Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12 Bertemu Cinta Pertama
Di dalam kamar, Firman duduk termenung di tepi ranjang. Kemeja kerjanya sudah kusut masai, dasinya dilonggarkan secara asal, dan kedua tangannya menopang kepala yang terasa mau pecah.
Beban kebangkrutan yang datang tiba-tiba benar-benar menghancurkan kewarasannya.
Kania melangkah pelan menghampiri suaminya. Mengabaikan rasa nyeri di pergelangan kakinya, wanita itu berlutut di lantai, menyejajarkan wajahnya dengan lutut Firman. Tangan Kania yang sedikit kasar karena pekerjaan rumah terulur, mengusap punggung tangan suaminya dengan penuh kelembutan.
"Mas, sabar ya. Masalah ini pasti ada jalan keluarnya. Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya," ucap Kania lirih, berusaha menyalurkan ketenangan meski hatinya sendiri ikut hancur.
Firman menghela napas panjang, sangat berat hingga terdengar seperti rintihan. Ia mengangkat wajahnya yang lelah, lalu menatap Kania dengan sebersit harapan yang tiba-tiba menyala di matanya.
Pria itu buru-buru meraih kedua bahu istrinya.
"Nia, kamu pasti punya tabungan, kan?" tanya Firman dengan nada mendesak. "Aku butuh suntikan dana, Nia. Tidak perlu sampai miliaran, cukup untuk membayar denda keterlambatan supplier utama agar mereka mau membuka blokir bahan baku kita. Sisa uang bulanan yang selalu aku transfer ke kamu selama satu tahun kita menikah... kamu simpan dengan baik, kan?"
Jantung Kania seakan berhenti berdetak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Matanya membulat menatap raut penuh harap di wajah suaminya.
"Ya Allah... tabungan dari mana?" jerit batin Kania.
Selama ini, Firman memang selalu mentransfer uang belanja sebesar dua puluh juta rupiah setiap bulannya. Namun, Firman tidak pernah tahu bahwa setiap awal bulan, Tuti selalu meminta paksa kartu ATM Kania.
Ibu mertuanya itu mengklaim bahwa menantu cacat seperti Kania tidak pantas dan tidak becus memegang uang besar.
Tuti merampas semuanya, dan hanya menyisakan uang pas-pasan yang bahkan sering kali kurang untuk membeli bahan makanan sehari-hari.
Melihat Kania hanya diam mematung, raut wajah Firman perlahan berubah. Harapannya menyusut, digantikan oleh kerutan tajam di dahi.
"Nia? Kenapa diam? Kamu punya tabungannya, kan? Sedikit saja, Nia. Ratusan juta? Atau lima puluh juta saja ada, kan?" desak Firman.
Dengan mata berkaca-kaca, Kania menunduk dalam. Ia menggelengkan kepalanya pelan, sangat pelan hingga nyaris tak terlihat.
"Maaf, Mas... aku... aku tidak punya tabungan sepeser pun."
Bagai disambar petir di siang bolong, Firman melepaskan cengkeramannya dari bahu Kania.
Tubuhnya bersandar kaku pada kepala ranjang. Ia menatap istrinya dengan tatapan tak percaya yang perlahan berubah menjadi kekecewaan luar biasa.
"Nggak punya? Sama sekali?" desis Firman. Tawanya sumbang terdengar, getir dan menyakitkan.
"Dua puluh juta sebulan, Kania! Satu tahun kita menikah! Buat makan kita sehari-hari tidak mungkin habis lebih dari lima juta! Lalu ke mana larinya sisa uang itu?! Kamu buang ke mana uang keringatku?!"
"Mas, uangnya habis untuk kebutuhan rumah. Ada banyak pengeluaran yang—"
"Bohong!" bentak Firman, membuat Kania tersentak dan terisak.
Firman menatap tajam wanita di depannya. Pikirannya yang sedang kalut dan stres berat membuatnya kehilangan logika.
Kata-kata ibunya di meja makan tadi kembali terngiang, meracuni otaknya.
"Jangan-jangan apa yang mama bilang di bawah tadi benar? Kamu diam-diam menguras uangku dan mengirimkan semuanya untuk keluargamu?! Iya?!" tuduh Firman dengan suara tertahan namun penuh penekanan.
"Sumpah demi Allah, tidak, Mas!" tangis Kania pecah. Ia meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat meski Firman berusaha menariknya. "Aku tidak pernah mengambil uang Mas Firman untuk keluarga tanpa izin! Mas harus percaya padaku!"
"Lalu ke mana uangnya, Kania?!" bentak Firman lagi dengan mata memerah. "Istri macam apa kamu ini? Di saat suami sedang hancur, sedang butuh bantuan, kamu bahkan tidak punya simpanan serupiah pun! Istri lain pasti sudah menyiapkan dana darurat untuk keluarganya!"
Kania menangis tersedu-sedu. Ia ingin sekali berteriak bahwa ibunyalah yang merampas semuanya demi gaya hidup sosialita dan tas-tas branded, namun ancaman Tuti selalu membayangi kepalanya.
Kania tak ingin membuat hubungan Firman dan ibunya hancur di saat seperti ini.
"Mas, maafkan aku. Aku tahu aku salah karena tidak bisa menyimpan uang," isak Kania, menelan semua fitnah itu sendirian demi keutuhan keluarga.
"Tapi aku janji, Mas. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Aku bisa berjualan kue keliling lagi, aku bisa mencari pekerjaan, aku rela mencuci dan menggosok baju orang! Aku akan bantu Mas Firman mengumpulkan uang lagi dari nol! Aku janji!"
Alih-alih tersentuh, tatapan Firman justru semakin dingin. Ia menatap kaki Kania, lalu menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata dengan sorot meremehkan.
"Jualan kue? Cuci gosok?" ulang Firman dengan senyum miris. "Utang perusahaanku miliaran, Kania. Uang receh dari jualan kuemu itu bahkan tidak akan cukup untuk membayar tagihan listrik pabrik."
Firman menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Kania, lalu membalikkan badannya membelakangi sang istri.
"Mungkin benar kata Mama. Menikah denganmu adalah keputusan paling gegabah dalam hidupku. Kalau saja istriku berasal dari keluarga yang sederajat, aku pasti tidak akan sendirian menanggung kehancuran ini," gumam Firman dingin, mengusir Kania secara halus dari pandangannya.
Kata-kata itu meluncur begitu saja, sukses merobek hati Kania hingga tak bersisa.
Ia menatap punggung suaminya dengan pandangan nanar, menyadari bahwa kini, bukan hanya harta mereka yang hancur, tetapi juga kepercayaan dan cinta Firman padanya.
Melihat Firman menyambar jaket dan kunci mobilnya dengan wajah ditekuk, Kania buru-buru menyusul dan memberanikan diri menahan lengan suaminya.
"Mas, kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Kania cemas.
Firman menepis tangan istrinya dengan kasar. Ia menatap Kania dengan kilat emosi dan rasa muak yang tak lagi ditutupi.
"Keluar cari angin! Sumpek aku terus-terusan di rumah ini!" seru Firman dingin.
Brak!
Firman melangkah keluar dan membanting pintu kamar dengan sangat keras, meninggalkan Kania yang kembali luruh ke lantai dan menangis dalam diam.
***
Dentuman musik dj yang memekakkan telinga dan sorot lampu disko menyambut langkah Firman di kelab malam itu. Kepalanya terlalu penat.
Kebangkrutan perusahaan dan pertengkaran di rumah membuatnya nyaris gila.
Setelah sekian lama absen dari dunia malam semenjak menikah, malam ini Firman terpaksa kembali ke tempat ini untuk menenangkan pikirannya yang kalut.
Baru saja ia hendak menghampiri meja teman-temannya, langkah Firman mendadak kaku. Pandangannya terpaku pada sesosok wanita bergaun hitam elegan yang tengah duduk mengaduk koktail di depan meja bar.
Wanita dengan senyum manis dan tahi lalat di sudut bibir itu... tak mungkin salah.
"Mawar?" gumam Firman nyaris tak terdengar.
Merasa diperhatikan, wanita itu menoleh. Matanya membulat terkejut, namun sedetik kemudian senyum menawan merekah di bibirnya.
"Eh? Mas Firman?" sapa Mawar bangkit dari kursi barnya. Ia melangkah mendekat dengan wangi parfum elegan yang langsung menusuk indra penciuman Firman. "Astaga, Mas! Kok ada di sini? Ya ampun, kemana saja sih? Lama banget lho kita nggak ketemu!"
Jantung Firman berdesir hebat. Menatap wanita masa lalunya berdiri tepat di depannya dengan senyum yang sama seperti dulu, entah kenapa beban di pundak Firman seolah menguap sejenak.
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
sebenarnya itu bukan dosa
hanya ujian😁
ternyata dia dari anak pengusaha
ish ish kelakuannya berbanding terbalik sama kakaknya
huh dasar pelakor