Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 Lebih Di haragi
Zivanna bersama dengan rekan-rekannya saat ini berdiri diantara Dokter senior yang memberi arahan kepada mereka.
"Ini menjadi malam pertama untuk kita semua berada di tempat ini, pasti banyak sekali hal yang sulit yang sudah mulai kalian dapatkan, tetapi ingat tujuan kita berada di tempat ini untuk menjalankan tugas mulia, membantu orang-orang yang memiliki kesehatan yang tidak stabil, kita harus belajar menjadi orang yang membantu tanpa pamrih," Dokter Irfan memberi masukan kepada Dokter-Dokter tersebut yang membuat mereka semua mengangguk-anggukkan kepala.
"Hal yang paling sulit yang akan kita lewati di tempat ini adalah jauh dari keluarga, jauh dari orang-orang tersayang dan apalagi komunikasi yang akan sulit kita lakukan. Jika ingin menghubungi keluarga kalian bisa menggunakan telepon umum yang sudah disiapkan, jaringan telepon lebih terjangkau dibandingkan ponsel. Saya harus mengatakan kepada kalian semua jika jaringan ponsel kalian mungkin tidak akan berfungsi, jadi lebih baik untuk mengabari keluarga menggunakan telepon umum dan mengatakan kepada mereka untuk tidak perlu menghubungi kalian dari ponsel masing-masing, karena tidak ada gunanya dan akan menciptakan kesalahpahaman,"
"Kita semua yang bertugas di desa ini adalah orang-orang dewasa dan selamat bertugas kedepannya untuk menjadi Dokter yang lebih baik lagi, semoga kita semua yang ditugaskan di tempat ini dapat berhasil dan kembali ke Jakarta dengan membawa pengalaman yang tidak bisa didapatkan oleh banyak orang," Dokter Irfan tampak bijaksana memberikan petuahnya.
"Satu lagi, kita juga harus memberi dukungan kepada salah satu Dokter yang saat ini sedang mengambil spesialis," Dokter Irfan tiba-tiba saja matanya tertuju pada Zivanna yang membuat Zivanna cukup kaget saat namanya disinggung.
"Kita abaikan isu yang terjadi di rumah sakit belakangan ini, kita semua yang ada di sini menyandang status Dokter dan juga perawat bukanlah hal yang mudah, kita sama-sama belajar, sama-sama melewati tahap yang sama, jadi lebih baik untuk saling menghargai dan saling memberi dukungan,"
"Semoga saja Dokter Zivanna, bisa mendapatkan pengalaman yang berharga di tempat ini, bisa sama-sama belajar dengan kita semua dan jangan sungkan untuk bertanya dan juga untuk rekan-rekan yang ada di sini mari sama-sama memberikan dukungannya kepada Dokter Zivanna," lanjut Dokter tersebut.
Prok-prok, prok.
Mereka semua bertepuk tangan melihat ke arah Zivanna dan bahkan keluar dengan kata-kata semangat untuk Zivanna. Zivanna seketika terdiam dan baru pertama kali bahwa diri dihargai oleh rekan-rekan se-profesinya.
Rumah sakit milik orang tuanya mungkin memiliki Dokter dan perawat yang sangat banyak dan mungkin lebih dari ratusan, rumah sakit besar itu tidak semuanya pasti membencinya dan siapa sangka saat ini rekan-rekan yang bertugas dengannya adalah orang-orang yang positif.
Sejak awal sangat menghargainya dan menatapnya dengan baik tidak dengan tatapan sinis seperti apa yang selama ini dia dapatkan.
Zivanna bahkan sampai terharu, meski mereka mengetahui apa yang terjadi di rumah sakit, tetapi tidak menjudge buruk, tidak ikut menyalahkan dan justru memberi dukungan untuk tetap semangat.
"Semangat temanku!" Sherina sudah pasti menjadi orang yang lebih memberikan semangat Zivanna tersenyum.
Zivanna menghela nafas, menatap satu persatu Dokter dan perawat yang ikut bergabung dengannya, mereka terlihat tulus dengan memberikan semangat yang luar biasa. Zivanna benar-benar merasa dihargai di tempat itu.
******
Dikta sarapan bersama dengan kedua orang tua Zivanna.
"Dikta apa Zivanna pernah menghubungi kamu?" tanya Sekar.
"Tidak. Ma, mungkin saja koneksi jaringan tidak baik di sana," jawab Zivanna.
"Ya mungkin saja. Mama juga mengalami kesulitan untuk menghubunginya. Mama berpikir mungkin saja sebenarnya Zivanna sedang marah dan karena itu tidak mengangkat telepon Mama. Tetapi sepertinya itu hanya kesalahpahaman saja, pasti ada permasalahan jaringan koneksi di tempat dia praktek," sahut Sekar.
"Kita tunggu saja kabar dari Zivanna," sahut Andra.
"Ya. Papa benar. Mama mau ke atas sebentar mengambil tas Papa dulu," ucap Sekar berdiri dari tempat duduknya dan meninggal Andra bersama dengan menantunya.
"Hmmmm, bagaimana Dikta dengan hubungan kamu dengan Nayla!" tiba-tiba saja Andra membahas hal lain buat Dikta menghentikan sarapannya dan melihat serius ayah mertuanya.
"Mama kamu mungkin kurang menyukai Zivanna untuk menjadi istri kamu, saya juga cukup tersinggung dengan kejadian yang terjadi pada saat makan malam, bagaimana mungkin seorang ibu bisa mengungkit wanita lain dan hal ini akan saya jatuhkan kesalahan kepada kamu yang kurang tegas dan harusnya menyampaikan kepada Nayla jika kamu dan Zivanna sudah menikah," ucap Andra.
"Ya, meski saat pulang ke rumah saya marah pada Zivanna karena tidak sopan dengan apa yang dia katakan kepada kedua orang tua kamu, tetapi tetap saja, sebagai seorang ayah saya tersinggung dengan apa yang dikatakan ibu kamu. Jadi tolong Dikta kamu lebih tegas lagi ke depannya," ucap Andra.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk pernikahan kami," jawab Dikta.
"Bukan hanya untuk pernikahan kalian, tetapi juga untuk hubungan kamu dengan Nayla yang harus diselesaikan, jangan sampai saya sendiri yang harus bertindak," ucap Andra terdengar dingin berbicara kepada menantunya.
"Untuk masalah Nayla. Biarkan saya yang mengurus sendiri dan ini menjadi urusan pribadi saya," sahut Dikta.
"Baiklah, saya berikan kamu kesempatan untuk menyelesaikannya. Hmmmm dan juga harus mulai memikirkan apa yang diinginkan oleh ibu kamu," ucap Andra.
"Maksud Papa apa?" tanya Dikta dengan dahi mengkerut.
"Memiliki anak dari Zivanna," jawab Andra membuat Dikta kaget.
"Saya tidak suka jika putri saya dianggap memiliki kekurangan, jika bukan kamu yang harus tegas dan maka pernikahan kalian tidak akan ada perkembangan," ucap Andra.
Dikta tidak menyangka jika ayah mertuanya yang selama ini tidak terlalu banyak ikut campur urusan pernikahannya dan bahkan hanya terus menasehati Zivanna ternyata di balik semua itu ada sesuatu hal yang tidak pantas dibicarakan dengannya.
"Maaf. Pa, saya tidak bisa melakukan sesuatu yang harus dipaksakan kepada Zivanna," ucap Dikta dengan tegas.
"Kenapa?"
"Kamu suami Dikta dan saya memberikan kamu kesempatan untuk memiliki hak melakukan apapun kepada putri saya, asalkan itu mampu membuatnya menjadi yang lebih baik, saya tidak harus mengajari kamu, keputusan kamu menempatkan Zivanna untuk menjadi Dokter relawan, sebenarnya adalah keputusan yang salah dengan begitu pernikahan kalian akan semakin jauh, tidak akan ada kedekatan," ucap Andra.
"Tetapi apa yang saya lakukan bukan untuk menjaga jarak diantara kami, tetapi untuk kebaikan Zivanna mengejar karirnya agar lebih fokus lagi," ucap Dikta.
"Saya paham itu, tetapi bukankah seharusnya kamu mendampinginya untuk menjadi relawan dan bukan berpisah seperti ini yang membuat hubungan kalian akan semakin jauh," ucap Andra membuat Dikta terdiam
Bersambung.....