Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Malam itu mereka duduk sampai pukul sebelas.
Tidak ada whiteboard. Tidak ada peta yang dibentangkan di lantai. Tidak ada dokumen rahasia yang dikeluarkan dari dalam amplop tersegel. Hanya empat orang di kamar kontrakan kecil dengan satu kasur, satu kursi meja belajar, satu kursi plastik, dan tepi meja yang Raymond duduki sejak tadi — berbicara dengan suara yang cukup pelan untuk tidak terdengar dari luar jendela yang setengah terbuka.
Wukong sudah tidur di kursi meja belajar sejak pukul sembilan.
Serigala masih di pojok jendela, mata setengah terpejam, telinga yang sesekali bergerak mengikuti percakapan dengan cara makhluk yang tidak tidur tapi memilih untuk tidak menunjukkan bahwa ia tidak tidur.
Abyssal Goddess Weaver di lekukan bahu kiri Rio tidak bergerak tapi berdenyut dengan ritme yang lebih aktif dari biasanya — seperti seseorang yang sedang mendengarkan dengan sangat penuh perhatian.
---
"Langkah pertama bukan konfrontasi," kata Arinda.
Raymond menatapnya. "Saya setuju. Tapi bukan berarti kita diam."
"Bukan diam." Arinda meletakkan ponselnya di lantai di depannya — layarnya menampilkan struktur organisasi asosiasi yang ia buka dari memori karena mengakses database resmi malam ini terlalu berisiko. "Kita bergerak. Tapi bergerak di bawah permukaan. Seperti air yang mengalir di bawah tanah — tidak terlihat sampai sudah terlalu dalam untuk dibendung."
"Filosofis," komentar Raymond.
"Akurat," koreksi Arinda.
Adrian yang dari tadi mendengarkan lebih banyak dari yang berbicara mengangkat satu tangan. "Konkretnya?"
---
Arinda menarik napas.
"Hana kekuatannya ada di dua hal — jaringan orang dalam yang loyal, dan narasi publik yang sudah dibangun selama dua belas tahun." Jarinya menunjuk ke struktur organisasi di layar ponselnya. "Jaringan itu tidak bisa dihancurkan dari luar. Tapi bisa dilemahkan dari dalam — dengan cara membuat orang-orang di dalamnya mulai mempertanyakan loyalitas mereka sendiri."
"Caranya?" tanya Rio.
"Informasi yang tepat kepada orang yang tepat pada waktu yang tepat." Arinda menatap Rio. "Saya punya daftar nama — orang-orang di dalam asosiasi yang saya yakini sudah tidak nyaman dengan cara Hana menjalankan institusi ini tapi tidak punya cukup keberanian atau cukup bukti untuk bergerak sendiri."
"Berapa banyak?"
"Tujuh orang yang saya yakin. Mungkin lebih yang saya belum bisa verifikasi."
Raymond mengangguk pelan. "Tujuh cukup untuk memulai. Tidak cukup untuk menyelesaikan."
"Tidak ada yang cukup untuk menyelesaikan sebelum semuanya dimulai," jawab Arinda. "Yang kita butuhkan sekarang bukan kemenangan. Yang kita butuhkan adalah momentum."
---
Rio menatap struktur organisasi di layar ponsel Arinda dari jarak jauh — nama-nama yang sebagian ia tidak kenal, jabatan-jabatan yang hirarkinya menunjukkan seberapa dalam akar Hana tertanam di dalam sistem yang harusnya independen dari kepentingan satu orang.
"Narasi publiknya?" tanya Rio.
Arinda meliriknya. "Itu bagian yang lebih rumit."
"Lebih rumit dari jaringan internal?"
"Jaringan internal bisa diputus dengan bukti." Arinda menatap Rio langsung. "Narasi publik tidak bisa diputus dengan bukti saja. Orang tidak selalu mengubah keyakinannya karena fakta — mereka mengubah keyakinannya karena emosi yang didukung fakta." Ia berhenti sebentar. "Hana sudah dua belas tahun membangun emosi itu. Kepercayaan, rasa aman, rasa bangga punya pelindung yang kuat. Untuk mengubah itu kita tidak hanya butuh data — kita butuh cerita."
"Cerita apa?"
Arinda menatap Adrian.
Adrian menatap balik.
"Cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi tiga belas tahun lalu," kata Arinda pelan. "Dari orang yang paling berhak menceritakannya."
---
Keheningan selama beberapa detik.
Adrian menatap lantai batu kontrakan yang tidak pernah ia lihat sebelum tiga hari lalu, dengan ekspresi seseorang yang sedang menimbang sesuatu yang beratnya tidak proporsional dengan ukurannya.
Menceritakan kepada publik artinya keluar sepenuhnya dari bayang-bayang yang sudah tiga belas tahun menjadi satu-satunya perlindungan yang ia miliki. Artinya menjadi target yang terlihat. Artinya tidak ada lagi ruang untuk mundur ke lembah tujuh batu kalau semuanya berjalan salah.
Tapi juga artinya sesuatu yang lain.
Artinya tiga belas tahun yang hilang akhirnya bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar waktu yang terbuang.
"Waktunya kapan?" tanya Adrian.
"Belum sekarang," jawab Arinda. "Dulu kita perlu pastikan tujuh orang di dalam sudah bergerak. Kita perlu rekaman dari sistem sudah siap diakses. Kita perlu satu momen yang tepat — bukan momen yang kita pilih, melainkan momen yang Hana ciptakan sendiri karena ia tidak tahu kita sudah siap."
Raymond mengangguk. "Biarkan ia membuat kesalahan."
"Biarkan ia percaya bahwa ia masih mengendalikan situasi," koreksi Arinda. "Orang yang percaya ia mengendalikan situasi tidak berhati-hati. Dan orang yang tidak berhati-hati membuat kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki."
---
Rio mendengarkan semua ini dengan cara yang sudah menjadi caranya mendengarkan hal-hal penting — tidak mencatat, tidak memotong, membiarkan semuanya masuk dan menetap di tempat yang benar sebelum ia mulai memilah mana yang perlu ditindaklanjuti dan mana yang perlu disimpan dulu.
Satu hal yang ia catat secara khusus.
Selama seluruh percakapan malam ini, tidak ada yang menyebut kekuatan Rio atau squad-nya sebagai bagian dari rencana.
Bukan karena mereka lupa.
Melainkan karena ketiganya — Adrian, Raymond, Arinda, tiga orang yang sudah di dunia ini jauh lebih lama dari Rio dan sudah belajar dari cara yang tidak mudah tentang bagaimana kekuatan yang digunakan terlalu cepat sering kali menjadi kelemahan yang paling mahal — secara tidak langsung sudah sepakat bahwa kekuatan itu adalah kartu terakhir.
Bukan kartu pertama.
Rio menghargai itu lebih dari yang ia ungkapkan.
---
"Ada satu hal yang perlu saya sampaikan," kata Rio ketika percakapan mulai menemukan titik jeda alaminya.
Ketiga orang itu menoleh.
"Hana sudah tahu saya kembali ke kota." Rio menatap ketiganya bergantian. "Atau setidaknya timnya sudah mulai mempersempit radius. Raymond bilang aktivitas sensor meningkat."
"Iya," Raymond mengkonfirmasi.
"Artinya waktu kita tidak sebanyak yang mungkin kita pikir." Rio menatap lantai sebentar sebelum kembali mengangkat matanya. "Dan ada satu variabel lain yang belum kita bahas."
"Apa?" tanya Arinda.
"Kevin."
---
Nama itu mendarat di ruangan dengan cara yang berbeda untuk masing-masing orang.
Raymond — ekspresinya bergerak sangat halus di sudut rahangnya dengan cara yang sama seperti saat Adrian bilang tentang serigala kemarin malam.
Adrian — menatap Rio dengan ekspresi yang membaca sesuatu.
Arinda — mengerutkan dahi tipis. "Anak Raymond?"
"Anak saya," Raymond mengkonfirmasi dengan nada yang tidak meminta diskusi lebih lanjut tentang topik itu malam ini.
Rio tidak mendorong lebih jauh.
Kevin adalah variabel yang perlu dikelola tapi bukan malam ini. Tidak di ruangan yang sudah penuh dengan hal-hal yang lebih mendesak dan tidak dengan empat orang yang masing-masing sudah cukup kelelahan untuk hari ini.
"Besok," kata Rio.
Raymond mengangguk.
---
Pukul sebelas malam Arinda berdiri, mengambil jaketnya.
Di ambang pintu ia berhenti, menoleh ke arah Adrian yang masih di tepi kasur.
"Adrian."
Adrian menatapnya.
"Jangan menghilang lagi," kata Arinda. Dua belas tahun investigasi, tiga tahun kumpulkan bukti sendirian, dan satu malam reuni yang tidak direncanakan — semuanya ada di dalam dua kata itu tapi tidak satupun yang perlu disebutkan secara eksplisit karena eksplisit sering kali merusak hal-hal yang sudah cukup jelas.
Adrian menatapnya beberapa detik.
"Tidak ada rencana untuk itu," jawabnya.
Arinda mengangguk sekali. Keluar. Pintu menutup dengan suara yang sama seperti selalu — sedikit lebih keras dari yang seharusnya karena engselnya sudah lama perlu pelumas.
Raymond menyusul tidak lama setelah itu, dengan jabat tangan singkat ke Adrian dan satu tatapan ke Rio yang mengandung *besok kita lanjutkan* tanpa perlu diucapkan.
---
Kamar kontrakan kembali ke isinya yang biasa — satu manusia, satu kera yang tidur, satu serigala yang pura-pura tidur, satu laba-laba yang tidak tidur, dan sekarang satu tambahan yang duduk di tepi kasur dengan lutut yang tidak bagus dan rambut hitam bercampur abu-abu yang belum pernah dipotong oleh siapapun yang peduli pada hasilnya.
Rio mematikan lampu.
Berbaring di kasur — Adrian di sisi kanan yang sudah mereka bagi secara tidak resmi sejak malam di ruangan batu, dengan cara dua orang yang tidak pernah mendiskusikan pembagian ruang tapi entah bagaimana menemukan jarak yang tepat tanpa harus mengukurnya.
Keheningan malam yang sudah familiar.
"Rio," kata Adrian pelan di kegelapan.
"Iya."
"Terima kasih sudah menemukanku."
Rio menatap langit-langit yang tidak bisa ia lihat tapi sudah hafal setiap retakannya.
"Pak Darmawan yang simpan koordinatnya," jawab Rio.
"Bukan itu yang kumaksud."
---
Rio tidak menjawab itu.
Tidak karena tidak punya jawaban.
Tapi karena ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan mengambang di kegelapan tanpa diberi bentuk yang terlalu rapi — dibiarkan ada dengan cara hal-hal yang paling nyata selalu ada, tanpa butuh diucapkan untuk menjadi benar.
Panel sistem menyala satu kali di sudut penglihatan Rio yang tertutup kelopak mata.
---
[Squad: 3/5]
[Aliansi Manusia: Terbentuk]
[Fase Berikutnya: Bergerak]
Rio bangun dan menemukan Adrian sudah di dapur mencoba merebus air dengan kompor satu tungku yang caranya berbeda dari kompor yang ia ingat tiga belas tahun lalu. Dan Wukong duduk di sampingnya menonton dengan ekspresi hakim yang sedang menilai penampilan peserta kompetisi memasak.
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣