Tidak ada yang tahu, Ratu pergi bukan karena ingin meraih cita-cita, namun untuk lari dari perasaannya kepada sosok laki-laki yang ternyata telah memiliki tunangan.
Dia adalah Ardiansyah, putra kedua dari keluarga Suhadi, seorang CEO yang baru saja di Lantik setahun yang lalu setelah menyelesaikan pendidikannya,dan fokus memimpin perusahaan raksasa. namun fakta yang membuat Ratu pergi, Ardiansyah telah bertunangan dengan seorang gadis salehah, teman Adiknya saat berada di pesantren dan memutuskan untuk pergi ke kota dengan misi tersembunyi.
yuk ikuti kisah Ratu di sini....
kawal sampai akhir ya...
apakah sad ending, atau happy ending...
terimakasih atas dukungannya selama ini...
🥰🥰🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"KELUAR DARI MOBIL! SERAHKAN SEMUA BARANG BERHARGA KALIAN!" teriak salah satu gangster dengan bekas luka gores di wajahnya.
Ardiansyah Yang berada di belakang mobil segera mendekat, setelah melihat Ratu keluar dari mobil, Ia segera pasang badan di depan Ratu. "Tetap di belakang saya, Asisten! Jangan bergerak!"
Ratu tersenyum mengejek,namun ada rasa haru di hatinya, karena Ardiansyah ingin melindunginya..."Cerewet! Urus saja bagian kirimu!" sahut Ratu yang justru melangkah maju.
Salah seorang gangster mengayunkan parang ke arah Ardiansyah. Dengan gerakan refleks yang terlatih, Ardiansyah menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga terdengar bunyi krek, dan melayangkan tendangan telak ke ulu hati.
Krek....
Bugh...
Namun, dua orang lainnya menyerang dari belakang dengan rantai.
Tepat saat rantai itu hampir mengenai punggung Ardiansyah, sebuah bayangan melesat.
Bugh!
Plak!
Bugh
Bugh...
Ratu melakukan tendangan memutar yang sempurna, menjatuhkan penyerang itu dalam sekejap. Gerakannya sangat taktis, bersih, dan mematikan. Ardiansyah tertegun sesaat. Gerakan ini... ini bela diri tingkat tinggi.
Perkelahian sengit terjadi. Ratu yang selama ini terlihat seperti asisten fashion yang cerewet, kini berubah menjadi mesin tempur. Saat ia menghindari sabetan senjata, kacamata tebal beningnya terlempar dan maskernya robek ditarik lawan dengan sempurna.
Ratu melakukan teknik kuncian leher yang pernah diajarkan Nadine padanya, lalu membanting lawan terakhir hingga pingsan di atas aspal. Rambutnya terurai berantakan, jilbabnya ketarik sama gangster yang lain sampai terbang mengenai wajah Ardiansyah dan akhirnya wajah aslinya kini terpapar jelas di bawah lampu jalan yang remang.
Ardiansyah berdiri mematung, napasnya memburu. Ia menatap wajah wanita di depannya tanpa kacamata besar nya, wajah yang selama ini menghantui mimpinya...
Lagi-lagi Ratu menyerang gangster terakhir yang akan menyerang Ardiansyah yang sedang terpaku.
"Ratu? Jadi... asisten bar-bar ini benar-benar kamu?" tanya Ardiansyah yang terkejut.
Ratu terengah-engah, ia menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah. Ia baru sadar identitasnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Ia meraih jilbab yang berada di tangan Ardiansyah untuk menutupi rambutnya kembali dengan gerakan cepat namun tetap anggun.
"Puas sekarang? Ya, ini aku. Ratu, adik Aditya yang kamu pikir sudah hilang ditelan bumi. Berhenti menatapku seperti melihat hantu, Ardiansyah!"
Ardiansyah melangkah mendekat, mengabaikan para gangster yang terkapar di jalan. Ada rasa kagum yang luar biasa menyergap hatinya. Bukan hanya karena keberanian Ratu, tapi karena kemampuannya menjaga rahasia dan kekuatannya yang tak terduga.
"Kenapa kamu harus menyamar menjadi asisten Vanessa? Dan bagaimana bisa kamu bertarung sehebat itu, tadi saat Kau makan Aku sempat curiga, walaupun kau masih menggunakan kacamata tebal itu?" tanya Ardiansyah dengan rasa penasaran yang memuncak.
"Vanessa butuh orang kepercayaan yang bisa menghadapi pria keras kepala sepertimu. Soal bela diri... anggap saja aku punya guru yang sangat galak di masa lalu. Sekarang, lupakan soal identitasku. Ganti ban itu sekarang, atau kita akan kedatangan gelombang kedua!" jawab Ratu ketus.
Ardiansyah mengangguk, ia tersenyum tipis, kali ini senyum yang penuh arti. Ia mengambil tissue basah di dalam mobilnya dan memberikannya pada Ratu untuk membersihkan tangan nya yang terkena cipratan darah.
"terimakasih " balas ratu dengan tulus. "Ternyata menebakmu jauh lebih menarik daripada menjalankan perusahaan. Terima kasih, Ratu. Kamu baru saja menyelamatkan nyawa tunangan orang lain." ucap Ardiansyah tersenyum.
Ratu membuang muka, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia kembali menatap tabletnya yang tergeletak di aspal, Ia mengambilnya , memastikan alat kerjanya tidak rusak.
" Ayo, Aku akan mengantarmu sampai ke rumah Tuan Aditya setelah ban mobilku sudah betul....Pasti kau tinggal di sana kan, ?"
Ratu mengangguk tanpa berucap.
Keheningan malam di jalanan Tangerang yang sunyi itu terasa berbeda sekarang. Tidak ada lagi adu mulut yang meledak-ledak. Ratu berdiri bersandar di badan mobil, memperhatikan gerak-gerik Ardiansyah yang begitu cekatan memutar kunci roda. Otot lengannya yang kokoh terlihat bekerja keras di bawah lampu jalan yang temaram.
Ratu menggigit bibir bawahnya. Ada rasa canggung yang merayap di dadanya. "Kau... ternyata tidak sepayah yang aku bayangkan," gumam Ratu pelan, hampir tak terdengar.
Ardiansyah meletakkan ban yang pecah ke bagasi, lalu menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Ia menoleh ke arah Ratu dengan tatapan yang jauh lebih hangat dari biasanya.
"Kau pikir aku ini tuan muda yang hanya bisa duduk di kursi empuk dan memerintah? Dulu mungkin iya. Tapi Najwa... adikku itu sudah banyak merubah sudut pandangku. Dia mengajariku bahwa tangan yang kotor karena bekerja itu jauh lebih mulia daripada tangan yang bersih karena kemunafikan." ucap Ardiansyah yang tahu arti tatapan Ratu.
Ratu tertegun. Informasi ini tidak ada dalam data yang ia retas. Ia tidak tahu bahwa pengaruh Najwa begitu besar hingga bisa mencairkan bongkahan es di hati keluarga Suhadi.
"Pantas saja... sikapmu saat menghadapi Pak Cito tadi berbeda. Kau lebih mendengarkan daripada sekadar menindas." ucap Ratu pelan.
Ardiansyah berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapan Ratu "Dan kau... kau juga bukan Ratu yang dulu hobinya hanya memaki-maki orang di jalanan. Kau sudah menjadi wanita yang sangat hebat, Ratu. Bertarung melawan tiga gangster sekaligus? Aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat."
"Semua orang bisa berubah, Allah yang membolak-balikkan hati manusia, Aku sangat beruntung, karena telah sadar lebih dulu sebelum maut menjemput ku" ucap Ratu tersenyum getir.
Ardiansyah melihat tatapan sendu pada Ratu menjadi tidak tega, entah apa yang ada di dalam hatinya, namun ia ingin sekali menjadi pelindung bagi gadis di depannya. Ia tidak berani bertanya lagi sampai pekerjaan nya selesai.
___
Setelah semua selesai, mereka kembali masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju rumah Aditya terasa lebih panjang karena suasana canggung yang menyelimuti mereka. Ratu yang biasanya berisik kini lebih banyak diam, memandangi lampu-lampu jalan.
Ardiansyah meraih salep untuk luka memar yang masih ada di dasbor dan memberikannya kembali pada Ratu.
"Obati lukamu , Aku tidak mau kakakmu, Aditya, berpikir aku membiarkan adiknya terluka di bawah pengawasanku."
Ratu menerima salep itu dengan jari yang bersentuhan sedikit dengan tangan Ardiansyah "Terima kasih... Ardi. Dan tolong, soal identitasku... jangan beritahu siapa pun di kantor. Aku masih punya urusan yang belum selesai sebagai asisten Vanessa."
"Rahasiamu aman bersamaku. Tapi dengan satu syarat... jangan pernah menghilang lagi tanpa kabar seperti beberapa tahun lalu. Jakarta terasa sangat membosankan tanpa gangguanmu." Goda Ardiansyah, padahal dulu baru 2 kali Ia bertemu dengan Ratu dalam keadaan yang berbeda.
Ratu hanya terdiam, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tulus. Ia mengeluarkan ponselnya , bukan untuk bekerja, tapi untuk menutupi rona merah di wajahnya.