NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Rumahhantu
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

"Tapi kita baru saja kehilangan Randi, Pak, dan daftar foto di dinding itu sepertinya sudah mengikat diri kita. Saya tidak pernah membayangkan ada makhluk gaib sebesar dan semengerikan itu sebelumnya. Sepertinya daerah hutan ini adalah wilayah tempat tinggalnya. Kita lengah, kita tidak berhati-hati, kita...."

"Sekali lagi aku katakan, hentikan omong kosong itu..!!!"

Suara Sulaiman lantang, memecah dan kembali memotong gerutu yang mencekam di dalam gubuk. Wajahnya memerah, campuran antara amarah, frustrasi, dan ketakutan yang ia coba sembunyikan di balik topeng ketegasan. Ia tahu, jika mereka terus berpikir negatif, mental mereka akan hancur sebelum fisik mereka disentuh oleh apa pun yang ada di luar sana.

Ia menghela napas panjang, dadanya naik turun. Matanya mengedar, kembali mengamati setiap sudut gubuk bambu yang reyot ini. Lantai kayunya sudah licin karena lumut, atapnya berlubang-lubang, dan dinding anyaman bambunya banyak yang sudah jebol. Ditambah, di tengah kerapuhan itu, ada aura kekuatan gelap yang terasa begitu padat.

"Dengar aku!" Sulaiman menunjuk satu per satu wajah anak buahnya. Herman yang pucat pasi dan terus berdoa, serta Deri yang gemetar hebat seolah terkena malaria berat. "Kita masih hidup. Itu yang penting dan harus kita syukuri. Randi... Randi sudah pergi. Kita tidak bisa menolongnya lagi. Tapi kita tidak boleh menyerah di sini. Kita harus keluar."

"Tapi Bos..." suara Deri terdengar parau, matanya tak lepas dari tumpukan foto-foto mengerikan di dinding. "Fotonya... fotonya ada tertera tanggal hari ini. Itu tandanya... itu tandanya nasib kita akan sama kayak Randi. Kita semua bakal berakhir di sini hari ini."

"Jangan bilang begitu! Jangan pernah memanggil kematianmu sendiri!" Bentak Sulaiman sambil menggenggam kerah baju yang dikenakan Deri, meski di dalam hatinya, kata-kata anak buahnya itu benar-benar menusuk. Ia sendiri juga merinding melihat foto mereka berempat yang sudah terpasang rapi di dinding itu, seolah-olah kehadiran mereka sudah diduga sejak ratusan tahun lalu.

"Baiklah, sekarang atur posisi. Malam ini panjang. Kita tidak bisa tidur semua. Kita jaga bergantian." Sulaiman mencoba mengambil alih komando, berusaha menciptakan struktur agar mereka tidak panik. "Herman, di antara anak-anakku, kau yang paling kuat mentalnya. Kau jaga jam pertama sampai tengah malam. Aku jaga tengah malam sampai subuh. Deri... kau istirahat dulu, tapi jangan lelap. Segera bangunkan kami kalau ada apa-apa."

Deri dan Herman hanya mengangguk lemas. Mereka tidak punya tenaga untuk membantah.

Malam semakin larut. Cahaya senter yang dipasang di tiang kayu utama menjadi satu-satunya sumber cahaya, menyisakan bayangan-bayangan panjang yang meliuk-liuk di dinding bambu, seolah-olah ada banyak sosok lain yang ikut berdiam di dalam ruangan sempit itu.

Suasana di luar semakin mencekam. Angin yang tadinya menderu kencang, kini perlahan mereda, berganti menjadi keheningan total yang memekakkan telinga. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara burung hantu, tidak ada suara daun bergesekan. Hening. Hening yang membuat detak jantung mereka sendiri terdengar seperti pukulan dari bawah tanah.

Duk... duk... duk...

Herman duduk bersila di dekat pintu, kedua telapak tangannya saling mengusap mencari rasa hangat. Akan tetapi matanya berat, rasa kantuk mulai menyerang, tapi rasa takut jauh lebih kuat untuk menahannya tetap terjaga.

"Brutt... brutt... brrruuuutt..."

Tiba-tiba, suara itu terdengar.

Suara seperti seseorang sedang memuntahkan lendir dari tenggorokan, atau suara cairan kental yang digerakkan di dalam mulut. Suaranya tidak jauh. Tepat di luar dinding bambu, di sebelah kiri tempat Herman bersandar.

Brutt... brutt... ssssttt...

Lalu disusul dengan desisan panjang, seperti suara ular besar yang sedang mendesis.

Herman membeku. Jari-jarinya berhenti bergerak. Ia menahan napas, berusaha mendengar lebih jelas.

Kriuk... kraaaaaakkk...

Suara langkah kaki yang menginjak perlahan dedaunan kering. Tapi bukan langkah kaki manusia. Langkah itu berat, dan setiap kali menginjak, terdengar suara sesuatu yang diremukkan. Dan baunya... itu dia, baunya kembali. Bau busuk bangkai bercampur getah pahit yang semakin menyengat, membuat mata perih dan tenggorokan terasa tercekat.

Sesuatu itu sedang berkeliling gubuk.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pelan di dinding bambu. Tepat di samping kepala Herman. Bukan ketukan tangan, tapi seperti suara sesuatu yang basah dan lengket menempel pada kayu.

"Krrrrrrrrrr..."

Sebuah suara terdengar tepat di telinganya. Suara itu serak dan terdengar basah, seolah pemilik suara itu tenggelam dalam lumpur.

Herman tidak berani menoleh. Tubuhnya kaku. Ia tahu makhluk itu ada di sana, di balik anyaman bambu yang tipis itu, mengintipnya melalui celah-celah kecil.

"Keelaarrr... maaiinnn beerrmaa..." bisik itu lagi, kali ini terdengar lebih dekat, lebih jahat.

Tiba-tiba, salah satu bilik bambu di dinding didorong dari luar. Perlahan... sangat perlahan, sebuah lubang terbuka.

Dan melalui lubang kecil itu, sebiji bola mata memandang masuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!