NovelToon NovelToon
"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
​Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
​Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Friksi di Depan Mading Koridor

​SMA CAKRAWALA BANGSA. Jika Anda berjalan-jalan di sekitar area perkotaan dan bertanya kepada masyarakat setempat mengenai reputasi lembaga pendidikan ini, mereka pasti akan langsung mengacungkan jempol dengan raut wajah penuh kekaguman. Mereka akan memuji fasilitasnya yang megah bak universitas swasta ternama, arsitektur gedung yang modern, hingga jajaran kelas unggulannya yang setiap tahun konsisten menyumbang piala emas dalam berbagai ajang olimpiade sains dan matematika tingkat nasional. Sekolah ini adalah simbol prestise, tempat di mana anak-anak dari kalangan borjuis dan para jenius berkumpul untuk menempa masa depan yang gemilang.

​Namun, kemegahan itu hanyalah etalase yang sengaja dipajang di bagian depan. Jika Anda bersedia melangkah lebih jauh, melewati gedung utama yang ber-AC, menyusuri koridor panjang yang semakin lama semakin sepi, lalu berbelok ke arah area paling pojok di koridor barat, suasananya akan berubah drastis. Tepat di samping sebuah gudang tua yang berdebu dan jarang dikunjungi, Anda akan menemukan sebuah papan nama kelas yang tergantung miring. Warnanya sudah memudar, dipenuhi coretan spidol hitam tak berarti yang terkesan vandal: Kelas 12 F.

​Bagi telinga para murid dari kelas lain dan jajaran guru yang terhormat, kelas itu memiliki nama fungsional lain yang jauh lebih melekat dan diakui secara sosial: Kelas Buangan.

​Di mata orang lain—mulai dari masyarakat luar yang sekadar lewat, orang tua murid kelas unggulan yang selalu memandang rendah, hingga petugas kebersihan sekolah sekalipun—mereka yang menghuni kelas 12 F hanyalah sekumpulan anak-anak bermasalah. Mereka sengaja diasingkan dan digabungkan di bawah satu atap kelas yang sama di ujung sekolah agar tidak mencemari reputasi serta memengaruhi kestabilan mental murid-murid berprestasi lainnya. Mereka secara sepihak dilabeli sebagai kumpulan anak ber-IQ rendah. Mereka adalah para siswa-siswi yang betah mendekam di peringkat paling bawah dalam daftar nilai seluruh penjuru sekolah. Di lembar evaluasi dinas pendidikan, mereka dicap sebagai parasit yang menggerogoti nilai rata-rata sekolah. Masa depan? Suram. Kurang beruntung, atau jika ingin berbicara jujur dan kejam: tidak ada satu orang pun di sekolah ini yang benar-benar peduli apakah mereka akan lulus atau menjadi gelandangan setelah keluar dari sini.

​Anak-anak 12 F sendiri sudah lama berada pada tahap mati rasa. Ketika sebuah sistem terus-menerus mengatakan bahwa Anda adalah produk gagal, maka lambat laun Anda akan mulai mempercayainya dan bertindak sesuai label tersebut. Mereka sama sekali tidak peduli lagi dengan apa yang disebut sebagai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Jangankan mengejar angka standar 75 yang mustahil itu, melihat angka 20 tertera di lembar jawaban ujian mereka saja sudah membuat mereka bersyukur tidak kepalang karena merasa tidak perlu ikut remedial—meski pada akhirnya, mereka juga tidak akan pernah menampakkan batang hidung saat sesi remedial tiba. Materi pelajaran yang diberikan oleh guru dianggap tak lebih dari sekadar dongeng pengantar tidur yang membosankan. Tugas pekerjaan rumah (PR) yang harus dikumpulkan tepat waktu hanyalah sebuah mitos urban yang tidak pernah tercatat dalam sejarah hidup mereka sejak menginjakkan kaki di bangku SMA.

​Bagi para guru dan kelas lain, 12 F adalah sinonim dari kata "kekacauan total". Mereka adalah anarki dalam bentuk sekumpulan remaja berpakaian seragam yang tidak rapi.

​Pagi itu, atmosfer di koridor barat terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Papan pengumuman besar di dekat persimpangan koridor baru saja memperbarui daftar pembagian kelas final untuk semester terakhir. Sekumpulan murid berdiri berdesakan, namun ada garis pemisah tak kasat mata yang sangat jelas antara anak-anak bermuka cerah dari kelas unggulan dan anak-anak berwajah kusam dari kelas 12 F.

​Raka berdiri di depan mading dengan tangan mengepal di dalam saku celananya yang mulai longgar. Matanya menatap nanar baris demi baris nama di kertas tersebut. Dulu, namanya selalu bertengger di baris teratas Kelas 12 Unggulan A. Namun kini, nama 'Raka' terpuruk di lembar paling bawah, di bawah kolom Kelas 12 F.

​"Sial... jadi ini nyata? Gue beneran dilempar ke sini... kelas buangan," bisik Raka dengan suara bergetar, menahan kombinasi antara rasa malu dan amarah yang membakar dadanya. Kepalanya mendadak pening, mengingat setiap malam ia tidak bisa menyentuh buku pelajaran karena harus terjaga hingga subuh, memutar otak mencari uang recehan demi mencicil utang pinjaman online yang melilit keluarganya setelah bisnis ayahnya hancur total. Baginya, angka-angka tagihan jauh lebih mendesak daripada angka-angka kalkulus.

​Tepat di sebelahnya, Ega Catherine berdiri dengan tubuh yang gemetar halus. Jari-jemarinya meremas ujung seragamnya hingga kusut. Napasnya memburu, memicu rasa cemas berlebih yang selama ini menggerogoti jiwanya. "Ya ampun, seriusan? Gue? Di sini? Nggak mungkin... pasti ada yang salah sama datanya. Seseorang tolong bilang kalau ini cuma salah input data!" tangis Ega Chaterine dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar. Bayangan wajah ibunya yang dingin dan penuh tuntutan langsung berputar di kepalanya. Setiap hari ia dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang kuliah di luar negeri, menerima tekanan overparenting yang membuatnya gagap setiap kali menghadapi lembar ujian, hingga mentalnya tumbang dan berakhir di titik terendah ini.

​Celine Natalia, yang berdiri agak menjauh sambil memegang cermin kecil untuk memeriksa riasan wajahnya, mendengus keras. Meskipun tangannya terlihat sibuk memoles lipstik tipis untuk menyembunyikan rasa tidak aman (insecurity) akibat trauma cyberbullying yang pernah menghancurkan reputasinya, matanya tidak bisa berbohong. Ada kilat penolakan yang besar di sana. "Masa sih...? Kok gue bisa masuk kelas... kayak gini? Gue emang jarang masuk, tapi selera gue nggak seburuk itu buat digabung sama komplotan ini!" ketus Celine, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur di mata satu sekolah.

​Kata-kata Celine terputus oleh suara tawa meremehkan dari sekumpulan murid kelas unggulan yang melintas di koridor. Mereka berjalan dengan dagu terangkat, memeluk buku-buku paket tebal seolah benda itu adalah perisai kesucian mereka.

​"Eh, liat deh, madingnya penuh sama parasit," celetuk salah satu murid laki-laki dari kelas unggulan sambil menunjuk papan pengumuman tanpa beban.

​"Woy, ini kelas buangan itu, ya? Selamat ya, anak-anak nakal dan gagal! Kumpulan sampah sekolah akhirnya punya tempat penampungan sendiri," sahut siswi kelas unggulan lainnya dengan senyum sinis yang menyakitkan. "Jangan dekat-dekat kami, ya. Nanti virus bodoh dan miskin kalian bisa ketularan ke nilai-nilai olimpiade kami. Jaga jarak!"

​Mendengar cercaan yang begitu vulgar, Kevin Sanjaya yang bersandar di dinding koridor langsung menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya menajam. Kalimat-kalimat sombong itu memicu luka lamanya sebagai anak broken home yang tidak pernah dianggap ada di rumahnya sendiri. Baginya, arogansi anak-anak kaya berprestasi itu adalah racun. "Apa-apaan sih mereka ini? Sombong amat dah... kayak dunia cuma milik mereka aje!" umpat Kevin dengan gigi tergeret.

​Di samping Kevin, Andika Wirawan tidak bisa lagi menahan diri. Darah panasnya langsung naik ke kepala. Tumbuh di lingkungan rumah yang penuh kekerasan domestik, di mana ia setiap hari melihat ayahnya melakukan KDRT terhadap ibunya, membuat Andika memiliki masalah pengendalian emosi (anger management) yang akut. Baginya, kata-kata adalah pemantik api, dan tinju adalah jawaban terbaik.

​"WOI! MULUT LO PADA DIJAGA, YA! MAJU LO SINI, ANJNG! GUE KASIH PELAJARAN LO SEMUA SEKARANG**!" teriak Andika*** dengan suara menggelegar yang mengguncang koridor barat. Langkah kakinya lebar dan berat, langsung menerjang maju mendekati sekumpulan anak kelas unggulan yang mendadak pucat melihat amarahnya.

​"Dika, jangan! Stop!" Raka dengan cepat melompat ke depan, menahan dada Andika dengan kedua tangannya. Raka tahu betul, jika perkelahian pecah, posisi mereka yang sudah di bawah akan semakin diinjak-injak. "Sudah, Dika! Nanti lo masuk BK lagi. Dan lo tahu sendiri, kan, guru-guru di sini pada benci sama kita semua? Kita nggak bakal pernah dibela!" ujar Raka dengan mata yang memanas karena menahan rasa frustrasi yang mendalam.

​Di sudut koridor yang lebih gelap, dekat pintu gudang, Maya Puspita Sari menyusutkan tubuhnya yang kurus, mencoba menghilang dari pandangan dunia. Air matanya menetes pelan mengenai kerah seragamnya yang kusam. "Aku... beneran masuk kelas buangan ini," bisik Maya penuh keputusasaan. Gadis yatim piatu yang penakut ini masuk ke kelas 12 F bukan karena ia malas, melainkan karena ia terlalu lemah untuk melawan. Selama dua tahun, lembar tugas dan hasil kerjanya selalu dicuri dan dijiplak secara paksa oleh anak-anak kelas unggulan yang memiliki kuasa, meninggalkan dirinya dengan nilai di bawah KKM tanpa ada satu pun guru yang mau mendengarkan pembelaannya.

1
irena
lanjut thor..
Aisyah Suyuti
good
Mamat Stone
/Tongue/
acep maulana
Hehehe, kalau kalian punya ide gokil, teori liar, atau saran buat novel ini, tulis aja di komentar. 😆
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
verto
novel terjemahan kah ini? dengan di modif dikit
acep maulana: Ehh iya, ada sedikit inspirasi dari drama China yang saya tonton, bahkan mungkin ada beberapa ide dari film juga di bab-bab yang akan datang. Tapi saya modifikasi dan kembangkan sesuai alur cerita novel ini. Hehehe 😆🙏 Terima kasih sudah membaca.
total 1 replies
verto
mirip sebuah komik sipnosisnya
acep maulana: Waduh, ketahuan gue deh 🤭 kebanyakan baca komik. 😂 Tapi semoga makin ke depan ceritanya punya warna sendiri dan tetap seru buat diikuti. 😁🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
crazy up Thor
Dewiendahsetiowati
kok banyak yang diulang2 ya paragrafnya
acep maulana: maaf ka hehe saya ngetik nya sambil ngantukk 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!