Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR BAHAGIA DI ANTARA KITA
Lima tahun berlalu, melintasi waktu dengan lembut, menyisakan jejak kebahagiaan yang makin dalam dan kokoh di dalam rumah besar Arkananta. Rumah that dulu sunyi dan dingin itu kini benar-benar hidup, dipenuhi tawa riang, langkah kaki kecil yang berlarian, dan obrolan hangat yang tak pernah putus. Di halaman yang luas, Gala Arkananta yang kini berusia lima tahun berlarian dengan rambut hitamnya yang berantakan, tertawa lepas saat dikejar oleh ayahnya yang berpura-pura menjadi raksasa galak namun wajahnya justru penuh senyum paling bahagia di dunia.
Gala tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan, cerdas, ceria, dan memiliki hati yang selembut kapas. Ia mewarisi mata tajam dan wibawa ayahnya, namun mewarisi senyum manis dan kelembutan hatinya ibunya. Bagi Devan, anak ini adalah harta paling berharga, alasan segala usahanya, dan sumber sukacita yang tak pernah kering.
"Tangkap aku, Ayah! Tangkap Gala kalau bisa!" teriak anak kecil itu sambil tertawa, berlari berputar di antara pepohonan.
"Yaah... Ayah pasti tangkap! Jangan lari jauh-jauh, Pangeran kecil!" seru Devan, tertawa renyah, langkah besarnya melangkah santai namun cukup cepat untuk membuat anak itu makin bersemangat.
Di bawah pohon besar tua tempat mendiang ayahnya dulu sering duduk, Alana duduk santai di kursi taman, menatap pemandangan itu dengan hati yang penuh meluap sampai tak muat lagi di dadanya. Waktunya kini terlihat begitu cantik, makin anggun dan bersinar, aura keibuan dan kebahagiaan membuatnya tampak jauh lebih muda dari usia aslinya. Sesekali ia mengusap perutnya dengan gerakan halus, ada senyum misterius namun penuh makna yang tak lepas dari bibirnya.
Setelah cukup lelah bermain, Devan akhirnya menangkap Gala, mengangkat tubuh kecil itu tinggi ke udara dan memutar-mutarnya, membuat anak itu berteriak girang. Lalu Devan memeluknya erat, mencium seluruh wajah anaknya dengan penuh kasih sayang, sebelum akhirnya berjalan mendekati Alana.
Devan yang kini berusia matang itu, tampak jauh lebih tenang, lebih bijaksana, dan jauh lebih manusiawi dibandingkan dirinya lima tahun lalu. Bekas luka masa lalu sudah sembuh total, digantikan oleh kedamaian yang tak tergoyahkan. Ia berjongkok di samping kursi Alana, satu tangannya memeluk Gala yang duduk di pangkuannya, dan tangan lainnya langsung menggenggam tangan istrinya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi, Nyonya Arkananta? Ada rahasia apa yang disembunyikan dari Suami ini, hm?" goda Devan lembut, matanya menatap tajam namun penuh cinta, meneliti wajah istrinya yang tampak makin bersinar hari ini.
Alana tertawa renyah, mengangguk pelan lalu menarik tangan Devan untuk diletakkan di atas perutnya.
"Mungkin Bapak yang nggak peka. Padahal kabar ini sudah ada di sini hampir dua bulan ini," jawab Alana pelan, matanya berbinar menatap suaminya.
Gerakan Devan seketika terhenti. Tatapannya berubah dari bercanda menjadi takjub, campur aduk antara kaget dan haru. Ia meraba perut itu perlahan, matanya melebar perlahan seiring dengan memproses arti kalimat istrinya.
"Maksudmu... di sini... ada...?" suaranya keluar parau dan bergetar, matanya langsung berkaca-kaca secepat kilat.
Alana mengangguk lagi, air mata bahagia mulai menggenang.
"Iya, Devan. Kita bakal punya anggota baru lagi. Adik buat Gala."
Detik itu juga, teriakan sukacita meledak dari mulut Devan. Tanpa peduli apa pun, ia langsung memeluk Alana dan Gala bersamaan, memeluknya erat sekali sampai mereka hampir sesak napas. Ia mencium wajah istrinya berkali-kali dengan penuh semangat, lalu mencium perut itu dengan suara keras dan penuh rasa syukur.
"Ya Allah! Terima kasih! Terima kasih ribuan kali! Aku... aku nggak nyangka! Aku dikasih lagi kesempatan jadi Ayah! Aku dikasih lagi keajaiban ini lewat tanganmu, Alana!" seru Devan, air mata bahagia jatuh membasahi pipinya yang tegap.
Gala yang awalnya bingung, ikut bersorak senang saat mengerti artinya.
"Wah! Ada adik! Gala jadi Kakak! Gala mau jagain adik, Ayah! Gala mau main sama adik!" teriak anak itu melompat-lompat girang.
Devan mengangkat tubuh putranya tinggi-tinggi, matanya bersinar penuh bangga dan sukacita.
"Iya Nak! Kamu bakal jadi Kakak hebat! Dan Ayah bakal jadi Ayah yang lebih hebat lagi! Karena Ibu kita ini luar biasa! Dia terus-menerus kasih kita rezeki yang tak ternilai!"
Sejak hari itu, suasana di rumah makin hidup dan makin hangat. Devan yang dulu saat hamil Gala saja sudah dianggap ayah paling protektif sedunia, sekarang tingkatannya naik berkali-kali lipat. Ia jadi seperti penjaga setia yang tidak membiarkan Alana melakukan hal berat sedikit pun. Segala kebutuhan dipenuhi sebelum diminta, segala keinginan dituruti secepat kilat.
Di kantor pun, perubahan yang dibawa Alana dan Gala terus terasa dan melekat. Arkananta Group kini bukan lagi sekadar perusahaan yang mengejar keuntungan semata. Di bawah kepemimpinan Devan yang makin bijaksana, perusahaan itu tumbuh menjadi tempat yang manusiawi, berkelanjutan, dan peduli lingkungan serta sosial. Bagi Devan, sukses bisnis hanyalah sarana, tujuan akhirnya adalah memberikan kehidupan yang layak dan baik bagi banyak orang, persis seperti apa yang diajarkan Alana padanya.
Sore itu, mereka bertiga pergi ke makam mendiang Ayah dan Ibu Devan. Di sana, di bawah pohon rindang itu, mereka berlutut bersama. Devan menggenggam tangan Alana dan Gala, meletakkannya di atas batu nisan, lalu menaruh tangan mereka berdua di atas perut Alana.
"Ayah, Bunda..." ucap Devan lantang dan penuh syukur. "Lihatlah kami. Lima tahun lalu saya datang membawa Alana, dan Gala. Sekarang saya datang membawa kabar gembira lagi. Ada satu nyawa lagi yang sedang tumbuh di sini, darah daging kami. Keluarga kami makin utuh, kami makin bahagia, kami makin lengkap. Semua ini berkat Alana, berkat kasih sayang yang dia bawa ke hidup saya."
Ia menoleh ke arah Gala.
"Sini, Nak. Sapa Kakek dan Nenek. Ceritakan kalau kamu sebentar lagi jadi Kakak."
Gala dengan sopan dan lantang berbicara.
"Kakek, Nenek... Gala sebentar lagi jadi Kakak! Gala bakal jaga adik, Gala bakal sayang Ibu dan Ayah! Gala mau jadi anak hebat kayak Ayah, tapi hatinya kayak Ibu!"
Devan tersenyum haru, matanya berkaca-kaca.
"Ayah lihat kan? Gala tumbuh jadi anak yang baik. Berbeda sekali dengan saya yang dulu keras dan kasar. Karena dia dibesarkan dalam cinta, Ayah. Karena dia punya Ibu seperti Alana. Saya berjanji, Ayah, nama Arkananta akan tetap harum, tetap bermartabat, dan tetap membawa kebaikan. Warisan Ayah saya jaga, tapi warisan cinta dan kasih sayang yang saya dapat dari Alana, itulah yang bakal saya wariskan paling utama ke anak cucu saya nanti."
Saat pulang, malam mulai turun. Di dalam mobil, Gala tertidur pulas di kursi belakang karena kelelahan bermain. Devan menyetir pelan, sesekali melirik ke arah Alana yang duduk tenang di sebelahnya, tangannya tak pernah lepas mengusap perut istrinya.
"Alana..." panggilnya lembut.
"Ya, Suamiku?"
"Kadang aku duduk diam dan berpikir... bagaimana kalau dulu aku tidak punya hati untuk menerima kamu? Bagaimana kalau dulu aku terlalu sombong dan keras kepala sampai mengusirmu? Maka aku bakal melewatkan semua ini. Aku bakal melewatkan bahagia seperti ini, bakal melewatkan punya anak sehebat Gala, bakal melewatkan rasa dicintai dan mencintai sepenuh hati, dan sekarang bakal melewatkan menunggu kehadiran malaikat baru kita."
Ia menggenggam tangan Alana, mencium punggungnya dalam-dalam.
"Kau adalah anugerah keselamatan buatku. Kau mengubah takdirku, Alana. Kau mengubahku dari orang yang terbuang, menjadi orang yang punya segalanya. Dan aku janji, perjalanan kita masih sangat panjang. Kita belum sampai di mana-mana. Masih banyak cerita, masih banyak tawa, masih banyak momen indah yang bakal kita ukir bareng-bareng sampai rambut kita memutih, sampai kita tua renta, sampai napas terakhir kita."
Sesampainya di rumah, setelah Gala diletakkan di tempat tidurnya dan dibacakan dongeng sampai tidur, Devan dan Alana duduk berdua di balkon kamar, menatap langit malam yang penuh bintang. Angin malam berhembus sejuk, membawa ketenangan yang mendalam.
Devan menarik Alana bersandar di dadanya, tangannya melingkar memeluk perut istrinya. Wajahnya menampakkan kepuasan dan keutuhan yang sempurna.
"Kita baru saja mulai memasuki fase yang makin indah, Sayang. Gala makin besar, adiknya sebentar lagi lahir, Arkananta makin kokoh. Dan satu hal yang takkan pernah berubah, semenjak hari pertama sampai nanti selama-lamanya..."
Ia mencium leher dan pipi Alana, suaranya penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.
"...Bahwa hidupku, hatiku, jiwaku, dan segalanya yang ada padaku... semuanya milikmu, semuanya ada untukmu, dan semuanya tunduk padamu."
Di bawah langit luas yang sama tempat mereka dulu berjanji, kini janji itu makin kokoh, makin dalam, dan makin bermakna sebagai bukti cinta yang melahirkan kehidupan, yang membangun keluarga, dan yang siap melangkah jauh ke depan.
Dan sekali lagi, dengan suara rendah namun tegas, penuh kepasrahan dan cinta yang tak berbatas, Devan mengucap sumpah yang menjadi jalan hidupnya selamanya:
"Di sini, di tengah kabar bahagia yang baru, di hadapan masa depan yang masih panjang dan luas... aku nyatakan: Segala harta, nama, jiwa, raga, masa lalu, kini, dan selamanya... semuanya dan selamanya tetap takluk, hanya padamu, Alana. Ibu dari keturunanku, Ratu abadi hatiku, dan satu-satunya pemilik segalaku."