Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan sang gunung es
Suasana di kantor Bayu Group pagi itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Arden datang dengan wajah yang sanggup membuat AC ruangan terasa tidak ada gunanya—sangat dingin.
Di ruangannya, Arden sedang menelepon ayahnya dengan nada tegas. "Papa, aku tidak peduli seberapa dekat Papa dengan Tuan Aolani. Aku tidak akan menikahi gadis yang bahkan belum becus membedakan antara kantor dan taman bermain. Tolong batalkan omong kosong ini."
Arden menutup telepon dengan kasar tepat saat pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.
"Pagi, Sayangku! Eh, maksudku, Tuan Bos yang belum mau mengakui takdir!"
Violet masuk dengan langkah riang. Kali ini dia tidak memakai seragam magang kusamnya. Ia memakai set blazer berwarna ungu lilac yang sangat modis, lengkap dengan bando mutiara yang berkilau. Di tangannya ada sebuah buket bunga kecil yang terbuat dari... cokelat batangan.
"Violet, saya sudah bilang kembali ke divisimu. Dan berhenti masuk ke sini tanpa izin," desis Arden tanpa mendongak.
"Tadi aku sudah izin kok sama kursi di depan, kursinya diam aja berarti iya," jawab Violet tengil. Ia menaruh buket cokelat itu di atas tumpukan dokumen Arden. "Aku dengar Tuan nolak perjodohan kita ya semalam? Wah, selera kita sama ya! Aku juga nggak suka dijodohin..."
Arden akhirnya mendongak, matanya sedikit menyipit. "Oh ya?"
"Iya! Aku nggak mau dijodohin karena Papa yang minta. Aku maunya Tuan nikahin aku karena Tuan memang nggak bisa hidup tanpa aku," lanjut Violet sambil mengedipkan sebelah mata.
Arden menghela napas panjang, bersandar di kursinya sambil memijat pelipis. "Kamu itu benar-benar... gila. Kamu tidak malu mengejar pria yang jelas-jelas sudah mengusirmu berkali-kali? Saya ini pria dewasa, Violet. Saya butuh pendamping yang tenang, bukan gadis berisik yang hobinya bikin kerusuhan."
"Tenang itu membosankan, Tuan Bos. Kalau sama aku, Tuan bakal merasa hidup setiap detik," Violet mencondongkan tubuhnya ke meja Arden. "Tuan boleh tolak Papa, boleh tolak Mama, tapi Tuan nggak akan bisa tolak pesona Violet Aolani selamanya."
Di Kantin - Rapat Geng Cegil
"Gimana, Vi? Masih ditolak?" tanya Evara sambil menyedot es tehnya dengan brutal.
"Masih. Malah dia bilang ke bokapnya kalau dia nggak sudi sama gue," jawab Violet santai sambil memoles kuku.
"Gila, itu sih kalau gue udah nangis tujuh hari tujuh malam, Vi," sahut Avyanna. "Lo beneran nggak ada urat malunya ya?"
"Urat malu gue udah gue gadai buat beli keberanian, Vya," balas Violet. "Lagian, Arden itu kaku karena dia takut. Dia takut kalau dia luluh, imej 'CEO Dingin'-nya hancur. Kita harus bikin dia masuk ke zona nyaman kita."
Lavanya tersenyum misterius. "Gue dapet info, minggu depan Arden bakal ada perjalanan bisnis ke Bali. Cuma dia sama asistennya. Dan tebak siapa asistennya?"
Violet membelalak. "Harusnya si asisten cowok yang kaku itu kan?"
"Asistennya lagi izin cuti nikah. Jadi posisi itu kosong," lanjut Lavanya.
"INI DIA!" Evara menggebrak meja hingga orang-orang menoleh. "Vi, lo harus jadi asisten dadakan! Pakai koneksi bokap lo kalau perlu!"
Sisi Gelap: Ancaman Arjuna
Di tempat lain, Arjuna sedang menatap foto-foto Violet dari kejauhan. Ia baru saja menghubungi seorang informan untuk menyebarkan berita bahwa Bayu Group melakukan nepotisme dengan menerima anak pengusaha besar sebagai magang untuk melancarkan proyek.
"Kalau Arden nggak mau sama lo, maka nggak boleh ada orang lain yang dapetin lo, Vi. Gue bakal bikin posisi lo di kantor itu jadi skandal," gumam Arjuna dengan tatapan kosong.
Ruang Kerja Arden
Sore harinya, Arden terkejut saat melihat jadwal di tabletnya berubah. Ada nama baru yang tercantum sebagai pendamping perjalanan bisnisnya ke Bali.
Violet Aolani.
Arden langsung menyambar telepon. "Sekretaris! Kenapa nama dia ada di sini?!"
"Maaf, Pak Arden. Itu instruksi langsung dari komisaris—maksud saya, Ayah Anda. Katanya ini kesempatan untuk mengenalkan Nona Violet pada operasional lapangan," jawab sekretarisnya dengan suara gemetar.
Arden membanting teleponnya ke gagangnya. "Keluarga Aolani... Keluarga Bayu... mereka semua benar-benar ingin membuatku gila."
Tepat saat itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Arden dari nomor Violet:
"Siapkan baju pantai terbaikmu, Tuan Bos. Bali itu panas, tapi aku bakal bikin lebih panas. See you! 😉"
Arden hanya bisa memejamkan mata, membayangkan betapa riuhnya perjalanannya nanti.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...