NovelToon NovelToon
POSESIF

POSESIF

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga / LGBTQ
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Na_1411

Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.

"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"

suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.

"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."

kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.

"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."

Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang terasa canggung.

“Kita kembali ke apartemen om Niko sekarang eric.” Ucap Steve sambil mengambil mainan milik eric, Steve memutuskan akan kembali ke apartemen Niko.

“Bukan om Niko pa, tapi ayah Niko.” Eric meralat panggilan Niko untuk eric.

Steve menatap eric penuh dengan tanya, Steve mengkerutkan kedua alisnya. Dia tidak menyangka jika kedekatan Niko sampai sejauh ini dengan eric, sedangkan yang Steve tahu pertemuan mereka masih beberapa hari.

“Ayah…!!” Ucap Steve heran.

“Hmm…. Ayah Niko menyuruhku memanggilnya dengan panggilan ayah, bukan om.” Eric meminum minumannya yang masih tersisa sepatuh.

“Terserah kamu boy, papa tidak akan melarang kamu memanggilnya ayah. Tapi sekarang kita pulang ke apartemen ayah Niko, besok pagi papa harus ke kantor lagi.”

Seteve menggeser kursinya perlahan, suara deritan di kursi Steve membuat Leon menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin Steve mengetahui keberadaannya, eric yang mengikuti gerakkan Steve berusaha turun dari tempat duduknya.

Langkah Steve dan eric tampak akan melewati tempat duduk Leon, eric yang ada di samping Steve tak sengaja menolehkan kepalanya menatap Leon.

“Eh… om yang ada di lift itu kan.” Seru eric yang membuat pandagan mata Steve menatap Leon.

“Om… om kog ada di sini…?” Tanya eric dengan suara sedikit lantang.

Leon menatap eric, tampak sedikit senyum di kedua bibir Leon. Steve dapat melihat senyum itu walau samar, eric mendekat ke arah Leon yang tampak duduk sendiri.

“Om… kita ketemu lagi, om sama siapa…? Eh… itu mainan buat siapa…? Anak om ya…?” Ucapan eric terdengar sedang menginterogasi Leon, dengan perlahan Leon mengambil dua mainan yang ada di dekat tempat duduk Leon, dia menyerahkan dua mainan yang masih ada di dalam kardus ke depan eric.

“Kamu mau…?” Tawar Leon dengan suara rendahnya.

Steve yang melihat interaksi Leon dan eric tampak diam, rasanya pemandangan di depannya ini terlihat sangat langka bagi Steve.

“Hmm… mau, tapi nanti anak om marah mainannya di kasih ke eric.” Eric menatap dua mainan di depannya yang masih ada di tangan Leon.

“Ini bukan untuk akan om, tapi keponakan om. Jadi jika kamu mau, ambillah…?” Leon memajukan mainannya ke depan eric, tapi sebelum eric menerimanya anak kecil itu menoleh menatap ke arah Steve.

“Pa… boleh…?” Lirih eric yang masih dapat Steve dengar.

Steve menatap Leon, dia sekaan terpaku menatap kedua mata Leon yang menatap Steve. Terlihat tatapan kerinduan di antara kedua mata mereka, steve masih terdiam dia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun saat berhadapan dengan Leon saat ini.

Seakan ingatan Steve melayang ke peristiwa beberapa tahun lalu, saat Steve meninggalkan kediaman Leon, dan saat leon memperhatikan Steve saat tinggal di apartemennya.

“Pa…!! Boleh nggak aku menerima makanan dari om ini.” Seru eric yang membuat lamunan Steve memudar.

“Hmm… terserah kamu.”

Steve mengelus pelan rambut lembut milik eric, dia tidak ingin membuat eric kecewa, karena Steve dapat melihat sorot mata eric yang menginginkan makanan pemberian Leon.

“Kalau gitu makasih om, om ternyata orangnya baik walau tampak ketus saat kita ketemu tadi.” Eric tersenyum sambil mengambil mainan di tangan Leon.

“Kamu belum mengenalku.” Ucap Leon menatap eric.

Tanpa mereka sadari, Clara yang baru saja dari kamar mandi menghampiri tempat duduk Leon. Dia menatap Steve dan juga eric, Clara yang tidak tahu siapa Steve dan eric sampai menautkan alisnya. Dia segera menarik tempat duduknya, dan dengan segera Clara duduk tepat di depan meja Leon.

Steve menoleh ke arah Clara, terlihat senyuman ramah yang cak ara tunjukan ke arah Steve. entah kenapa tiba tiba dada Steve terasa sesak melihat Clara yang ada di tengah tengah mereka saat ini, tidak seperti tadi saat Leon masih sendiri.

“Oh… maaf, kami menggangu. Ayo sayang, kita pulang.” Ucap steve setengah tidak enak hati, dia sekaan menjadi pengganggu di antara Leon dan Clara.

“Oh enggak… enggak apa apa, silahkan anda lanjutkan. Atau anda mau duduk di sini…?” Clara menggeser kursi di sampingnya yang masih tampak kosong.

“Enggak tante, eric dan papa mau segera pergi. Terima kasih…” jawab eric dengan suara sopan.

“Waaahhh…. Kamu imut sekali, nama kami siapa sayang..?” Tanya Clara menatap eric dengan tatapan penuh gemas.

“Namaku eric tante.” Jawab eric.

“Ayo sayang, kita pulang. Maaf kan kami sudah menggangu, kami harus segera pergi. Dan terima kasih untuk mainannya.” Steve menoleh menatap Leon sekilas, dia memilih segera pergi dari depan Leon.

Rasa sesak di dalam dadanya semakin membuatnya tidak nyaman, jika Steve semakin lama berada di antara Leon dan Clara dia akan semakin merasakan sakit hati.

“Oh… baiklah,” jawab Clara yang tidak ingin menghalangi kepergian Steve.

Steve melangkah pergi bersama eric, langkahnya pelan tapi terlihat cepat. Leon menyeringai melihat tingkah Steve, Clara yang tanpa sadar melihat reaksi Leon mengernyitkan kedua alisnya. Dia meras ada yang aneh dengan saudaranya.

“Siapa dia kak…? Sepertinya aku belum pernah lihat laki laki tampan dan manis itu.” Ucap Clara yang mendapat sorotan tajam dari Leon.

“Kamu tidak akan mengenal dia, dan aku juga tidak akan memperkenalkan kami sama dia.” Leon segera menghabiskan minumannya, di dalam batin Leon ingin sekali segera menyusul Steve dan pulang bersamanya. Tapi mengingat jika dia harus mengantarkan Clara pulang, maka Leon membiarkan Steve pergi.

“Mainan anak anak kakak serahkan ke eric dua, jika kamu ingin membelinya lagi aku akan mengantarkan kamu.” Leon menatap Clara yang terlihat menggelengkan kepalanya.

“Tidak usah, hari sudah semakin malam. Anak anak pasti sudah menunggu ku di rumah, lebih baik kakak segera mengantarkan ku pulang.” Pinta Clara yang tiba tiba teringat akan kedua anaknya.

“Hmm… baiklah.” Jawab Leon.

Sedangkan kini Steve dan eric yang sudah berada di dalam apartemen Niko tampak sedang membuka mainan eric, terlihat eric sangat antusias membuka semua mainannya.

“Wah… boy, banyak sekali mainan kamu…?” Tanya Niko yang tiba tiba duduk di samping Steve.

“Iya ayah, tadi aku di kasih sama om yang ketemu kita di lift.” Jawab eric dengan begitu polos.

Niko menoleh menatap Steve yang ada di sampingnya, dia mengernyitkan kedua alisnya. Seakan dia terlihat ingin mengetahui cerita dari Steve, akan pertemuannya dengan Leon.

“Tadi kami ketemu di mall saat makan, dan kebetulan dia makan satu resto dengan kami. Dia juga bersama istrinya di sana.” Jawab Steve menjelaskan.

“Istri…!!” Lirih Niko terkejut dengan ucapan Steve.

“Kamu kenapa…? Kenapa kamu terkejut seperti itu…? Memang tadi kau bertemu dengan kak Leon di sana bersama seorang wanita, siapa lagi kalau bukan istrinya. Dan mereka juga membeli banyak mainan, sepertinya itu untuk anak anak kak Leon.”

Steve kembali membantu Niko menyelesaikan susunan lego ya, dia tidak ingin melihat reaksi Niko yang tampak aneh baginya.

“Sepertinya kak Leon belum menikah.” Lirih Niko yang membuat Steve menoleh menatapnya.

1
Vanni Sr
deemi???? ini crta Gay?? kek gni lolosss?? astgaaa bner² gila
Reichan Muhammad: mengerikan,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!