Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Lucian melangkah lebih dekat dan berdiri tepat di depan Selena.
"Katakan padaku, gadis kecil, siapa kamu sebenarnya?" tanyanya dengan suara rendah, tetapi penuh dengan kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Selena menahan napas. Ia bisa merasakan instingnya memperingatkannya. Pria ini lebih berbahaya dari Marcus dan ia baru saja masuk ke dalam permainannya.
Selena menatap Lucian tanpa berkedip dan mencoba menyembunyikan ketakutannya, tapi pria itu bisa merasakannya, ia tahu.
"Aku bertanya sekali lagi," katanya dan suaranya tetap tenang, tapi ada bahaya mengintai di baliknya. "Siapa kamu?"
Selena menelan ludah. "Aku hanya manusia biasa," jawabnya berusaha terdengar yakin.
Marcus terkekeh. "Manusia biasa tidak akan membuat Joan mempertaruhkan nyawanya."
Lucian mengamati Selena lebih lama, lalu dengan gerakan santai, ia meraih dagunya. Jemarinya dingin, kuat, dan mencengkeramnya cukup keras hingga ia tidak bisa menghindar.
Selena menggertakkan giginya dan menolak untuk menunjukkan kelemahan.
Lucian mendekat, matanya yang berwarna emas berkilat tajam. "Aku bisa menghancurkanmu di tempat ini jika mau, tapi aku penasaran, apa yang membuat Alpha Joan begitu terikat padamu?"
Ia melepaskan dagu Selena dengan kasar, membuat kepala wanita itu terdorong sedikit ke belakang.
"Ikut aku!"
Marcus menoleh dan tampak ragu. "Sekarang, Alpha?"
Lucian menatapnya sekilas, cukup untuk membuat Marcus langsung menundukkan kepala. "Sekarang."
Selena didorong keluar dari ruangan itu. Pergelangan tangannya masih diborgol, tetapi itu tidak menghentikan adrenalinnya memacu pikirannya untuk mencari jalan keluar.
Lorong-lorong sempit yang mereka lalui dipenuhi cahaya obor. Aroma tanah dan lumut memenuhi udara, membuat Selena menyadari bahwa mereka mungkin berada di dalam gua bawah tanah.
Ia harus mencari cara melarikan diri.
Ketika mereka sampai di tikungan lorong, Selena melihat peluang. Dengan seluruh kekuatannya, ia menendang kaki Marcus yang menggiringnya, lalu berlari secepat yang ia bisa. Ia tidak tahu ke mana arah yang benar, ia hanya tahu ia harus kabur, tapi ia tidak punya kesempatan. Dalam hitungan detik, sesuatu yang dingin dan kuat melilit pergelangan kakinya.
Ia terjatuh ke tanah dengan keras dan mencicit kesakitan saat wajahnya hampir menghantam batu. Sebelum ia bisa bergerak, cengkeraman besi menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya ke atas.
Lucian tidak tampak marah. Sebaliknya ada seringai tipis di bibirnya seolah ia menikmati usaha putus asa Selena.
"Kamu cepat, tapi tidak cukup cepat," katanya sambil menatapnya dengan penuh minat.
Selena meronta, tetapi Lucian hanya menertawakannya sebelum dengan mudah melemparkannya kembali ke Marcus.
"Tidak perlu terburu-buru, aku punya rencana besar untukmu, gadis kecil," kata Lucian.
Selena merasa darahnya membeku dan kali ini, ia tidak bisa menahan ketakutannya. Ia juga masih bisa merasakan cengkeraman dingin di lengannya saat Marcus menyeretnya kembali ke dalam lorong berbatu. Napasnya terengah, karena ketakutan yang sekarang mencengkeramnya begitu erat.
Lucian berjalan di depan mereka, langkahnya tenang dan penuh kendali. Pria itu belum mengatakan apa pun lagi sejak menangkapnya, tapi aura ancamannya cukup untuk membuat udara di sekitar terasa lebih berat.
Mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan yang lebih besar dari sel sebelumnya. Dinding batu kasar diterangi oleh obor yang berkedip-kedip, sementara di tengah ruangan terdapat sebuah kursi kayu besar, kursi singgasana yang tampak seperti milik seorang raja.
Selena merasakan instingnya memperingatkannya. Tempat ini bukan sekadar penjara. Ini adalah ruang singgasana seorang Alpha.
Lucian berjalan menuju kursi itu dan duduk dengan santai, menyilangkan satu kaki di atas lututnya. Tatapannya kembali ke Selena penuh dengan sesuatu yang sulit diartikan bukan sekadar ancaman, tetapi juga ketertarikan.
"Ikatanmu dengan Joan menarik perhatianku, aku ingin tahu, apa yang membuatnya begitu melindungimu?" tanya Lucian.
Selena menatapnya tajam. "Aku sudah bilang, aku hanya manusia biasa."
Lucian tersenyum tipis, tetapi matanya tetap dingin. "Kamu bukan sekadar manusia biasa, Selena."
Ia menyebut namanya seperti sebuah janji beracun.
"Kamu mungkin belum menyadarinya, tetapi darahmu berharga."
Selena menegang. "Apa maksudmu?"
Lucian tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari singgasananya dan berjalan mendekat dan langkahnya begitu ringan hingga hampir tidak bersuara.
Saat ia berhenti hanya beberapa inci di depan Selena, hawa dinginnya terasa menyelimuti udara di antara mereka.
"Lihatlah sekelilingmu! Apa kamu pikir aku hanya menculikmu karena kebetulan? Tidak, Selena, ka.u memiliki sesuatu yang berharga bagi kami. Sesuatu yang bahkan Joan mungkin belum menyadarinya," bisiknya.
Selena menahan napas.
"Aku bisa melindungimu, jika kamu memilih untuk berpihak padaku, aku bisa memastikan kamu tetap hidup. Aku bisa memberimu lebih dari yang bisa diberikan Joan," lanjut Lucian, suaranya merayap masuk ke dalam pikirannya seperti racun.
Marcus terkekeh dari sudut ruangan. "Kamu seharusnya merasa terhormat, manusia kecil. Alpha Lucian jarang menawarkan perlindungan seperti ini."
Selena mengepalkan tangannya. Ia tahu Lucian berbahaya. Ia tahu tawaran ini bukan tanpa konsekuensi, tapi apa yang sebenarnya diinginkan pria ini darinya?
Dan mengapa ia merasa bahwa menolak Lucian bisa menjadi kesalahan yang fatal?
Selena menelan ludah dan mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Lucian masih berdiri di depannya dan matanya yang berwarna emas pekat seolah menembus pikirannya. Ia tidak terburu-buru seakan menikmati setiap detik ketakutan yang terpancar dari Selena.
"Apa maksudmu darahku berharga?" tanyanya akhirnya, suaranya bergetar meskipun ia mencoba terdengar kuat.
Lucian menyeringai. "Kamu benar-benar tidak tahu, ya?"
Ia melangkah lebih dekat hingga Selena bisa merasakan panas tubuhnya yang kontras dengan udara dingin di ruangan itu.
"Ada sesuatu yang istimewa dalam dirimu, Selena. Sesuatu yang bahkan kamu sendiri belum sadari," bisiknya, jemarinya terulur untuk menyentuh dagunya dengan lembut.
Selena menepis tangannya dengan kasar. "Jangan sentuh aku!"
Marcus bergerak seolah ingin menghukum Selena atas tindakan itu, tetapi Lucian mengangkat satu tangan untuk menghentikannya.
Lucian hanya tertawa kecil seakan tidak terganggu dengan perlawanan Selena. "Kamu penuh semangat. Tidak heran Joan begitu terobsesi padamu."
Selena menggertakkan giginya. "Aku tidak peduli apa yang kamu pikirkan. Aku tidak tertarik pada tawaranmu."
Senyuman Lucian perlahan memudar. Tatapannya berubah lebih tajam dan lebih dingin.
"Kamu yakin?" katanya lirih, namun ada bahaya yang tersembunyi dalam nada suaranya.
Selena tidak menjawab.
Lucian menghela napas pelan, lalu tiba-tiba dalam satu gerakan cepat, ia meraih pergelangan tangannya.
Selena tersentak dan mencoba menarik tangannya, tetapi cengkeraman Lucian terlalu kuat.
"Aku tidak meminta persetujuanmu, Selena. Aku hanya memberimu kesempatan untuk memilih dengan mudah. Jika kamu menolak, aku bisa menemukan cara lain untuk mendapatkan apa yang kuinginkan," katanya lembut, tetapi ada ketegasan dalam suaranya.
Darah Selena berdesir ketakutan.
"Dan percaya padaku ...." Lucian mencondongkan tubuhnya lebih dekat dan suaranya berubah menjadi bisikan yang nyaris intim, tetapi mengandung ancaman yang nyata. "Kamu tidak ingin tahu cara lain itu."
Selena merasa tubuhnya membeku.