NovelToon NovelToon
Masa Depan Menantimu

Masa Depan Menantimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: sat*dya

seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penjaga gerbang Elysium

Udara dingin dari terowongan bawah tanah terasa menusuk kulit.

Alya berdiri terpaku di belakang Reno sambil mencoba mengatur napasnya yang kacau setelah berlari sejauh itu. Suara alarm dari area bawah tanah masih terdengar samar di kejauhan, bercampur dengan dengungan mesin tua di sepanjang lorong servis.

Namun kini ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan di depan mereka.

Pria berseragam hitam itu.

Tubuhnya tinggi dan tegap. Jas panjang hitam dengan simbol emas Zenith membuat auranya terlihat mengintimidasi. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya tajam seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah.

Tetapi yang paling membuat Alya merinding…

Tatapan Reno berubah total saat melihat pria itu.

Dingin.

Tajam.

Dan penuh kebencian yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan.

“Sudah lama tidak bertemu, Reno,” kata pria itu tenang.

Suara langkahnya menggema pelan saat ia maju satu langkah.

Alya refleks mundur sedikit.

“Siapa dia?” bisiknya pelan.

Reno tidak langsung menjawab.

Tatapannya tidak lepas sedikit pun dari pria itu.

“Namanya Kaizer.”

Jantung Alya berdetak aneh saat mendengar nama itu.

“Dia salah satu eksekutor Dewan Zenith.”

Ekspresi Kaizer tetap santai.

“Aku tersanjung kau masih mengingatku.”

“Sulit melupakan orang yang menikmati menyiksa anak-anak.”

Suasana langsung berubah jauh lebih dingin.

Alya menoleh cepat ke Reno.

“Apa maksudmu?”

Namun Reno masih menatap Kaizer tajam.

“Dia salah satu penanggung jawab eksperimen Elysium.”

Tubuh Alya langsung menegang.

Eksperimen manusia.

Berarti…

Kaizer juga terlibat pada apa yang terjadi pada Reno.

Pria itu justru tertawa kecil.

“Kau masih emosional seperti dulu.”

“Dan kau masih monster.”

Untuk pertama kalinya, senyum Kaizer menghilang sedikit.

Tatapannya berpindah ke Alya.

“Jadi ini putri Arman Rahman.”

Bulu kuduk Alya langsung berdiri.

Tatapan pria itu membuatnya merasa seperti sedang dipindai.

“Dia memang mirip ayahnya,” lanjut Kaizer pelan.

Alya menggenggam chip data di tangannya lebih erat.

“Apa yang kalian inginkan dariku?”

Kaizer tersenyum tipis lagi.

“Pertanyaan bagus.”

Ia berjalan perlahan mendekat.

“Ayahmu meninggalkan sesuatu yang sangat penting.”

“Kalau soal chip ini, aku tidak akan memberikannya.”

Kaizer tertawa kecil.

“Aku tidak tertarik pada chip murahan itu.”

Mata Reno langsung menyipit.

“Bohong.”

“Tidak semuanya tentang data, Reno.”

Tatapan Kaizer kembali ke arah Alya.

“Kadang… manusia jauh lebih penting.”

Jantung Alya langsung berdegup lebih cepat.

“Apa maksudmu?”

Namun Kaizer tidak menjawab.

Ia malah melihat kalung perak di leher Alya.

Dan untuk pertama kalinya, ekspresi tenangnya berubah sedikit.

“Jadi Arman benar-benar memberikannya padamu…”

Refleks Alya memegang kalungnya.

“Jangan sentuh.”

Kaizer tersenyum samar.

“Tenang saja. Aku tidak tertarik menyakitimu.”

“Kalau begitu minggir.”

“Tentu tidak.”

Suasana menjadi sangat tegang.

Angin dingin dari ujung terowongan terus berembus pelan.

Reno melangkah sedikit ke depan, berdiri melindungi Alya.

“Aku tidak akan membiarkanmu membawanya.”

Kaizer menghela napas kecil seperti kecewa.

“Padahal aku berharap kita bisa bicara baik-baik.”

“Orang sepertimu tidak tahu arti bicara baik-baik.”

Kaizer menatap Reno beberapa detik.

“Aku membesarkanmu.”

“Kau menyiksaku.”

“Itu bagian dari proses.”

Tatapan Reno berubah semakin dingin.

Alya bisa merasakan kemarahan besar tersembunyi di balik ekspresi tenang pemuda itu.

Namun sebelum siapa pun bergerak, suara alarm kembali terdengar lebih dekat.

Pasukan keamanan mulai mendekat ke area mereka.

Kaizer melirik ke belakang sebentar.

“Kalian tidak punya banyak waktu.”

“Dan aku tidak akan pergi bersamamu,” kata Alya cepat.

Kaizer menatapnya lama.

“Aku tahu.”

Tiba-tiba pria itu mengangkat tangan kanannya.

Dan seketika, layar hologram kecil muncul dari gelang hitam di pergelangan tangannya.

Beberapa data bergerak cepat di udara.

Reno langsung menyadari sesuatu.

“Alya, mundur!”

Namun terlambat.

Lantai logam di bawah mereka tiba-tiba menyala biru terang.

Sistem neural aktif.

Alya langsung merasakan sakit tajam di kepalanya.

“Ahhh…!”

Tubuhnya limbung.

Gambar-gambar aneh mulai muncul di pikirannya.

Laboratorium.

Suara alarm.

Orang-orang berteriak.

Dan—

Wajah ayahnya.

“Alya…”

Suara itu terdengar jelas di kepalanya.

“Ayah…?”

Alya memegang kepalanya kesakitan.

Reno langsung berlutut di sampingnya.

“Kaizer, hentikan!”

Kaizer memperhatikan Alya dengan tatapan serius.

“Menarik…”

“Apa yang kau lakukan padanya?!”

“Aku hanya mengaktifkan resonansi neural.”

Reno membelalakkan mata.

“Kau gila?! Tubuhnya belum stabil!”

Namun Kaizer justru tampak semakin tertarik.

“Jadi benar…”

Tatapannya tajam ke arah Alya.

“Dia kompatibel.”

Kata itu membuat Reno langsung membeku.

“Tidak mungkin…”

Alya hampir tidak mendengar percakapan mereka.

Kepalanya terasa seperti dipenuhi ribuan suara sekaligus.

Dan di antara semuanya…

Ia melihat sesuatu.

Sebuah ruangan putih besar.

Kapsul kaca.

Dan seorang anak kecil laki-laki duduk sendirian di dalamnya.

Anak itu mengangkat wajah perlahan.

Mata dingin.

Tatapan kosong.

Reno kecil.

Tubuh Alya langsung gemetar.

Ia melihat Reno saat masih menjadi subjek eksperimen.

Lalu bayangan lain muncul.

Ayahnya berdiri di depan kapsul sambil berbicara marah dengan seseorang.

“Kita harus menghentikan ini!”

Suara ayahnya terdengar jelas.

“Anak-anak ini bukan alat!”

Lalu gambar berubah kacau.

Ledakan.

Api.

Jeritan.

Dan akhirnya…

Seorang pria berjubah hitam berkata pelan:

“Kalau Elysium berhasil, dunia akan berubah selamanya.”

Alya tersentak keras.

Sakit di kepalanya mendadak hilang.

Ia jatuh berlutut sambil terengah-engah.

Reno langsung memegang pundaknya.

“Alya!”

Alya menatapnya dengan mata gemetar.

“Aku melihatmu…”

Reno membeku.

“Aku melihat semuanya…”

Kaizer perlahan tersenyum.

“Menarik sekali.”

Tatapan pria itu kini jauh lebih serius.

“Arman ternyata berhasil.”

Reno berdiri cepat di depan Alya lagi.

“Apa maksudmu?”

Kaizer memasukkan tangannya ke saku mantel.

“Dia meninggalkan lebih dari sekadar data.”

Suasana mendadak terasa sangat berat.

Pasukan keamanan mulai terlihat di ujung lorong.

Namun Kaizer tampak sama sekali tidak tergesa.

“Alya,” katanya pelan.

Tatapan pria itu tajam seperti pisau.

“Tubuhmu menyimpan inti terakhir Project Elysium.”

Dunia Alya terasa berhenti sesaat.

“A… apa?”

“Kau adalah kunci proyek itu.”

Napas Alya langsung memburu.

Tidak.

Tidak mungkin.

“Ayahmu menggunakan teknologi neural pada dirimu sejak kecil.”

Tubuh Alya terasa dingin.

“Bohong…”

“Karena hanya itu cara untuk menyembunyikan inti Elysium dari Zenith.”

Reno terlihat syok.

“Itu tidak mungkin…”

Namun Kaizer tetap tenang.

“Kalau tidak percaya, tanyakan kenapa sistem AI selalu gagal membaca dirinya.”

Alya mundur perlahan.

Pikirannya kacau total.

Selama ini…

Apa dirinya benar-benar bagian dari eksperimen?

“Aku bukan alat…” bisiknya pelan.

Tatapan Kaizer sedikit melunak.

“Itulah alasan ayahmu melarikanmu.”

Suasana menjadi sangat sunyi.

Lalu tiba-tiba Reno menarik tangan Alya.

“Kita pergi.”

Pasukan keamanan kini tinggal beberapa meter lagi.

Kaizer tidak berusaha menghentikan mereka.

Ia hanya berdiri diam sambil memandang Alya.

“Sampai jumpa lagi,” katanya tenang.

Tatapan dinginnya berubah aneh.

“Karena cepat atau lambat… kau akan mencari kami sendiri.”

Reno tidak menunggu lagi.

Ia menarik Alya berlari menuju ujung terowongan.

Udara malam langsung menyambut mereka begitu keluar dari jalur bawah tanah menuju area luar akademi.

Namun Alya hampir tidak bisa berpikir.

Kepalanya penuh.

Tentang ayahnya.

Tentang Elysium.

Dan tentang dirinya sendiri.

Sementara di belakang mereka, Kaizer berdiri sendirian di tengah lorong gelap.

Salah satu penjaga mendekat hati-hati.

“Kenapa kita membiarkan mereka pergi?”

Kaizer tersenyum tipis.

Tatapannya tetap mengarah ke tempat Alya menghilang.

“Karena permainan sebenarnya baru dimulai.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!