Aku berjanji padamu. Di sisiku, kau tidak akan pernah merasa takut. Di sisiku, kau boleh menjadi dirimu sendiri apa adanya. Aku akan mencintaimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, dengan seluruh masa lalumu, dan dengan seluruh masa depan kita."

Raina menatapnya, air mata masih mengalir di pipinya, namun kali ini ada senyum tipis yang mulai terukir di bibirnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa beban berat yang menindih dadanya perlahan terangkat. Ia merasa dipahami, dihargai, dan diterima sepenuhnya.

Ia tidak lagi merasa sendirian.

Dika menariknya semakin erat ke dalam pelukannya, membiarkan Raina menyadari bahwa janji itu bukan sekadar kata-kata manis semata, melainkan awal dari perjalanan baru yang penuh kebahagiaan.

Malam itu, di bawah cahaya remang lampu tidur, dua hati yang terluka akhirnya menemukan tempat untuk pulang.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!