SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 BANGKU KOSONG
Malam semakin larut ketika suara decit pintu apartemen memecah keheningan. Gian melangkah masuk, membawa dua kantong plastik belanjaan berukuran sedang yang penuh dengan stok makanan. Helaan napas lelah keluar dari bibirnya setelah seharian beraktivitas dan terjebak insiden konyol di minimarket.
Tanpa membuang waktu, cowok berpostur tinggi itu langsung menuju dapur. Ia meletakkan kantong plastik itu di atas pantri dan mulai mengeluarkan isinya satu per satu. Dengan telaten, Gian menyusun bahan-bahan makanan segar ke dalam kulkas. Ia menata telur-telur di rak pintu kulkas dengan hati-hati, lalu memasukkan berbagai macam makanan ringan ke dalam laci khusus camilan.
Perutnya mendadak berbunyi, mengingatkan bahwa ia belum makan. Gian melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasa lelah membuatnya terlalu malas untuk meracik bumbu dan memasak makanan berat. Pandangannya jatuh pada mie cup rasa kaldu ayam yang baru saja ia beli. Praktis dan mengenyangkan, pikirnya. Di dalam mie cup itu sudah terdapat potongan-potongan ayam kering berukuran kecil yang akan mengembang jika diseduh air panas.
Gian menyalakan kompor, menaruh panci kecil berisi air, dan menunggunya hingga mendidih. Bunyi gelembung air yang meletup-letup terdengar menenangkan. Setelah dirasa cukup panas, ia menuangkan air mendidih itu ke dalam mie cup yang bumbunya sudah ia taburkan sebelumnya. Asap mengepul, membawa aroma gurih kaldu ayam yang seketika menggugah selera. Tak lupa, ia mematikan kompor.
Merasa mie saja tidak cukup untuk menuntaskan laparnya, Gian membuka magic com dan mengambil seporsi nasi hangat. Sebagai pelengkap, ia mengambil satu buah sosis Kanzler dari dalam kulkas—sosis siap makan favoritnya yang baru saja ia beli. Dengan membawa makan malam instannya itu, Gian menuju meja ruang tamu, lalu berbalik sebentar ke dapur untuk mengambil sebotol air mineral dingin.
Ia mendudukkan dirinya di atas karpet tebal, tepat di bawah sofa ruang tamu. Tangannya meraih remote, menyalakan televisi layar datar, dan memindahkan saluran ke platform streaming film. Ia memilih sebuah film mafia bertema pembunuhan berencana yang penuh teka-teki—genre favoritnya. Gian mulai mengaduk mie cup-nya yang sudah matang sempurna, menyuapkan campuran mie, nasi, dan potongan sosis ke dalam mulutnya sambil mata tajamnya fokus pada adegan kejar-kejaran di layar televisi.
Baru sepuluh menit ia menikmati ketenangan itu, suara pintu kamar yang terbuka mengalihkan perhatiannya. Reo keluar dari kamarnya dengan wajah bantal, rambut acak-acakan yang mencuat ke segala arah, dan mata yang masih setengah terpejam. Cowok itu baru saja terbangun setelah tertidur pulas selama setengah jam.
Hidung Reo mengendus udara seperti anjing pelacak. Matanya yang sayu langsung terbuka lebar begitu melihat Gian sedang menikmati mie cup. Tanpa rasa bersalah, Reo berjalan mendekat dan langsung mengulurkan tangannya, berniat meraih mie milik Gian.
Namun, refleks Gian jauh lebih cepat. Ia menepis tangan Reo dengan kasar dan menatap teman sekamarnya itu dengan tatapan tajam nan kesal. Memori tentang kue cokklat yang dimakan habis oleh Reo kemarin tiba-tiba kembali berputar di kepalanya.
"Pergilah dan buat sendiri," ujar Gian dingin. Ia sengaja menggeser posisi duduknya, menggunakan tangan kirinya sebagai barikade untuk menghalangi makanannya dari jangkauan Reo.
"Pelit banget sih kamu!" pekik Reo kesal, memanyunkan bibirnya karena usahanya mencuri makanan gagal total. Ia mengusap punggung tangannya yang memerah akibat tepisan Gian.
"Apa? Mau apa kamu? Tadi sore sudah kamu habiskan kue cokelat milikku, sekarang mau ambil mie-ku juga?" sindir Gian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi. Ia mengunyah sosisnya dengan tenang.
"Yaelah, masih diingat aja perkara kue cokklat! Iya, iya, dasar dendaman. Aku bikin sendiri!" gerutu Reo sambil menghentakkan kakinya ringan. Ia berjalan menuju dapur, masih dengan rambut acak-acakannya yang terlihat konyol.
Sambil menyalakan kompor dan memasak air untuk mie cup-nya sendiri, Reo mencoba memecah keheningan. "Hee, Gian... tadi kamu pergi ke mana sih? Lama banget. Hampir aja aku ketiduran bablas tadi, padahal niatnya cuma merem setengah jam."
Gian menghela napas panjang, menelan makanannya sebelum menjawab. "Tadi aku ke minimarket depan. Stok makanan kita sudah habis semua, kan?" sahut Gian dengan suara agak keras agar terdengar dari ruang tamu, matanya masih tak lepas dari adegan tembak-menembak di film mafia.
"Emm, begitu... Terus kenapa kamu tidak mengajakku?" tanya Reo pelan. Ia mengangkat panci kecilnya, menuangkan air yang sudah mendidih ke dalam mie cup-nya dengan hati-hati agar tidak tumpah.
"Karena kalau aku mengajakmu, aku harus menunggu kau memilih pakaian dan menata rambutmu yang bisa memakan waktu hampir satu jam. Keburu minimarketnya tutup. Jadi, lebih baik aku jalan sendiri," pekik Gian sarkas.
"Yaelah, alasan aja. Tapi ini juga kamu hampir satu jam baru pulang. Kenapa berlama-lama di minimarket? Apa yang kamu lakukan disana, apa kamu sedang cuci mata disana?" goda Reo. Setelah mematikan kompor, ia membawa mie cup-nya berjalan menuju ruang tamu. Tanpa permisi, Reo menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, tepat di belakang Gian yang duduk di karpet.
"Tadi... ada cewek aneh yang menggangguku di sana," jawab Gian, nada suaranya sedikit berubah. Ia menyeruput kuah mie-nya dengan perlahan, mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang sedikit terganggu saat mengingat insiden itu.
Reo mendengus geli dari atas sofa. "Emm, akal-akalanmu saja itu. Paling kamu yang kelamaan milih merk sabun mandi," ejek Reo sambil ikut menyeruput mie panasnya dengan suara berisik.
Gian hanya memutar bola matanya malas, menoleh sekilas untuk memberikan tatapan datar pada Reo, lalu kembali fokus pada filmnya. Malam itu dihabiskan dengan suara seruputan mie dan rentetan tembakan dari layar televisi.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyinari koridor sekolah. Namun, suasana hati Gian tidak secerah cuaca hari ini. Saat ia duduk di bangkunya, tatapannya langsung tertuju pada bangku kosong yang tepat berada di depannya—bangku milik Gretta.
Biasanya, jam segini Gretta sudah sibuk membaca buku dengan tenang. Namun hari ini, kursi kayu itu kosong melompong.
Tak lama, Bu Karin selaku wali kelas masuk. Setelah menyapa murid-murid, beliau memberikan pengumuman singkat. "Anak-anak, hari ini Gretta tidak bisa mengikuti pelajaran. mamanya baru saja menelepon ibu dan meminta izin. Sepertinya keluarga mereka sedang ada urusan mendadak."
Mendengar itu, ada perasaan aneh yang menyelinap di dada Gian. Rasanya ada sesuatu yang kurang. Mata tajamnya terus menatap punggung kursi yang kosong itu. ketidakhadiran gadis itu ternyata membuat suasana kelas terasa sedikit hampa bagi Gian. Tentu saja, ia tidak akan pernah mengakui hal itu kepada siapa pun. Sepanjang pelajaran Bu Karin, Gian mencoba fokus pada materi, meskipun pikirannya sesekali melayang.
Jam istirahat tiba. Suasana kelas menjadi riuh. Di sudut lain kelas, Ruby dan Nana tidak pergi ke kantin. Keduanya memilih duduk berhadapan sambil memakan bekal mereka.
"Menurutmu, apa separah itu ya kejadian yang menimpa Gretta kemarin? Sampai-sampai dia nggak masuk hari ini?" gumam Ruby dengan nada khawatir, setengah berbisik kepada Nana.
"Entahlah, bisa jadi sih. Kemarin kan kelihatannya dia emang sangat pucat banget..." jawab Nana sambil mengunyah makanannya. Tiba-tiba, ekor mata Nana menangkap sosok Gian yang masih duduk diam di bangkunya. Tanpa sadar, Nana menatap lekat ke arah cowok dingin itu, mencoba mencari tahu apakah Gian mengetahui sesuatu tentang Gretta.
Merasa sedang diperhatikan, Gian menoleh. Tatapan matanya bertemu dengan mata Nana. "Kenapa kau melihatku seperti itu?" ujar Gian dengan nada datarnya yang khas, suaranya sedingin es.
Nana tersentak kaget, wajahnya memucat karena tertangkap basah. "E-eh, t-tidak ada apa-apa kok!" pekik Nana gugup. Ia buru-buru memalingkan wajah dan melanjutkan makanannya dengan canggung, tak berani lagi melirik ke arah Gian.
Waktu istirahat berlalu dengan cepat. Bel tanda masuk kembali berbunyi, menandakan dimulainya jam pelajaran Fisika. Pak guru Fisika yang terkenal tegas masuk ke kelas dengan membawa tumpukan kertas.
"Baik anak-anak, simpan semua gadget kalian. Hari ini kita akan mengadakan ulangan dadakan. Jangan protes! Kalian diizinkan membuka buku cetak sesuka hati. Waktu kalian hanya empat puluh lima menit," tegas guru tersebut.
Suara keluhan dan helaan napas berat terdengar dari penjuru kelas, namun tak ada yang berani membantah. Pak guru membagikan kertas soal satu per satu. Saat beliau menyadari ada satu bangku yang kosong, beliau menghentikan langkahnya.
"Gretta tidak masuk hari ini?" tanyanya sambil melihat daftar absensi. "Sayang sekali. Ulangan ini nilainya cukup besar. Apa di kelas ini ada yang rumahnya berdekatan dengan rumah Gretta? Atau setidaknya searah dan bisa mengantarkan kertas ulangan ini padanya agar ia bisa menyusul mengerjakannya di rumah?"
Hening. Kelas mendadak senyap. Teman-teman Gretta seperti Ruby dan Nana saling berpandangan, bingung karena mereka tidak tau dimana rumah Gretta.
Tiba-tiba, sebuah tangan terangkat dari barisan belakang.
"Saya, Pak," sahut sebuah suara yang tenang.
Sontak, seluruh kepala di kelas itu menoleh ke belakang, menatap sosok yang baru saja mengangkat tangan. Itu Gian. Mata semua murid terbelalak tak percaya. Mulut Ruby bahkan sedikit terbuka. Kelas mulai diwarnai bisik-bisik tertahan.
Pasalnya, ini adalah sejarah baru. Seorang Gian—cowok yang terkenal dengan julukan pangeran es. dan tidak pernah peduli dengan urusan orang lain—kini secara sukarela menawarkan diri untuk direpotkan menitipkan barang. Apalagi ini untuk Gretta.
Gian mengabaikan tatapan heran teman-temannya. Ia tetap mempertahankan wajah datarnya, meskipun dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa tanganku tiba-tiba terangkat? batinnya.
Pak guru tampak sedikit terkejut, namun segera tersenyum tipis. "Bagus. Kalau begitu Gian, Bapak titip berikan kertas ulangan ini ke Gretta, ya. Suruh dia kumpulkan ke meja Bapak kalau di sudah masuk."
"Iya, Pak," jawab Gian singkat.
Ia maju ke depan, menerima selembar kertas HVS berisi soal Fisika yang lumayan rumit itu. Sekembalinya ke meja, Gian melipatnya dengan rapi dan menyelipkannya ke dalam buku paket Fisikanya dengan hati-hati.
Waktu empat puluh lima menit berlalu penuh dengan ketegangan dan suara garukan pena di atas kertas. Akhirnya, bel pulang sekolah berbunyi nyaring, dan kelas pun selesai.
Di koridor sekolah yang mulai ramai oleh murid-murid yang berhamburan pulang, Gian berjalan santai dengan tas tersampir di satu bahu. Di sebelahnya, Reo berjalan menyejajari langkahnya, menatap sahabatnya itu dengan pandangan penuh senyum jahil.
"Sejak kapan seorang Gian mau jadi kurir pengantar soal ulangan untuk seorang cewek?" goda Reo, memecah keheningan di antara mereka berdua.