NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Perjalanan ke Palung Hitam

Keesokan paginya, Nana memanggil seluruh penasihat kerajaan.

Lira, Zara, dan para komandan Siren Aequoria berkumpul di ruang singgasana. Jeno berdiri di samping Nana — seperti biasa, setia, siap sedia.

"Dewi Laut berfirman padaku," kata Nana. Suaranya tenang, tapi tegas. "Palung Hitam menyimpan sesuatu. Sesuatu yang lebih tua dari Aramis. Sesuatu yang bisa bangun kapan saja."

Lira mengernyit. "Bangun? Maksudnya seperti apa, Yang Mulia?"

"Dewi Laut tidak menjelaskan detailnya. Tapi ia bilang Jantung Aequoria akan membimbingku saat waktunya tiba."

Nana berenang mondar-mandir di depan singgasananya — sebuah kebiasaan yang ia sadap dari Jeno saat sedang berpikir keras. Ekornya yang panjang berwarna biru kehitaman bergerak anggun di air, menciptakan riak-riak kecil di permukaan.

"Tapi aku tidak bisa hanya duduk di sini menunggu," lanjutnya. "Aku harus bersiap. Kita harus bersiap."

Zara — yang sudah pulih dari pingsannya di Palung Hitam — mengangkat tangan. "Yang Mulia, aku bisa kembali ke Palung Hitam. Sekarang aku tahu jalannya. Aku bisa—"

"Tidak," potong Nana. "Kali ini aku yang akan pergi."

Ruang singgasana mendadak hening.

Jeno yang tadinya tenang, kini menegang. Tangannya yang berada di gagang trisula mencengkeram lebih erat. Wajahnya berubah — dari tegas menjadi tegang.

"Apa?" katanya. Suaranya datar, tapi ada getar di ujung kalimat.

"Aku yang akan pergi ke Palung Hitam," ulang Nana. "Aku harus melihat sendiri apa yang Dewi Laut maksud. Aku harus—"

"Tidak."

Seluruh penasihat menoleh ke arah Jeno.

Kepala Penjaga kerajaan itu jarang memotong perintah ratu. Tapi kali ini, wajahnya gelap — biru pucat matanya berubah menjadi biru gelap seperti laut sebelum badai.

"Jeno—"

"Kata. Tidak. Nana."

Nana menatap Jeno lama. Ia bisa melihat ketakutan di matanya — bukan takut pada Palung Hitam, tapi takut kehilangan.

"Jeno, aku harus—"

"Palung Hitam bukan tempat untuk ratu," potong Jeno. Suaranya tegas, tidak seperti biasanya. Tangannya yang memegang trisula bergetar — sedikit, tapi Nana melihatnya. "Kita tidak tahu apa yang ada di sana. Zara hampir mati. Kau juga hampir—"

"Tapi aku selamat."

"Kali ini. Lain kali belum tentu."

 

Nana menghela napas panjang. Ia berenang mendekati Jeno — di depan para penasihat, di depan Lira dan Zara, di depan semua komandan kerajaan.

"Jeno," katanya pelan, cukup keras untuk didengar semua orang, tapi cukup lembut untuk terasa pribadi. "Aku tahu kau takut. Aku juga takut. Tapi aku ratu. Tugasku melindungi Aequoria. Dan untuk melindungi Aequoria, aku harus tahu apa yang mengancamnya."

"Kita bisa mengirim mata-mata. Bukan kau."

"Mata-mata tidak memiliki Jantung Aequoria."

Jeno terdiam.

"Jantung Aequoria bisa merasakan hal-hal yang tidak bisa dirasakan Siren biasa," lanjut Nana. "Dia bisa membimbingku. Melindungiku. Dan..."

Ia menatap Jeno lurus ke mata.

"...aku tidak akan pergi sendirian."

Jeno mengerjap. "Maksudmu—"

"Kau ikut denganku, Jeno. Sebagai Kepala Penjagaku. Sebagai... pendampingku."

Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, wajah Jeno sedikit longgar. Ketegangan di bahunya berkurang — tidak hilang sepenuhnya, tapi berkurang.

"Kau benar-benar tidak bisa dipercaya sendirian," katanya.

"Aku tahu."

"Kau selalu melakukan hal-hal berbahaya."

"Aku tahu."

"Kau membuatku khawatir."

"Aku tahu."

Jeno menghela napas — pasrah. "Baik. Aku ikut. Tapi kalau ada tanda-tanda bahaya, kau langsung pulang."

"Setuju."

Lira, yang dari tadi menonton dengan mata berbinar, berkomentar, "Ini seperti melihat dua ekor ikan buntal yang saling berdebat."

"Ikan buntal?" ulang Zara.

"Ya. Menggemaskan. Tapi keras kepala."

Jeno menatap Lira dengan mata menyipit. "Kau masih ingin jadi Kepala Penjaga suatu hari nanti?"

Lira tersenyum manis. "Maaf, Tuan Jeno. Aku hanya bercanda."

Tidak ada yang percaya itu bercanda. Tapi tidak ada yang berani protes.

 

Dua hari kemudian, Nana dan Jeno berangkat ke Palung Hitam.

Mereka tidak membawa siapa pun. Hanya berdua. Karena — seperti kata Nana — perjalanan ini tidak untuk pasukan. Perjalanan ini untuk jawaban.

Sebelum berangkat, Lira berbisik pada Nana, "Jaga dirimu, Yang Mulia. Dan jaga Jeno juga. Meskipun dia cemberut terus."

"Aku dengar itu!" teriak Jeno dari kejauhan.

"Bagus!" teriak Lira balik.

Nana tertawa. Tawa terakhir sebelum memasuki kegelapan.

 

Perjalanan ke Palung Hitam memakan waktu sehari.

Tidak seperti pertama kali Nana pergi sendirian, kali ini ia memiliki Jeno di sampingnya. Air hitam yang tadinya terasa mencekik, kini terasa biasa — karena ia tidak sendirian.

"Kau tahu," kata Jeno ketika mereka sudah mulai memasuki perairan gelap. "Aku belum pernah ke Palung Hitam sedalam ini. Bahkan saat aku masih Siren penjaga di utara, aku tidak berani."

"Tapi kau tetap ikut?"

"Kau ikut. Masa aku tidak?"

Nana tersenyum.

"Jeno," katanya.

"Ya?"

"Apa kau takut?"

Jeno terdiam sejenak. Mereka berenang berdampingan, melewati air hitam yang semakin pekat, semakin dingin.

"Aku takut," katanya akhirnya. "Tapi aku lebih takut jika kau di sini sendirian."

"Jadi kau ikut bukan karena kau berani, tapi karena kau takut kehilangan aku?"

"Ya."

Nana meraih tangannya. "Itu jawaban paling romantis yang pernah kau ucapkan."

"Jangan bilang siapa-siapa. Reputasiku sebagai Kepala Penjaga yang galau bisa hancur."

Nana tertawa — kecil, tapi tulus. Tawanya bergema di kehampaan Palung Hitam, seperti cahaya di tengah gelap.

 

Mereka berenang lebih dalam.

Dan lebih dalam.

Sampai cahaya dari dunia atas — dari ubur-ubur raksasa, dari matahari yang tembus hingga ke dasar laut — lenyap.

Hanya kegelapan.

Dan dua titik cahaya biru — dari Jantung Aequoria di dada Nana, dan dari mata Jeno yang mulai bersinar di gelap.

"Kita hampir sampai," bisik Nana. Jantung Aequoria berdenyut lebih cepat — bukan takut, tapi waspada.

"Apa yang kau rasakan?" tanya Jeno.

"Sesuatu... besar. Sangat besar. Tidur. Tapi tidak nyenyak."

Jeno menggerakkan tangannya ke gagang trisula.

"Aku siap," katanya.

"Aku juga."

Mereka berenang bersama menuju mulut Palung Hitam — tempat di mana kegelapan paling pekat, tempat di mana Dewi Laut memperingatkan Nana tentang sesuatu yang lebih tua dari samudra.

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!