Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mentari buram
Pagi merambat pelan menyapa setiap insan, namun terkesan memukul dengan gong besar memberikan suara yang menggaung mendebarkan jantung.
Carissa tersentak dengan tatapan yang fokus ke langit-langit kamar. Irama jantungnya berdentum bagai martil yang menghancurkan dinding batu.
Helaan nafas pertama terasa berat dan dilanjutkan kedua dan ketiga. Pandangan yang semua menatap langit-langit kamar beranjak menuju samping dan menatap sosok yang masih terlelap dengan nyaman.
Masih pukul lima pagi, titik embun masih melayang di udara yang perlahan mendarat di dedaunan dan apapun yang ditemukannya. Hanya keheningan yang terjadi di bangunan kokoh itu dan di lingkungan perumahan yang kebanyakan adalah orang kelas menengah ke atas.
Setiap harinya sangat jarang melihat keramaian ala ibu-ibu yang berkumpul di satu titik dan mulai asik bercengkerama. Dipagi hari yang dipertontonkan hanyalah kendaraan yang bergerak menuju keluar meninggalkan perumahan untuk bersiap ke rutinitas yaitu bekerja.
Clarissa sudah berdiri di dapur, sejenak menikmati segelas air putih nan jernih, kemudian membuka lemari pendingin dan memandangi isinya.
Mulai mengeluarkan bahan-bahan dan siap bertempur dengan kepulan asap tipis dan gemericik minyak didalam wajan panas.
Pernah terbesit di pikiran wanita itu, bagaimana bisa dia bergerak namun seolah tak bergerak. Beberapa waktu lalu masih di dalam kamar dan entah dengan cara apa sudah mendarat di dapur. Untung saja langkah kakinya yang bergerak dalam lamunan tidak terperosok jatuh atau terbentuk.
Dia bisa berjalan dari satu tempat ke tempat lain, bahkan memasakan dan menghidangkan makanan lezat meski sambil berimajinasi atau melamun.
Pukul enam dia bergegas ke kamar dan membangunkan suami yang sangat dicintainya, lelaki itu menggeliat pelan sembari meregangkan tubuhnya lalu duduk bersandar sejenak. Diraihnya ponsel yang tersimpan rapi di nakas kemudian mulai mengecek pesan masuk.
Clarissa masih melanjutkan tugasnya, menyiapkan peralatan mandi, dan pakaian suaminya.
"Hari ini mau pakai kemeja warna apa Mas?" tanyanya dengan lembut masih berdiri didepan lemari sembari memandangi deretan pakaian yang tertata rapi oleh kelihaian jemarinya.
"Kemeja navy saja, Sa" Sahut Ethan setelah melirik sejenak.
Clarissa sigap meraih kemeja tersebut dan meletakkannya diatas ranjang. Ethan mendekat dan mencium pipinya tak lupa mengucapkan terimakasih.
Lalu bayangannya menghilang dan mulai terdengar suara gemericik air yang berisik di kamar mandi.
Clarissa tampak merapikan ranjang yang masih menyisakan suhu hangat, disepanjang kegiatan itu memorinya kembali mengulang suatu momen. Terkadang momen lucu, indah atau bahkan momen sedih.
Kali ini memorinya menggiringnya untuk mengingat kejadian kemarin pagi, suasana menegangkan yang menjadi alasan pipinya memar bahkan sampai hari ini.
"Kamu gimana sih, kaos kaki kenapa belum diganti" Ethan tampak kesal sembari membanting kaos kaki yang masih bersembunyi didalam sepatu kerjanya.
"iya, maaf Mas sebentar ku ambilkan yang bersih" Sahut Clarissa sembari menunduk meraih kaos kaki yang tergeletak dilantai.
"Kamu tau ini jam berapa? Aku bisa telat, tadi kamu juga tidak cepat membangunkan ku" Balas Ethan yang mendekat dan mencengkeram bahu istri nya.
Clarissa tampak biasa namun sesungguhnya menahan nyeri di bahunya, meski sudah meminta maaf namun bagi Ethan itu hanya alasan dan tidak menunjukkan penyesalan.
Dia mencengkeram dagu istrinya, sembari melontarkan kata kasar karena tidak becus menjadi istri, dan sebuah tamparan melayang di pipi membuat membuat wanita itu terhuyung ke belakang dan mendarat di lantai.
Tak cukup sampai disitu, Ethan kembali mencengkeram wajah istrinya lalu memberi peringatan lalu kembali memukul namun kali ini dengan kekhilafan hingga terjadi beberapa kali.
Dengan cepat Clarissa bangkit berdiri dan setengah berlari mencari kaos kaki untuk suaminya. Drama pagi hari berakhir setelah Clarissa mengantar suaminya sampai memasuki mobil.
Tidak ada yang tau kondisinya, tidak ada tempat untuknya bercerita karena semua orang sibuk dan untuk mulai bekerja di pagi itu.
Clarissa hanya paham satu hal, bahwa tidak boleh membuat kesalahan apalagi menyangkut keperluan dan pekerjaan suaminya.
Clarissa menggelengkan kepala lagi mengusir memori buruk itu, lalu menuruni anak tangga menuju dapur untuk menyiapkan makanan. Hal itu sudah menjadi kebiasaanya tiap kali melamun atau berimajinasi buruk langsung menepisnya dengan menggelengkan kepala.