Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Rasa Percaya Diri
Keheningan nyaman di sudut restoran mewah tempat Bastian dan Keisha menghabiskan akhir pekan mendadak terusik.
Di tengah kepulan aroma kopi hitam milik Bastian dan denting garpu perak yang beradu pelan dengan piring porselen, getaran konstan dari atas meja kayu mahoni memecah suasana santai pagi itu.
Tring!
Dua ponsel yang tergeletak di atas meja kayu mahoni menyala hampir bersamaan. Satu nama pengirim yang sama tertera di layar: Asisten Eksekutif Wijaya Group.
Keisha menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuap potongan buah terakhir.
Ia melirik santai ke arah sang ayah yang sudah lebih dulu membuka surel tersebut.
Namun dalam hitungan detik, perubahan ekspresi Bastian membuat senyum Keisha memudar. Rahang pria paruh baya itu mengeras, wajahnya perlahan memucat.
“Ada apa, Pa?” tanya Keisha.
Bastian mengangkat kepala, menatap putrinya dengan sorot gelisah. “Arsen memanggil kita ke kantornya sore ini. Rapat darurat peninjauan proyek kawasan timur.”
Keisha mendengus pelan, lalu menyandarkan tubuhnya dengan gestur meremehkan. “Cuma itu? Papa bikin aku kaget saja. Paling juga cuma evaluasi rutin yang dilebih-lebihkan.”
“Keisha,” nada suara Bastian memberat, penuh peringatan. “Kamu yakin tidak ada masalah di lapangan?”
“Aman, Pa,” jawab Keisha terlampau cepat. “Semua proyek besar pasti punya dinamika. Tim pengawas Wijaya Group saja yang terlalu kaku dan suka membesar-besarkan laporan.”
Meski menjawab dengan nada meremehkan, ada desir halus yang mulai mengusik hati Keisha.
Namun, ego dan rasa percaya dirinya buru-buru menepis firasat buruk itu.
Bagaimanapun, ayahnya adalah rekan lama Wijaya Group. Arsen tidak mungkin bertindak ekstrem pada mereka.
Setidaknya, begitu pikirnya.
...----------------...
Sore harinya.
Langit kota mulai berubah kelabu pekat saat mobil hitam milik Bastian berhenti di pelataran gedung Wijaya Group.
Gedung pencakar langit itu menjulang tinggi, dingin, dan seolah siap menelan siapa saja yang masuk ke dalamnya.
Keisha turun dari mobil sambil membenarkan letak blazer mahalnya. Langkah kakinya sengaja dibuat tegas untuk menutupi rasa tidak nyaman yang kian mengusik dada.
Begitu mereka tiba di lantai teratas, suasana langsung terasa berbeda.
Sunyi.
Tegang.
Bahkan udara di sepanjang koridor eksekutif terasa terlalu dingin.
Pintu ruang rapat utama terbuka perlahan.
Dan di sanalah Arsen Laurent Wijaya duduk di ujung meja panjang dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam sempurna, kedua tangannya tertaut di atas meja, dengan sepasang mata elang yang langsung mengunci pergerakan mereka.
Di sisi kanan dan kirinya, Raka dan Dion sudah bersiap dengan tumpukan dokumen tebal.
“Selamat sore, Pak Arsen,” sapa Bastian, mencoba mencairkan kebekuan. “Maaf membuat Anda menunggu.”
Arsen tidak menjawab, bahkan tidak mengangguk. Tatapan dinginnya langsung tertuju telak pada Keisha, membuat wanita itu refleks menahan napas.
“Langsung saja,” ujar Arsen. Suara baritonnya rendah, namun sanggup menekan udara di dalam ruangan hingga terasa sesak. “Saya rasa surat dari asisten saya sudah cukup menjelaskan alasan kenapa kalian berada di sini.”
Keisha memaksakan sebuah senyuman tipis, mencoba mengambil kendali. “Pak Arsen, saya rasa ini hanya kesalahpahaman kecil. Tim pengawas Anda terlalu sensitif menanggapi perubahan beberapa vendor dan penyesuaian anggaran di lapangan.”
Tanpa sepatah kata, Dion langsung menggeser sebuah map dokumen ke tengah meja.
“Penyesuaian anggaran?” ulang Dion dengan nada datar namun menuntut. “Atau penggelapan dana?”
Senyum di wajah Keisha seketika membeku.
Dion membuka lembar demi lembar laporan audit di depan mereka. “Berdasarkan hasil pemeriksaan internal pagi tadi, dua vendor beton baru yang Saudari Keisha tunjuk tidak terdaftar secara resmi. Indikasi kuat perusahaan fiktif. Selain itu, selisih dana dari pemangkasan material utama mengalir langsung ke rekening pribadi Anda.”
Wajah Keisha berubah pias dalam sekejap. “Itu tidak benar! Ada kesalahan input data.”
“Benarkah?” Kali ini Arsen yang bersuara. Pria itu menyandarkan punggungnya perlahan, menatap Keisha tanpa riak emosi sedikit pun. “Lalu bagaimana dengan dokumen AMDAL yang Anda manipulasi?”
Deg.
Jantung Keisha seakan lolos dari tempatnya.
“Karena keputusan ceroboh Anda yang menghindari pengajuan kajian lingkungan baru, proyek kawasan timur resmi disegel oleh dinas tata kota pagi tadi,” lanjut Arsen dingin. “Dan sekarang, perusahaan saya harus menanggung risiko hukum serta kerugian nama baik akibat tindakan konyol Anda.”
Bastian menoleh cepat, menatap putrinya dengan mata membelalak. “Keisha! Apa maksud semua ini?!”
“Pa, aku bisa jelasin—”
“Kamu bilang semuanya aman!” bentak Bastian, mengabaikan keberadaan Arsen di depan mereka.
“Aku cuma mau proyeknya cepat selesai, Pa!”
“Dengan memalsukan dokumen negara?!”
Suasana ruang rapat langsung memanas. Keisha yang mulai tersudut beralih menatap Arsen dengan tatapan defensif. “Tapi semua proyek besar juga melakukan permainan anggaran, Pak Arsen! Saya hanya mencoba mengefisiensikan biaya operasi—”
“Efisiensi tidak pernah dilakukan dengan melanggar hukum.”
Kalimat Arsen memotong telak, mutlak, dan tidak terbantahkan.
Ruangan itu mendadak hening mencekam. Arsen bangkit berdiri perlahan dari kursinya.
Aura intimidasi dari tubuh tegapnya seketika mendominasi seluruh ruangan.
Ia melangkah pelan, mengitari meja rapat, lalu berhenti tepat di hadapan Keisha. Tatapan matanya menusuk hingga ke tulang.
“Saya tidak peduli siapa ayah Anda,” ucap Arsen dengan suara rendah yang berbahaya. “Dan saya tidak menjalankan bisnis ini berdasarkan relasi lama atau rasa kasihan.”
Keisha menegang sempurna di tempat duduknya.
“Ketidakmampuan dan kecurangan tidak akan pernah punya tempat di bawah nama Wijaya Group.”
Kalimat itu menghantam telak harga diri Keisha hingga hancur berkeping-keping.
Sebelum ia sempat membela diri, Raka mengeluarkan dua map merah dari tas kerjanya dan meletakkannya di hadapan Bastian.
“Surat resmi pemutusan kerja sama,” ujar Raka formal.
Bastian lemas di tempatnya, wajahnya pucat pasi.
“Mulai hari ini,” lanjut Arsen tanpa emosi, “seluruh hak pengelolaan proyek diambil alih penuh oleh Wijaya Group.”
Keisha langsung berdiri menyentak kursinya. “Pak Arsen, Anda tidak bisa melakukan ini secara sepihak!”
“Saya bisa,” jawab Arsen cepat dan dingin. “Dan besok pagi, tim hukum saya akan resmi mendaftarkan gugatan pidana terkait dugaan penggelapan dana dan pemalsuan dokumen.”
Mendengar kata gugatan pidana, Bastian langsung panik. Pria paruh baya itu ikut bangkit berdiri dengan tubuh gemetar. “Pak Arsen, tolong... Jangan putus kontraknya. Kita bisa selesaikan ini baik-baik secara kekeluargaan. Saya yang akan menjamin dan membayar seluruh kerugiannya. Tolong beri Keisha satu kesempatan lagi.”
Namun, wajah Arsen tetap sekeras batu. Tidak ada sedikit pun ruang untuk negosiasi atau rasa iba di matanya.
“Kesempatan hanya diberikan pada orang yang tahu cara menjaga kepercayaan saya, Bastian,” ujar Arsen sambil merapikan kancing jasnya. “Dan putri Anda sudah membuang kesempatan itu sejak hari pertama dia menyentuh proyek ini.”
Arsen berbalik, melangkah pergi meninggalkan ruang rapat dengan langkah tenang dan tegas. Pintu ganda kayu jati itu tertutup rapat di belakangnya, mengakhiri sisa harapan yang ada.
Di dalam ruangan yang mendadak terasa sesak, Keisha berdiri membeku dengan napas memburu dan tangan yang mengepal erat.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, harga dirinya diinjak-injak tanpa ampun di depan ayahnya sendiri.
Namun perlahan, di balik rasa takut dan malu yang membakar dadanya, rasa dipermalukan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.
Kebencian.
Dan Keisha bersumpah, ia tidak akan pernah melupakan hari ini begitu saja.
moga gadis yg kuat setidak nya bisa bela diri dikitlah
semangat thor