Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — SAAT DUNIA MULAI TERBAKAR
Pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena cuaca.
Bukan karena kota tiba-tiba berubah.
Tapi karena…
hari ini adalah hari di mana semuanya tidak bisa lagi ditarik kembali.
Aku berdiri di depan cermin.
Menatap diriku sendiri.
Gaun hitam sederhana.
Riasan tipis.
Tatapan yang tidak lagi ragu.
“Sudah siap?” suara Leon dari belakang.
Aku tidak langsung menjawab.
Hanya tersenyum kecil.
“Harus.”
Langkah yang Tidak Bisa Dibatalkan
Gedung Arkavera lebih ramai dari biasanya.
Bukan hanya karyawan.
Tapi juga—
wartawan.
Kamera.
Orang-orang yang biasanya tidak diizinkan masuk.
Dan hari ini…
mereka semua ada di sini.
“Dia benar-benar melakukannya…” gumam Leon pelan.
Aku melangkah turun dari mobil.
Lampu kamera langsung menyala.
Kilatan cahaya menyilaukan.
Suara-suara mulai terdengar.
“Siapa wanita itu?”
“Apakah benar dia pemegang saham baru?”
“Apakah ada konflik internal di Arkavera?”
Aku tidak menjawab.
Belum.
Hari ini bukan tentang menjawab.
Tapi tentang…
menghancurkan.
Arkan yang Sudah Menunggu
Saat aku masuk—
dia sudah ada di sana.
Berdiri di tengah lobi.
Dikelilingi orang-orang.
Dan saat mata kami bertemu—
semua suara di sekitarnya terasa hilang.
Sunyi.
Hanya kami berdua.
Dan masa lalu yang belum selesai.
“Kamu benar-benar gila,” katanya pelan saat aku mendekat.
Aku tersenyum.
“Kalau aku tidak gila… aku tidak akan sampai sejauh ini.”
Pertarungan Tanpa Senjata
“Ini bukan hanya tentang kita lagi,” lanjut Arkan.
“Aku tahu.”
Aku melirik ke arah wartawan.
“Makanya aku undang mereka.”
Tatapannya berubah.
Lebih tajam.
Lebih waspada.
“Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan.”
Aku mendekat sedikit.
“Justru aku tahu persis.”
Semua Mata Tertuju Padaku
Kami masuk ke ruang utama.
Tempat konferensi sudah disiapkan.
Semua kursi penuh.
Semua kamera mengarah ke satu titik—
aku.
Aku berdiri di depan.
Mengambil mic.
Dan untuk pertama kalinya—
aku bicara.
Kebenaran Mulai Dibuka
“Terima kasih sudah datang.”
Suaraku tenang.
Jelas.
Tidak gemetar.
“Aku tahu kalian semua penasaran… kenapa tiba-tiba ada konflik di dalam Arkavera.”
Beberapa wartawan langsung bersiap.
Aku tersenyum tipis.
“Dan hari ini… aku akan jawab semuanya.”
Arkan berdiri di samping.
Diam.
Tapi aku bisa merasakan—
dia siap menghentikanku kapan saja.
Nama yang Tidak Seharusnya Disebut
“Aku ingin mulai dari satu hal sederhana.”
Aku mengangkat satu dokumen.
“Lima tahun lalu… terjadi sesuatu yang tidak pernah kalian ketahui.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku menatap lurus ke depan.
“Pernikahan.”
Beberapa orang saling pandang.
“Yang bukan terjadi karena cinta.”
Arkan Mulai Bergerak
“Cukup.”
Suara Arkan tiba-tiba masuk.
Dia melangkah ke depan.
Mencoba mengambil alih.
“Aku tidak akan membiarkan kamu—”
“Terlambat.”
Aku memotong.
Pelan.
Tapi tegas.
Semua mata kembali padaku.
Rahasia yang Hampir Terbuka
“Pernikahan itu…”
Aku berhenti sejenak.
Menatap Arkan.
Lalu—
“dirancang.”
Suasana langsung berubah.
Bising.
Wartawan mulai berbisik.
Kamera bergerak lebih cepat.
“Apa maksudnya dirancang?”
“Apakah ini skandal?”
Aku mengangkat tangan.
Semua kembali diam.
Satu Langkah Lagi
“Dan bukan hanya itu.”
Aku membuka dokumen berikutnya.
Tanganku stabil.
“Semua ini… adalah bagian dari rencana besar.”
Arkan menatapku.
Dalam.
Seolah memohon—
atau memperingatkan.
Aku tidak peduli.
Hari ini…
aku tidak akan berhenti.
Momen yang Hampir Menghancurkan Segalanya
Aku menarik napas dalam.
Dan bersiap mengatakan—
kebenaran terbesar.
“Orang di balik semua ini adalah—”
BRAK!
Pintu terbuka keras.
Semua orang menoleh.
Dan di sana—
dia berdiri.
Wanita itu.
Ibu Arkan.
Kehadiran yang Menghentikan Waktu
Dia melangkah masuk dengan tenang.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Seolah semua ini… hanya acara biasa.
Tatapannya langsung padaku.
Dan dia tersenyum.
Tipis.
Dingin.
“Sepertinya… kamu terlalu jauh melangkah, Alena.”
Permainan yang Berubah Arah
Aku tidak mundur.
Tidak ragu.
Aku menatapnya balik.
“Baru mulai.”
Dia tertawa kecil.
“Kalau kamu lanjut… kamu tidak hanya menghancurkan kami.”
Dia mendekat.
Langkahnya pelan.
Tapi setiap kata—
tajam.
“Kamu juga akan menghancurkan dirimu sendiri.”
Kata-Kata yang Membuat Semua Berhenti
Aku mengernyit.
“Ancaman?”
Dia mendekat lebih dekat.
Dan berbisik—
cukup pelan.
Hanya aku yang dengar.“
Tanyakan pada dirimu sendiri… siapa kamu sebenarnya.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Untuk pertama kalinya—
sejak aku kembali—
aku…
ragu.
Dokumen yang Jatuh
Tanganku sedikit melemah.
Dokumen di tanganku hampir jatuh.
Leon langsung bergerak.
Menahannya.
“Fokus,” bisiknya pelan.
Aku menutup mata sebentar.
Lalu membuka lagi.
Tatapanku kembali tajam.
Tidak.
Aku tidak akan berhenti di sini.
Akhir yang Menggantung
Aku kembali mengangkat mic.
Semua orang menunggu.
Diam.
Tegang.
Dan aku—
tersenyum tipis.
“Sepertinya… cerita ini tidak bisa selesai hari ini.”
Beberapa wartawan langsung ribut.
“Apa maksud Anda?!”
“Siapa dalangnya?!”
Aku mundur satu langkah.
“Kalau kalian ingin tahu kebenarannya…”
Aku menatap lurus ke kamera.
Dan berkata—
“Buka rahasia yang sebenarnya… di bab selanjutnya.”
Penutup
Di ruangan itu—
tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang baru saja terjadi.
Tapi satu hal jelas—
Sebuah perang besar…
sudah dimulai.
Dan kali ini—
tidak akan ada yang keluar tanpa luka.