Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Nina runtuh. Air matanya langsung mengalir. Ia menoleh ke arah putri sulungnya, lalu tanpa berkata apa-apa memeluk Tara erat di depan semua orang.
Tara yang semula sedang mengambil iga sampai kebingungan. "Lho... Bu." Ia tertawa kecil sambil membalas pelukan ibunya. "Aku nggak apa-apa, kok."
Nina hanya mengangguk di sela isaknya.
Tara mengusap punggung sang ibu pelan. "Aku bakal sering-sering pulang."
Belum sempat suasana berubah semakin haru, Nenek Bani langsung menyahut dengan wajah datar. "Eh, jangan sering-sering juga." Semua menoleh. "Nanti suamimu marah." Seisi meja makan langsung pecah oleh tawa.
Tara sampai menutup wajahnya karena malu. "Ya ampun, Nek..."
Nenek Bani ikut tersenyum. "Kalau sudah punya suami, ya utamakan suamimu dulu. Ibu sama keluarga ini tetap ada, tapi jangan bikin suamimu merasa dinomorduakan."
Tara mengangguk pelan. "Iya, Nek."
Suasana makan malam kembali hangat. Di balik tawa yang memenuhi ruang makan, setiap orang diam-diam menyadari bahwa kebersamaan malam itu akan menjadi salah satu kenangan terakhir sebelum Tara benar-benar memulai babak baru dalam hidupnya.
Nenek Bani yang sejak tadi memperhatikan satu per satu cucunya tiba-tiba mengernyit. "Eh... tapi Ratna mana?"
Suasana yang semula dipenuhi tawa mendadak sedikit mereda. Ani meletakkan sendoknya pelan. "Nah... akhirnya ada juga yang sadar kalau putriku nggak ada di sini." Kalimat itu terdengar datar, tetapi cukup membuat suasana meja makan menjadi canggung. Semua saling berpandangan.
Tara yang duduk di samping ibunya ikut menoleh. "Kak Ratna kenapa, Bi?"
Ani menghela napas panjang. "Sejak tadi dia mengurung diri di kamar. Katanya nggak lapar." Beliau tersenyum tipis, tetapi senyum itu jelas dipaksakan. "Mungkin masih banyak pikiran."
Nenek Bani terdiam beberapa saat. Beliau tentu tahu apa yang dimaksud menantunya. Ratna masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Sarif kini menjadi calon suami Tara. Namun, Nenek memilih tidak membahasnya di depan semua orang. "Akmal," panggilnya.
"Iya, Nek?"
"Coba panggil Kak Ratna. Bilang kalau Nenek yang menyuruh."
Akmal baru saja hendak berdiri ketika suara dari lantai atas terdengar.
"Nggak usah!" Ratna muncul di ujung tangga. Wajahnya memang sudah dicuci, tetapi mata sembabnya masih sulit disembunyikan. "Aku di sini." Ia memaksakan senyum tipis lalu berjalan menuju meja makan.
Tara langsung bergeser, memberi ruang di sampingnya. "Duduk sini, Kak."
Ratna menatap Tara sekilas. Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya. Namun, kali ini ia memilih mengangguk pelan dan duduk tanpa sepatah kata.
Nenek Bani hanya memperhatikan kedua cucunya bergantian. Dalam hati, beliau berharap waktu dapat mengobati luka di hati Ratna, sebelum rasa iri itu berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Nenek Bani meletakkan sendoknya perlahan. Tatapannya beralih kepada keempat cucunya yang duduk mengelilingi meja makan, Ratna, Tara, Taufan, dan Akmal. Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Dengarkan Nenek baik-baik."
Semua yang semula sibuk menyantap makanan kini ikut memperhatikan.
"Kalian berempat adalah keturunan dari kedua anak laki-laki Nenek." Beliau tersenyum tipis, meski sorot matanya mulai berkaca-kaca.."Harta bisa habis. Rumah bisa rusak. Jabatan juga bisa hilang. Tapi saudara..." Beliau berhenti sejenak. "Saudara tidak akan pernah bisa diganti."
Keempat cucunya terdiam.
"Kelak, kalau Nenek sudah tidak ada lagi di dunia ini, Nenek ingin kalian tetap saling menyayangi..Jangan saling iri. Jangan saling menjatuhkan. Kalau ada yang hidupnya sedang susah, yang lain bantu semampunya. Kalau ada yang berhasil, ikutlah bahagia, bukan malah dengki." Tatapan Nenek kemudian berhenti lebih lama pada Ratna dan Tara. "Kalian berdua memang berbeda sifat. Tapi kalian tetap saudara. Jangan sampai karena urusan apa pun, hubungan kalian retak. Nenek tak akan memaafkan siapapun yang duluan membuat perpecahan antara saudara!"
Ratna menundukkan kepala. Sementara Tara mengangguk pelan.
Nenek lalu memandang Taufan dan Akmal. "Begitu juga kalian. Setelah Nenek tiada, jangan biarkan rumah ini menjadi tempat orang asing. Jadikan rumah ini tempat kalian pulang, saling menguatkan, dan menjaga nama baik keluarga."
Suasana meja makan berubah hening. Tak ada lagi suara sendok yang beradu dengan piring. Semua larut dalam nasihat sederhana yang keluar dari hati seorang nenek yang mulai menyadari bahwa usia tidak lagi muda.
Tara diam-diam menggenggam tangan ibunya di bawah meja. Sedangkan Ratna menggigit bibirnya pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia memang tahu bahwa rasa iri yang selama ini dipeliharanya hanya akan melukai dirinya sendiri dan orang-orang yang sebenarnya sangat menyayanginya.
***
Tiga hari setelah acara lamaran, seorang kurir datang mengantarkan sebuah amplop berwarna cokelat ke rumah Tara. Di pojok kiri atas tertulis rapi menggunakan huruf kapital.
Kepada: Tara
Tara ingat kenal amplop ini, ya benar, ini amplop untuk mengirim surat lamaran, atau amplop gaji. Pantas saja tanpa gambar hati. Tanpa stiker bunga. Tanpa parfum. Benar-benar polos.
Tara yang sedang menyapu teras langsung berseri-seri. "Eh, surat dari Bang Sarif!" Dengan penuh semangat ia membuka amplop itu. Ia membayangkan akan membaca kalimat-kalimat romantis seperti di novel yang sering dipinjamnya dari perpustakaan. Namun, harapannya langsung runtuh pada baris pertama.
Perihal: Penyampaian Komitmen Menuju Pernikahan.
Tara berkedip. "Hah?" Ia melanjutkan membaca.
Tujuan: Menyampaikan kesungguhan saya dalam menjalani proses pernikahan sesuai kesepakatan kedua keluarga.
Latar Belakang: Pernikahan merupakan ibadah yang membutuhkan kesiapan mental, fisik, serta tanggung jawab dari kedua belah pihak.
Tara mulai menutup mulutnya, menahan tawa. "Astaga... Kocak!" Ia lanjut membaca.
Rencana Pelaksanaan: Insyaallah saya akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab, menjaga, membimbing, dan menghormati Saudari Tara sesuai kemampuan saya.
Evaluasi: Apabila di kemudian hari terdapat kekurangan dalam diri saya, saya bersedia menerima masukan melalui komunikasi yang baik.
Tara tidak sanggup lagi. "Hahahaha!" Tawanya meledak sampai membuat Akmal dan Taufan keluar dari kamar.
"Ada apa, Kak?"
Tara menyerahkan surat itu sambil masih tertawa. "Coba baca!"
Akmal membaca beberapa baris, lalu ikut melongo. "Kok... kayak laporan dinas?"
Taufan mengangguk serius. "Kurang lampiran sama tanda tangan komandan aja."
Tara sampai memegangi perutnya. "Ini lihat, ada kop suratnya juga!" Tara menunjukkan bagian atas surat. "Ya Allah..." Air matanya keluar karena terlalu banyak tertawa. "Dia itu calon suamiku..." Ia menarik napas. "...atau calon atasanku, sih?"
Akmal ikut terkekeh. "Coba lihat penutupnya."
Tara mengusap air mata lalu membaca bagian paling bawah. Demikian surat ini saya sampaikan. Semoga Allah memudahkan langkah kita menuju pernikahan yang penuh keberkahan. Atas perhatian Saudari Tara, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya, Sarif
Tara kembali tertawa hingga harus bersandar ke tiang teras. "Bang... Bang..." ia mengatur napas agar bisa melanjutkan ucapannya. "Ini surat cinta apa surat tugas?" Meski mulutnya tak berhenti mengeluh, jemarinya justru melipat surat itu dengan sangat hati-hati, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop. Senyumnya tak pernah hilang. "Lucu juga..."