NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 : Kediaman pribadi Yan

“Dokter Han, Dokter Yunhe. Mohon maaf. Yang tidak berkepentingan dilarang memasuki area istana lebih dalam,” potong Yuchen tegas.

Alin, yang kini dikawal menuju klinik kerajaan, hanya bisa membisu. Langkah kakinya terasa berat mengikuti ritme sepatu para pengawal yang bergema di lorong marmer.

“Ssh…” Alin meringis saat kapas dingin menyentuh luka di tangannya.

“Sedikit perih, ya?” ujar dokter wanita di klinik tersebut dengan nada tenang.

“Biarkan aku sendiri yang mengolesnya,” pinta Alin, merasa canggung dilayani di tempat seformal ini.

Dokter itu tersenyum tipis, memberikan salepnya. “Baiklah. Tapi pergelangan kakimu... kenapa bisa semerah ini?”

“Terkilir beberapa hari lalu.”

“Kau minum pereda nyeri? Tidak mungkin kau bisa menahan sakit seperti ini tanpa bantuan obat. Biar kuperiksa—”

“Aah! Dok... sakit!” Alin tersentak saat tangan dokter itu menyentuh sendinya yang meradang.

Dokter Ani menghela napas, menatap Alin dengan dahi berkerut. “Bahkan efek obatmu sudah habis total. Kau menyetir sendiri ke sini?”

“Ya.”

“Dokter Yi, tanganmu terluka, kakimu terkilir. Apa kau berniat menenggak dosis tinggi lagi hanya agar bisa duduk di belakang kemudi?”

Alin tertawa kecil, tawa yang getir. “Hanya itu yang bisa kulakukan agar tetap berfungsi, Dok.”

“Ck-ck-ck. Aku belum pernah melihat dokter yang tidak memperhatikan dirinya sendiri seperti ini,” tegur Dokter Ani ketus.

Alin menoleh, harga dirinya sedikit terusik. “Siapa namamu? Ah, Dokter Ani. Aku tidak perlu menceritakan kronologi luka ini. aku rasa jika kita bicara soal pengalaman medis—” Alin menghentikan kalimatnya. Menghela napas panjang, ia merasa sombongnya tak ada gunanya di sini. “Sudahlah. Terima kasih bantuannya.”

Ia bangkit, menahan nyeri yang menusuk, dan membuka pintu klinik. Langkahnya terhenti seketika. Sosok tinggi tegap dengan aura yang mengintimidasi berdiri tepat di depannya. Pangeran Yan—Rei—ada di sana. Menyimak setiap kata dari percakapan tadi.

“Salam, Yang Mulia…” sapa Dokter Ani dengan membungkuk dalam.

“Salam, Yang Mulia,” ucap Alin pelan, matanya tertuju pada lantai. “Silakan.”

Alin menyingkir, memberi ruang bagi Rei untuk masuk. Namun, saat menyadari pria itu justru menatapnya lekat, Alin memilih mundur perlahan. Tanpa menoleh lagi, ia memaksakan kakinya melangkah cepat menuju parkiran. Ia tahu Rei tak akan mengejarnya di koridor istana, adab kerajaan adalah tembok yang menjaga jarak mereka.

Di Dalam Mobil. Penyesalan yang Terlambat

“Kenapa tidak memberitahuku kalau dia adalah Pangeran?” Alin hampir berteriak pada ponselnya saat menghubungi Yuhan.

“Dia memintaku untuk membiarkannya memperbaiki kesalahannya sendiri,” jawab Yuhan tenang di seberang sana.

Alin memijat pangkal hidungnya. Bayangan saat ia menghina Rei di rumah sakit saat ia dirawat berputar seperti kaset rusak. Psikopat. Brengsek. Kata-kata itu kini terasa seperti bumerang.

Wanita itu mengemudikan mobilnya dengan segera untuk keluar dari lingkungan istana Xinglan.

“Aku sudah memintamu menjaga sikap, bukan?” ujar Yuhan. “Apa kau membuat masalah lagi di istana?”

“Tidak. Masalahnya sudah kubuat jauh sebelum sampai ke istana. Dosaku terlalu besar, Kak. Rasanya hukuman mati pun tidak cukup untuk menebus perbuatan ku ini.”

“Memangnya apa yang kau lakukan?”

Alin memejamkan mata. “Aku menamparnya. Keras sekali.”

CKIIIIITT!

Ban mobil Alin mencicit saat sebuah mobil hitam memotong jalannya tepat di depan gerbang keluar. Yuchen turun dari sana.

“Kak, nanti kuhubungi lagi,” Alin mematikan sambungan dengan panik.

“Dokter Yi, pangeran Yan meminta Anda bertemu dengannya di kediaman pribadinya,” ujar Yuchen tanpa basa-basi.

Alin terpojok. Di spionnya, satu mobil pengawal kerajaan sudah menutup jalan di belakang. Tak mungkin ia dapat kabur.

Alin mengangguk dan mengikuti iringan mobil Yuchen yang tepat berada didepannya, di iringi kawalan kerajaan dibelakang Alin.

Alin terhenti digerbang besar kediaman pribadi pangeran Yan. Mobil pengawal itu juga berhenti tepat dibelakang Alin. Yuchen sudah tak terlihat, jarak gerbang menuju kediamannya sedikit lebih jauh dari dugaan Alin.

“Apa ada sesuatu dokter Yi?” Tanya pengawal tersebut mengetuk jendela mobil Alin.

BIP

Sebuah pesan masuk di ponselnya:

Tuan Rei: Masuklah. Jangan buat pengawalku kehujanan karena menunggumu ragu-ragu di dalam mobil.

Alin kembali menjalankan mobilnya, benar saja beberapa pengawal kerajaan telah menantinya di tengah rintik hujan. Yuchen menghampiri mobil Alin dengan payung terbuka.

“Yang mulai menunggumu dalam,” ujarnya yang kemudian membimbing Alin masuk ke dalam kediaman yang jauh dari kesan kaku istana utama.

Di sana, Rei telah menanggalkan seragam resminya. Ia hanya mengenakan stelan biasa yang terlihat rapi dan elegan, tampak seperti pria yang Alin kenal di rumah sakit—namun dengan otoritas yang tak bisa disembunyikan.

“Duduk,” perintah Rei singkat.

Meja di depan mereka penuh dengan hidangan. Seorang wanita paruh baya, Bibi Fen, menghampiri Alin dengan senyum hangat yang sedikit mencairkan ketegangan.

“Mari, Nona Lin… silakan duduk,” ajak Bibi Fen lembut.

Alin duduk dengan kaku. Matanya menyisir hidangan di atas meja, pedas, berbumbu kuat, dan semua aroma yang sangat ia kenali.

“Kau tidak menyentuh makananmu di istana tadi. Makanlah. Aku menduga kau tidak berselera dengan makanan Xinglan yang cenderung tawar,” ujar Rei sembari beberapa makanan pada Alin.

Dada Alin sesak. Semua ini adalah makanan favoritnya. Ingatannya kembali ke malam festival musim gugur itu, saat ia dengan sombongnya menghina kuliner negara ini di depan pria yang ternyata adalah pangerannya.

................

“Aku rindu masakan ditempat ku.” Sahut Alin kemudian saat Rei menghancurkan norma adab kerajaan memakan makanan tersebut. Pria itu mulai makan dengan sendirinya, “Aku tidak suka makanan dari negara mu. Semua terasa hambar untuk ku. Bahkan kue nya saja. Kau tahu…”

Alin semakin mendekatkan dirinya pada Rei untuk berbisik, “Aku memesan lewat aplikasi semua jenis kue yang terdekat dari rumah sakit, aku membuangnya. Karena tidak ada yang manis. Dan kau tahu saat tim ku pulang terlebih dahulu saat undangan makan malam kerajaan, besoknya kami mendapat kiriman kue kerajaan. Kau tahu rasanya…”

“Kau tidak suka?” Tanya Rei, ia bahkan menyuruh orang dari restoran kerajaan untuk membuatkan kue terenak dan termahal untuk dikirimkan ke rumah sakit Alin, untuk dimakan bersama seluruh tim.

“Ya. Tidak enak. Bahkan jatah kue ku, aku enggan membukanya dan ku tinggalkan untuk perawat jaga malam.

................

Teringat juga olehnya saat itu, dengan berani ia langsung menyodorkan ke mulut Rei makanan dari restoran luar. Bukankah saat itu Rei juga sudah mengatakan dia tidak bisa makan makanan dari luar. Bukan karena dia tidak mau, karena dia adalah seorang bangsawan. Seorang pangeran yang dilarang makan masakan luar selain buatan istana, untuk keamanan dirinya.

Alin menunduk dalam, terngiang ungkapan masalalunya yang kelewatan untuk saat ini. Rasa bersalahnya kini jauh lebih menyakitkan daripada pergelangan kakinya yang terkilir.

“Kenapa? Apa makanannya tidak—”

“Yang Mulia…” Alin berdiri dengan mendadak, kursinya berderit di atas lantai. “Maafkan aku.”

Rei terdiam. Ia mengibaskan tangan, memberi kode pada Bibi Fen dan pelayan lain untuk meninggalkan ruangan. Kini, hanya tersisa mereka berdua dalam keheningan yang menyesakkan.

“Kau bisa memanggilku seperti biasa, Alin.”

“Aku tidak bisa,” sahut Alin cepat, suaranya bergetar.

Rei melangkah maju ingin mendekat, namun Alin justru mundur selangkah, menjaga jarak aman sesuai protokol yang baru ia pelajari.

“Kita bahas setelah kau makan. Itu perintah,” ujar Rei, menghentikan langkahnya agar Alin tidak semakin ketakutan.

“Yang Mulia, aku datang untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Sikapku... semua penghinaanku... aku benar-benar tidak tahu siapa Anda. Aku harus menyelesaikan ini sekarang juga.”

Alin menatap Rei dengan lugas, sadar bahwa pria di depannya ini bukan lagi sekadar 'pasien misterius', melainkan seseorang yang dunianya tak akan pernah bisa ia masuki tanpa membawa luka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!