Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Lampu koridor lantai eksekutif yang mulai temaram di jam pulang kantor menjadi saksi bisu dari aksi kejar-kejaran halus antara sang CEO dan asisten pribadinya. Sheila melangkah dengan ritme cepat, sepatu hak tingginya berbunyi tuk-tuk-tuk yang tegas di atas lantai marmer, menciptakan jarak konstan sekitar satu meter di depan Jeremy.
Wajahnya lurus menatap pintu lift di ujung lorong, namun seluruh indranya waspada. Ia bisa merasakan hawa panas dari tubuh Jeremy yang terus berusaha memangkas jarak. Setiap kali tangan besar Jeremy bergerak maju, seolah ingin meraih jemarinya atau sekadar menyentuh pinggangnya, Sheila dengan tangkas melakukan gerakan menghindar yang terlihat sangat natural.
"Sayang... pelan sedikit jalannya. Aku kangen," bisik Jeremy dengan suara bariton yang berat, tepat di belakang telinga Sheila.
Sheila tidak menoleh. Ia justru mengangkat kedua tangannya, berpura-pura merapikan tatanan rambut kuncir kudanya yang sebenarnya sudah sangat rapi. "Apa sih! Dari tadi juga lihat muka aku kan di ruangan? Nggak usah modus deh!"
"Tadi di ruangan itu beda, kita keganggu Toni," keluh Jeremy. Ia mencoba lagi, kali ini tangannya menyasar gantungan kunci boneka beruang di tas Sheila, berniat menariknya pelan agar gadis itu berhenti melangkah.
Klik.
Sheila dengan sigap memutar tasnya ke depan, berpura-pura sedang memeriksa resleting tas sambil memainkan gantungan kunci itu sendiri. "Duh, ini gantungan kuncinya kok kayak mau lepas ya? Berisik banget dari tadi," gumam Sheila, aktingnya begitu sempurna hingga Jeremy hanya bisa menggenggam angin.
"Sheila Maharani, berhenti menghindar atau aku bakal gendong kamu sampai ke lobi," ancam Jeremy rendah, namun ada nada gemas yang tak tertahankan di sana.
"Coba saja kalau berani! Besok pagi surat pengunduran diriku sudah ada di meja Papa kamu!" balas Sheila pedas, tepat saat mereka sampai di depan pintu lift.
Sheila menekan tombol down dengan seseekali melirik ke arah lorong belakang, memastikan tidak ada Toni, Nilam, atau mata-mata Papa Jeremy yang sedang mengintai. Begitu pintu lift terbuka, ia langsung melesat masuk ke pojok paling dalam, menaruh tas besarnya di depan dada sebagai barikade.
Jeremy masuk dengan langkah angkuh, berdiri tepat di depan Sheila, mengurung gadis itu di antara tubuhnya dan dinding lift yang dingin. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Sheila, menatap asistennya itu dengan tatapan predator yang sedang lapar.
"Kamu pikir kamu bisa lari terus, hm?" Jeremy menundukkan kepalanya, membiarkan ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Sheila. "Di kantor tadi aku memang bisa ditahan, tapi sekarang sudah jam pulang. Kontrak kerja kita selesai, tapi kontrak 'kepemilikan' aku baru dimulai."
"Apaan sih kontrak kepemilikan! Memangnya aku barang!" Sheila mencoba mendorong dada Jeremy, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun. "Jeremy, ingat CCTV! Kalau ada satpam yang lihat di monitor, kita habis!"
"Biarkan saja mereka lihat. Biar mereka tahu kalau asisten tercantik di kantor ini sudah ada yang punya," bisik Jeremy. Ia mulai mengecup rahang Sheila dengan lembut, memberikan sensasi geli yang membuat pertahanan Sheila mulai goyah. "Kamu wangi banget sore ini. Wangi yang bikin aku nggak mau pulang ke rumah sendiri."
Sheila mengerang pelan, ia benci fakta bahwa sentuhan Jeremy selalu berhasil melumpuhkan logikanya. "Kamu... kamu tuh keras kepala banget ya. Tadi sudah bikin serangan jantung gara-gara Toni, sekarang mau bikin skandal di lift lagi?"
"Toni sudah aku urus. Dia nggak akan bicara kalau masih mau melihat bonus tahunannya cair," Jeremy tersenyum miring, lalu beralih memberikan kecupan di sela-sela jari tangan Sheila yang tadi terus menghindarinya. "Jangan cuekin aku lagi, Shei. Rasanya lebih sakit daripada ditolak tender sepuluh miliar."
Sheila akhirnya luluh. Ia menurunkan tasnya dan melingkarkan tangannya di leher Jeremy, menarik dasi pria itu agar jarak di antara mereka benar-benar hilang. "Dasar lebay. CEO kok manja begini."
"Hanya manja sama kamu," jawab Jeremy sebelum membungkam bibir Sheila dengan ciuman yang dalam dan penuh kerinduan.
Lift terus meluncur turun menuju basemen, sementara di dalamnya, dua insan itu seolah lupa bahwa dunia luar sedang menunggu dengan segala risikonya. Bagi Jeremy, Sheila adalah satu-satunya rumah yang ia tuju setelah lelah berperang di dunia bisnis. Dan bagi Sheila, meski Jeremy sangat menyebalkan dan posesif, pelukan pria inilah yang paling bisa membuatnya merasa aman—bahkan di tengah risiko tertangkap basah oleh siapa pun.
Begitu pintu lift berdenting di lantai B2, mereka segera melepaskan tautan dengan napas yang memburu. Sheila kembali merapikan pakaiannya dan memasang wajah datar, sementara Jeremy kembali menjadi bos yang dingin.
"Ayo, Pak CEO. Antarkan asistenmu ini pulang," ucap Sheila dengan nada formal yang dibuat-buat, namun matanya mengerling nakal.
"Siap, Nyonya Bos," sahut Jeremy sambil membukakan pintu mobil untuk Sheila dengan hormat, sebelum mereka melaju meninggalkan gedung yang penuh dengan intrik itu.
***
Mobil SUV hitam milik Jeremy berhenti dengan halus tepat di depan pagar rumah minimalis Sheila. Lampu jalan yang remang-remang menyinari separuh wajah Jeremy yang tampak enggan melepaskan kemudi. Suasana di dalam kabin mobil masih terasa hangat, sisa-sisa ketegangan manis dari lift kantor tadi masih menggantung di antara mereka.
Sheila segera melepas sabuk pengamannya, gerakannya cepat seolah ia sedang diburu waktu. Ia tahu, jika ia berlama-lama di dalam mobil ini, Jeremy pasti akan mencari seribu satu alasan untuk tidak membiarkannya turun.
"Sudah sampai. Makasih ya sudah diantar," ucap Sheila sambil meraih tasnya di kursi belakang.
Jeremy menoleh, menatap Sheila dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara sayang dan rasa tidak rela. Ia mematikan mesin mobil, membuat kesunyian mendadak menyergap mereka, hanya menyisakan suara detak jam di dasbor.
"Cepat banget? Enggak mau nawarin aku mampir minum air putih dulu gitu? Tenggorokanku kering lho habis debat sama vendor tadi sore," pancing Jeremy dengan nada yang dibuat sedih, meski matanya berkilat jahil.
Sheila mendengus, ia sudah hafal di luar kepala taktik "haus mendadak" ala Jeremy Nasution. "Enggak ada mampir-mampir! Ini sudah malam, Jer. Nanti kalau tetangga lihat ada mobil mewah parkir lama-lama di depan rumah asisten, yang ada besok aku jadi bahan gosip satu RT. Kamu hati-hati di jalan, ya."
Sheila membuka pintu mobil, namun sebelum ia sempat melangkah keluar, tangan besar Jeremy menyambar pergelangan tangannya. Dengan satu tarikan lembut namun tegas, Jeremy memaksa Sheila untuk kembali duduk menghadapnya.
"Satu menit. Kasih aku satu menit saja buat liat muka kamu tanpa gangguan folder tender atau gangguan Toni," bisik Jeremy. Ia memajukan tubuhnya, mengurung Sheila dalam ruang sempit di antara kursi dan pintu. Tangan lainnya merapikan anak rambut Sheila yang menutupi kening. "Kamu tahu enggak? Seharian ini aku cuma fokus gimana caranya supaya jam kerja cepat selesai biar bisa berdua begini sama kamu."
Sheila merasakan pipinya memanas. "Jer, kamu tuh CEO paling bucin yang pernah ada, tahu enggak? Mana ada bos yang begini sama asistennya."
"Karena asistennya itu kamu. Kalau asistennya Toni, ya aku tendang," canda Jeremy yang langsung disambut cubitan kecil di lengannya oleh Sheila.
Jeremy tertawa rendah, lalu ia mengecup kening Sheila dengan sangat lama dan tulus. Bukan ciuman yang penuh gairah seperti di lift tadi, melainkan kecupan yang terasa seperti janji untuk selalu menjaga. Ia menatap mata Sheila dalam-dalam, memastikan gadis itu tahu betapa besar pengaruhnya dalam hidup pria dingin itu.
"Iya, sayang. Aku pulang sekarang. Love you," ucap Jeremy dengan suara bariton yang lembut, menyiratkan perasaan yang tidak main-main.
Kalimat itu, meski sudah sering didengar Sheila belakangan ini, tetap saja berhasil membuat perutnya terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu. Ia memberikan senyum termanisnya, senyum yang hanya ia simpan khusus untuk pria di depannya ini.
"Iya, love you too. Sudah sana jalan, jangan lihat-lihat terus!" usir Sheila dengan nada bercanda sambil benar-benar turun dari mobil.
Ia berdiri di samping pagar, melambaikan tangan saat mesin mobil Jeremy kembali menderu. Jeremy menurunkan kaca mobilnya sebentar, memberikan kedipan mata nakal sebelum akhirnya melaju membelah kegelapan malam Jakarta.
Sheila memperhatikan lampu belakang mobil itu hingga menghilang di tikungan komplek. Ia menghela napas panjang, menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang. Ia teringat kembali semua kejadian hari ini—mulai dari insiden mesin fotokopi, ketahuan Toni, hingga momen manis di depan rumahnya ini.
Hidupnya benar-benar berubah 180 derajat. Dari seorang wanita yang hampir hancur karena ditinggalkan Malik, kini ia menjadi pusat semesta dari seorang Jeremy Nasution yang posesif namun luar biasa mencintainya.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, dan langsung merebahkan diri di sofa. Baru saja ia ingin memejamkan mata, ponselnya bergetar.
Bapak CEO Sengklek: "Baru jalan dua menit sudah kangen. Besok pagi aku jemput satu blok dari rumahmu ya? Jangan protes, ini perintah CEO."
Sheila tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Ia mengetik balasan singkat sebelum masuk ke kamar untuk membersihkan diri.
Sheila: "Terserah kamu saja, Pak CEO. Tapi kalau telat satu menit, aku naik ojek!"
Malam itu, di kamar yang tenang, Sheila tidur dengan senyum yang tak kunjung hilang. Ia tahu besok akan ada tantangan baru, rahasia baru yang harus dijaga, dan mungkin omelan baru dari Papa Jeremy. Tapi selama ada Jeremy yang menggenggam tangannya—meski sembunyi-sembunyi—ia merasa siap menghadapi apa pun.