Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 MASA LALU LYTIA
Malam semakin larut, namun api unggun kecil di depan Zeta masih setia menemaninya menjaga keheningan Lembah Nox. Lytia masih terlelap, kepalanya bersandar nyaman di bahu Zeta. Di tengah kesunyian itu, sebuah langkah kaki yang berat namun teratur mendekat.
"Halo, Zeta..." Sebuah suara berat menyapa.
"Waaaa! Aduh!" Zeta tersentak kaget, hampir saja melompat jika ia tidak ingat ada Lytia di bahunya. "Laksamana Airon! Kau mengagetkanku setengah mati!"
Airon terkekeh rendah, berusaha tidak membangunkan prajurit lain. "Hahaha! Kau kira musuh, ya? Waspada Mu boleh juga, tapi jantungmu sepertinya perlu dilatih lagi."
"Tentu saja aku kaget. Suasana disini sangat sunyi," balas Zeta sambil mengelus dadanya.
Airon melirik ke arah bahu Zeta dan tersenyum penuh arti. "Sebentar lagi giliranku yang berjaga. Kau tidurlah, Zeta. Tapi sepertinya... ada yang sudah tidur lebih dulu nih."
Zeta melirik Lytia yang masih memejamkan mata. "Ah, ini... dia sepertinya benar-benar kelelahan. Aku tidak tega membangunkannya."
"Lytia... dia sepertinya sangat nyaman dan sayang padamu, ya?" goda Airon.
Wajah Zeta memanas. "Eh? Mana mungkin! Laksamana tahu sendiri kan dia selalu galak dan cerewet padaku? Dia ini singa betina dalam wujud Iblis."
"Tapi buktinya dia memilih tidur di pundakmu, bukan di batang pohon itu," sahut Airon tenang.
"Mungkin karena dia sudah tidak kuat menahan kantuknya saja," bantah Zeta, meski hatinya sedikit ragu.
Airon menghela napas, tatapannya menerawang ke arah api. "Kau tahu, Zeta? Zeka Adalah orang paling berharga buat nya dan dia sangat mencintai Zeka begitu sebaliknya. Mereka teman masa kecil, bahkan sudah seperti sepasang kekasih. Zeka tidak punya kekuatan sihir yang hebat, tapi dia sangat pintar, mirip sepertimu."
“Zeka bukannya dia mata mata Hebat Beltrum itu yah yang diceritakan oleh Putri Stella” balas Zeta
“Benar sekali zeta” ucap Laksamana Airon
Zeta tertegun. Ia menatap wajah Lytia yang tenang dalam tidurnya dengan tatapan haru.
"Saat pasukan Zetobia menyerang Lembah Nox beberapa bulan lalu," lanjut Airon dengan nada berat, "Lytia dan Zeka memimpin garis depan. Zeka mengorbankan nyawanya demi melindungi Lytia dari serangan Airi Yang Termasuk ksatria suci Zetobia. Kejadian itu menghancurkan Lytia. Kekuatannya menurun, dia kehilangan banyak teman, dan dia mengurung diri dalam kesedihan yang dalam dia masih gak bisa menerima itu semua di tambah lagi yang membunuh Zeka adalah teman masa kecilnya"
Zeta terdiam. Sekarang ia paham mengapa Lytia begitu keras padanya.
"Putri Stella-lah yang membantunya bangkit. Sejak saat itu, Lytia bertekad menjadi perisai bagi kerajaan ini. Tapi sejak kau datang, aku melihat Lytia yang lama kembali. Dia menjadi cerewet lagi, lebih ekspresif... sepertinya dia melihat sosok Zeka di dalam dirimu."
Zeta menunduk. "Mirip? Hahaha enggak lah, Laksamana. Aku manusia, bukan iblis ujar Zeta sambil terkekeh.. Tapi... jika dia benar-benar punya perasaan padaku, itu tidak boleh terjadi."
Airon menaikkan alisnya. "Kenapa, Zeta? Dia cantik, bukan? Bahkan tidak kalah dengan Putri Stella."
"Bukan masalah cantik atau tidak. Aku tahu dia sangat imut saat tidak marah-marah," jawab Zeta jujur. "Tapi aku bukan dari dunia ini, Laksamana. Begitu perdamaian tercipta dan tugasku selesai, aku akan kembali ke dunia asalku. Menaruh perasaan padaku hanya akan memberinya trauma baru saat aku pergi nanti."
Tanpa Zeta sadari, di dalam tenda yang tak jauh dari sana, Stella yang masih menghirup udara segar di dalam tenda dia mendengar percakapan itu. Di bahu Zeta, kelopak mata Lytia sedikit bergetar. Ia sebenarnya sudah terbangun sejak tadi, namun memilih tetap memejamkan mata untuk mendengarkan.
Hati Stella mencelos. 'Benar... aku hampir lupa kalau dia tidak selamanya di sini,' batin sang Putri dengan rasa sesak yang tiba-tiba muncul.
Sementara itu, Lytia berjuang keras menahan air mata yang mendesak keluar. 'Oyaa benar juga dia akan kembali ke dunia asalnya, Zeta... aku lupa kalau kau bukan dari dunia kami. Tapi, bisakah aku memintamu tinggal lebih lama?' Batin Lytia
Tiba-tiba, semburat cahaya oranye muncul di ufuk timur.
"EHHHHHHHH?! Sudah mau pagi?!" teriak Zeta tertahan saat melihat matahari mulai mengintip. "Laksamana! Bagaimana aku bisa tidur kalau sudah fajar begini?"
Airon menepuk jidatnya. "Aduh, maaf Zeta! Kita keasyikan mengobrol sampai lupa waktu!"
Lytia pura-pura menggeliat dan bangun dari bahu Zeta, diikuti oleh prajurit lain yang mulai bersiap.
"Tidak apa-apa, Laksamana," ujar Zeta sambil berdiri dan meregangkan ototnya yang kaku. "Aku sudah biasa begini. Di duniaku, begadang adalah makanan sehari-hari."
Sementara kehangatan menyelimuti api unggun di Lembah Nox, suasana di kamp garis depan Zetobia justru bagaikan neraka yang mencekam. Para perwira tinggi tampak mondar-mandir dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin mengucur deras di dahi komandan kamp.
"Bagaimana mungkin?! Tiga hari! Ini sudah tiga hari sejak gulungan itu hilang, dan kita harus menyerang besok pagi!" bentak sang Komandan sambil menggebrak meja pemetaan.
"Maaf, Kapten... kami sudah menyisir seluruh area hutan, tapi tidak ada jejak. Gulungan pemanggil itu seolah lenyap ditelan bumi," jawab seorang prajurit dengan suara bergetar.
Jauh dari garis depan, di dalam aula megah Kerajaan Zetobia yang didominasi warna putih dan biru kristal, suasana jauh lebih meledak-ledak. Raja Zetobia duduk di takhtanya dengan mata yang memerah karena murka.
"MANA GULUNGAN ITU?!" teriak Raja, suaranya menggelegar hingga ke langit-langit aula. "Ini sudah melewati batas waktu pemulihan! Kenapa belum sampai ke tanganku?!"
Seorang penasihat tua bersujud di lantai yang dingin. "Ampun, Yang Mulia... laporan baru saja tiba. Gulungan pemanggil ksatria dunia lain itu... telah hilang."
"APAAAAA?!" Raja berdiri dari takhtanya, menghunuskan pedang ke arah penasihatnya. "BAGAIMANA BISA?! Dan kenapa benda sepenting itu malah dibawa ke kamp tentara, bukan langsung ke istana?!"
"Maafkan kami, Yang Mulia... gulungan itu membutuhkan energi sihir murni yang sangat besar untuk membuka segelnya. Energi itu hanya tersedia di titik pusat hutan Lembah Nox. Karena itulah kami membawanya ke sana... tapi di tengah proses, sesuatu terjadi dan gulungan itu hilang tanpa jejak."
DUAAARRR!
Pintu ruang takhta yang beratnya berton-ton itu mendadak terbuka dengan hantaman keras. Aura hitam yang pekat dan mengerikan merayap masuk ke dalam ruangan, memadamkan lilin-lilin di sepanjang dinding. Tekanan sihir yang begitu berat membuat para pengawal istana jatuh berlutut, sesak napas.
Dari balik bayangan, muncullah seorang pria dengan zirah hitam legam dan jubah yang berkibar. Dialah Jenderal Tharos, sang Pedang Suci Zetobia seorang legenda hidup yang kekuatannya ditakuti oleh kawan maupun lawan.
"Sudahlah, Yang Mulia," suara Tharos terdengar dingin dan berat. "Jika gulungan pemanggil itu hilang, biarkan saja. Aku sendiri yang akan turun ke medan perang besok. Lagipula, pedangku sudah terlalu lama haus akan darah."
Raja tertegun, amarahnya sedikit mereda namun berganti keraguan. "Tharos? Kau ingin turun tangan? Bukankah itu terlalu berlebihan? Beltrum baru mengerahkan pasukan ibu kota, sedangkan kita sudah menggerakkan setengah dari kekuatan kerajaan."
Tharos menyeringai keji. "Dengan hilangnya gulungan itu, kekuatan utama kita untuk memanggil bantuan telah sirna. Ingat, Yang Mulia, Beltrum mungkin akan memanggil para ksatria dari Kota Castellan. Kita semua tahu Castellan adalah tempat lahirnya para jenius dan prajurit muda paling berbakat di kerajaan Beltrum itu. Bukankah kita tau kualitas para jenius itu mereka benar benar hebat Jika raja iblis Beltrum menggunakan prajurit dari kota Castellan mereka, pasukan biasa kita akan kalah telak."
Tharos melirik empat ksatria suci di belakangnya. "Sudah saatnya aku mengakhiri permainan ini. Empat Ksatria Suci juga sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya."
Raja Zetobia terdiam sejenak, lalu perlahan kembali duduk di takhtanya dengan senyum sinis. "Kau benar, Tharos. Habisi mereka. Kalo bisa Putri Stella juga harus tewas."
Lalu Tharos dan 4 Ksatria Suci tiba di kamp tentara dengan aura kemenangan yang sudah terasa. Di hadapan ribuan prajurit yang ketakutan, Tharos perlahan menarik pedangnya dari sarungnya.
Begitu mata pedang itu terlihat, udara di sekitarnya seolah membeku. Aura pedang itu menyala dengan cahaya ungu gelap yang mengerikan sebuah manifestasi dari sihir kegelapan murni.
"Mari kita lihat..." gumam Tharos.
Ia mengayunkan pedangnya dengan gerakan ringan ke arah sebuah bukit kecil di kejauhan.
BOOOOMMMM!
Ledakan energi kegelapan melesat secepat kilat, menghancurkan bukit itu hingga rata dengan tanah dalam satu serangan. Debu dan asap hitam membubung tinggi ke langit malam.
Para prajurit di sekitar ternganga, lalu mulai berbisik-bisik ngeri. "Benar-benar Pedang Suci... kekuatannya luar biasa..." "Musuh akan hancur dalam sekejap jika dia maju..."
Tharos menyarungkan kembali pedangnya, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat menyeramkan di tengah kegelapan.
"Hahahaha... aku sudah tidak sabar untuk menari di atas mayat mereka besok pagi."
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍