NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Bisnis

Hari Senin, pukul 06.30. Sarapan pagi yang tegang.

Sejak ancaman Dinda minggu lalu, suasana di rumahku berubah. Tidak ada lagi tawa Bunda saat memasak. Tidak ada lagi siulan Ayah Budi saat membaca koran. Yang ada hanyalah keheningan yang berat—seperti udara sebelum badai.

"Nak, kamu sudah siap?" tanya Ayah Budi dari ujung meja. Dia sudah berpakaian rapi—kemeja batik lengan panjang, celana bahan hitam, sepatu pantofel mengkilap. Tapi yang paling mencolok adalah ekspresinya. Ayah Budi—pria lembut yang biasa kulihat dengan kacamata tebal dan senyum ramah—sekarang terlihat seperti orang asing. Rahangnya mengeras. Matanya menyala. Posturnya berubah menjadi seseorang yang siap berperang.

"Ayah mau ke kantor lebih pagi hari ini?"

"Iya." Ayah Budi menyesap kopinya—hitam, tanpa gula, tidak seperti biasanya yang manis dengan dua sendok gula. "Ayah ada urusan penting."

"Urusan apa, Yah?"

Ayah Budi menatapku. Lama. Seperti dia sedang mengukur seberapa banyak yang pantas kuketahui.

"Ayah punya usaha kecil, Nak. Mungkin tidak sebesar Dr. Hendra. Tapi Ayah punya jaringan. Ayah punya koneksi. Dan Ayah akan memastikan Dr. Hendra rugi besar."

Jantungku berdegup lebih kencang. "Maksud Ayah?"

"Nak." Ayah Budi meletakkan cangkir kopinya. Suaranya pelan tapi tegas. "Ayah mungkin bukan ayah kandungmu. Tapi Ayah membesarkanmu sejak umur satu tahun. Ayah yang mengantarmu ke sekolah pertama kali. Ayah yang mengajarmu naik sepeda. Ayah yang menemanimu belajar matematika meskipun Ayah tidak pintar."

Aku diam. Tenggorokanku tercekat.

"Dan Ayah tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk keponakan Ayah sendiri—mengancam anak Ayah." Ayah Budi meraih tanganku. Tangannya hangat—sama hangatnya seperti dulu saat aku kecil dan dia mengajarkanku memegang pensil dengan benar. "Ayah akan lawan Dr. Hendra. Dengan cara Ayah."

"Tapi, Yah—"

"Nak, percaya sama Ayah." Ayah Budi tersenyum—senyum yang dulu selalu membuatku merasa aman. "Ayah sudah lama tidak aktif di dunia bisnis. Tapi Ayah masih punya teman. Ayah masih punya nama. Dan Ayah masih punya harga diri."

Bunda yang dari tadi diam di dapur, keluar dengan membawakan kotak makan siang untuk Ayah. Matanya merah—seperti orang yang baru selesai menangis, atau sedang menahan tangis.

"Mas, jaga diri," bisik Bunda, menyerahkan kotak makan itu.

"Iya, Bu." Ayah Budi mencium kening Bunda. Kemudian mencium keningku. "Ayah pamit, ya. Bunda, jaga Nayla."

"Iya, Mas."

Ayah Budi pergi. Pintu tertutup. Aku menatap Bunda.

"Bunda tahu?"

"Tahu apa, Nak?"

"Ayah... Ayah ternyata..."

Bunda duduk di kursi sebelahku. Tangannya—yang mulai keriput oleh usia dan pekerjaan rumah tangga—menggenggam tanganku.

"Ayahmu tidak hanya pedagang kecil, Nak."

Aku mengerjap. "Apa?"

"Sebelum menikah dengan Bunda, Ayahmu adalah..." Bunda berhenti. Menelan ludah. "Ayahmu adalah pengusaha properti yang cukup besar di Jakarta. Dia punya puluhan karyawan. Proyek-proyek besar. Teman-teman di pemerintahan."

Aku tidak bisa berkata-kata.

"Tapi setelah menikah dengan Bunda—setelah dia memutuskan untuk menjadi ayahmu—dia memilih mundur. Dia menjual sebagian besar perusahaannya. Dia memilih hidup tenang. Karena dia tidak ingin... masa lalunya membahayakan keluarganya."

"Masa lalu Ayah? Maksud Bunda?"

Bunda menunduk. "Dr. Hendra dan Ayahmu... dulu pernah bermitra. Ayahmu keluar karena dia tidak setuju dengan cara Dr. Hendra menjalankan bisnis. Sejak saat itu, mereka bermusuhan."

Duniaku terasa berputar.

"Jadi... Ayah sudah tahu soal Dr. Hendra dari dulu?"

"Dia tahu, Nak. Dia selalu tahu. Tapi dia memilih diam karena dia ingin hidup damai. Tapi sekarang..." Bunda mengusap air matanya yang mulai jatuh. "Sekarang, setelah Dr. Hendra mengancam kamu, Ayahmu tidak bisa diam lagi."

Aku memeluk Bunda.

"Ayah... Ayah hebat, Bun."

"Ayahmu hebat, Nak. Dia mengorbankan segalanya untuk keluarga ini."

---

Pukul 10.00 — Chat dengan Rasya

Rasya (10.02): "Ayahmu ternyata mantan pengusaha properti?"

Nayla (10.03): "Bunda baru cerita tadi pagi."

Rasya (10.03): "Wah."

Nayla (10.04): "Aku sendiri baru tahu. Selama ini Ayah cuma kulihat sebagai pegawai biasa. Ternyata..."

Rasya (10.04): "Ternyata dia menyembunyikan banyak hal untuk melindungi keluarga."

Nayla (10.05): "Iya. Aku nggak tahu harus marah atau sedih."

Rasya (10.05): "Kamu tidak perlu marah. Dia melakukan itu karena cinta."

Aku tersenyum membaca chat Rasya. Kadang dia bisa bijak—bijak yang membuatku lupa kalau usianya baru 15 tahun.

Nayla (10.06): "Keluarga kalian gimana, Ras? Kok jarang cerita."

Rasya (10.06): "..."

Aku menunggu. Tiga titik itu berkedip lama sekali.

Rasya (10.10): "Nanti. Aku cerita nanti."

Aku tidak mendesak. Tapi rasa penasaranku memuncak.

---

Pukul 15.00 — Ayah Budi Pulang Lebih Cepat

Aku baru saja selesai mengerjakan tugas matematika ketika pintu rumah terbuka. Ayah Budi masuk—dengan wajah lelah tapi lega. Kemeja batiknya masih rapi, tapi dasinya sudah longgar. Kacamatanya agak miring di hidung.

"Yah!" aku berdiri.

"Nak." Ayah Budi melepas sepatunya, lalu duduk di sofa dengan berat. "Ayah capek."

"Ayah mau minum? Aku buatin teh?"

"Enggak usah. Ayah mau cerita dulu."

Bunda keluar dari kamar, buru-buru. Wajahnya cemas. "Gimana, Mas?"

Ayah Budi menarik napas panjang. Lalu tersenyum—senyum lelah tapi puas.

"Dr. Hendra punya tiga proyek besar. Dua di antaranya bekerja sama dengan teman-teman Ayah."

"Dua proyek?" Aku duduk di samping Ayah Budi.

"Iya. Proyek perumahan di Bekasi, proyek apartemen di Tangerang, dan satu proyek jalan tol di Sumatera." Ayah Budi mengambil handphone dari sakunya, membuka sebuah catatan. "Ayah sudah hubungi teman-teman Ayah semalam. Mereka setuju untuk... mundur."

"Mundur?" Aku tidak percaya. "Semudah itu?"

"Tidak semudah itu, Nak. Mereka butuh waktu untuk negosiasi ulang kontrak. Mereka butuh alasan hukum untuk mundur. Tapi mereka punya tim pengacara yang handal." Ayah Budi menatapku. "Yang penting, mereka setuju. Secara prinsip."

Bunda memeluk Ayah Budi dari samping. "Mas hebat."

"Belum hebat, Bu. Ini baru langkah pertama." Ayah Budi membelai rambut Bunda. "Tanpa mitra lokal, Dr. Hendra harus mencari investor asing. Itu butuh waktu. Sementara waktu, proyeknya mandek. Uangnya berhenti berputar." Ayah Budi tersenyum tipis. "Dia akan kerugian besar."

"Tapi dia punya banyak perusahaan, Yah. Bunda bilang dia punya puluhan perusahaan."

"Ayah tahu." Ayah Budi melepas kacamatanya, mengusap wajah dengan telapak tangan. "Ini baru langkah pertama. Besok, Ayah akan menghubungi bank-bank tempat Dr. Hendra berutang. Ayah punya teman di sana. Mereka bisa... memperketat persyaratan kredit."

"Jadi Ayah mau membuat Dr. Hendra bangkrut?"

Ayah Budi diam sejenak. "Ayah tidak tahu apakah Dr. Hendra bisa bangkrut. Orang sekaya dia punya cadangan dana di luar negeri. Tapi setidaknya, Ayah bisa membuatnya sibuk. Bisa membuatnya kewalahan. Bisa membuatnya..." Ayah Budi menatap mataku—matanya tajam, "—terlalu sibuk untuk mengganggu keluargaku."

---

Pukul 19.00 — Makan Malam

Bunda memasak istimewa hari ini—ayam goreng lengkuas, tumis kangkung, sambal terasi, dan sup jagung kesukaan Ayah Budi. Aroma masakan Bunda selalu bisa membuat rumah terasa hangat—bahkan di saat paling tegang sekalipun.

"Nak, makan yang banyak," kata Bunda sambil mengambil nasi untukku.

"Makasih, Bun."

Ayah Budi tampak lebih santai setelah makan. Bahkan dia sempat bercanda—"Bunda, masakan Bunda makin enak. Apa Bunda les masak?"—yang membuat Bunda tersenyum malu.

Tapi di sela-sela sendok dan suapan, handphone Ayah Budi bergetar.

Dia melihat layar. Wajahnya berubah.

"Siapa, Yah?" tanyaku.

"Dr. Hendra."

Aku berhenti mengunyah.

Ayah Budi mengangkat telepon. Suasana makan malam yang hangat tiba-tiba berubah menjadi dingin—sangat dingin.

"Selamat malam, Pak Budi," suara Dr. Hendra terdengar dari ujung telepon—tidak terlalu keras, tapi jelas. Aku bisa mendengarnya karena meja makan kami kecil dan Ayah Budi meletakkan telepon di meja.

"Selamat malam, Pak Hendra."

"Bapak orang yang sopan, ya? Biasanya lawan bisnis saya tidak pernah bilang selamat malam."

Ayah Budi tersenyum tipis—tapi senyum yang tidak sampai ke mata. "Saya bukan lawan Bapak, Pak Hendra. Saya hanya ayah yang melindungi anaknya."

"Anak Bapak... Nayla, ya?" Dr. Hendra tertawa kecil—tawa yang membuat bulu kudukku berdiri. "Nayla anak yang berani. Saya suka. Tapi keberanian tanpa strategi hanya akan membunuhnya."

"Jangan ancam anak saya."

"Ini bukan ancaman, Pak Budi. Ini... prediksi."

"Prediksi Bapak salah."

"Kita lihat saja." Suara Dr. Hendra berubah—menjadi lebih dingin, lebih tenang, seperti ular yang siap mematuk. "Saya dengar Bapak mulai menghubungi teman-teman lama Bapak. Mitra-mitra bisnis Bapak. Bank-bank tempat Bapak punya koneksi."

Darahku membeku. Dr. Hendra tahu. Dia tahu semua gerakan Ayah Budi.

"Bapak punya mata dan telinga di mana-mana, Pak Hendra."

"Bukan mata dan telinga, Pak Budi. Hanya... teman. Teman yang lebih memilih bekerja sama dengan saya daripada dengan Bapak."

Ayah Budi tidak menjawab.

"Bapak pikir Bapak bisa mengalahkan saya? Bapak yang sudah lama meninggalkan dunia bisnis? Bapak yang memilih hidup sebagai pegawai rendahan demi mengurus anak orang lain?" Dr. Hendra tertawa lagi. "Maaf, Pak Budi. Saya tidak bermaksud merendahkan. Tapi saya hanya... realistis."

Ayah Budi mengepalkan tangan. Tapi suaranya tetap tenang. "Kita lihat saja, Pak Hendra. Siapa yang lebih realistis."

Telepon ditutup.

Ayah Budi membuang napas kasar. Bunda menggenggam tangannya. Aku hanya bisa diam.

"Nak," Ayah Budi menatapku. "Ayah mungkin kalah. Tapi Ayah tidak akan menyerah."

"Ayah tidak akan kalah, Yah."

Ayah Budi tersenyum—senyum yang pahit. "Ayah harap begitu."

---

Pukul 21.00 — Chat dengan Sasha dan Rasya

Sasha (21.05): "Gila, ayah kamu keren banget!"

Nayla (21.06): "Dia mau lawan Dr. Hendra lewat bisnis."

Sasha (21.06): "Tapi Dr. Hendra udah tahu gerakannya. Dia punya mata-mata."

Rasya (21.07): "Itu masalah."

Nayla (21.07): "Aku tahu."

Rasya (21.08): "Tapi ayahmu sudah memulai. Tidak ada jalan mundur."

Sasha (21.08): "Apa yang bisa kita bantu?"

Nayla (21.09): "Kita fokus ke sekolah. Jaga-jaga kalau Dr. Hendra menyusup lewat guru atau siswa."

Rasya (21.09): "Setuju. Aku curiga ada yang memata-matai kita di sekolah."

Sasha (21.10): "Siapa?"

Rasya (21.10): "Belum tahu. Tapi aku akan cari tahu."

---

Pukul 22.00 — Di Kamar, Sebelum Tidur

Aku berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang sudah kulihat ribuan kali. Lampu tidur berbentuk bintang menyala redup—hadiah dari Ayah Budi waktu aku kelas 4 SD.

Dulu aku pikir Ayah Budi hanya ayah biasa. Laki-laki sederhana dengan pekerjaan sederhana yang pulang tepat waktu setiap hari. Yang setiap Sabtu pagi pergi ke pasar untuk membeli ikan segar. Yang setiap Minggu sore mengajakku jalan-jalan ke taman kota naik motor bututnya.

Ternyata dia menyembunyikan begitu banyak hal. Ternyata dia dulu adalah pengusaha besar. Ternyata dia rela melepaskan segalanya—kekayaan, koneksi, kekuasaan—demi aku. Demi keluarga kecilnya.

Aku beruntung memiliki ayah sepertinya.

Aku mengambil handphone. Menekan nomor Ayah Budi—meskipun dia hanya di kamar sebelah.

"Nak? Kenapa telepon? Kamu kan di kamar."

"Ayah, aku cuma mau bilang... makasih."

Keheningan.

"Nak..."

"Ayah hebat. Ayah tidak perlu membuktikan apa pun lagi. Aku sudah bangga pada Ayah."

"Nak..." suara Ayah Budi bergetar. "Ayah... Ayah sayang kamu."

"Aku sayang Ayah juga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!