Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sore itu pekerjaan Mira di kediaman keluarga Sia baru selesai ketika langit sudah mulai gelap.
Seluruh pelayan telah pulang sehingga yang tersisa hanyalah Mira dan Seina. Gadis kecil itu duduk di sudut halaman sambil mengusap matanya yang mulai mengantuk.
Melihat putrinya kelelahan, hati Mira terasa perih. Ia berjongkok di hadapan Seina, "Nak, lapar ya? Ayo kita pulang. Ibu akan memasakkan makan malam."
"Baik, Bu."
Namun saat hendak berdiri, tubuh Mira mendadak limbung. Pinggangnya terasa nyeri luar biasa. Kakinya gemetar hebat hingga ia kembali berlutut dengan satu tangan menopang tanah.
"Ibu!" Seina langsung memeluk lengannya.
"Ibu kenapa?"
Mira memaksakan senyum. "Ibu tidak apa-apa... cuma sedikit lelah."
Padahal rasa sakit di pinggangnya seperti hendak mematahkan tubuhnya menjadi dua. Dalam hati ia sudah mengambil keputusan.
Tiga hari lagi, setelah menerima upah bulan ini, ia akan berhenti bekerja di keluarga Hartono dan mencari pekerjaan lain.
Di depan gerbang kediaman keluarga Sia. Kelima putra keluarga Pratama berdiri dengan wajah penuh kecemasan.
Hari sudah hampir malam. Namun ibu dan adik perempuan mereka belum juga pulang. Tanpa banyak bicara, mereka memutuskan datang menjemput.
Baru beberapa langkah mendekati gerbang, seorang penjaga segera menghalangi jalan mereka.
"Hei!"
"Mau ke mana kalian?"
"Ini kediaman keluarga Sia. Tidak sembarang orang boleh masuk."
Raka maju selangkah sambil tersenyum sopan.
"Paman, ibu kami bekerja di rumah ini."
"Sudah malam, tetapi beliau belum juga pulang."
"Kami hanya datang untuk memastikan beliau baik-baik saja."
Penjaga itu mengerutkan kening. "Ibumu siapa?"
"Ibu kami bernama Mira, beliau bekerja sebagai pelayan di kediaman ini."
Jumlah pelayan di rumah itu tidak banyak. Begitu mendengar penjelasan, penjaga pintu langsung mengenali nama itu.
"Maksudmu Ibu yang dulu membawa seorang gadis kecil bersamanya?"
"Benar. Gadis itu adalah adik perempuanku."
Melihat mereka benar-benar anak kandung Ibu Mira, sikap penjaga pintu seketika berubah. Ia segera berteriak pada rekannya yang ada di dalam, "Kau melihat Ibu Mira keluar?"
"Belum sama sekali!"
"Aturan keluarga Sia melarang sembarang orang masuk. Bagaimana kalau kalian tunggu sebentar di sini? Pasti sebentar lagi Ibu Mira pulang."
Penjaga yang lain menimpali: "Entah kenapa belakangan ini Ibu Mira selalu menjadi orang terakhir yang pulang."
Mendengar itu, hati mereka mencelos. Ia tahu persis betapa beratnya beban yang dipikul ibunya.
Di kejauhan, Ibu Mira berjalan tertatih mendekat. Tubuhnya terlihat jauh lebih lemah dari biasanya, bahkan nyaris tak sanggup berdiri tegak. Kelima anaknya segera berlari menghampiri dan memapah tubuh itu.
"Bu, biar Kakak gendong pulang!"
"Biarkan aku juga!"
Mereka berebut ingin memikul beban sang ibu.
"Bu belum tua begini," kata Mira pelan. "Bu hanya kelelahan. Biar Kakak Sulung dan Kakak Kedua saja yang bergantian menggendong."
Malam sudah larut dan tak ada kereta yang lewat. Akhirnya Ibu Mira mengalah, membiarkan Raka dan Damar memikulnya bergantian sepanjang jalan pulang.
Seharian penuh, Ibu Mira membersihkan seluruh kamar mandi, mengelap meja-meja besar, mencuci pakaian seluruh tuan rumah, hingga sepatu dan baju para pelayan lain. Di sampingnya selalu berdiri pengawas yang galak, sekilas saja ia berhenti atau bergerak lambat, makian dan cambuk siap menghujani punggungnya.
Tak berani sedikit pun ia beristirahat. Berhari-hari bekerja tanpa henti membuat pinggangnya kini nyeri luar biasa hingga tak bisa diluruskan.
Sementara itu, Yohan pulang ke rumah yang sudah lengang. Makanan sudah tersaji rapi, namun tak ada satu pun anggota keluarganya.
Bukankah seharusnya istri dan anak-anak sudah lama di rumah? Ke mana mereka pergi?
Baru saja ia hendak mencarinya, ia melihat kelima putranya berjalan beriringan, dengan Mira terbaring lemah di punggung salah satu dari mereka. Sekilas melihat wajah istrinya, Yohan langsung paham apa yang terjadi.
Ia membaringkan Mira perlahan. Saat tangannya menyentuh pinggang wanita itu, jeritan kesakitan terdengar tak tertahankan.
"Cedera pinggang," ucapnya pelan dengan mata berkaca. "Raka, pergilah cari Tabib di ujung barat desa."
"Biar aku saja yang pergi," potong Niko.
"Kalian berdua sudah lelah memapah Ibu. Biar aku yang berangkat," kata Niko.
Raka mengangguk, menyerahkan keping perak kepada putra ketiganya yang segera berlari menembus gelap malam.
Menatap wajah pucat istrinya, Yohan bergumam pilu, "Jangan pernah kau kembali bekerja di sana. Sekali lagi aku akan bekerja lebih giat di bengkel, asal kau tak perlu menderita begini."
"Tidak," tolak Mira lemah namun tegas. "Meski berhenti dari sana, aku akan cari pekerjaan lain. Aku tak sanggup melihat kau memikul semuanya sendirian."
Mendengar itu, rasa bersalah menyergap hati Yohan. Ia merasa tak berguna, tak mampu memberi kehidupan layak bagi wanita yang dicintainya.
cerita nya juga seru