Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.
Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.
Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.
"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Membangunkan Sang Iblis
Suara hantaman keras pada pintu kayu apartemen Alana terdengar bagaikan dentuman takdir yang kejam. Alana mencengkeram erat pinggiran meja dapur, buku-buku jarinya memutih, dan seluruh tubuhnya seketika bergetar hebat. Di luar sana, suara tawa melengking Melinda—ibu tirinya—berbaur dengan deru angin malam yang kencang dan ketukan kasar sepatu boots para preman suruhan Juragan Bahar.
"Alana! Keluar kamu anak gila! Jangan harap kamu bisa bersembunyi setelah mengacaukan kesepakatan besar dengan Juragan Bahar!" pekik Melinda dari balik pintu, suaranya melengking penuh kemarahan.
Ketakutan yang luar biasa seketika melumpuhkan seluruh syaraf di tubuh Alana. Pikirannya mendadak kosong. Gadis itu tahu benar bagaimana watak Melinda yang manipulatif serta kekejaman Juragan Bahar yang tidak akan pernah segan-segan bermain fisik jika segala keinginannya tidak terpenuhi. Air mata keputusasaan yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupis mata indahnya.
Namun, di tengah badai kepanikan yang nyaris membuat kesadaran Alana hilang, sebuah tangan besar yang hangat tiba-tiba mendarat dengan kokoh di atas bahunya. Sentuhan itu terasa begitu tenang dan menyejukkan. Alana mendongak dengan perlahan, menemukan sepasang mata obsidian milik Xander yang kini menatapnya lurus. Tidak ada lagi sisa-sisa kejenakaan atau ekspresi pria malang yang berpura-pura panik seperti di gang sempit tadi. Yang ada hanyalah sebuah ketenangan sedingin es yang luar biasa mematikan.
"Masuklah ke dalam kamar mandi, Istriku. Kunci pintunya rapat-rapat dari dalam dan jangan pernah keluar sampai aku menyuruhmu," bisik Xander. Nada suaranya begitu rendah, namun sarat akan otoritas mutlak yang sama sekali tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
"Tapi Xander... mereka banyak dan mereka sangat berbahaya! Mereka semua membawa preman bersenjata!" potong Alana dengan suara berbisik yang tercekat di tenggorokan. Ia sangat takut pria asing yang baru disewanya beberapa jam lalu ini akan menjadi korban keberingasan orang-orang suruhan Melinda.
Xander tidak menjawab kekhawatiran itu dengan kata-kata. Pria itu hanya memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat misterius, seolah-olah menganggap keberadaan segerombolan preman di luar sana tidak lebih dari sekadar sekumpulan semut pengganggu yang mengesalkan. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Xander mendorong tubuh mungil Alana masuk ke arah area belakang ruangan, memaksanya berlindung.
BRAKKK!
Belum sempat kaki Alana melangkah mencapai pintu kamar mandi, pintu kayu apartemennya sudah hancur berantakan setelah dihantam dengan satu tendangan keras dari luar. Engsel-engsel besinya patah berkeping-keping, menyisakan debu-debu kayu tua yang beterbangan di udara redup ruangan tersebut.
Melinda melangkah masuk terlebih dahulu dengan angkuh, mengenakan pakaian bermerek mencolok yang dibeli dari uang hasil berhutang. Di belakang wanita itu, berdiri tiga orang pria berbadan besar dengan tato yang memenuhi seluruh lengan mereka serta wajah penuh bekas luka robekan. Mereka adalah para algojo andalan yang paling ditakuti milik Juragan Bahar.
"Oh, jadi kamu benar-benar bersembunyi di tempat kumuh ini, anak sialan!" Melinda berkacak pinggang, menatap Alana dengan pandangan yang dipenuhi rasa benci. Namun, tatapan mata Melinda segera terhenti ketika pandangannya menangkap sosok Xander yang berdiri tegak lurus di tengah ruangan, menghalangi jalannya dengan kokoh.
Melinda mendengus sinis, matanya mengamati penampilan Xander dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemeja hitam polos yang basah dan sedikit kusut membuat Melinda langsung menarik kesimpulan instan yang meremehkan. "Siapa pria gembel ini, Alana? Jadi ini alasanmu berani menolak Juragan Bahar? Kamu melarikan diri dari rumah hanya demi pria miskin tak berguna seperti dia?!"
Salah satu preman berbadan paling besar, yang memegang sebatang balok kayu tebal di tangan kanannya, melangkah maju dengan angkuh. Pria bertato itu menunjuk tepat ke arah dada Xander menggunakan ujung balok kayunya yang kotor. "Heh, anak muda! Jangan coba-coba berlagak jadi pahlawan kesiangan di sini kalau kau masih sayang dengan nyawamu sendiri. Singkirkan badanmu yang kerempeng itu dari hadapan kami, atau kupastikan besok pagi kau hanya tinggal nama!"
Xander melirik perlahan ke arah ujung balok kayu yang menyentuh permukaan kemeja hitam mahalnya. Kilat di sepasang matanya mendadak berubah menjadi luar biasa mengerikan. Di dunia bawah, bahkan para pemimpin mafia tingkat tinggi sekalipun akan langsung berlutut gemetar jika Xander sudah menatap mereka dengan tatapan dingin seperti itu.
"Kau baru saja mengotori kemejakupakai kayu murahan itu," ucap Xander dengan nada suara yang sangat datar, hampir tanpa emosi sama sekali. Namun, bagi siapa pun yang mengenal sosok asli sang penguasa kegelapan, nada datar itu adalah sebuah pertanda mutlak bahwa pembantaian berdarah akan segera dimulai.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau berbicara seperti itu padaku—"
KRAKKK!
Belum sempat preman bertato itu menyelesaikan kalimat ancamannya, sebuah gerakan secepat kilat yang sama sekali tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang telah terjadi. Xander telah mencengkeram pergelangan tangan pria besar tersebut, lalu memutarnya ke arah berlawanan hingga terdengar suara patahan tulang yang sangat mengerikan menggema di dalam ruangan. Balok kayu tebal itu langsung jatuh berdentum keras ke atas lantai.
"AAAARGHHH!!!" Preman besar itu menjerit histeris kesakitan, langsung berlutut di lantai sambil memegangi pergelangan tangannya yang kini terkulai layu dengan sudut yang tidak wajar.
Dua preman lainnya yang menyaksikan hal itu terkejut setengah mati. Namun, sebagai petarung jalanan kawakan, mereka segera bergerak bersamaan untuk mengeroyok Xander dari dua arah. Salah satu dari mereka melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Xander, sementara yang satunya lagi mencoba menerjang bagian pinggangnya.
Xander hanya menggeser kaki kanannya sedikit ke belakang dengan sangat tenang, menghindari pukulan pertama dengan gerakan yang sangat elegan mirip seorang penari profesional. Detik berikutnya, tangan kanan Xander bergerak mencengkeram kuat leher preman kedua, lalu dengan satu hentakan kasar, ia menghantamkan wajah pria itu ke atas permukaan meja dapur dengan kekuatan yang luar biasa besar.
BRAKKK!
Meja dapur kayu yang tebal itu seketika retak menjadi dua bagian, dan preman kedua langsung ambruk tidak berdaya ke atas lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan darah segar yang mengalir deras dari hidungnya. Preman ketiga yang melihat kedua rekannya tumbang hanya dalam hitungan detik mendadak menciut drastis. Nyalinya hilang tanpa sisa. Kakinya gemetar hebat, dan ia melangkah mundur dengan wajah pucat pasi layaknya sepotong mayat.
Melinda yang menyaksikan seluruh rentetan kejadian mengerikan itu menjerit histeris ketakutan. Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, sama sekali tidak percaya bahwa tiga algojo paling kejam milik Juragan Bahar bisa dikalahkan dengan begitu mudah, cepat, dan brutal oleh seorang pria yang beberapa menit lalu ia sebut sebagai 'gembel'.
Xander melangkah maju satu demi satu dengan santai, mendekati Melinda yang kini terus bergerak mundur hingga punggungnya menabrak kusen pintu yang sudah rusak. Aura membunuh yang menguar kuat dari tubuh tegap Xander begitu pekat hingga membuat Melinda merasa sesak napas dan tercekik.
Xander menundukkan sedikit tubuh tingginya, menyejajarkan wajahnya tepat di depan Melinda yang kini sedang menangis ketakutan di lantai. "Sampaikan pesan ini baik-baik pada tuanmu yang malang, Juragan Bahar," bisik Xander dengan nada suara yang sangat dingin menyengat hingga ke dalam dada. "Gadis ini adalah istri sahku. Jika ada satu saja dari kalian yang berani menginjakkan kaki kotor kalian di tempat ini lagi, atau mencoba menyentuh seujung rambutnya... kupastikan seluruh keluarga dan garis keturunan kalian akan lenyap dari muka bumi ini tanpa sisa."
"Pe-pergi... ayo kita segera pergi dari sini!" teriak Melinda histeris kepada preman ketiga yang masih sehat. Tanpa memedulikan lagi dua rekan premannya yang terkapar mengenaskan di lantai, Melinda dan preman tersisa itu berlari terbirit-birit menuruni anak tangga apartemen seolah-olah mereka sedang dikejar oleh sosok iblis paling mengerikan dari neraka.
Suasana di dalam apartemen kecil itu mendadak berubah menjadi sangat sunyi senyap, hanya menyisakan suara deru napas Alana yang masih syok berat di sudut ruangan. Gadis itu menatap punggung tegap Xander dengan pandangan yang dipenuhi perpaduan antara rasa tidak percaya, kagum, sekaligus ngeri yang luar biasa.
Xander membalikkan tubuhnya perlahan, menatap wajah Alana yang masih membeku kaku seperti patung. Seketika itu juga, tatapan matanya yang kejam kembali berubah melembut dengan sangat cepat. Pria itu berjalan mendekat lalu mengambil ponsel pintarnya dari dalam saku celana. Sembari melangkah menghampiri Alana, jemari panjangnya bergerak lincah di atas layar sentuh, mengirimkan sebuah pesan singkat berisi perintah mutlak kepada Dante:
“Hancurkan seluruh lini bisnis milik Juragan Bahar malam ini juga. Jangan sisakan satu sen pun kekayaan untuknya.”
Xander memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu mengulurkan tangannya yang bersih tanpa noda darah sedikit pun ke hadapan wajah Alana yang masih terpaku. "Kau tidak apa-apa, Istriku? Maaf ya, aku terpaksa bertindak sedikit kasar tadi karena mereka semua sangat berisik dan mengganggu waktu istirahat kita."
Alana menatap telapak tangan besar itu dengan penuh keraguan. Pikiran logisnya berputar keras. Siapa sebenarnya identitas asli dari suami sewaan barunya ini? Seorang pria pengangguran biasa yang sedang dikejar hutang tidak mungkin memiliki kemampuan bertarung brutal yang setara dengan pasukan elite militer.