Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Arka menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sementara Lilis duduk di sampingnya sambil merapikan bantal.
"Sayang, tadi pulang sama siapa?" tanya Arka sambil menatap istrinya.
"Pulang sama Hana, Mas," jawab Lilis pelan.
Arka sedikit mengernyit, mencoba mengingat-ingat. "Emang dari dulu sama dia?"
Lilis menggeleng kecil. "Nggak, Mas. Dulu diantar jemput Ayah atau Rafka," jelas Lilis.
"Kenapa nggak bawa mobil atau motor aja?" Arka menawarkan solusi.
Lilis tersenyum canggung. "Aku nggak bisa nyetir mobil, Mas. Kalau bawa motor masih bisa, tapi kan kita nggak punya motor," akunya jujur. Memang saat ini di rumah baru mereka hanya ada mobil yang digunakan Arka untuk bekerja ke rumah sakit.
"Biar Mas minta motor yang di rumah,"
"Yang dipakai Kenan?" tanyanya memastikan, karena ia tahu adik iparnya itu sering menggunakan motor tersebut untuk keperluannya.
"Iya," jawab Arka.
"Nggak usah, Mas. Aku nggak mau. Mereka juga butuh itu. Kasihan Kenan kalau motornya diambil, nanti dia susah kalau mau pergi-pergi," tolak Lilis.
Arka menghela napas panjang, menghargai kebaikan hati istrinya yang tidak ingin merepotkan adik-adiknya. Ia mengusap jemari Lilis dengan lembut.
"Ya sudah kalau gitu. Kita nabung saja buat beli kamu mobil. Nanti kalau motor takut jatuh kamu," ucap Arka memberikan keputusan akhir.
"Aku terserah Mas saja," jawabnya patuh.
"Sudah sini tidur," ucap Arka mengkode untuk mendekat, menepuk sisi tempat tidur di sampingnya agar Lilis segera berbaring di pelukannya.
Setelah Lilis merebahkan kepala di dada Arka, suasana kamar menjadi hening. Arka mengelus rambut Lilis perlahan, lalu suaranya terdengar lebih rendah dan dalam.
"Lis, kalau nanti tiba-tiba Allah kasih kita titipan... kamu sudah siap?" tanya Arka tiba-tiba.
Lilis terdiam sejenak, ia tahu arah pembicaraan ini adalah tentang hamil dan anak. "Maksud Mas?"
"Mas sering melihat pasien di rumah sakit, melihat perjuangan seorang ibu melahirkan," Arka menjeda kalimatnya, mencium puncak kepala Lilis. "Mas ingin kita punya anak, tapi Mas nggak mau memaksamu. Mas ingin kamu benar-benar siap secara fisik dan mental. Mas ingin menjadi ayah yang selalu ada untuk kalian nanti."
Lilis mengeratkan pelukannya pada pinggang Arka. "Aku juga ingin, Mas. Menjadi ibu untuk anak-anak kita pasti luar biasa. Aku akan belajar banyak hal, apalagi aku terbiasa menghadapi anak-anak di TK setiap hari."
Arka tersenyum tipis. Ia menunduk menatap wajah istrinya yang setengah tertutup rambut.
"Mas tahu kamu pasti bisa jadi ibu yang baik," ucapnya lirih. "Justru itu yang bikin Mas kadang takut."
Lilis mengangkat wajah, menatap Arka bingung.
"Takut kenapa, Mas?"
Arka menghela napas pelan, tangannya tetap mengusap pundak istrinya. "Takut kalau nanti Mas kurang baik jadi suami... kurang siap jadi ayah. Takut kalau kesibukan Mas di rumah sakit bikin kamu merasa sendiri. Takut kalau nanti ada ujian yang datang dan Mas nggak cukup kuat jagain kalian."
Lilis terdiam beberapa saat. Baru kali itu ia mendengar Arka bicara seterbuka itu tentang ketakutannya.
"Mas..." bisiknya lembut.
"Makanya Mas ngomong sekarang," lanjut Arka.
"Dalam rumah tangga itu bukan cuma soal senang-senang. Pasti ada ujiannya. Soal ekonomi, kesehatan, salah paham, capek, bahkan hal kecil yang kalau dipendam bisa jadi besar."
Lilis mengangguk perlahan.
"Mas nggak mau kita jadi pasangan yang diam-diaman kalau ada masalah," ujar Arka tegas namun lembut. "Kalau kamu sedih, bilang. Kalau kamu kecewa sama Mas, bilang. Kalau Mas salah, tegur Mas. Jangan dipendam sendiri."
Lilis menatap suaminya lama, lalu mengangguk lagi. "Aku juga mau begitu, Mas. Kadang aku takut bicara karena nggak mau bikin Mas tambah pusing."
Arka tersenyum kecil. "Nah, itu salah. Kamu istri Mas, bukan orang lain. Pusingmu juga pusing Mas. Capekmu juga capek Mas."
"Kalau nanti kita punya anak," lanjut Arka sambil mengusap punggung istrinya.
"Mas ingin anak kita tumbuh di rumah yang penuh kasih sayang. Bukan rumah yang isinya gengsi dan saling diam."
Lilis menahan napas, mendengarkan setiap kata suaminya.
"Mas nggak butuh rumah yang sempurna," kata Arka.
"Mas cuma mau rumah yang kalau ada masalah, kita hadapi sama-sama. Kalau ada rezeki, kita syukuri sama-sama. Kalau ada sedih, kita peluk sama-sama."
Air mata Lilis jatuh tanpa suara.
"Kenapa nangis?" tanya Arka sambil tersenyum lembut.
"Aku senang, Mas," jawab Lilis jujur.
"Aku merasa diperlakukan seperti teman hidup... bukan cuma istri."
Arka mengecup keningnya lama. "Memangnya kamu pikir Mas nikahin kamu buat apa? Kamu itu partner Mas sampai tua."
Lilis tertawa kecil di sela tangisnya.
"Jadi soal anak," Arka melanjutkan dengan nada lebih ringan, "kita ikhtiar, kita doa. Kalau Allah kasih cepat, kita sambut. Kalau ditunda, kita sabar. Jangan pernah merasa kurang hanya karena belum punya anak."
Lilis mengangguk mantap. "Iya, Mas."
"Dan kalau nanti Allah kasih ujian lain," tambah Arka,
"kita jangan saling menyalahkan. Kita saling pegang tangan."
"InsyaAllah, Mas. Aku belajar jadi istri yang baik, Mas juga belajar jadi suami yang baik. Kita sama-sama belajar."
Arka tersenyum bangga. "Nah, begitu. Karena rumah tangga itu bukan cari siapa yang paling hebat... tapi siapa yang mau sama-sama bertahan."
......................
Setelah jam mengajar di TK selesai, Lilis duduk sejenak di ruang guru untuk mengambil ponselnya. Ia ingin memberi tahu suaminya bahwa ia akan mampir ke rumah orang tuanya, namun ia merasa ragu untuk menelepon karena takut Arka sedang sibuk dengan pasien atau jadwal operasi di rumah sakit.
Lilis pun memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja. Tak lama setelah pesan terkirim, ponselnya tiba-tiba bergetar. Ternyata Arka langsung meneleponnya.
"Assalamu’alaikum," suara Arka terdengar di seberang telepon.
"Wa’alaikumussalam," jawab Lilis lembut.
"Kenapa nggak nungguin Mas pulang dulu?" tanya Arka.
"Aku cuma bentar, Mas. Ngambil barang aku, ada yang ketinggalan," jelas Lilis agar suaminya tidak cemas.
"Pulang sama siapa?" selidik Arka lagi.
"Sama Ayah. Ayah sudah di depan tuh," jawab Lilis sambil melirik ke arah gerbang sekolah di mana mobil ayahnya sudah terparkir.
Mendengar Lilis bersama sang ayah, Arka merasa lebih tenang. "Ya sudah, nanti pulang dari rumah sakit Mas ke sana. Salam buat Ayah dan Mama," ucap Arka sebelum mengakhiri pembicaraan untuk kembali bertugas sebagai dokter.
"Iya, Mas. Nanti aku sampaikan," pungkas Lilis dengan senyum kecil sebelum menutup sambungan telepon dan bergegas menemui ayahnya.
Lilis baru saja hendak melangkah menuju gerbang sekolah untuk menghampiri ayahnya saat tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.
"Mau pulang, Mbak Elisa?" tanya Elham yang entah sejak kapan sudah berdiri tidak jauh dari sana.
Lilis tersentak sedikit. "Iya, Pak. Saya duluan, permisi," jawab Lilis singkat tanpa bermaksud memperpanjang percakapan. Ia segera mempercepat langkahnya menuju mobil sang ayah yang sudah menunggu.
Sedangkan pria itu hanya berdiri menatap punggung Lilis yang perlahan menjauh. Elham tampak terdiam di posisinya, memperhatikan sosok guru muda itu dengan tatapan yang sulit diartikan sampai Lilis benar-benar masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di parkiran, Lilis melihat ayahnya, Jefri, sudah menunggunya di dekat mobil. Wajah pria paruh baya itu tampak teduh menyambut putrinya yang baru saja selesai bertugas mengajar di TK.
"Sudah selesai?" tanya Jefri sambil membukakan pintu mobil untuk Lilis.
"Sudah, Yah," jawab Lilis.
Sambil menyalakan mesin mobil, Jefri memastikan satu hal penting pada putrinya yang baru saja memulai kehidupan rumah tangga tersebut. "Suamimu sudah kamu kabari kalau kamu pulang ke rumah?"
"Udah, Yah, baru aja tadi," sahut Lilis.
"Mau beli jajan ngga?" tawar Jefri sambil memperlambat laju mobilnya saat melewati deretan penjual makanan di pinggir jalan.
Lilis menoleh dengan mata berbinar, namun ada sedikit keraguan di wajahnya karena ia kini sudah menjadi seorang istri.
"Emang boleh, Yah?" tanya Lilis memastikan.
Jefri tertawa renyah, merasa senang bisa memanjakan putrinya lagi seperti dulu sebelum Lilis menikah. "Ya tentu saja boleh dong!"
Lilis akhirnya mengangguk semangat. "Kalau gitu mau martabak manis favorit aku ya, Yah!"