NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Setelah Cahaya Itu Hilang

Sunyi.

Tidak ada alarm.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada suara tembakan.

Cuma gelap.

Kosong.

Dan anehnya…

hangat.

Nayra membuka mata perlahan.

Kabur.

Semuanya putih.

Langit-langit putih.

Lampu putih.

Bau obat-obatan.

Deg.

Rumah sakit.

Panik langsung menghantam dadanya.

Tubuhnya refleks bangun.

Dan rasa sakit di kepala langsung menyerang brutal.

“AAH—”

“Nayra!”

Seseorang langsung menahan bahunya pelan.

Suara itu…

Zavian.

Nayra langsung menoleh cepat.

Cowok itu duduk di samping ranjang dengan wajah berantakan.

Rambut acak-acakan.

Mata merah.

Dan lingkar hitam jelas di bawah matanya.

Seperti seseorang yang sudah lama tidak tidur.

“Astaga…”

Nayra menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata pelan—

“Kamu jelek banget.”

Hening.

Lalu Zavian tertawa kecil.

Benar-benar kecil.

Dan itu mungkin suara paling lega yang pernah Nayra dengar.

“Aku juga senang lihat kamu bangun.”

Ingatan mulai kembali perlahan.

Reaktor.

Transfer.

Subject 07 asli.

Founder.

Cahaya putih.

Dan—

Deg.

Nayra langsung membeku.

“Dia…”

Suara gadis itu langsung melemah.

Zavian tahu siapa yang dimaksud.

Tatapannya turun sebentar.

Dan Nayra langsung merasa dadanya sesak.

“Dia nggak ada ya…”

Sunyi.

Zavian menggenggam tangannya pelan.

“Tapi dia berhasil.”

Air mata Nayra langsung jatuh lagi.

Karena ia tahu.

Ia bisa merasakannya.

Bagian kosong dalam dirinya yang selama ini hilang…

sudah kembali.

Dan bersama itu—

ada banyak hal lain.

Ingatan kecil.

Perasaan kecil.

Potongan hidup yang bukan sepenuhnya miliknya.

Namun sekarang menjadi bagian dirinya.

Nayra memegang dadanya perlahan.

Hangat.

Aneh.

Tapi utuh.

“Aku bisa ngerasain dia…”

Zavian diam mendengarkan.

“Aneh banget.”

Napas Nayra gemetar.

“Kayak dia masih di sini.”

Tangannya makin erat di dada sendiri.

“Kayak… dia tidur di dalam aku.”

Sunyi.

Lalu Zavian berkata pelan—

“Mungkin memang begitu.”

Air mata Nayra turun makin deras.

Dan tanpa sadar—

ia tertawa kecil di tengah tangisnya.

“Dia bakal marah kalau lihat aku nangis terus.”

“Pasti.”

“Dia suka bilang aku gampang nangis.”

Zavian tersenyum tipis.

“Karena memang iya.”

“Eh.”

Untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan itu…

suasana terasa normal sedikit.

Sedikit sekali.

Tapi cukup.

Nayra baru sadar ada beberapa perban di lengannya.

Dan infus di tangannya.

“Kita selamat?”

“Nyaris nggak.”

Zavian menyender pelan di kursinya.

“Gedungnya runtuh total lima menit setelah kita keluar.”

Nayra langsung menatapnya.

“Kita keluar gimana?”

“Hyren.”

Deg.

“Kakakmu?”

Zavian mengangguk kecil.

“Dia bawa kita keluar sebelum sistem runtuh total.”

Nayra langsung mencari ke sekeliling ruangan.

“Dia mana?”

Hening.

Dan ekspresi Zavian berubah sedikit.

Tidak sedingin biasanya.

Lebih rumit.

“Masih hidup.”

Nayra langsung lega.

“Tapi?”

“Dia ditahan.”

“Hah?!”

“Pemerintah nemuin semua data organisasi.”

Tatapan Zavian turun.

“Dan Hyren tetap bagian dari mereka.”

Sunyi.

Nayra langsung merasa tidak nyaman.

Karena ia tahu…

Hyren memang pernah melakukan banyak hal buruk.

Walau akhirnya membantu mereka.

“Dia bakal dihukum?”

Suara Nayra pelan.

Zavian diam beberapa detik.

“Entah.”

Tatapannya kosong ke depan.

“Tapi dia sendiri yang menyerahkan diri.”

Deg.

Nayra langsung membeku.

“Kenapa?”

“Karena katanya…”

Zavian tertawa kecil hambar.

“…dia capek lari.”

Hening.

Dan entah kenapa…

itu terdengar sangat seperti Hyren.

Pintu kamar rumah sakit tiba-tiba terbuka.

BRAKK.

Arsen masuk sambil membawa dua kantong makanan.

Dan Nayra langsung melotot.

“ASTAGA.”

Cowok itu berhenti.

“Apa?”

“Kamu ternyata masih hidup.”

Arsen langsung mendelik.

“Terima kasih atas sambutannya.”

Nayra malah tertawa kecil.

Karena jujur—

melihat Arsen hidup rasanya absurd.

Cowok itu seperti karakter yang terlalu keras kepala untuk mati.

Arsen meletakkan makanan di meja.

Lalu menatap Nayra.

“Selamat.”

“Hah?”

“Kamu resmi bikin dunia kacau.”

Nayra mengernyit.

“Apa maksudnya?”

Arsen langsung menunjuk TV kecil di sudut ruangan.

Berita memenuhi layar.

Eksperimen manusia ilegal.

Organisasi permainan kematian.

Skandal internasional.

Penangkapan besar-besaran.

Dan nama Project Lazarus ada di mana-mana.

“Oh.”

Nayra langsung meringis.

“Sedikit chaos ya.”

“Sedikit?”

Arsen tertawa kecil.

“Internet literally meledak.”

Zavian memijat pelipis.

“Banyak negara mulai investigasi.”

“Dan semua orang sekarang takut sama eksperimen manusia,” tambah Arsen.

Nayra langsung menunduk pelan.

Karena bagian itu menyakitkan.

Ia tahu banyak orang bakal melihat dirinya sebagai monster.

Atau eksperimen.

Atau sesuatu yang bukan manusia normal.

Dan itu menakutkan.

“Kamu mikir aneh-aneh lagi.”

Nayra langsung menoleh.

Zavian menatapnya tajam.

“Hah?”

“Muka kamu gampang dibaca.”

“Apaan sih…”

“Kamu takut orang-orang bakal takut sama kamu.”

Deg.

Nayra langsung diam.

Karena tepat sasaran.

Zavian menghela napas pelan.

Lalu berkata—

“Aku nggak peduli kamu apa.”

Tatapannya lurus.

“Mau hasil eksperimen, manusia setengah alien, atau monster sekalipun…”

Sudut bibirnya naik sedikit.

“…kamu tetap Nayra.”

Deg.

Jantung Nayra langsung kacau lagi.

Arsen langsung pura-pura muntah.

“Uhuk. Romantis banget.”

“Keluar sana,” geram Zavian.

“Rumah sakit publik ini.”

“Tetap keluar.”

Nayra menahan tawa kecil.

Dan untuk pertama kalinya setelah semua kejadian itu…

dadanya terasa ringan.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Tapi cukup membuatnya merasa hidup.

Malam datang perlahan.

Arsen akhirnya keluar setelah dipaksa perawat karena terlalu berisik.

Dan kamar jadi lebih tenang.

Lampu diredupkan.

Suara kota terdengar samar dari luar jendela.

Nayra duduk diam di ranjang sambil menatap langit malam.

Masih sulit percaya semuanya selesai.

Atau setidaknya…

bagian terburuknya selesai.

“Kamu belum tidur?”

Suara Zavian terdengar pelan dari sofa dekat jendela.

Cowok itu ternyata masih di sana.

Belum pulang.

Belum tidur.

Lagi.

Nayra langsung menatapnya.

“Kamu dari tadi di situ?”

“Iya.”

“Kamu creepy.”

“Aku jagain kamu.”

Deg.

Oke.

Jantungnya belum sembuh ternyata.

Nayra menggigit bibir kecil.

Lalu berkata pelan—

“Kamu takut aku hilang lagi ya?”

Hening.

Zavian tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru turun sebentar.

Dan itu sudah cukup jadi jawaban.

“Aku pernah kehilangan terlalu banyak orang.”

Suara cowok itu rendah.

Tenang.

Tapi penuh luka.

“Jadi sekarang…”

Tatapannya perlahan kembali ke Nayra.

“…aku nggak tahu cara berhenti khawatir.”

Deg.

Nayra menatapnya lama.

Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.

“Kalau gitu…”

Ia menepuk sisi ranjang kosong.

“…duduk sini.”

Zavian mengernyit sedikit.

“Hah?”

“Daripada diem creepy di pojokan.”

Cowok itu mendesah kecil.

Tapi akhirnya bangkit juga.

Dan duduk di samping ranjang Nayra.

Dekat.

Sangat dekat.

Beberapa detik mereka cuma diam.

Aneh.

Tapi nyaman.

Dan Nayra baru sadar sesuatu—

ia sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan Zavian sekarang.

Suara napasnya.

Tatapan dinginnya.

Cara cowok itu selalu berdiri di depannya saat bahaya datang.

Semua terasa… familiar.

Seperti rumah.

Dan itu menakutkan sekaligus indah.

“Nayra.”

“Hm?”

Zavian terlihat ragu sebentar.

Langka.

Sangat langka.

Lalu ia berkata pelan—

“Waktu kamu nggak bangun selama tiga hari…”

Deg.

Nayra langsung menoleh cepat.

“Tiga hari?!”

“Iya.”

“Kok lama banget?!”

“Aku juga kesel.”

Nayra hampir tertawa.

Hampir.

Kalau saja ekspresi Zavian tidak seserius itu.

“Aku pikir…”

Cowok itu menelan ludah pelan.

“…aku kehilangan kamu.”

Sunyi.

Dan Nayra bisa melihatnya sekarang.

Rasa takut itu.

Masih ada.

Masih nyata.

Tanpa sadar…

Nayra mengulurkan tangan.

Lalu menggenggam tangan Zavian perlahan.

“Aku masih di sini.”

Zavian menatap tangan mereka beberapa detik.

Lalu menggenggam balik lebih erat.

Dan untuk pertama kalinya…

cowok itu terlihat benar-benar tenang.

Sedikit.

Tiba-tiba Nayra merasakan sesuatu aneh.

Hangat kecil di dadanya.

Dan suara samar—

“Bagus.”

Deg.

Nayra langsung membeku.

Itu…

suara Subject 07 asli.

Lembut.

Jauh.

Tapi ada.

“Nayra?”

Zavian langsung sadar ekspresinya berubah.

Nayra menatap dadanya pelan.

Lalu tersenyum kecil sambil menahan air mata lagi.

“Dia masih ada.”

“Hah?”

Nayra tertawa kecil pelan.

“Dan dia lagi nge-ship kita kayaknya.”

Hening.

Zavian langsung mengernyit.

“Apa?”

“Lupakan.”

Untuk pertama kalinya…

Nayra benar-benar merasa masa depan masih ada.

Dan mungkin…

untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

ia tidak takut lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!