NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:225
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29. Mengasah Berlian Dari Alabas "Munculnya Pemanah Handal"

‎Setelah tujuh hari bertempur melawan angin dingin dan serangan dari Astrid menggunakan kayu besar , tubuh Khiya kini dipenuhi memar, namun kuda-kudanya sekuat akar pohon pinus utara. Di hari terakhir latihan perisai, Astrid menyerang dengan kecepatan penuh, mencoba menjatuhkan Khiya dari segala sudut.

‎"BRAKK!" Benturan terakhir terjadi. Kali ini, bukan Khiya yang terjatuh. Astrid sedikit terhuyung mundur karena Khiya menggunakan momentum serangan Astrid untuk membalikkan keadaan dengan dorongan bahu di balik perisainya. Astrid menurunkan senjatanya, napasnya teratur namun matanya berbinar. "Cukup," katanya datar, namun ada nada bangga yang terselip.

"Kau bukan lagi gadis yang hanya bisa memegang cermin, Khiya. Perisai itu sekarang sudah menjadi bagian dari kulitmu." Gumam Astrid, Khiya menurunkan perisainya, tangannya gemetar karena kelelahan, tapi senyum puas terukir di wajahnya. "Aku belajar bahwa bertahan bukan berarti diam, tapi menunggu saat yang tepat untuk membalas." Saut Khiya dengan nafas yang belum teratur.

Astrid mengangguk pelan. "Besok, tanganmu tidak akan memegang kayu lagi. Datanglah ke gudang senjata sebelum matahari terbit. Aku ingin kau memilih sendiri 'pasanganmu': pedang, kapak, atau tombak. Perisai hanya menjagamu tetap hidup, tapi senjata yang akan menentukan siapa yang menang." Perintah Astrid selanjutnya.

Malam itu, di aula besar, Raja Horld melihat cucunya makan dengan lahap, tidak lagi melamun memikirkan Alabas. "Bagaimana, Astrid?" tanya sang Raja. "Dia punya api yang lebih panas dari yang kubayangkan, Tuanku," jawab Astrid sambil menenggak madu fermentasinya. "Besok, kita akan lihat apakah dia bisa menari dengan besi." Lanjut Astrid.

Khiya menatap telapak tangannya yang kini kasar dan kapalan. Dia tahu, setiap tetes keringatnya di sini adalah doa untuk keselamatan Kurza. Dia sedang mempersiapkan diri, agar saat mereka bertemu lagi, dia tidak akan menjadi beban.

‎Khiya datang menemui astrid dengan membawa berbagai jenis senjata. pedang, kapak, tombak dan busur panah. Khiya muncul di lapangan latihan tepat saat kabut pagi masih menyelimuti tanah. Di punggungnya terikat busur panah, sementara di tangan, ia membawa beban yang cukup berat: sebilah pedang panjang, kapak bermata satu, dan sebuah tombak kayu dengan ujung besi yang berkilau.

Astrid berdiri bersedekap, menatap tumpukan senjata itu dengan alis terangkat. "Kau membawa berbagai macam senjata, Khiya? Kau ingin menjadi prajurit atau pedagang besi?" Cletuk Astrid yang melihat Khiya membawa berbagai macam senjata.

"Aku tidak tahu mana yang paling cocok untukku. Jadi, aku ingin mencoba semuanya." Seru Khiya sembari Meletakkan senjata - senjata itu di atas salju. "Pilihan yang serakah, tapi aku suka ambisimu. Namun ingat, di tengah kekacauan perang, kau hanya punya satu kesempatan untuk menarik senjata. Jika kau ragu memilih, kepalamu akan terbang lebih dulu." Ucap Astrid.

Astrid berjalan mendekat dan menunjuk senjata - senjata itu satu per satu. "Tombak memberikanmu jarak, cocok untuk menahan monster yang tidak ingin kau dekati. Kapak adalah tentang kekuatan murni, sekali tebas tulang lawan akan hancur. Pedang adalah tentang teknik dan kecepatan. Dan busur... itu adalah senjata bagi mereka yang ingin membunuh tanpa mengotori tangan dengan darah dari dekat." Ucap Astrid sambil menunjuk satu per satu senjata yang Khiya bawa.

"Kurza bertarung dengan kecepatan vampir yang luar biasa. Jika aku ingin membantunya, aku harus bisa menyeimbangi kecepatannya atau melindunginya dari kejauhan." Ujar Khiya sambil Mengambil pedang panjang dan mencoba mengayunkannya, lalu beralih ke kapak. "Jangan berlatih untuk 'menyeimbangi' dia. Berlatihlah untuk mengisi apa yang tidak dia miliki. Jika dia adalah pedang yang menyerang, jadilah busur yang mengawasi punggungnya, atau tombak yang menjaga celahnya." Ucap Astrid.

Setelah seharian Khiya berlatih dengan Pedang, kapak, dan tombak. Khiya tidak puas, ia merasa latihan ini tidak cocok. Tanganya tidak memiliki tenaga untuk mengayunkan pedang dan kapak, sedangkan tubuhnya tidak bisa selaras dengan panjangnya tombak.

"Astrid, sisa panah yang belum aku coba. aku ingin mencobanya!" Seru Khiya sambil menyandarkan pedang, kapak, dan tombaknya ke batu besar dengan wajah sedikit kecewa. Khiya meraih busur panjang yang ia bawa. Astrid mengangguk, matanya mengamati dengan saksama. "Silakan. Busur butuh ketenangan, bukan sekadar tenaga. Jika jantungmu masih berdegup kencang anak panahmu tidak akan pernah lurus." Ucap Astrid sambil mempersilahkan Khiya.

Khiya menarik napas dalam - dalam. Ia mengambil satu anak panah, memasangnya pada tali busur, dan menariknya hingga menyentuh pipinya. Angin utara yang kencang berusaha menggoyahkan fokusnya, tapi kali ini ada yang berbeda. Saat ia memejamkan satu matanya, dunia seolah menjadi sunyi.

"Lepaskan!" perintah Astrid pendek. "WUUUSH!" Anak panah itu melesat membelah angin, meluncur dengan lintasan yang sempurna, dan "TACK!" tertancap tepat di tengah sasaran pada batang pohon yang jauh. Khiya tertegun. Rasa getaran di tali busur tadi terasa sangat pas di jemarinya. Tidak ada beban di pundak, hanya ketajaman fokus.

"Lagi," bisik Khiya pada dirinya sendiri. Ia mengambil tiga anak panah sekaligus dan melepaskannya dalam urutan yang sangat cepat. Ketiganya menghantam sasaran dengan suara dentuman yang solid. Astrid berjalan mendekat, kali ini tanpa ejekan. "Sepertinya kita sudah menemukan bakatmu, Putri. Kau punya 'mata elang'. Dengan busur ini, kau bisa menjaga Kurza dari puncak bukit mana pun tanpa musuh tahu siapa yang mengirimkan maut untuk mereka." Seru Astrid sembari menepuk pundak Khiya.

Khiya tersenyum lebar, senyum pertama yang tulus sejak ia memulai latihan. "Ini dia. Aku merasa bisa mencapai apa pun dengan ini." Gumam Khiya di hati.

Ahirnya khiya menemukan senjata yang cocok untuknya. sebuah busur panah. tiap hari khiya yang di dampingi astrid berlatih memanah. Setiap hari, di bawah langit utara yang kelabu, suara desingan anak panah menjadi musik baru bagi Khiya. Ia tidak lagi canggung; gerakannya kini mengalir seperti air, namun mematikan seperti es.

"Bernapaslah mengikuti ritme angin, Khiya! Jangan melawan anginnya, tapi biarkan anak panahmu menari bersamanya. Lepaskan!" Arahan dari Astrid.

Khiya Melepaskan tali busur, 'TACK!' anak panah itu tepat sasaran. "Aku merasakannya, Astrid. Seolah-olah jarak antara aku dan sasaran itu tidak ada. Aku hanya perlu melihatnya, dan dia akan kena." Ucap Khiya

Astrid berjalan mendekat sambil memeriksa busur Khiya "Bagus. Tapi sasaran kayu tidak bisa lari. Sasaran kayu tidak punya insting untuk menghindar. Di medan perang, musuhmu akan bergerak secepat kilat, terutama jika mereka adalah jenis makhluk yang kau cemaskan itu."

"Itulah sebabnya aku berlatih lebih keras. Aku ingin menjadi satu-satunya alasan musuhnya tidak bisa mendekat."

Seru Khiya sambil Menurunkan busurnya sejenak, menatap ke arah selatan.

Astrid Tersenyum miring, lalu mengambil jubah bulunya. "Kau sudah cukup jago menembak benda mati. Tapi prajurit sejati ditempa oleh darah yang mengalir, bukan kayu yang kering. Simpan anak panah latihanmu!" Perintah Astrid.

"Kita akan ke mana?" Tanya Khiya, "Ke dalam hutan. Musim dingin membuat serigala dan beruang lapar, mereka sangat agresif. Kita akan berburu. Jika kau bisa menjatuhkan rusa yang berlari kencang atau serigala yang sedang melompat, barulah aku akan menghentikan latihanmu." Ujar Astrid sambil memakai jubah bulunya.

"Berburu? Aku siap." Seru Khiya mengeratkan Genggamannya pada busur. "Jangan sombong dulu, Putri. Di hutan itu, bukan hanya kita yang berburu. Terkadang, kita juga bisa menjadi yang diburu. Ayo, sebelum matahari tenggelam! Kita kembali dan meminta izin kepada kakekmu". Ajak Astrid kepada Khiya.

Bersambung. . .

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!