Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 18: Rubah Penggoda
Langkah kaki terdengar pelan di jalan tanah.
Grachius berjalan menjauh dari Kota Heimdall.
Belum terlalu jauh.
Gerbang kota masih bisa terlihat samar di belakangnya.
Namun—
ia tidak menoleh.
Jalan di depannya terbuka lebar.
Berbeda dengan hutan tempat ia dibesarkan.
Tidak ada pepohonan rapat yang membatasi pandangan. Tidak ada sungai kecil atau jalur sempit yang familiar. Yang terbentang di hadapannya hanyalah tanah luas, langit besar, dan jalan panjang menuju timur.
Angin bergerak bebas melewati rambut putihnya.
Enjin bergoyang pelan di pinggangnya mengikuti langkah stabilnya.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Purus—
Grachius benar-benar merasa sendirian.
Namun anehnya—
ia tidak membenci perasaan itu.
Justru dunia di depannya terasa… hidup.
Luas.
Dan belum dikenal.
Beberapa jam berlalu dalam keheningan sebelum suara roda kayu mulai terdengar dari belakang.
Grachius sedikit menoleh.
Sebuah karavan pedagang bergerak perlahan di jalan tanah. Dua kereta besar ditarik hewan mirip kuda bertanduk pendek, sementara beberapa pria berjalan di sampingnya sambil bercakap santai.
Salah satu dari mereka memperhatikan Grachius.
Pemuda berambut putih yang berjalan sendirian di jalan timur jelas sulit diabaikan.
“Hei!”
Pria berjanggut dengan pakaian pedagang melambaikan tangan.
Grachius berhenti.
Karavan melambat hingga sejajar dengannya.
“Kau sendirian?”
“Ya.”
Pedagang itu menaikkan alis sedikit.
“Berani juga.”
Tatapannya bergerak pada Enjin.
“Dari mana?”
“Heimdall.”
“Tujuan?”
“Timur.”
Jawaban Grachius tetap singkat seperti biasa.
Namun pedagang itu justru tertawa kecil.
“Semua orang yang berjalan ke timur selalu menjawab seperti itu.”
Ia menunjuk jauh ke depan.
“Kalau terus lurus, kau akan sampai Skullcrack.”
Tatapan Grachius sedikit bergerak.
“Setelah itu?”
“Hutan Alfheim.”
Nada suara pedagang berubah sedikit lebih serius.
“Tempat yang tidak terlalu ramah untuk manusia biasa.”
Grachius mengangguk kecil.
"Lebih baik kau terus ikuti jalanan ini daripada lewat sana."
Pedagang itu memperhatikan wajahnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata—
“Kau mau menumpang?”
Grachius diam sejenak.
Lalu menggeleng pelan.
“Aku jalan saja.”
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup membuat pria itu tertawa lagi.
“Baiklah.”
Ia mengangkat bahu.
“Orang aneh memang cocok jalan sendiri.”
Karavan mulai bergerak lagi.
Sebelum benar-benar pergi, pria itu menoleh sambil berteriak—
“Jangan mati di jalan!”
Grachius menatap lurus ke depan.
“Tidak akan.”
Karavan terus menjauh hingga suara roda kayunya perlahan menghilang bersama angin.
Dan jalan kembali sunyi.
Hanya tersisa Grachius.
Dan dunia luas di depannya.
...—...
Sore perlahan berubah menjadi malam.
Langit mulai gelap ketika Grachius akhirnya melihat Skullcrack.
Ngarai raksasa membelah tanah seperti luka besar yang tidak pernah sembuh. Tebing-tebing batu menjulang tinggi di kedua sisi, dipenuhi retakan tajam yang terlihat seperti cakar raksasa mengoyak bumi.
Angin bertiup dari dalam ngarai.
Dan suaranya…
terdengar seperti bisikan.
Atau jeritan yang terlalu jauh untuk dipahami.
Grachius berdiri di tepi jalur batu sambil memperhatikan tempat itu beberapa saat.
Sunyi.
Namun tidak damai.
Ada sesuatu yang terasa salah di udara Skullcrack.
Sesuatu yang membuat manusia biasa mungkin memilih berbalik.
Namun Grachius tetap melangkah masuk.
Batu-batu kecil berjatuhan dari bawah sepatunya saat ia melewati jalur sempit di antara tebing.
Malam semakin gelap.
Dan di tengah suara angin yang aneh itu—
Grachius mendengar sesuatu.
Suara kecil.
Lemah.
Kesakitan.
Tatapannya bergerak ke arah balik batu besar di sisi jalan.
Seekor rubah coklat tergeletak di sana.
Tubuhnya gemetar pelan.
Grachius mendekat tanpa tergesa.
Namun saat jaraknya tinggal beberapa langkah—
rubah itu bergerak.
Kabut tipis muncul dari tubuhnya.
Dan dalam hitungan detik—
seekor rubah berubah menjadi seorang wanita.
Rambut panjang coklat jatuh sampai pinggangnya. Dua telinga rubah berdiri di atas kepalanya, sementara ekor coklat besar bergerak pelan di belakang tubuhnya.
Cantik.
Terlalu cantik untuk terasa normal.
Dan matanya—
tajam seperti seseorang yang terbiasa mempermainkan orang lain.
Wanita itu tersenyum tipis.
“Wah wah…”
Suaranya lembut seperti madu.
“Aku kira yang datang monster.”
Tatapannya naik turun memperhatikan Grachius.
“Ternyata pemuda tampan.”
Grachius tetap diam.
Wanita itu perlahan berdiri.
Gerakannya sengaja lambat.
Menggoda.
“Aku terluka.”
Ia mendekat sedikit.
“Mau membantu?”
Tangannya bergerak pelan menyentuh dada Grachius.
Dan saat itu—
sesuatu bergerak.
Udara di sekitar mereka berubah tipis.
Tak terlihat.
Namun terasa.
Chains of Desire.
Sihir yang tidak menyerang tubuh.
Melainkan keinginan.
Hasrat.
Korban tidak dipaksa.
Mereka mengikat dirinya sendiri.
Namun—
tidak terjadi apa-apa.
Wanita itu berkedip pelan.
Lalu mencoba lagi.
Jari-jarinya bergerak lembut di bahu Grachius.
Bisikannya semakin pelan.
“Kenapa setegang itu…?”
Tetap tidak ada reaksi.
Tatapan Grachius bahkan tidak berubah sedikit pun.
Hening.
Senyum wanita itu mulai retak tipis.
“…eh?”
Untuk pertama kalinya—
ia gagal.
Tidak ada hasrat.
Tidak ada celah.
Tidak ada emosi yang bisa disentuh.
Dan saat ia mencoba masuk lebih dalam dengan mendekatkan bibirnya ke bibir Grachius—
Grachius bergerak sedikit.
Bukan menyerang.
Namun sesuatu keluar darinya.
Aura.
Atmosfer di sekitar mereka langsung berubah.
Udara terasa berat.
Panas.
Menekan.
Angin yang sebelumnya berbisik mendadak diam.
Mata wanita itu melebar.
Instingnya langsung berteriak.
Bahaya.
Grachius menatapnya datar.
“Kalau kau lanjutkan…”
Suaranya rendah.
“…kau akan mati.”
Tubuh wanita itu langsung mundur refleks.
Napasnya tercekat.
Untuk pertama kalinya sejak lama—
ia benar-benar merasa bisa mati.
Bukan ancaman kosong.
Bukan gertakan.
Melainkan kenyataan.
Aura itu terasa seperti sesuatu yang bahkan tidak seharusnya ada di dunia normal.
Beberapa detik kemudian—
tekanan itu menghilang.
Grachius berjalan melewatinya begitu saja.
Lalu duduk di atas batu besar tidak jauh dari sana.
Wanita itu masih diam.
Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Tatapannya terus tertuju pada Grachius.
“…monster.”
Bisikannya pelan.
Namun tanpa kebencian.
Hanya takut.
Dan penasaran.
...—...
Malam semakin dalam.
Beberapa waktu berlalu sebelum wanita itu akhirnya bergerak lagi.
Kali ini lebih hati-hati.
Ia mendekat perlahan lalu duduk cukup jauh dari Grachius.
Menjaga jarak aman.
Grachius berdiri tanpa bicara.
Dengan satu tebasan Enjin—
batang pohon mati di dekat mereka terpotong bersih.
Daji langsung memperhatikan.
Grachius mulai mengumpulkan kayu bakar.
Lalu tangannya membentuk segel.
Hitsuji.
Api muncul seketika di antara kayu-kayu itu.
Tanpa batu api.
Tanpa alat.
Hanya… muncul.
Daji sedikit menyipitkan mata.
“Waw…”
Ia mulai sadar.
Pemuda ini jauh lebih aneh dari manusia biasa.
Api unggun menerangi wajah mereka dengan cahaya jingga redup.
Hening cukup lama sebelum Grachius akhirnya bicara.
“Grachius.”
Daji memiringkan kepala.
Lalu tersenyum tipis.
“Daji.”
Ekornya bergerak pelan di belakangnya.
“Rubah Penggoda.”
Tatapannya sedikit menyipit nakal.
“Siluman rubah.”
Grachius mengangguk kecil.
Tidak terkejut.
Justru itu membuat Daji semakin penasaran.
“Aku masih tidak mengerti.”
Tatapannya turun pada Grachius.
“Chains of Desire ku bekerja lewat keinginan target.”
Ia menyandarkan dagu di lututnya.
“Korban biasanya mengikat dirinya sendiri.”
Tatapannya semakin tajam.
“Tapi kau…”
Hening sesaat.
“…tidak punya hasrat sama sekali.”
Api unggun berderak kecil.
Grachius menatap nyala api tanpa ekspresi.
Daji memperhatikannya cukup lama sebelum akhirnya bergumam—
“Atau mungkin…”
Tatapannya sedikit berubah.
“…kau menekan semuanya terlalu dalam.”
Grachius tidak menjawab.
Dan itu terasa seperti jawaban sendiri.
Daji kemudian bertanya pelan—
“Kau mau ke mana?”
“Timur.”
Jawaban singkat.
Namun entah kenapa—
Daji merasa arah itu jauh lebih besar dari sekadar tempat.
Ia menatap Grachius lebih lama.
Pemuda ini berjalan sendirian.
Membawa aura seperti monster.
Dan mata yang terlihat seperti sedang menuju sesuatu yang sangat jauh.
Api unggun terus menyala di tengah Skullcrack.
Dua sosok duduk berhadapan dalam diam.
Belum menjadi teman.
Belum juga musuh.
Namun dua jalan yang berbeda—
mulai bersinggungan.
Dan tanpa Grachius sadari—
dunia di sekitarnya mulai terbuka semakin luas.
Tidak hanya manusia.
Tidak hanya dewa.
Namun juga makhluk-makhluk lain…
yang perlahan mulai memperhatikan keberadaannya.
...A Novel By Franzzz...