"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 20 : Kelinci
"Tolong bawakan alat itu ke sini," Perintah Robertus kepada alkemis di sebelahnya.
Tok! Tok! Tok!
Kesunyian di ruangan itu membuat setiap langkah menjadi terdengar jelas.
"Ini Tuan."
Alkemis yang diperintah oleh Robertus memberikan sebuah tabung suntik.
Jleb!
Seketika jarum suntik ditusukkan, cairan merah kehitaman keluar dari jarum suntik.
"Hehehehe, akhirnya ada bahan baru. Hei! Masukkan dua tahanan kedalam kurungan itu." Robertus terkekeh, lalu ia menatap alkemis lain dan memerintah mereka.
Dua orang alkemis datang sambil menenteng rantai yang mengukur ke belakang.
Dua orang! Ya... Seorang pria paruh baya dengan luka gores di mukanya, dan seorang lagi pria muda yang gagah.
"Mmmm... Em..." ketiga tahanan itu berusaha meronta, tapi mulut, tangan dan kaki mereka diikat dengan tali dan rantai.
"Hehehehe, kau... Akan menjadi, kelinciku." Robertus menatap dua tahanan di depannya dengan senyuman dan tatapan yang mengerikan.
Syut Jleb
Jarum suntik menusuk lengan dua tahanan itu.
"Argh... Argh... Aaarghhh."
"Menarik, dua tahanan itu meronta."
"Ukh..." Silas dan Lucy hanya bisa melihat kejadian itu dengan perasaan jijik.
"Hei, lihat mereka mulai berubah. Wah, kok bisa ya?" Theo menunjuk kulit tahanan yang mulai berubah menghitam.
"Hei! Theo! Ada apa denganmu?" Silas dan Lucy yang melihat ekspresi Theo yang tersenyum aneh, senyum seekor makhluk buas yang melihat mangsanya.
"Argh... Groaarr!"
"Perhatian bersiap melaksanakan protokol pengamanan!"
Robertus segera mengangkat tangannya, lalu ia mulai melafalkan mantra mukjizat.
"Oh wahai Dewi Solina yang maha agung, Kiranya kasih mu mengalir menuju tubuh darah kami, mengubah kami menjadi karya artefak mu, dalam melindungi seluruh dan saudara kami."
Cring
Di ruangan itu, terbentuk sebuah selimut tipis berwarna emas. Di sisi lain, tubuh Lucy dan Silas mulai bersinar terang.
"Tunggu dulu, jangan gegabah!" Theo menghalau Lucy dan Silas yang berniat maju.
"Theo! Minggir, biarkan kami membunuh apapun yang ada di situ."
"Tenang saja semuanya, kita akan menyegel mereka." Robertus mulai melempar beberapa ramuan, membuat tahanan itu menjadi lumpuh.
"Ha?" Silas dan Lucy melihat tahanan itu dengan keheranan.
"Lihat! Mereka mulai berubah."
Groarrrgh!
Perlahan-lahan, tubuh kedua tahanan menyatu. Membentuk siluet raksasa dengan satu mata besar dan empat tangan serta empat kaki.
"Itu! Titan?" Theo menatap makhluk itu keheranan.
"Titan? Makhluk apa itu?" Robertus melirik Theo dengan tajam.
"Ada deh, nanti aku ceritakan."
"In sanguis et necrosis, et Ignis, Dimorfem mortem Inferni"
Dari belakang Robertus, muncul banyak rantai baja tebal yang meju dan mengikat monster di depan Robertus.
"Hargh, Groarr!" Monster itu berusaha melawan kelangan rantai baja, tapi untungnya tidak dapat lolos dari kekangan itu.
"Ini..." Lucy tidak dapat percaya kalau orang berpengaruh di kuil bisa memiliki hal terlarang itu.
"Kuatkan tekadmu, sekarang waktunya kita maju." Meskipun Silas terkejut, ia memaksa dirinya untuk tidak syok dan tergoyahkan.
"Tunggu!"
Robertus segera meminta mereka untuk tetap di tempatnya.
"Ckk... Sialan!"
"In sanguis et terra, In necrosis et morfem. Vitae mortum Inferni."
Bola darah keluar dari tangan Robertus.
"Harrgh!"
Ketika Robertus menempelkan bola itu, monster bergetar, meronta hebat bagaikan gemuruh badai.
Tumbang, monster itu kaku tidak berdaya. Tubuhnya seolah sedang dikendalikan, mengikuti gerakan jari dari Robertus.
Tap tap tap
Slash
Silas dan Lucy maju dan menebas makhluk itu.
"Apa yang telah kalian lakukan?!" Robertus segera berteriak, marah dengan perbuatan mereka.
Namun, tidak berselang lama, Makhluk itu kembali berdiri. Luka sabetan di tubuhnya mendadak hilang.
"Apa? HeheheheHuahahahahahaha."
Theo, Silas dan Lucy segera melihat seekor monster yang persis sama dengan yang mereka lawan sebelumnya.
"Itu! Benar itu dia monster yang kita lawan kemarin. Manusia anjing, tangan yang penuh bulu, dan cakar yang tajam." Lucy berteriak dengan suara yang bergetar.
"Ho? Menarik. Theo, kau tau? Musuh kita, kemungkinan memiliki... Seorang ahli alkemis. Khekekekeke."
"Apa? Ahli alkemis?" Theo, Silas dan Lucy secara kompak bertanya tentang hal itu.
Robertus segera memberi isyarat khusus kepada salah seorang alkemis. Alkemis itu segera mengangguk dan pergi ke sebuah ruangan.
"Tolong! Tolong!" Seorang pria di dorong masuk kedalam ruangan.
"Hei! Jangan libatkan orang yang tidak bersalah." Theo hendak maju meninju Robertus.
"Tidak bersalah? Lihat ini." Robertus melempar sebuah gulungan kertas perkamen.
"Pelaku pembunuhan berantai, Desa Neroville tahun XXXX."
"Apa? Bagaimana bisa?" Theo merasa bingung karena pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan sketsa pelaku pembunuhan.
"Wah, kalau begitu aku akan diam."
Robertus mulai mengambil sampel darah dari tubuh jack, lalu memasukkannya dalam tabung dan menggunakan berbagai peralatan yang rumit.
Tes!
Cairan berwarna hitam kental mengalir dari ujung peralatan Robertus.
Setelah menampung beberapa tetes cairan hitam itu dalam botol ramuan, Robertus segera meminumkan ramuan itu ke orang yang baru saja dibawa masuk.
"Apa! Tidak! Aku tidak mau! Gulp... Gulp..."
Kraaak!
Groarr!
"Argh... Harrghh... Groaarrr!"
Pria itu segera berubah menjadi sosok monster. Lucy dan Silas langsung mengaktifkan mode tempur mereka.
Tak!
"Gawat, borgolnya lepas. Segera evaluasi semua alkemis dan jalankan protokol penyegelan." Robertus melihat borgol monster itu lepas segera meminta para alkemis keluar dari rubanah.
"Cepat! Cepat! Hei, kenapa lama sekali?"
Seorang alkemis terlihat seakan menahan evakuasi alkemis lain.
"Hahaha, akhirnya... Akhirnya aku bisa menjatuhkan, mu. Dasar ular licik!" Alkemis itu berbicara kepada Robertus.
"Albert? Beraninya kau berkhianat."
Albert menepis pandangan Robertus, "Sudahi semua omong kosong ini. Kau! Kau berani membunuh orang tua ku."
"Dia... Dia sedang mengamuk saat itu."
"Cukup! Demi Bulan Hitam!"
Glek
Orang itu berubah, tubuhnya membengkak, seluruh tulangnya patah.
Monster itu mulai berubah, mirip ulat, tapi berbeda dari ulat.
"Hoo... Hoo... Hoo..."
Deru nafas mahluk itu terdengar sangat jelas, berat, dingin, terdengar seperti goresan kuku di meja kayu.
"Groaarr!" Manusia anjing itu mengaum kencang, menggetarkan seluruh Rubanah.
"Hooo!" Deru nafas monster ulat itu bagaikan menari bersama dengan auman manusia anjing.
"Sialan, bagaimana mungkin monster yang harus kita lawan menjadi dua?"
"Diamlah Theo, mereka bukanlah monster. Mereka adalah karyaku, hehehehe."
"In mortem et necrosis, Inferni."
Krak
Kratak!
Lantai dasar rubanah retak, memunculkan banyak tangan yang menarik kedua monster.
Groaarrr!
Hoo!
Kedua monster itu melawan tarikan tangan.
Beruntung, kedua monster itu tidak mampu melawan kuatnya tarikan.
Boom!
Tangan itu berhasil menarik masuk monster ulat dan manusia serigala.
"Woah, akhirnya kita selamat." Theo menghembuskan nafas panjang.
"Sudah kubilang, tenang saja. Aku masih memegang kendali semuanya."
Robertus kemudian mengajak Theo, Silas dan Lucy untuk makan bersama.
"Hei, pasokan cuka mu gimana? Cukup buat bunuh monster itu lebih banyak nggak?" Tanya Robertus kepada Theo.
"Yah, aku belum membuatnya lagi sih. Tapi, aku yakin kita harus mencari sumber kekuatan baru. Ingat, monster yang kita lawan tadi pagi tidak mati hanya dengan cuka. Aku akan membuat cuka konsentrasi tinggi."
"Hmm, sepertinya kamu benar. Ngomong-ngomong, apa bahannya?" tanya Robertus.
"Mmm... Aku tidak begitu yakin apakah ini ada, tapi... Kamu tau sesuatu tentang..."
...****************...
End Ch. 20 : Kelinci
Makasih semuanya udah baca karyaku. Jangan lupa like, comment, dan favorit ya.