Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: HUKUMAN KAKI EMPAT: TRAGEDI SNACK DI ATAS KARPET SUCI
Malam itu, suasana di ruang keluarga rumah mewah Aris seharusnya hening dan khusyuk. Biasanya, pada jam segini, Aris sedang membaca kitab kuning ditemani teh hangat, sementara Faris sedang mengkalibrasi robot pelayannya atau berdiskusi dengan Zahra tentang teori relativitas umum.
Namun, malam ini berbeda. Malam ini adalah Final Liga Champions Dunia Versi Hologram.
Tim kesayangan mereka (sebuah tim underdog dari Indonesia yang tiba-tiba masuk final berkat algoritma prediksi Faris) sedang bertanding sengit melawan raksasa Eropa.
"AYOOO! MASUKIN! MASUKIN BOLANYA!" teriak Faris, lupa total bahwa ia adalah seorang profesor jenius berkarakter tenang. Ia melompat-lompat di atas sofa mahal berbahan sutra Italia, tangannya mengepal-ngepal ke udara.
"DIA ADA DI SAYAP KIRI! CROSSING! CROSSING, BODOH!" sahut Aris, yang biasanya paling sabar dan berwibawa, kini berdiri di atas kursi tamu, wajahnya merah padam, sorbannya hampir lepas karena gerakan kepalanya yang terlalu agresif.
Di atas meja kopi kaca di depan mereka, tersaji pesta makanan ringan (snack) yang luar biasa banyaknya:
Keripik singkong balado level pedas maut
Popcorn rasa keju lumer.Kacang atom goreng.Dan yang paling berbahaya: Saus sambal botolan ukuran jumbo yang tutupnya sudah longgar.
"GOLLL!!! GOLLL!!! ALHAMDULILLAH!" teriak mereka berdua serempak saat bola masuk gawang.
Euforia mencapai puncak. Faris begitu girangnya hingga ia melakukan gerakan "Guling Depan" ala pesenam olimpiade di atas sofa.
"Aku terbang! Aku merasa seperti Einstein yang baru menemukan energi kinetik!" teriaknya sambil berguling.
Sialnya, siku Faris yang tajam dan tidak terkontrol menyenggol mangkuk besar berisi keripik singkong.
PRANG! Mangkuk terlempar. Isinya berhamburan seperti hujan meteor ke segala arah.
"WADUH!" seru Aris panik melihat bencana itu. Ia berusaha menangkap mangkuk popcorn yang ikut terguncang. "Tahan, Nak! Jangan tumpah di karpet Persia itu! Itu warisan nenek moyang!"
Tapi hukum gravitasi Newton tidak bisa dibohongi, bahkan oleh dua orang jenius sekalipun.
Saat Aris melompat untuk menyelamatkan popcorn, kakinya tersandung kabel hologram. Ia jatuh terhuyung-huyung ke belakang, menabrak meja kopi.
BLARRR!
Botol saus sambal jumbo terguling, tutupnya lepas, dan isinya menyemprot deras seperti gunung berapi meletus, mengenai wajah Aris, baju koko Faris, dan yang paling parah: Karpet suci berwarna putih krem yang baru saja dicuci Rina pagi tadi dengan air mawar
Keripik, popcorn, kacang, dan saus merah menyala kini menghiasi karpet putih itu seperti lukisan abstrak yang sangat... menjijikkan. Lantai marmer di sekitarnya juga berlumuran minyak dan remah-remah tajam.
Hening.
Suara sorak sorai pertandingan masih terdengar dari hologram, tapi Aris dan Faris membeku. Mereka saling menatap. Wajah Aris penuh saus sambal. Baju Faris penuh remah keripik yang menempel karena kena saus.
"Faris..." bisik Aris pelan, suaranya gemetar
"Iya, Kak?" jawab Faris, wajahnya pucat pasi
"Apa yang baru saja kita lakukan?"
"Kita... kita menciptakan entropi maksimal di ruang tertutup," jawab Faris logis, tapi matanya sudah menyiratkan ketakutan tingkat dewa.
"Karpet... karpet kesayangan Tante Rina. Yang katanya kalau ada noda sedikit saja, dia akan mengirim kita ke dimensi lain," lanjut Faris, mulai berkeringat dingin.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari tangga. Bukan langkah biasa. Ini adalah langkah berat, lambat, dan penuh tekanan atmosfer.
Rina muncul di ambang pintu ruang keluarga, diikuti oleh Zahra (istri Faris) yang membawa keranjang cucian.
Mata Rina menyapu ruangan.
Dari karpet putih yang kini menjadi merah berlumur minyak dan remah snack.
Ke Aris yang wajahnya belepotan saus.
Ke Faris yang bajunya hancur lebur.
Lalu ke TV hologram yang masih menayangkan ulang gol dengan suara komentator yang berteriak riang.
Wajah Rina tidak marah. Dia justru tersenyum. Senyum tipis yang sangat menakutkan. Senyum yang lebih dingin dari es kutub utara.
"Assalamu'alaikum, Suamiku sayang. Assalamu'alaikum, Adik Iparku yang jenius," sapa Rina lembut, terlalu lembut.
"Wa... wa'alaikumussalam, Sayang," jawab Aris gagap, mencoba menghapus saus di wajahnya dengan tangan yang malah membuatnya makin berantakan. "Kami... kami sedang... riset tentang dampak visual warna merah terhadap adrenalin penonton sepak bola..."
"Riset?" potong Zahra, menahan tawa tapi matanya sudah melihat tanda bahaya. "Risetsampai nge-guling di sofa? Sampai menuangkan satu botol saus ke karpet baru Ibu?"
Faris menunduk dalam-dalam. "Maafkan saya, Bibi Zahra. Saya khilaf. Energi kinetik tubuh saya saat merayakan gol melebihi perkiraan kalkulasi..."
"Cukup," kata Rina singkat. Ia meletakkan keranjang cucian. "Kalian tahu aturannya. Rumah ini adalah tempat ibadah, tempat belajar, dan tempat yang harus dijaga kebersihannya. Kalian mengubahnya menjadi arena sirkus dan tempat makan bayi beruang."
Rina menunjuk ke karpet yang hancur itu.
"Lihat ini. Karpet ini butuh 3 hari untuk dikeringkan. Sekarang? Hancur dalam 3 detik karena keserakahan kalian menonton bola dan makan snack."
"Kami minta maaf, Bu," kata Aris dan Faris serempak, berlutut di atas lantai marmer (menghindari karpet yang kotor).
"Maaf saja tidak cukup," tegas Rina. Matanya berkilat. "Kalian dewasa. Kalian pemimpin umat. Tapi kelakuan kalian seperti anak TK yang lepas pengawasan. Maka, hukumannya harus setimpal. Harus mendidik."
Rina mengambil dua sapu lidi dari sudut ruangan (senjata andalannya). Ia melemparkan satu ke Aris, satu ke Faris.
"Hukuman kalian mulai sekarang," dekrit Rina. "Kalian berdua tidak boleh berdiri. Kalian harus membersihkan seluruh kekacauan ini... dengan merangkak."
"Merangkak?" tanya Faris syok.
"Ya, merangkak! Seperti bayi! Atau seperti kura-kura!" perintah Rina tegas. "Tangan kalian memegang sikat gigi bekas (yang khusus untuk lantai), dan kalian harus menyikat setiap noda saus, setiap remah keripik yang terjepit di sela-sela serat karpet, sambil merangkak mengelilingi ruangan ini sebanyak 10 putaran!"
"Dan," tambah Zahra sambil tersenyum gisulnya yang nakal, "Sambil merangkak, kalian harus membaca istighfar 100 kali, plus menjelaskan rumus fisika tentang 'Mengapa Snack Tidak Boleh Jatuh ke Karpet' dengan nada bernyanyi!"
Aris dan Faris saling pandang. Wajah mereka memerah karena malu. Dua tokoh paling dihormati di Gang Tebet, dua jenius sains dan agama, akan merangkak di lantai sambil menyikat karpet?
"Tapi... Sayang..." coba Aris membela diri. "Apa kata warga jika mereka lihat?"
"Warga tidak akan lihat, karena pintu sudah saya kunci dari dalam," jawab Rina dingin. "Tapi kalau kalian menolak, besok saya akan pasang CCTV live streaming di halaman rumah yang menampilkan rekaman kejadian ini, dengan judul: 'Ustadz Aris dan Profesor Faris: Ahli Fisika yang Kalah Melawan Gravitasi Snack'. Mau?"
"TIDAK!" teriak mereka berdua horor.
"Kalau begitu, MULAI!" perintah Rina.
Maka, dimulailah adegan paling kocak dan memalukan dalam sejarah keluarga besar itu.
Aris dan Faris, dengan pakaian kotor dan wajah belepotan saus, terpaksa merangkak di lantai.
Sret... sret... sret...
Mereka menyikat karpet dengan sikat gigi kecil, bergerak lambat seperti kura-kura lumpuh.
"Astaghfirullahal 'adzim... Astaghfirullahal 'adzim..." mereka membaca istighfar dengan suara parau.
Lalu, sesuai hukuman tambahan dari Zahra, Faris tiba-tiba bernyanyi dengan nada dangdut koplo sambil terus merangkak:
🎵 "Jatuh keripik di karpet putih... Hukum Newton berlaku pasti... Kalau nggak hati-hati... Istri marah sampai mati... Astaghfirullah... Maafkan aku sayang..." 🎵
Aris yang mendengar itu hampir tertawa tapi ditahan, akhirnya ikut bernyanyi dengan nada opera yang fals:
🎵 "Saus tomat mengalir deras... Entropi meningkat pesat... Membersihkan dosa masa lalu... Dengan sikat gigi yang lusuh... Ya Allah ampuni kami... Karena bodohnya kami..." 🎵
Rina dan Zahra duduk di sofa yang selamat, menikmati popcorn (yang masih bersih di mangkuk terpisah) sambil menonton "pertunjukan" itu.
"Gila, Mas," bisik Zahra pada Rina sambil tertawa terbahak-bahak sampai giginya yang gisul terlihat jelas. "Suami kamu nyanyi opera fals banget! Suamiku juga nggak kalah aneh, nadanya dangdut tapi liriknya fisika kuantum!"
Rina menutup mulutnya, bahunya berguncang menahan tawa. "Sudahlah, biarkan saja. Biar mereka sadar, bahwa setinggi apapun jabatan dan kepintaran mereka, di rumah, mereka tetap suami yang harus nurut sama istri. Lagipula... lucu sekali lihat mereka merangkak gitu. Kayak dua beruang kutub yang kehilangan es."
Setelah 30 menit menyiksa (dan membersihkan), akhirnya karpet itu bersih kembali. Meskipun agak lembap dan bau cuka pembersih.
Aris dan Faris terkapar lelah di lantai, napas ngos-ngosan, keringat bercampur sisa saus
"Saya... kapok..." gasp Aris. "Nonton bola... nanti... di stadion saja..."
"Setuju..." sahut Faris lemas. "Snack... akan saya makan... di atas piring... yang dipegang erat..."
Rina turun dari sofa, mendekati mereka. Wajahnya kini sudah lunak, bahkan tersenyum kasih sayang. Ia mengelus kepala Aris yang berkeringat.
"Sudah ya, Mas. Anggap ini latihan fisik sekaligus tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Lain kali, kalau mau nonton bola, pakai alas makan. Jangan jadiin rumah sebagai stadion."
"Iya, Sayang. Kami janji," jawab Aris tulus.
"Dan kamu, Faris," sahut Zahra sambil membantu suaminya bangun. "Besok kita latihan yoga biar koordinasi tubuhmu lebih baik. Jangan sampai guling-guling lagi kayak tadi."
"Siap, Istriku," jawab Faris pasrah.
Malam itu, Gang Tebet tidur dengan damai. Tidak ada yang tahu bahwa di balik dinding rumah mewah itu, dua pemimpin hebat mereka baru saja menjalani hukuman merangkak sambil bernyanyi opera-dangdut karena kesalahan fatal menjatuhkan snack.
Dan pelajaran berharga didapat: Tidak ada teknologi canggih atau kepintaran tinggi yang bisa mengalahkan kekuatan seorang ibu/istri yang sedang menjaga kebersihan rumahnya.
Esok paginya, berita beredar cepat (mungkin bocor dari robot pelayan yang merekam diam-diam):
"Heboh! Ustadz Aris dan Prof Faris Ditemukan Merangkak di Ruang Tamu! Apakah Ini Ritual Baru Penyucian Diri?"
Warga hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Mereka memang unik. Jenius di luar, tapi tetap manusia biasa yang bisa kena batasan domestik di dalam," kata Pak RT sambil minum kopi.
Dan bagi Aris serta Faris? Mereka kapok. Mulai hari ini, aturan baru diberlakukan: Dilarang makan snack di ruang keluarga saat nonton bola, kecuali menggunakan helm pelindung wajah dan celemek anti-tumpah.
Bersambung...