Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Dalam Mansion
Tatapan Arcelia dan Lunaria bertemu cukup lama membuat suasana di lorong mansion menjadi sangat menakutkan bahkan beberapa pelayan tidak ada yang berani bergerak dan buru-buru pergi supaya tidak terjadi masalah.
Tangan Lunaria mengepal sangat keras bahkan Arcelia melihatnya namun bibirnya masih tetap tersenyum meskipun senyum yang dipaksakan.
Meskipun tatapan tajamnya telah disembunyikan dibalik wajah polosnya, Arcelia masih bisa mengetahui itu.
“Kakak benar-benar telah berubah,” ucap Lunaria pelan tangannya masih mengepal dan berusaha bersikap baik-baik saja.
Arcelia memiringkan kepalanya sedikit. “Bukankah manusia memang bisa berubah?” senyum sinis muncul dibibir Arcelia.
“Tapi kakak berubah secepat ini? Setelah kakak pingsan beberapa hari." kata Lunaria yang merasa aneh, hanya dalam 3 hari Arcelia benar-benar berubah.
Arcelia menutup senyum pada bibirnya dengan tangannya, "hahahaa... Lunaria apakah kamu takut ? Tatapannya langsung berubah tajam.
Pertanyaan itu membuat Lunaria terdiam sesaat bahkan sorot mata Arcelia penuh ancaman.
Lunaria berusaha membuang sikap gugupnya dengan mencubit paha kanannya sambil tersenyum, “Aku hanya khawatir kesehatan Kakak belum terlalu pulih.”
“Lunaria, jangan terus hidup dengan kemunafikan! Tunjukkan saja taring aslimu." kata Arcelia tegas.
Mata Lunaria terbelalak, terkejut mendengar capan Arcelia yang diluar dugaannya.
Belum sempat menjawab, Arcelia sudah melanjutkan kembali ucapannya. “Orang yang paling sering berharap aku baik-baik saja… justru membuatku merasa paling tidak aman.” sambil berjalan perlahan mendekat Lunaria dan berhenti tepat didepannya dan hanya menyisakan jarak beberapa centi.
Ucapan Arcelia membuat senyum manis Lunaria perlahan menghilang.
“Kakak sedang menuduhku menginginkan kematianmu?” tanya Lunaria meskipun senyumnya telah hilang namun dia berusaha untuk tidak membuka topeng palsunya.
Arcelia tertawa kecil sambil menutupi mulutnya, "hahaha," sikap Arcelia berubah serius, “Aku bahkan belum mengatakan nama siapa pun.” Nada suaranya sangat tenang.
Namun justru ketenangan itulah yang membuat Lunaria semakin gelisah.
Biasanya Arcelia lama mudah terpancing emosi. Sedikit hinaan saja sudah cukup membuatnya menangis atau kehilangan kendali.
Namun sekarang, Arcelia tidak mudah dipancing bahkan sikapnya sangat tenang, pandai berbicara bahkan sikapnya sulit untuk ditebak.
“Aku hanya berharap kakak tidak berfikir buruk tentang keluarga kita yang belum tentu terjadi” katanya akhirnya.
Kata keluarga terdengar seperti lelucon bagi Arcelia, kemudian dia menatap lurus mata saudara tirinya. “Keluarga tidak mencoba membunuh satu sama lain.”
Mendengar ucapan Arcelia wajah Lunaria langsung berubah menjadi sangat pucat.
Belum sempat Lunaria menjawab terdengar suara langkah kaki yang sedang terburu-buru.
Seorang kepala pelayan mendekat tergesa-gesa. “Nona Lunaria, Marquise Elena sedang mencari Anda.”
Lunaria langsung memalingkan wajah dan mengambil kesempatan ini untuk pergi meninggalkan Arcelia. “Kalau begitu aku pergi dulu.” kata Lunaria kepada Arcelia
Arcelia tidak menjawab dan memilih diam. Kemudian Lunaria pergi dengan langkah cepat sebelum benar-benar menghilang dari lorong, Lunaria sempat menoleh dengan tatapan penuh kewaspadaan.
Setelah Lunaria pergi, Lilian mengembuskan napas lega. “Nona membuat saya sangat takut…” kata Lilian yang merasa lega.
“Apa kamu khawatir aku akan ditindas lagi dan memilih diam?" tanya Arcelia sambil menatap Lilian.
Bola mata Lilian sedikit bergetar karena terkejut, “Anda tadi seperti orang lain, anda benar-benar telah berubah” senyum Lilian perlahan mengembang diwajah ayunya.
Arcelia tersenyum tipis. “Mungkin aku memang bukan Arcelia yang dulu. Anggap saja Arcelia yang dulu sudah mati."
Kalimat itu keluar tanpa sadar. Untungnya Lilian menganggapnya sekadar ungkapan biasa yang tidak memiliki arti.
“Nona…” pelayan itu mendekat pelan. “Menurut saya, mulai sekarang Anda harus berhati-hati setelah kejadian ini nona Lunaria pasti melaporkan kepada marquise Elena akan merencanakan hal buruk lagi”
“Aku tahu, mulai sekarang kita ikuti permainan mereka.” Arcelia tersenyum sinis seolah sedang menikmati game online yang biasa dia mainkan didunianya.
Arcelia melihat diluar hujan mulai reda lewat jendela besar yang berada diujung lorong. Cahaya sore mulai masuk samar melalui kaca, menciptakan bayangan panjang di lantai.
“Aku justru sudah tidak sabar rencana apa yang akan mereka rencanakan.” kata Arcelia wajahnya tampak sedang bersenang-senang.
Namun sikap Arcelia membuat pelayannya kebingungan, "kenapa anda malah menunggu hal-hal buruk? Bukankah lebih baik kalau mereka tidak melakukan apapun." kata Lilian yang tidak mengerti.
“Karena orang yang bersalah pasti akan panik saat korbannya masih hidup. Dan pasti mereka akan melakukannya lagi. Apa yang akan dilakukan oleh Duke Cedrik kalau istri kesayangannya selalu berusaha membunuh anak kandungnya ini." kata Arcelia, sorot matanya tajam dan penuh dengan permainan.
Mata Lilian terbelalak mendengar ucapannya, jadi itu rencana nonanya. Dan tepat saat itu layar transparan kembali muncul didepan Arcelia.
[Misi diperbarui.]
[Cari bukti racun sebelum tengah malam.]
[Waktu tersisa: 6 jam.]
Arcelia berdecak kesal karena sistemnya memberi misi secara tiba-tiba dan memberikan tenggat waktu yang sangat singkat.
"sistem ini tidak berguna sekali! Memberi misi dengan waktu yang sangat singkat." batin Arcelia frustasi dan hampir mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Lilian.” panggil Arcelia sambil membuang nafas yang berat.
“Ya, Nona?” kata Lilian sambil menyipitkan matanya.
“Aku ingin pergi ke dapur dan mencari beberapa bukti” Kata Arcelia santai sambil berjalan.
Pelayan itu langsung panik dan mengejar Arcelia. “Kita pergi sekarang nona?” tanyanya setelah dia berjalan tepat dibelakang Arcelia.
“iya, ada apa?" tanya Arcelia sambil mengangkat alisnya.
“Kalau Marquise Elena tahu bagaimana?” kata Lilian wajahnya tidak bisa menyembunyikan perasaan takut.
“Bukannya malah bagus? Jadi dia bisa tahu kalau dia tidak bisa menindas Arcelia.” kata Arcelia.
Arcelia mulai mempercepat langkahnya sebelum Lilian sempat membalas.
Lorong mansion keluarga Vareinne sangat luas. Lukisan mahal tergantung di setiap dinding, sementara lampu kristal memantulkan cahaya keemasan yang indah.
Namun dibalik semua itu tidak ada kehangatan keluarga bagi Arcelia. Mansion ini hanyalah neraka yang berkedok rumah.
Saat Arcelia sampai dibagian dapur, suasana tiba-tiba berubah. Angin kecil berhembus pelan menambah suasana yang semakin mencekam.
Beberapa tubuh pelayan bergetar ketakutan dan ada juga yang hanya menundukkan kepalanya.
Tidak ada yang berani berbicara sepatah katapun bahkan untuk bernafaspun seakan sangat berat.
Arcelia memperhatikan semuanya dengan tenang. "Menarik." batinnya.
Reaksi mereka terlalu berlebihan untuk seseorang yang hanya datang ke dapur seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah saat sedang mencuri.
Seorang wanita paruh baya segera mendekat. “Nona Arcelia, apakah Anda membutuhkan sesuatu? Kami akan mengambilkannya untuk anda."
“Kamu kepala dapur disini?” tanya Arcelia sambil melihat wanita itu dari atas sampai bawah seakan sedang menilai sesuatu.
“Iya nona Arcelia, saya kepala dapur disini." katanya.
“Aku datang kesini hanya ingin melihat tempat penyimpanan teh.” kata Arcelia dengan tenang.
Wajah wanita itu langsung berubah panik namun dia berusaha menutupi kepanikannya. “H-Hanya itu nona?” suaranya sedikit gugup.
“Kenapa kamu gugup? Apakah ada masalah?” kata Arcelia namun sorot matanya telah berubah sedikit tajam.
“Tentu tidak masalah nona…” katanya cepat tapi suaranya terdengar tidak alami seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
[Pendeteksi kebohongan telah aktif.]
[Target menyembunyikan informasi.]
Arcelia menatap kepala dapur beberapa detik. Lalu tersenyum kecil. “baguslah kalau memang seperti itu. Sekarang tunggu apa lagi?”
Kepala dapur tampak gerogi saat berjalan menuju gudang penyimpanan, keringat dinginnya tidak dapat sembunyi dari mata Arcelia.
Begitu pintu gudang dibuka,
Klikk..!!
aroma daun teh langsung memenuhi udara. Rak-rak kayu memenuhi ruangan sempit itu. Berbagai kotak teh tersusun rapi.
Arcelia melangkah masuk perlahan. Tubuhnya tiba-tiba bereaksi saat matanya tertuju pada sebuah kotak teh hitam di sudut rak.
Dadanya terasa sesak, ingatan Arcelia kembali muncul teh hangat yang berwarna hitam pekat dan memiliki rasa yang sangat pahit.
Kepala dapur tampak semakin pucat saat Arcelia mendekati kotak teh itu. “Nona, itu hanya teh biasa—” belum sempat kepala pelayan itu berbicara sudah dipotong,
“Diam.!" bentak Arcelia yang membuat kepala pelayan itu reflek menundukan kepalanya.
Arcelia membuka kotak teh itu secara perlahan dan didalamnya ada daun teh hitam yang tersusun rapi di dalamnya.
Tapi ada yang aneh dengan teh hitam itu, Arcelia mencoba mencium aroma itu.
Dan tepat saat itu—
[Analisis racun berhasil.]
[Racun tingkat rendah terdeteksi.]
[Paparan jangka panjang menyebabkan kelemahan tubuh dan gangguan organ.]
Mata Arcelia berubah tajam, ternyata benar tubuh ini sudah diberi racun selama bertahun-tahun pembunuhan yang direncanakan dengan sabar.
"teh ini mengandung racun, meskipun kandungannya rendah namun cukup mematikan jika dikonsumsi secara terus menerus dalam jangka panjang." kata Arcelia dengan suara yang sangat datar.
“Astaga…” gumam Lilian pelan dan reflek menutup mulut dengan kedua tangannya karena terkejut.
Kepala dapur langsung berlutut sambil gemetar. “S-Saya tidak tahu apa-apa tentang racun itu nona!” katanya berbohong.
Arcelia menatap wanita itu tanpa ekspresi. “Kamu yakin tidak tahu apa-apa?” kata Arcelia dengan penuh ancaman.
Kepala dapur ketakutan karena ketahuan, “Saya hanya diberi perintah untuk mengganti teh setiap minggu” katanya.
“Siapa yang memberimu perintah?” kata Arcelia sambil berjalan mendekati wanita itu.
Suara langkah kaki Arcelia membuat tubuh kepala dapur bergetar menahan rasa takut bahkan keringat dingin mengalir di dahinya.
“Aku tidak bisa mengatakannya kepada anda” kata kepala dapur sambil menundukkan kepalanya hingga keringat didahinya terjatuh dilantai.
[pendeteksi kebohongan telah aktif.]
[Ketakutan ekstrem terdeteksi.]
Arcelia berjongkok perlahan di depan wanita itu. “Aku hampir mati kemarin dan kamu masih mau menyembunyikan kebenaran itu.” Suaranya sangat tenang.
Namun justru itulah yang membuat kepala dapur semakin ketakutan.
“Kalau kamu tetap diam… mungkin lain kali aku benar-benar mati.” kata Arcelia sambil menyentuh wajahnya yang telah berubah pucat pasi.
Wanita itu mulai menangis. “Saya hanya mengikuti perintah dan tidak bisa menolak” katanya air mata mulai jatuh perlahan dipipinya.
“Siapa yang memberimu perintah? Cepat katakan!" Kata Arcelia suaranya sangat tegas dan sotot matanya menajam.
Bibir wanita itu bergetar dan berusaha mencoba menjawab, namun sebelum itu
BRAK!
Suara pintu gudang penyimpanan terbuka sangat keras membuat semua orang terkejut dan menoleh kearah sumber suara.
Seorang pria muda berpakaian kesatria berdiri di ambang pintu dengan napas yang terengah-engah.
Rambut hitamnya berantakan, dadanya naik turun sementara pedang tergantung di pinggangnya.
Tatapan matanya langsung tertuju pada Arcelia. “Nona Arcelia! Apakah anda baik-baik saja." kata pria itu tanpa basa basi.
Arcelia mengernyitkan dahinya mencoba mengingat siapa dia, dan tubuh pemilik memberi respon bahwa dia mengenalinya.
Dia adalah Leonard Aster seorang kesatria pribadi keluarga Vareinne.
Dan salah satu dari sedikit orang yang benar-benar loyal pada Arcelia asli.
“Apa yang terjadi disini?” tanyanya serius pandangannya menyapu keseluruh orang yang sedang berada disana.
Namun tidak ada yang berani menjawab, semua orang semakin menundukkan kepalanya.
Tatapan Leonard langsung berpindah ke kepala dapur yang gemetar di lantai.
Insting seorang kesatria jelas menangkap ada sesuatu yang tidak beres.
Sementara itu, di dalam kepala Arcelia—
[biib..bib...!!]
[Peringatan.!!]
[Musuh mulai menyadari penyelidikan Anda.]
[Tingkat bahaya meningkat.]
Perlahan Arcelia berdiri, langkahnya sudah benar karena seseorang sudah mulai panik.