NovelToon NovelToon
Rekah Rasa Di Ambang Senja

Rekah Rasa Di Ambang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:140.1k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.

Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.

***

Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.

Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?

~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"

"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Ya Allah! Ngga kukuuu

Jika abi dan umi langsung pulang ke rumah, maka Afif melipir sejenak ke rumah Lova.

Lova baru saja turun, tapi ia enggan membawa barang-barang dan memilih langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Afif disana yang membongkar muatan bagasi.

"Bunda!" teriaknya masuk. Kedatangan mereka langsung disambut oleh bantuan mbak Astri, dan ayah yang kebetulan ada di rumah.

***

Ayah mengangguk paham, sementara bunda sudah merangkul Lova dengan wajah memelas kehilangan.

"Usahain buat nginep disini tiap minggunya, Fif...biar ngobatin kangennya bunda," pinta bunda mengusap-usap bahu Lova yang telah berganti pakaian.

"InsyaAllah bunda." Panggilan itu berubah seiring perubahan status.

"Ya pasti dong bun, ya kan Va?" bujuk ayah menenangkan. Sementara Lova sendiri tersenyum mengangguk cepat dalam lautan kesedihan di peluk bunda begini. Memang begitulah seorang anak perempuan, cepat atau lambat, adalah sebuah--kepastian--ia akan dibawa oleh suaminya.

"Bunda sehat-sehat, jangan ngurusin butik terus sampe malem...bunda sampe suka lupain jam makan." Pesan Lova padanya yang memancing bunda untuk sesenggukan lebih keras dan memeluk dirinya lebih erat.

Belum lagi bi Astri, "neng Love jangan nakal ya. Disana neng Love jangan telat makan...sering-sering kesini ya neng, mas ustadz." wanita kesayangannya setelah bunda itu memeluknya erat.

/

Lambaian tangan Lova terasa sedikit berat meninggalkan rumah yang sejak kecil sudah melindunginya. Rumah tempatnya tumbuh dan penuh cerita. Lova hanya membawa sebagian saja barang pribadi miliknya ke rumah Afif yang kira-kira sering ia gunakan termasuk pakaian.

Pandangannya sedikit buram menatap jalanan di luar kaca jendela mobil sebab ia yang masih menangis sedih. Afif dapat lihat itu, kesedihan dari Lova hingga sepanjang perjalanan menuju rumahnya saja tak ada sepatah kata pun yang Lova ucapkan, ia lebih sibuk bersedih.

"Weekend...kalo saya libur, kita bisa menginap di rumah ayah Agas."

Lova mengangguk cepat saja seraya menyeka air matanya dari mata sembabnya, "ngga bisa ya, dua hari sekali gitu atau 3 hari sekali?" tatapnya dengan mata becek. Afif memandang Lova, dan damn...ia mengangguk, maklum. "Iya."

"Makasih ustadz."

Shh! Afif kembali berdesis, hatinya cukup dibuat mencelos dengan panggilan Lova padanya, dan ini sudah seharusnya diralat oleh istri kecilnya itu.

Cukup sudah sedih-sedihnya, Lova memilih meraih minuman kaleng yang tadi ia ambil dari rumah bunda untuk bekal di jalan.

"Va,"

"Hm?" Lova menoleh sembari membuka tutup minuman kaleng yang hendak ia minum.

"Tentang panggilan." ucap Afif sesekali melirik Lova dan kembali fokus pada jalanan.

"Hm, kenapa?" Lova meneguk itu dan kembali meneguknya sambil menyimak ucapan Afif.

"Saya kurang nyaman dipanggil seperti dulu. Hal sepele.... namun cukup mengganggu buat saya..." ujarnya.

Lova mengangguk dan meringis, "oh. Itu....jadi ustadz mau dipanggil apa?" tawarnya kini membuat Afif hanya menggeleng mendengus geli. Jika ditanya begini, ia pun tak tau...

"Selain ustadz atau sesuatu yang memberi jarak antara saya dan kamu." Jawabnya membalikan, kini justru Lova yang kebingungan dan berpikir.

Rem diinjak Afif ketika menemukan jika jalanan di depan lampu merah untuk lajurnya, dan pria itu, tanpa di duga justru merebut dengan lembut minuman kaleng milik Lova dan meneguknya, memantik rasa tak percaya Lova, "eh, ustadz itu bekas----"

Lirikan Afif menunjukan gestur, memangnya kenapa?

"Kamu ngga lagi penyakitan, kan?" tanya Afif justru semakin membuat Lova takjub, ia menggeleng dan mengelak, "ya engga lah."

Afif mengangguk-angguk, "ya udah. Ngga apa-apa. Kita sudah jadi suami istri."

Dan demi apa? Ucapan lirih Afif membuat hati Lova bak digaruk-garuk geli! Hanya pernyataan suami istri saja yang keluar dari mulut Afif tapi rasanya dunia sudah mereka beli tunai!

Gleuk! Aduhhhh....Lova menggigit bibir bawahnya gemas lalu memalingkan wajah ke jendela samping, rasanya seperti ia sedang dirayu lelaki dewasa.

"Jadi?" tanya Afif cukup penasaran juga dengan panggilannya.

"Apanya?" justru Lova yang membeo. Ekspresi malas ditunjukan Afif yang seketika membuat Lova paham dan kembali ke topik sebelumnya. Hampir ia gila mendadak barusan.

"Oh, itu...ustadz mau Lova panggil apa? Pak suami, pak husband? Pak hubby? Pak bojo?" kekehnya. Afif mengernyit, kenapa dari semua panggilannya terkesan bapak-bapak semua?

Paham dengan wajah tak nyaman Afif, Lova kembali mengabsen panggilan sayang, dan kini sedikit lebih mesra ala-ala anak generasi chunky-baww...

"Sayang, darling, say, ayang, ayah--bunda, mama-papa, honey, sweety? Ya habibi? Sunshine?" cerocos Lova tertawa bergidik geli.

Namun dari kesemua itu belum ada yang mengena di hati Afif, begitupun Lova, "aa, abang, uda, bro atau mas?" option dan absen terakhir Lova cukup membuat Afif menoleh peduli.

"Mas?" ulang Lova diangguki Afif, "boleh kalo kamu nya nyaman."

"Oke." Lova mengehkeh geli kembali meneguk minumannya, aaaaa! Siram juga nih!

Pagar rumah hitam terlihat tertutup, meski di dalamnya terlihat sebuah mobil dan dua buah motor berjejer tanda jika umi, abi dan Afnan sudah pulang.

Tak memiliki asisten, membuat Afif harus turun ketika sampai di depan pagar.

"Bisa bantu mas buka pagar?" pinta Afif diangguki Lova yang turun.

"Itu tinggal dibuka aja kuncinya, biasanya ngga digembok..." Afif menyembulkan kepalanya dari jendela mobil.

"Iya." Lova melakukannya lalu memberikan dorongan di pintu pagar besi. Namun, belum sampai selangkah, rupanya dari dalam sudah ada yang membantu.

"Ini berat. Biar aku aja..." Lova langsung menghentikan dorongannya, membiarkan pemuda dengan pakaian santainya membuka itu.

"Oh...o..oke." Ia tidak kembali ke dalam mobil, melainkan masuk setelah Afnan memberikan celah untuknya masuk.

Perdana, Afnan berbicara padanya sejak terakhir pembicaraan keduanya adalah Afnan menolak Lova di depan An Nur.

"Sudah pulang neng?" umi menyambut Lova, dimana Afif meminta Afnan membantunya menurunkan barang-barang Lova dari bagasi.

"Masuk yuk. Sudah malam..."

"Ah iya umi."

Dan Lova masih duduk di sofa tengah yang nyaman dalam suasana hangat menentramkan. Terpantau olehnya, tak ada foto keluarga disana selain dari kaligrafi-kaligrafi cantik. Sepertinya keluarga Afif memang tak gila potret diri.

"Kamar mas Afif ada di sana." tunjuk umi pada pintu coklat tua dekat dengan ruang tengah.

"Masmu lebih suka di lantai 1. Katanya biar ngga kejauhan, waktu udah capek."

Lova terkekeh mengangguk menerima secangkir teh hangat dari umi, hingga abi ikut keluar dari kamarnya yang tak jauh dari kamar Afif, "abi kira mau menginap di rumah ayah Agas dulu?"

Lova menggeleng, memang ia setuju dengan abi...namun Afif justru memberinya alasan make sense untuk segera ikut pulang kesini.

"Besok Afif ada kerjaan, bi. Sekalian pertemuan sama DKM kampus. Barang yang harus dibawa Afif tinggal di kamar, jadi daripada harus bolak-balik nantinya..." ujarnya membawa serta barang milik Lova disusul oleh Afnan yang juga memenuhi tangannya dengan barang Lova.

"Ini aku taro sini." Lirih Afnan tak melanjutkan itu masuk ke dalam kamar, hanya sebatas ruang tengah, dimana Lova berada bersama yang lain.

"Iya, makasih."

Afnan mengangguk sekali lalu terlihat naik ke lantai atas.

"Di atas kamar Uqi." seolah kontras dengan pandangan Lova, umi bersuara membenarkan.

"Oh iya." Lova bergegas mengalihkan pandangan.

"Di atas itu, ada mushola...ruang kerja dan belajar sama balkon." Terang umi, "jemuran di belakang nyatu sama dapur, kamar mandi, wastafel, terus halaman belakang yang nyambung ke samping ada akses pintu besi ke halaman depan." Lanjutnya lagi diangguki Lova yang pernah datang kesini sekitar dua kali, "iya umi."

"Kalo kamu nanti telat pulang tuh, takut diomelin masmu...bisa lewat pintu samping voalahhh jadi ada di dapur..." kekeh abi menambahkan dan Lova tertawa.

Pintu kamar itu berulang kali Afif buka demi memasukan barang Lova. Namun Lova terlihat belum mau menunjukan keinginannya untuk ikut masuk dan memilih rehat sejenak di ruang tengah bersama abi dan umi sampai mereka berangsur pamit istirahat barulah Lova beranjak.

Kamar yang terlampau rapi, bahkan jika dibandingkan dengan kamar barbienya, kamar Afif tak banyak memiliki furniture. Hanya lemari yang menempel dengan tembok dengan kapasitas full satu dinding, kamar mandi kecil. gantungan handuk dan sajadah dari kayu di sisi dekat jendela, meja dengan laptop dan beberapa buku serta map tersimpan rapi. Rak buku mini yang menempel di atasnya dan cermin seukuran badan di dekat lemari.

Dan kini, barang-barangnya justru membuat kamar yang semula rapi ini jadi penuh dan berantakan.

"Besok saja rapi-rapinya." Ujar Afif yang tentu saja disetujui Lova, siapa juga yang mau beres-beres malem-malem begini.

Menempuh perjalanan seharian membuat Lova lelah, ia langsung saja menjatuhkan dirinya di atas ranjang empuk Afif, dan mengikrarkan namanya sebagai pemilik tempat bagian dekat meja.

"Ngga berencana buat gosok gigi dulu, Va?" tanya Afif, tapi nyatanya hanya dengkuran halus yang keluar dari gadis ini sebagai jawabannya. Sepertinya hari ini ia lebih nyaman dari malam sebelumnya, buktinya Lova bisa langsung tertidur, meski Afif masih terjaga.

Tak langsung merebahkan diri, Afif memilih untuk menghabiskan waktu malamnya untuk mengerjakan sebagian tugasnya sambil menunggu waktu seperempat malam, seperti biasa. Waktu yang tepat untuknya lebih khusyuk memohon dan mengadu pada sang Khalik.

***

Lova mengerjap, bergerak dan mulai mengumpulkan kepingan nyawanya. Matanya masih menyesuaikan cahaya, namun dengan jelas ia dapat melihat siluet seseorang dengan hanya dibalut handuk di bagian pinggangnya sedang berada di depan lemari.

Mata yang masih menyipit berbayang itu langsung dipaksa membuka seketika saat seseorang yang mirip lelaki itu tiba-tiba menjatuhkan handuknya dan menampilkan penampakan menyeramkan sekaligus membuat denyut jantungnya berdebar hebat.

Lova segera memejamkan kembali matanya dan berusaha untuk tidur sebentar lagi saja, sampai Afif berpakaian.

Wajahnya mendadak panas, duhhh! Salah waktu nih buka matanya. Bahkan penampakan singkat itu mampu melekat kuat dan lama di otak Lova. Dimana kini, ia sudah tersenyum-senyum geli sendiri.

Kaki berbulu sebatas betis, dan bagian uhuyyy! Bahkan bagian belakang Afif astaga...dengan punggung tegap dan basahnya ya Allah! Bikin ngga kukuuu...jantung Lova semakin kencang saja berdegup. Rasa membuncah di kantung kemihnya yang ikut-ikutan bereaksi seiring dengan rasa cenat cenut di---

Arghhh si alan! Masa bodoh dengan mas Afif udah selesai apa belum. Lova membuka matanya dan bergegas lompat dari kasur untuk menyerbu kamar mandi, tanpa mau melirik apalagi menoleh.

Praktis, Afif menghentikan aktivitas berpakaiannya saat belum rampung dengan kaos dalam meski sudah memantaskan celana panjangnya. Cukup dibuat kebingungan saat tiba-tiba Lova yang tadi masih terlelap justru kini melompat secepat kilat ke kamar mandi. Apakah istrinya itu tak melewati proses mengumpulkan serpihan kesadaran terlebih dahulu? Atau.....

.

.

.

.

.

1
Iccha Risa
mas Afif tau istrinya tuh perhatian ya cuman mulutnya itu rada2 nyenggol dah love love jadi santai aja
jumirah slavina
terkam Fif... terkammmm... udah halal ini

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
hayo Afif sergep tuh si lova mumpung ada kesempatan 🤣🤣....wah udah halal kan sah aja dong 🤭
Iccha Risa
ahaydeuh mas iyhh 🤭🤭
jumirah slavina
iya lagi.,

kata²mu lebih horor dr yang kalian tonton dan sayang'y itu fakta yang tak terbantahkan
Wanda
Wong Pati Kih🤣, teh sin bisa aja nih wkwkwk🤭
dyah EkaPratiwi
gemessh😍
Ayani Lombokutara
minta dikokop 🤣🤣🤣
sweet escape
Sabaaar mas wkwkw berasa d uji iman oleh syaiton🤣🤣🤣🤣
sweet escape
Hahaa astagaaa va berasa mau prewed
sweet escape
🤣🤣🤣🤣istrinya afif koplak🤌
MPit Mpit MPit
halal PIP Halah ..sungkan Bae Kabeh..🤣🤣🤣
Attaya Zahro
Sabar Fif..pabrik su su masih tutup 🤣🤣🤣
sweet escape
Wkwk langsung jleb bersa d ceramahi🤣
Adeeva Haboo
aih si lova
Salim S
emang kalau perempuan itu ribet banget kalau mau berlibur harus segala macam di bawa....awas di unboxing va...jangan mancing mancing...
Ney Maniez
uhukkkkk KLO GK kuattt gasss ajjj mas ustadz 😂😂😂
Ney Maniez
udah berani yaaa mas ustadz
Wandi Fajar Ekoprasetyo
kemaren gerbang terbuka ga mau masuk....klo skrg mohon maaf gerbang itu udh tertutup dan d kunci rapat oleh pemiliknya yg halal
Diaz Nayla Az Zahra
resiko nikahin bocil yg masih sekolah ya mas Afif, harus kuat iman gak bisa langsung unboxing 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!